
Anya mendekati Arnold. Dia merasa prihatin dengan apa yang terjadi kepada mantan suaminya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Anya pada Arnold.
Arnold menoleh dan mendapatkan Anya yang berdiri di sampingnya. Dengan tatapan penuh rasa khawatir.
"Lalita mencuri segalanya dariku." Arnold menatap Anya dengan sendu.
Anya melihat ada raut penyesalan di wajah Arnold. Walaupun dia melihat raut kemarahan saat Arnold menyebut nama Lalita.
"Bagaimana bisa dia mencuri segalanya darimu?" tanya Anya pada Arnold.
"Dia mengetahui kalau aku menyimpan surat-surat berharga di dalam brankasku." Anya melihat Arnold sejenak.
"Jadi kau memberikan password brangkasmu kepada Lalita?" tanya Anya seperti yang tidak percaya dengan kenyataan itu.
Arnold mengangguk pelan, "Bisa kubayangkan kalau kau benar-benar mencintainya. Padahal dulu, saat aku bersamamu, kau masih memberikan batasan itu kepadaku. Masih ada ruang privasi di antara kita." Arnold terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Anya.
Arnold tahu kalau dirinya telah banyak berbuat kesalahan kepada Anya. "Maafkan aku yang selama ini sudah begitu banyak membuatnya merasa kesal. Aku pria dungu yang tidak tahu ketulusan seseorang dalam mencintaiku. Selama ini Aku sudah dibutakan oleh Lalita." Arnold menunduk.
Suara Arnold yang serak dan gemetar bisa di rasakan oleh Anya. "So, sekarang apa yang akan kau lakukan terhadap wanita yang kau cinta itu?" tanya Anya yang sekarang duduk di sofa yang ada di kamar itu.
Pandangan mata Anya menatap ke sekeliling kamar utama yang sekarang sudah begitu banyak perubahannya. Semua yang ada di sana mengikuti selera Lalita.
__ADS_1
"Dari semua yang ada di Mansion ini, aku bisa melihat kalau kamu memang sangat mencintai Lalita. Kenapa kau malah memutuskan untuk menceraikan dia?" tanya Anya yang merasa heran dengan Arnold.
Arnold kesulitan menelan salivanya sendiri mendengar apa yang di tanyakan oleh Anya.
"Aku mengetahui kalau dia hanya memanfaatkanku dan tidak benar-benar mencintaiku. Aku melihatnya bertemu dengan kekasihnya yang celakanya Dia adalah anak buahmu." Anya mengerutkan keningnya.
"Anak buahku?" tanya Anya merasa heran.
Karena Anya memang saat ini sedang tidak mengingat tentang hal itu. Otak Anya sedang mencerna seberapa besar cinta Arnold untuk sahabatnya.
Apa bila melihat semua yang ada di mansion Arnold, Anya bisa memutuskan bahwa Arnold memang sangat mencintai Lalita. Arnold bahkan sampai memberikan password brankasnya kepada Lalita.
"Lupakanlah! Lagi pula sudah tidak penting lagi, bukan?" Anya jadi tidak enak mendengar itu semua.
Anya memang ingat bahwa dia telah memerintahkan anak buahnya untuk merayu Lalita dan berusaha menghancurkan rumah tangga Arnold bersama wanita ular itu.
Anya tidak berdaya untuk mengalahkan penderitaan di dalam hatinya setelah bercerai dengan Arnold. Anya memang pergi meninggalkan Indonesia. Tetapi Anya menanamkan kukunya yang sangat tajam di dalam kehidupan Arnold dengan menghadirkan laki-laki lain di dalam kehidupan Lalita.
Anya hanya ingin memberikan pembalasan kepada Arnold. Bagaimana rasanya?? Ketika seseorang yang kita cintai mengkhianati cinta yang kita berikan kepadanya dengan begitu kejam?
Arnold tahu kalau saat ini Anya sedang merasakan kesenangan hatinya karena melihat dirinya yang sekarang telah hancur lebur. Rumah tangganya bersama Lalita hancur berantakan, perusahaan kacau dan sekarang Mansion dan semua harta benda miliknya terancam melayang dari tangannya.
