
Arnold melihat utusan yang dikirim oleh Anya yang saat ini sudah menunggu dirinya di ruang meeting. Hati Arnold berdebar-debar sangat kencang. Dia berpikir akan bertemu dengan Anya. tetapi ternyata Blue investasi hanya diwakili oleh asisten Anya.
"Apakah CEO kamu tidak datang kemari?" tanya manager keuangan yang terlihat merasa tersinggung dengan pihak Blue Investasi, yang CEO nya tidak mau mendatangi perusahaan mereka. Padahal acara penandatanganan itu sangat penting untuk perusahaan mereka karena menyangkut tentang masa depan semua karyawan.
"CEOku masih dalam pertemuan yang lain. Dia akan datang menyusul setelah acara di sana selesai. Lagi pula, CEOku sudah mempercayakan semuanya kepadaku untuk menghandle semua urusan akuisisi ini." para petinggi perusahaan Arnold terlihat berdecih lidah karena merasa tersinggung dianggap rendah oleh mereka.
Akan tetapi Arnold langsung menghentikan mereka. Karena bagaimanapun saat ini yang terpenting adalah Anya mau menyetujui kerjasama itu. Mereka benar-benar membutuhkan uang yang akan diberikan oleh perusahaan Anya. Bagi Arnold tidak masalah dirinya kehilangan 70% saham asalkan karyawannya masih bisa diselamatkan.
Bagi Arnold sendiri hal itu merupakan harga yang sangat pantas untuk kecerobohannya yang sudah rela berkorban demi Lalita yang ternyata tidak pernah menghargai cintanya selama ini.
Arnold sudah memerintahkan kepada asisten dan juga sekretarisnya untuk segera mengangkat semua barang-barang branded milik Lalita dari kamarnya dan dipindahkan ke gudang perusahaannya karena nanti akan dilelang. Uang penjualan barang-barang itu akan digunakan oleh Arnold untuk menggaji karyawannya yang sudah beberapa bulan belum di bayarkan oleh perusahaannya.
Disaat mereka sedang berdebat tentang ketidakhadiran Anya, terlihat Anya yang hadir dengan keanggunan dan wibawa yang terpancar begitu nyata di wajahnya yang teduh.
Beberapa orang yang pernah mengenalnya sebagai istri Arnold di masa lalu, terlihat terkesiap. Mata mereka tidak bisa berkedip sama sekali. Seakan tidak percaya bahwa CEO blue invitatisi adalah mantan istri dari bos besar mereka.
"Ya ampun!! Bukankah dia adalah nyonya Anya? Mantan istri bos kita?"
__ADS_1
"Sungguh benar-benar sesuatu yang sangat luar biasa. Astaga!! Ternyata yang menyelamatkan perusahaan ini adalah wanita yang pernah disia-siakan oleh Bos kita demi Nyonya Lalita yang sekarang malahan menjatuhkan perusahaan ini."
"Apakah ini yang disebut dengan karma sedang berjalan?" begitu banyak suara-suara Sumbang yang terdengar di sekitar mereka akan tetapi matanya Anya tertuju kepada Arnold yang masih membeku di tempatnya.
Hati Anya yang merasa sedih ketika melihat Arnold yang begitu menyedihkan tadi malam, kini mulai kembali dingin. Apalagi ketika mendengar begitu banyak komentar yang ditujukan oleh orang-orang yang dulu pernah mengenalnya.
Satu demi satu mereka mendekati Anya dan menyalaminya bertanya tentang kabar dan juga menyapa wanita yang pernah menjadi ibu bos mereka di masa lalu.
"Tidak disangka kalau ternyata Nyonya Anya yang menjadi bos dari Blue Investasi. Apakah itu artinya sekarang kami harus memanggilmu Bos? Secara kan, perusahaan ini sekarang sudah menjadi milikmu setelah kita resmi menandatangani surat perjanjian akuisisi." direktur keuangan terlihat begitu bahagia.
Anya hanya tersenyum menyikapi semua yang dikatakan oleh anak buah Arnold. Sementara Arnold sendiri hanya bisa menundukan kepala dengan menggenggam telapak tangannya yang terasa begitu dingin.
