
Selamat membaca๐
๐บ๐๐บ๐๐บ
Pagi telah usai, siang datang membayang.
Dia membuka selimut bercorak bunga yang digunakan untuk menutup badannya saat tidur. Rasa lelah membawanya tidur sampai siang bolong. Renata terbangun karena mendengar seruan adzan dzuhur dari muadzin yang mengumandangkan adzan di mushola tak jauh dari kosannya.
Dia segera bangkit dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk mandi. Karena merasa badannya sudah sangat lengket tidak karuan dan juga bau asem. Bagaimana tidak setelah seharian beraktivitas, belum sempat bersih-bersih, malah langsung tidur dari semalam. Sangkin lelahnya sampai mager untuk ngapa-ngapin.
Selesai dengan ritual di kamar mandi dan mengganti bajunnya, Renata segera membangunkan Lisa untuk mandi dan kemudian dia sholat dzuhur.
"Lis, bangun Lis," panggil Renata sembari menepuk halus bahunnya.
"Jam berapa Ren?," tanya Lisa setengah sadar.
"12.30 Lis," jawab Renata.
"Apa? Udah kaya kebo ajah kita tidurnya Ren, jam segini baru bangun. Astaghfirullah, ga kaya biasannya sumpah. Hmmm, pesta rakyat membuatku pegal, pusing dan sakit hati," ucap Lisa yang telah bangun dari tidurnya. Kata-kata terakhir yang tidak sengaja dia ucapkan, juga membuat Renata kaget.
"Hah, tadi kamu bilang apa Lis, sakit hati? Sakit hati kenapa?" tanya Renata penasaran.
"Anu Ren, anu, iya sakit hati. Maksudnya tuh hati kita lelah, kebanyakan begadang," jawabnya asal.
Apaan sih Lis, ga nyambung banget deh, ga masuk akal. Yang ada Renata malahan curiga.
"Soalnya perasaan kita..., eh udah Ren aku mau mandi dulu, udah ga tahan nih. Udah lepek banget, pengin keramas," lanjutnya alesan. Dia segera bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Aneh banget Lisa. Sakit hati sama siapa dia? Masa gara-gara jadi panitia pesta rakyat, dia sakit hati. Kan emang udah tanggung jawab dia sebagai pengurus BEM. Apa dia ada masalah yah, dengan anggota BEM yang lain. Ah, enggak ah, mana mungkin. Kelihatannya baik-baik saja. Udahlah mungkin Lisa asal ceplos saja, dia kan baru bangun tidur.
Tiga puluh menit telah berlalu. Lisa mengajak Renata membeli makan siang di warung padang depan kos. Kebetulan sedari pagi memang belum ada asupan makanan yang masuk ke dalam perut mereka.
__ADS_1
Tak memerlukan waktu yang lama, warung padang yang hendak mereka kunjungi, sudah ada di depan mata. Jaraknya memang sangat dekat dengan kosan mereka tinggal melangkah ke luar gerbang kos, menyeberang jalan maka sampailah di tempat.
Berbeda dari seperti biasannya mereka membeli nasi padang, yang dibungkus kemudian dimakan dikos. Kali ini Renata dan Lisa memilih untuk makan ditempat langsung, katanya bosan jika harus di dalam kos terus seharian ini. Pengin menghirup udara luar, meskipun tidak tepat sebenarnya. Karena keluar di waktu matahari membakar kulit.
Warung padang yang bernama Doa Bundo ini, penjualnya memang asli orang padang. Warungnya lumayan besar, bagus pokoknya. Pak Tan Malaka (pemiliknya) juga baik banget, ramah dan sopan kepada setiap pembelinya. Sebenarnya sudah ada yang bertugas dibagian pelayan, akan tetapi pak Tan juga sesekali datang kesitu untuk mengontrol warungnya.
"Ini pesanannya kak," ucap salah seorang pelayan yang mengantarkan makanan dan minuman.
"Silahkan dinikmati," timpal pak Tan yang tiba-tiba saja mendatangi Renata dan Lisa.
