
"Apa yang kau lakukan ini Lalita? Kenapa berperilaku barbar seperti itu?" tanya Arnold yang masih berusaha untuk menyebarkan hatinya menghadapi Lalita yang sangat marah saat ini.
Lalita menatap Arnold dengan mata menyala dan penuh amarah."Apa maksudnya, Kau mengambil semua barang-barang milikku di dalam kamar kita? Apa kau tahu kalau hal itu termasuk pencurian?" tanya Lalita dengan menatap tajam kepada Arnold yang hanya tertawa miring mendengar apa yang dikatakan mantan istrinya.
Lalita benar-benar panas hatinya dan tidak terima melihat Arnold yang saat ini sedang melecehkannya dengan tertawa semacam itu.
"Apa yang kau tertawakan, huh?? Aku akan segera melaporkanmu ke kantor polisi dengan tuduhan pencurian. Jadi sebaiknya segera kau kembalikan semua barang-barang yang kau curi dariku!" Arnold tergelak mendengar ancaman dari Lalita.
Arnold benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Lalita selain bodoh dia juga sangat pintar bermain degelan yang amat lucu baginya.
Lalita benar-benar marah kepadan Arnold yang sejak tadi terus saja tertawa. Seakan-akan Arnold tidak mengindahkan peringatan darinya. Lalita bahkan sampai melemparkan semua barang-barang yang ada di atas meja Arnold untuk melampiaskan emosi di hatinya.
"Cepat di mana kau taruh semua barang-barang branded milikku?" tanya Lalita sambil menarik cerah pakaian Arnold yang sampai saat ini masih tertawa terbahak-bahak melihat Lalita yang begitu marah terhadapnya setelah mengetahui barang-barang yang sudah Raib di dalam kamar mereka.
Lalita sudah benar-benar gelap mata dan tidak memperdulikan apapun lagi sekarang.
"Semua barang-barang itu dibeli dengan uangku sendiri. Bahkan aku memiliki bukti-buktinya bahwa kamu memakai black card milikku tanpa ijin dariku. Lalita, silakan saja kalau kau mau melaporkannya kantor polisi. Aku ingin tahu, aku atau kau yang akan masuk ke dalam penjara?" tanya Arnold sambil terus menggelengkan kepala dan tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena lucu sekali dengan ancaman dari Lalita.
Lalita kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar apa yang dikatakan Arnold.
__ADS_1
"Aku adalah istrimu! Aku memiliki hak untuk daapt membeli barang-barang yang kuinginkan dengan menggunakan uangmu. Apa ada yang salah?" tanya Lalita dengan begitu tidak tahu malunya.
Arnold kemudian bangkit dan mendorong tubuh Lalita sehingga terduduk di sofa dengan mata memerah dan melotot sempurna.
"Maka aku juga mempunyai hak sebagai suami untuk mengambil kembali barang-barang itu ketika aku membutuhkan uangku kembali. Apa kau tahu? Kalau beberapa bulan ini karyawanku bahkan tidak bisa aku gaji? Karena uangnya habis kau kuras untuk membiayai semua nafsu busuk kamu yang tidak berujung itu?" tanya Arnold sambil mencengkram rahang Lalita sampai wanita itu meringis kesakitan dengan apa yang dilakukan oleh Arnold padanya.
Lalita begitu ketakutan melihat amarah di mata Arnold yang begitu besar kepadanya.
"Tetapi kau bisa memintanya secara langsung kepadaku. Kau bisa memintanya baik-baik dan tentu saja dengan cara yang terhormat, bukan dengan cara kau mengambilnya ketika aku tidak ada di rumah! itu jelas-jelas sebuah pencurian yang tidak terhormat dari istri kamu!" Lalita masih berusaha untuk mempertahankan pendapatnya.
Arnold yang sudah tidak tahan mendengar apapun yang dikatakan oleh Lalita, dia langsung mengusir wanita itu untuk keluar dari kantornya.
Lalita masih berusaha untuk mencerna setiap kata-kata yang dikatakan Arnold kepadanya.
