Cinta Sang Desainer

Cinta Sang Desainer
Daftar BEM


__ADS_3

Selamat membaca๐Ÿ˜Š


๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ


Setelah dibujuk, akhirnya Renata setuju untuk mengikuti pendaftaran BEM Univ. Dia juga mengajak Sandra dan Lisa untuk mendaftar juga.


๐ŸŒบ Gazebo Jurusan Fashion Design ๐ŸŒบ


Renata mengajak Sandra dan Yudha duduk di kursi yang masih kosong. Yudha pun segera mengeluarkan laptop dari tas ransel miliknya. Dia menyalakan tombol power dan mengaktifkan aplikasi google cromnya. Mulai berselancar ke website kampus. Dan menuju halaman kemahasiswaan. Memilih menu keorganisasian.


Disitu telah tersedia bebagai informasi keorganisasian mahasiswa, salah satunya adalah BEM. Dia langsung mengklik link pendaftaran yang ada di laman itu. Memasukkan identitas secara bergiliran.


Untuk Lisa, Renata menyuruh Yudha langsung mendaftarkannya, tanpa menanyakan dulu kepada Lisa. Karena Renata juga belum sempat bertemu dengan Lisa. Lisa ada kelas sampai sore, sedangkan pendaftaran terakhir juga akan ditutup hari ini jam 17.00. Takutnya tidak keburu, maka dariitu dia sekalian didaftarkan.


"Udah Yud, Lisa didaftarin ajah sekalian. Tanpa ditanya pun, kalau aku yang mengajak pasti dia mau kok," ucap Renata melihat ke arah laptop. Dan Yudha pun langsung mendaftarkan Lisa.


Saat mendaftar online, Sandra melihat ada nama Caca yang sudah terdaftar lebih dulu. Dia ada di daftar nama calon anggota BEM. Sandra pun langsung memberitahukannya kepada Renata. Dia tidak menyangka kalau orang seperti Caca ternyata tertarik juga ikut organisasi, tingkat Univ lagi. Sandra merasa Caca tidak serius mendaftar anggota BEM. Menurutnya pasti ada tujuan lain.


"Udahlah San, ga usah heran gitu ngliatinnya. Lagian siapa ajah kan berhak daftar BEM, termasuk Caca," ucap Renata pada Sandra yang masih heran melihat nama Caca ada di daftar nama calon anggota BEM. Renata juga melihatnya, namun dia biasa saja.


"Emang siapa sih Caca, ko kamu kaya ga suka gitu San," tanya Yudha penasaran.


"Bukannya ga suka Yud, cuma aku tuh kesal sama dia," jawab Sandra geram.


Renata pun menceritakan kejadian yang dialaminya tadi bersama Sandra di kelas. Supaya Yudha tidak bertanya lagi dan semakin penasaran.


"Oh jadi gitu ceritannya," ucap Yudha tertawa lebar.


"Kok kamu malah tertawa sih Yud?" tanyanya kesal.


"Orang kaya gitu mah ga usah diambil hati, abaikan saja San," lanjutnya.

__ADS_1


"Tuh, dengerin," timpal Renata.


"Finish...," ucap Yudha menyudahi jarinya mengetik di laptop. Mematikan dan menutup laptop itu. Serta memasukannya kembali ke dalam tas.


"Udah yuk pulang," ajak Sandra pada Renata sembari melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 12.00.


Kali ini Renata menolak tawaran Yudha untuk pulang bersamannya. Dia lebih memilih pulang ke kos bersama Sandra. Karena Yudha juga tidak mau memaksa Renata, Yudha pun menuruti permintaannya. Dia menyudahi pertemuannya hari ini dengan Renata. Kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Renata dan Sandra.


๐ŸŒบ Kos Arimbi ๐ŸŒบ


Sandra tidak langsung pulang ke rumah, dia mampir dulu ke kos Renata. Dengan alasan cuaca yang masih panas. Dia malas menempuh perjalanan di tengah teriknya mentari. Apalagi kalau sampai terjebak macet.


Renata yang telah megganti pakaiannya duduk santai sembari memainkan ponselnya. Sedangkan Sandra tiduran di lantai, karna merasa kepanasan. Padahal kamar kos Renata ada AC nya. Akan tetapi, cuaca hari ini benar-benar sangat panas, Ac pun seperti tidak menyentuh kulit.