Karena tidak mau membuang-buang waktu terlalu lama Mereka pun langsung menandatangani surat-surat yang dibutuhkan untuk peresmian perjanjian itu. "Aku akan mengangkat Tuan Arnold sebagai wakilku disini. Karena bagaimanapun dialah yang mengetahui seluk beluk perusahaan ini." Arnold cukup terkejut mendengar pidato yang disampaikannya di hadapan semua orang yang hadir di ruangan meeting.
"Apa kau tidak salah, Anya? Aku yang sudah menghancurkan perusahaan ini. Rasanya aku tidak mempunyai muka lagi untuk menjabat sebagai petinggi di perusahaan ini. Kau bisa memilih orang-orang berbakat yang ada di sini untuk menggantikan posisiku sebagai wakilmu." Anya tersenyum miring mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arnold.
'Kalau aku tidak menjadikanmu sebagai wakilku, maka aku tidak punya kesempatan untuk menindasmu untuk selalu mengikuti apapun yang aku katakan. Apa kau tidak tahu Arnold aku sudah memimpikan saat hati ini selama 10 tahun terakhir.' batin Anya sambil terus menatap kepada Arnold yang sudah tidak memiliki lagi muka untuk berhadapan dengan Anya.
__ADS_1
Anya menatap ke seluruh anggota rapat yang saat ini sedang menatapnya dengan serius. Sejujurnya mereka juga berharap kalau Anya benar-benar mengikuti apa yang dikatakan Arnold untuk memilih salah satu diantara mereka menggantikan posisi Arnold sebagai wakil Anya di perusahaan itu.
Mereka sangat tahu kalau Anya adalah seorang bisnis women yang sangat sibuk. Pasti Anya tidak akan mempunyai banyak waktu untuk mengurus perusahaan mereka yang sudah dia beli.
"Aku sudah memutuskan Kalau tuan Arnold yang akan menjadi wakilku di perusahaan ini. Ingatlah kau harus melaporkan semua kegiatan perusahaan padaku setiap hari! Aku tidak mau kalau sampai kecolongan dan kehilangan uangku begitu saja karena perbuatan orang yang suka mencuri aset perusahaan!" Arnold cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan Anya.
Arnold menghela nafas berat dia tahu kalau Anya saat ini sedang melakukan sesuatu untuk menyiksa dirinya.
Anya melihat bahwa mantan suaminya tidak mau untuk menerima penawaran itu. "Kenapa? Apakah kau takut untuk berhadapan denganku lagi? Kau takut akan membuat istri kamu marah bila kamu berdekatan denganku?" tanya Anya dengan tatapan sinis dan merendahkan.
Arnold hanya menggelengkan kepalanya karena bukan hal itu yang menjadi alasannya menolak penawaran dari Anya.
"Kita bicara empat mata. Karena aku tidak mau pembicaraan kita didengarkan oleh mereka." Anya menatap tajam kepada Arnold yang kelihatan begitu sungkan kepadanya.
Anya pun kemudian memerintahkan kepada semua orang yang ada di dalam ruangan meeting untuk keluar. Sesuai dengan permintaan dari Arnold yang ingin berbicara empat mata dengannya.
"Mau bicara apa? Cepat katakan! Waktumu cuma 5 menit saja!" Arnold langsung mendekati Anya yang tidak mau menatap wajahnya berlama-lama.
__ADS_1
Sejujurnya saat ini perasaan Anya kacau balau dan tidak mengerti dengan apa yang saat ini sedang dia rasakan. ' Seharusnya aku merasa bahagia dengan kehancuran Arnold. Seharusnya aku merasa bahagia setelah berhasil merebut perusahaan ini dari Arnold. Tapi kenapa hanya ada kehampaan di dalam hatiku sekarang?' batin Anya berusaha untuk tidak terlalu lama menatap mata Arnold yang sekarang semakin dekat kepadanya.
Arnold tahu kalau Anya saat ini sedang berusaha untuk menghindarinya. Tetapi dia semakin merasa penasaran untuk mengetahui perasaan mantan istrinya saat ini.