"Oh ya kemarin pesta rakyatnya luar biasa. Keren yah kampus kalian, bener-bener kampus elit, ga tanggung-tanggung bintang tamunya amazing semua," lanjutnya.
"Hehe, terimakasih pak," jawab Renata dan Lisa dengan sopan sembari sedikit menundukkan kepala.
"Ya sudah, dilanjut makannya, nanti kalau saya ajak ngobrol malah ga makan-makan lagi," ucap pak Tan yang kemudian meninggalkan mereka.
Pesanan dua nasi rendang dan es teh manis, telah tersaji di meja tempat mereka duduk.
Mendengar ucapan pak Tan, mengingatkan Renata akan kejadian semalam. Renata terus membayangkan moment semalam di pesta rakyat bersama Yudha. Binar-binar senyum kebahagiaan terpancar di wajahnya dengan tangan yang terus menggerakan sedotan untuk mengaduk cairan es yang ada di dalam gelas.
"Ren, Ren," panggil Lisa pada Renata yang tidak menghiraukannya.
"Ren...," lanjutnya.
"Iya Yud, eh Lis maksudnya," ucap Renata yang tersadar dari lamunanya.
Yud? Aku ga salah dengar. Apa yang sedang Renata pikirkan. Jangan-jangan daritadi dia ngelamunin Yudha.
"Kamu mikirin apa sih Ren, liat tuh makanan masih utuh, minuman juga masih utuh. Sampai es batunya juga udah ga kelihatan. Daritadi cuma ngaduk-ngaduk minuman doang," gerutu Lisa.
"Liat nih aku udah selesai," lanjutnya sembari menunjukkan piring dan gelas yang semuannya sudah kosong.
__ADS_1
"Maaf-maaf Lis, kamu kecepetan kali makanannya, hehe," ledek Renata.
Kenapa sih, bisa-bisannya aku membayangkan hal itu. Padahal daridulu aku ga pernah seperti ini sama Yudha. Setiap yang aku lakuin sama dia, biasa ajah ga pernah ngena dihati. Tapi sekarang..., apa jangan-jangan Yudha udah mulai masuk ke hati dan pikiranku.
Renata pun tak mau ambil pusing dengan hal tersebut. Dia segera menghabiskan makanan dan minumannya karena takut Lisa menunggu lama dan kesal padanya.
"Tara, sudah habis," ucap Renata sembari mengembangkan senyumannya pada Lisa.
"Hmmm, ya udah yuk kita bayar," ajak Lisa. Dan setelah itu mereka meninggalkan warung tersebut.
๐บ Rumah Caca ๐บ
Sepulangnya dari cafe, Caca melihat kedua orang tuannya yang tengah duduk bersama kedua rekan bisnisnya di ruang tamu. Akan tetapi, tanpa permisi atau menyapa mereka, Caca langsung melewatinya begitu saja. Dia membuang muka, dan bertingkah sekan orang yang tidak punya sopan santun sama sekali.
"Caca sayang," panggil mamah Caca dengan nada sedikit ditekan. Kemudian dia menghampiri dan menahan Caca yang hendak naik ke lantai dua.
"Kamu bisa sopan dikit ga, menegur mereka kek, apa kek, asal nyelonong ajah. Kamu tau ga dia itu siapa," ucapnya terpotong.
"Siapa mah, ga penting juga buat Caca. Lagian apa urusannya sama Caca. Ga penting banget. Caca tuh sibuk, masih banyak urusan. Bye," timpal Caca yang langsung meninggalkan mamahnya. Dia naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar.
"Anak itu, benar-benar kelewatan," geram mamah Caca.
Mamah Caca duduk kembali di sofa dan mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas perilaku putrinya itu. Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan yang kelihatannya sangat serius itu.
bersambung...
๐บ๐๐บ๐๐บ
Jangan lupa berikan kritik dan sarannya untuk author yah reader..., supaya author dapat memperbaiki dan menyajikan karya yang terbaik untuk kalian. Terimakasih๐๐
Dukung terus author dengan like dan vote. Terimakasih๐๐
__ADS_1