๐ŸŒบ Rumah Caca ๐ŸŒบ


Caca, Mika, Sifa dan Ola merupakan orang jakarta asli. Mereka sering menghabiskan waktunya bersama setelah pulang kuliah.


"Siang tante," sapa ketiga temannya dengan ramah secara serentak.


"Eh, ada kalian...," jawabnya sembari menyunggingkan senyumannya.


"Ca, mamih sama papih pergi dulu yah, ada janji sama clien.


"Ya," jawabnya singkat dengan wajah yang sangat cuek.


"Ca, perasaan tadi nyokap bokap loe baru ajah pulang, kok sekarang udah pergi lagi?" tanya Sifa dengan ekspresi wajahnya yang seperti orang bingung. Sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Loe ga denger tadi nyokap gue bilang apa," jawab Caca ketus.


"Emang loe ga merasa kesepian yah Ca, ditinggal terus sama nyokap dan bokap. Dari pagi ke malam dan malam ke pagi lagi, begitu seterusnya," lanjut Sifa.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu bahagia ga sih Ca. Ya kita kan tahu kamu seperti ini udah dari kecil. Kamu sendiri yang waktu itu bilang ke kita," timpal Ola yang merasa kepo.


"Ya bahagia lah, loe liat kan gue punya semuannya. Apalagi yang kurang coba," ucap Caca mencoba menutupi kegundahan dihatinya.


"Perhatian Ca," timpal Mika.


"Gue ga butuh, jadi loe pada ga usah sok tau," lanjut Caca melototi ketiga temannya itu.


Kalian benar..., gue memang butuh perhatian. Gue butuh figur orang tua yg selalu ada disamping gue, untuk melengkapi kebahagian gue. Tapi itu dulu. Sekarang semua itu udah ga penting lagi. Karena gue bisa nyari kebagiaan gue sendiri.


"Ca, woy loe mikiran apa? Jangan-jangan loe mikirin apa yg gue ucapin tadi yah...," tanya Mika menggodanya.


"Ga lah, ngapain gue mikiran hal yang ga penting," jawab Caca dengan wajah sombongnya.


Meskipun begitu, dia juga manusia biasa yang terkadang merasa jenuh dengan semua yang dimilikinya. Terkadang dia merasa kesepian dan hidupnya juga hampa. Dia ingin kedua orangtuannya ada didekapannya.


Mamih dan papih Caca, merupakan salah satu pengusaha sukses dikotanya. Cabang usahanya ada dimana-mana. Bahkan rekan bisnisnya pun tidak hanya dalam negeri saja, melainkan luar negeri juga. Semenjak usahanya semakin maju, mereka menjadi sangat sibuk, jarang sekali ada dirumah. Bahkan hanya sekedar meluangkan sedikit waktu untuk putrinya pun mereka tidak bisa.


Sejak umur lima tahun, Caca sudah kehilangan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuannya. Mungkin lebih tepatnya dia anak bu Laras, assisten rumah tangganya yang juga mengasuhnya sedari kecil. Sampai sekarang bu Laras pun masih bekerja di tempatnya.


Kasih sayang yang diberikan oleh kedua orangtuanya, hanya berupa materi saja. Mobil mewah, tas branded, atm dan fasilitas penunjung lainnya.


Dari situlah Caca memberontak, hidupnya bebas, tak terkendali. Karena tidak ada yang menasehatinya. Dia melakukan apapun yang disukainya. Bahkan Caca menjadi sangat arogant dan ambisius. Makanya dia dengan mudah menindas orang lain. Dia seakan lupa bagaimana memperlakukan dan diperlakukan dengan lembut. Apalagi dengan hidupnya yang bergelimang harta, dia sangat enggan untuk bergaul dengan orang yang tidak selevel dengannya.


bersambung...


๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ


Jangan lupa berikan kritik dan sarannya untuk author yah reader..., supaya author dapat memperbaiki dan menyajikan karya yang terbaik untuk kalian. Terimakasih๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


Dukung terus author dengan like dan vote. Terimakasih๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2