"Apa kau gila? Setelah kau merampok ku sekarang kau malah menceraikan aku? Kau benar-benar seorang laki-laki yang sangat menyedihkan Arnold!" Lalita terlihat begitu murka melihat wajah Arnold yang seperti tidak merasa berdosa sama sekali kepadanya setelah mengambil semua haknya sebagai istri dan semua barang-barang miliknya bahkan sekarang tabungan dan atm-nya pun sudah diblokir semuanya oleh Arnold.
Lalita bisa dikatakan Jatuh Miskin mendadak dengan semua yang dilakukan oleh Arnold kepadanya. Lalita terus menggelengkan kepalanya dan tidak menerima apa yang dilakukan Arnold kepadanya.
"Apa kamu melakukan semua ini kepadaku, karena kamu ingin kembali kepada mantan istrimu? Apa kau pikir Anya mau menerima rongsokan seperti kamu?" tanya Lalita dengan tatapan merendahkan Arnold.
__ADS_1
Arnold tampak menggeram kedua tangannya sudah mengepal sempurna sejak tadi. Rahangnya bahkan mengeras menahan emosi dan amarah.
"Setidaknya aku masih bisa berharap untuk bisa dekat dengan Anya. Karena sekarang Anya adalah pemilik saham terbesar di perusahaan ini. Dan Dia menjadikanku sebagai wakilnya. Apa kau faham?? Anya masih mencintaiku, Lalita. Oleh karena itu dia sampai rela menghabiskan uang miliaran rupiah hanya untuk membeli perusahaan yang sudah hancur lebur karena perbuatanmu!" Lalita kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar apa yang dikatakan oleh Arnold tadi.
"Kamu bohong, Arnold! Tidak mungkin Anya memiliki uang sebanyak itu dan dia bahkan rela untuk mengorbankannya hanya untuk laki-laki bejat sepertimu! Kamu tidak usah hidup dalam mimpi dan khayalan yang akan menjatuhkanmu hingga ke dasar." Lalita terlihat tertawa untuk mengejek Arnold yang dia kira sedang berbohong padanya.
Arnold kemudian dengan begitu bangga menghidupkan televisi yang ada di depannya.
"Lihatlah rekaman yang ada di ruangan meeting saat penandatangan perjanjian itu tadi siang dengan sangat jelas. Bisa kau lihat di sana, bukan? Semua yang terjadi hari ini di kantor ini!" Arnold terlihat begitu bangga ketika dirinya duduk di sampingnya ketika acara penandatanganan mou jual beli tersebut.
Lalita benar-benar shock melihat semuanya yang ternyata bukan hanya bebasan kosong ataupun bualan semata.
'Tidak mungkin kalau sekarang Anya menjadi wanita sekaya itu. Bagaimana mungkin dia bisa membeli perusahaan yang sudah susah payah kau hancurkan? Dasar wanita brengsek! Kenapa sejak dulu dia selalu mencari masalah denganku?' batin Lalita yang benar-benar marah melihat semuanya tidak berjalan sesuai dengan skenario yang sudah dia ciptakan bersama Susilo, kekasihnya yang meminta kepada Lalita untuk menghancurkan perusahaan Arnold.
Selama 10 tahun belakangan ini, Lalita sudah berjuang sangat keras untuk bisa mewujudkan keinginan kekasihnya.
Siapa yang menyangka kalau ternyata perusahaan yang sudah diambang kebangkrutan malah diselamatkan oleh Anya dengan begitu mudah.
Lalita merasa semua usahanya begitu sia-sia. Kalau sampai Susilo mengetahui tentang hal itu pasti laki-laki itu akan marah besar kepadanya dan tidak mau memberikan waktunya lagi untuk dirinya.
__ADS_1
Rencana liburan yang sudah disusun oleh mereka berdua terancam batal sekarang karena hal itu. Lalita benar-benar sangat geram sekarang kepada Arnold dan Anya yang telah menghancurkan impian dan cita-citanya untuk bersama Susilo. Pria yang sangat dia cintai sejak dulu.