
Selamat membaca😊
🌺🍃🌺🍃🌺
Setiap minggu, ruas jalan sekitaran FIK memang selalu riuh. Beberapa warung memajang label angkringan dengan sangat percaya diri. Gerobak khas angkringan mereka panjang, lengkap dengan menu-menu khasnya yaitu nasi kucing dengan aneka topping, mendoan dan bermacam-macam gorengan, sate usus, sate ati ampela, sate telur puyuh, bacem kepala ayam, ceker goreng, juga berjenis-jenis minuman mulai teh panas hingga susu jahe.
Pada umumnya angkringan buka setiap sore menjelang malam. Akan tetapi, khusus hari minggu, mereka juga membuka angkringannya di pagi hari. Meskipun yang menjual angkringan tidak hanya satu orang, akan tetapi dagangan mereka semuannya laris manis terjual ludes.
Sampailah Renata, Lisa dan Yudha di salah satu warung angkringan milik mang Udin.
Angkringan ini memiliki tempat duduk dua bangku panjang yang mengapit gerobak.
Pembeli duduk berhadap-hadapan, juga berdempet-dempetan.
Konsep ruang semacam itu membuat pembeli menghadapi situasi keterpaksaan sosial untuk berdekat-dekat dengan siapa pun, kenal maupun tak kenal. Minimal dengan berbasa-basi "permisi mas atau mb," saat tangan kita terjulur ke hadapan orang di sebelah kita, untuk menyambar mendoan, misalnya. Itu minimal. Maksimal, di situ kita bisa berbincang dengan siapa saja, tentang apa saja.
Meski harganya murah, tetapi konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Antar pembeli dan penjual sering terlihat mengobrol dengan santai dalam suasana penuh kekeluargaan.
"Kalian mau minum apa? Biar sekalian aku pesankan," tanya Yudha yang telah menurunkan Lisa dari gendongannya.
"Aku teh anget ajah Yud," jawab Renata yang sudah duduk terlebih dulu di kursi panjang itu. Disusul oleh Lisa dan Yudha.
"Aku juga sama Yud," timpal Lisa.
__ADS_1
"Mang teh anget dua, kopinya satu," pesan Yudha kepada mang Udin.
"Ok mas," ucap mang Udin langsung menyiapkan pesananya.
"Ini mas, mb, minumannya, monggo dipun unjuk," ucap mang Udin dengan sesekali mengeluarkan logat jawanya.
"Terimakasih mang," ucap Yudha dengan ramah.
Mereka pun menyerutup minumannya masing. Sembari mengambil makanan yang telah tersedia di meja. Renata dan Lisa mengambil bungkusan nasi kucing dengan toping pilihannya masing-masing. Sedangkan Yudha mengambil beberapa mendoan dan sate telur puyuh.
🌺 Rumah Sandra 🌺
Hari ini Sandra akan berpisah kembali dengan Gery. Berakhirnya ulang tahun Sandra, berakhir pula pertemuan dua insan yang sedang di mabuk asmara itu. Gery harus kembali ke Korea untuk melanjutkan bisnis perusahaannya yang ada disana. Dengan berat hati dia pun harus meninggalkan kembali pujaan hatinya itu.
Sebenarnya ayah Gery memiliki dua perusahaan besar yang bercabang di Indonesia dan Korea. Akan tetapi, perusahaan yang di Indonesia telah mengalami kebangkrutan, akibat dilalap si jago merah. Hal itu pula yang membuat ayahnya meninggal karena terkena serangan jantung secara mendadak.
Perusahaan yang dia miliki tinggal satu-satunya yang ada di Korea. Sekarang perusahaannya itu sedang berkembang pesat bahkan sangat maju. Berkat perjuangan dan usaha kerasnya selama ini.
"Om, tante, Gery pamit dulu yah," ucapnya menyalimi kedua orang tua Sandra satu persatu dengan sangat hormat.
"Hati-hati dijalan yah nak Gery, semoga kamu selalu dalam lindungan Allah SWT," ucap mamah Sandra penuh kasih sayang. Karena Gery sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Iya nak Gery, jaga kesahatan disana, jangan lupa makan dan istirahat yang teratur," timpal papah Sandra penuh perhatian.
__ADS_1
"Terimakasih banyak om, tante," ucap Gery yang sudah selesai menyalimi mereka.
"Sandra, kak Gery berangkat dulu yah. Jaga diri kamu disini baik-baik. Kuliah yang rajin. Titip mamah kak Gery yah..., sering-sering tengokin mamah. Kasian mamah kesepian," ucap Gery sembari mengelus lembut rambut Sandra dengan penuh kasih sayang.
"Kak Gery juga jaga diri baik-baik. Ingat pesan papah dan mamahku. Dan soal tante Vina, kak Gery ga usah khawatir. Aku pasti bakalan sering menengoknya," ucap Sandra dengan mata berkaca-kaca, karena masih tidak rela harus melepas Gery kembali.
"Terimakasih Sandra, kak Gery percaya padamu," ucapnya sembari mengalihkan posisi tangannya ke pipi kanan Sandra.
Gery pun meninggalkan mereka dan masuk ke dalam mobil. Mobilnya kini telah melaju. Gery diantar oleh supir pribadinya menuju ke bandara.
🌺 Rumah Renata 🌺
Padahal hari masih sangat pagi. Cuaca juga sangat cerah. Akan tetapi wajah ibu Renata terlihat mendung. Dia terlihat muram duduk di kursi kayu tua depan rumahnya. Seakan sedang menunggu, sorot matanya tak lepas memandang jalanan desa di hadapannya. Dia sedang merindukan Renata, putri kesayangannya.
Semenjak kepergian putrinya untuk menimba ilmu di tanah rantau, dia menjalani hidupnya sendirian. Hidupnya terasa hampa. Sekarang dia juga sudah mulai sakit-sakitan. Penyakit asmanya yang dia derita sedari dulu, kadang mulai kambuh lagi. Mungkin karena terlalu lelah dengan kegiatannya yang banyak menguras tenaga itu.
Mengurus rumah, menjahit dan semuannya, dia kerjakan sendiri. Biasanya kalau ada Renata, dialah yang selalu membantu ibunya. Bahkan semua pekerjaan rumah diambil alih olehnya.
bersambung...
🌺🍃🌺🍃🌺
Jangan lupa berikan kritik dan sarannya untuk author yah reader..., supaya author dapat memperbaiki dan menyajikan karya yang terbaik untuk kalian. Terimakasih😊🙏
__ADS_1
Dukung terus author dengan like dan vote. Terimakasih😊🙏