"Apakah kamu sekarang bahagia dengan pembalasanmu terhadapku? Kamu pasti datang ke sini karena ingin melihat bagaimana penderitaanku sekarang dan tertawa di atasnya, benar kan?" tanya Arnold dengan nada sarkas.
__ADS_1
Anya tersenyum dan mendekati Arnold yang menatap wajahnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
"Kau benar sekali!! Aku merasa sangat puas dan bahagia sekali karena sekarang pembalasanku terhadap kalian sudah berhasil. Aku bisa melihat kalau hidupmu sudah di ujung tanduk. Bahkan sekarang perusahaanmu sudah berada di tanganku. Hidupmu sudah berada dalam genggamanku. Apa kau tahu, Arnold? Tidak ada hal yang jauh lebih membahagiakan hatiku dari itu semua." Anya tersenyum puas di hadapan Arnold.
Arnold menetap kepada Anya dengan penuh penyesalan dan rasa kesal.
"Pergilah dari rumahku!! Karena saat ini aku ingin menghadapi ini semua sendiri. Anya, sudah cukup kamu memperolok diriku di atas semua masalah yang sedang kuhadapi saat ini." Arnold mengusir Anya yang saat ini sedang tersenyum menetapkan ke arahnya.
"Aku akan pergi kok dari rumah yang sebentar lagi akan berpindah tangan kepada orang lain. Ya, persisnya setelah Lalita menjual sertifikat milikmu." Arnold merasa panas kupingnya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Anya.
Arnold bangkit dari atas ranjang kemudian menarik tangannya agar keluar dari kamarnya.
"Pergilah Anya! Pergilah dari sini dan kau bisa rayakan kebahagiaan untuk semua kehancuranku ini." Arnold yang sudah tidak tahan melihat tatapannya yang begitu menusuk dan membuat hatinya tidak tenang sama sekali sekarang mengusir Anya dari rumahnya.
Arnold memanggil security untuk mengantarkan Anya keluar dari Mansion miliknya. Anya hanya tersenyum miring melihat kehancuran Arnold yang entah kenapa tidak membuat hatinya bahagia sama sekali.
Anya merasakan hatinya begitu hampa melihat ekspresi kehancuran di mata Arnold karena perbuatan dari Lalita yang sudah benar-benar sangat keterlaluan.
Sebelum security menyentuh tangannya untuk mengusir dirinya, Anya sudah keluar dari kamar Arnold duluan. Bagaimanapun juga Anya memiliki harga diri yang tinggi. Dia tidak akan membiarkan dirinya diusir secara terhina dari kediaman mantan suaminya yang sejak tadi sudah membuatnya merasa tidak nyaman sama sekali.
"Tidak usah kau mengusirku! Karena aku juga pasti akan pergi dari rumah ini! Rumah yang telah menjadi neraka untuk hidupku karena penghianatan yang sudah kau lakukan padaku di masa lalu. Oh ya, aku mencarimu hanya untuk memberitahukan padamu. Kalau sebentar lagi akan ada laba direksi yang akan memutuskan tentang nasibmu di perusahaan itu! Jangan terlambat untuk datang ke sana! Karena mungkin, bisa saja kau akan ditendang untuk selamanya dari sana!" Anya tersenyum kepada Arnold yang terkejut mendengar apa yang dia katakan.
"Apakah kau baru puas setelah melihat kematianku? Apakah setelah itu kau baru berhenti untuk menghancurkan kehidupanku?" tanya Arnold dengan suara serak dan bergetar.
__ADS_1
"Bahkan ketika kau mati ribuan kali sekalipun, semua itu tidak akan pernah cukup untuk mengobati rasa sakit hatiku!" Anya menatap tajam kepada Arnold dengan air mata yang sejak tadi berusaha terus dia tahan untuk tidak sampai jatuh di hadapan Arnold.
Arnold bisa merasakan dendam yang begitu besar di wajah Anya kepada dirinya. Arnold tidak bisa marah kepada Anya. Walaupun Anya sudah melakukan banyak hal yang merugikan dirinya. Karena Arnold sadar semua itu adalah kesalahan dirinya sendiri yang sudah menyakiti Anya dan merubahnya menjadi seorang monster seperti sekarang.