
James saat ini sedang bersama Loly. James yakin bahwa dirinya pasti akan melamar Anya malam ini. Dengan bantuan Loly tentu saja.
"Om jangan takut! Loly ada di pihak Om!" James mengacak rambut bocah cantik di sampingnya.
Ponsel Loly berdering berkali-kali. "Mama, menelponku! Bentar ya, Om. Om jangan bersuara dulu. Supaya Mama tidak curiga tentang keberadaan Om disini." pinta Loly pada James.
James tersenyum bahagia pada Loly. Di antara begitu banyak perasaan yang begitu indah, James merasa nyaman dengan sikap dan perilaku Loly terhadap dirinya. James merasa bersyukur karena Loly tidak marah dengan perasaan yang dia miliki untuk Anya.
Selama ini, Loly malah begitu gencar untuk membujuk Anya agar bisa melihat ketulusan cinta James kepada Anya.
"Ya, Mah! Ada apa?" tanya Loly yang berusaha sangat keras untuk tetap sikap santai dan biasa saja demi sang ibu supaya tidak curiga dengan kehadiran James.
James saat ini sedang sibuk mengatur orangnya untuk mendekor ruangan balkon di rumahnya untuk tempat dia melakukan lamaran kepada Anya.
"Kamu di mana, sayang? Pihak sekolah bilang kalau kamu udah pulang. Tapi, Kenapa tidak ada di rumah kita?" tanya Anya yang merasa sangat khawatir tentang keberadaan Loly.
Loly menatap kepada James yang masih sibuk di balkon rumahnya. "Loly sedang bersama dengan Om James, Mah. Apa mama bisa menjemput Loly di sini? Om James kayaknya sakit, Mah! Loly tidak tega rasanya untuk meminta dia mengantarkan Loly untuk pulang ke rumah kita," Loly tersenyum pada James yang memberikan dua jempol padanya atas kehebatan Loly berakting.
Loly meringis karena melihat James yang begitu menggemaskan dan amat menawan.
"Kamu itu, ya! Kenapa kamu minta kepada Om James untuk jemputmu kalau tahu dia sakit? Dia tentu harus banyak istirahat. Kamu suka sekali merepotkan dia." omel Anya merasa kesal dengan kelakuan putrinya yang sepertinya begitu tergantung pada James yang selalu menyayangi dirinya seperti anaknya sendiri.
__ADS_1
Loly yang saat ini memang sedang merencanakan untuk melakukan acara lamaran dengan James, Loly berusaha untuk acting secara alami di hadapan ibunya.
"Loly hanya merasa khawatir dengan Om James, Mah. Makanya waktu Om James bilang sedang sakit, Loly langsung kesini dengan di jemput oleh supirnya Om james. Kasihan Om, kalau tidak ada yang menemani. Kasihan kan Mah? Padahal kalau Loly lagi sakit, Om James adalah orang yang paling sibuk untuk mengurusku!" Suara Loly tiba-tiba merasa sedih.
Anya mendengus ketika mendengar ucapan Loly, "Ya sudah kau tunggu Mama di situ! Nanti pulang kerja mama jemput kamu di sana!" akhirnya Anya memutuskan untuk mengabulkan keinginan putrinya.
Loly dan James tentu merasa sangat bahagia sekali dengan apa yang di janjikan Anya kepada Loly. "Ya sudah ya Mah. Loly tutup dulu telponnya Mama. Kasihan Om James, Mah. Dia butuh untuk Loly mengambilkan obatnya." setelah mendapatkan persetujuan dari ibunya, Loly kemudian menutup telepon. Loly tersenyum bahagia karena sudah berhasil membuat ibunya mau datang ke sana.
James mendekat kepada Loly dan mengelus pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Anak pintar! Nanti kalau acara lamaran ini sukses, nanti Om akan mengajakmu dan ibumu ke Jepang untuk berkibur bersama dan merayakan acara lamaran ini!" janji James kepada Loly yang tentu saja sangat bahagia dengan janji itu.
Loly sangat suka kalau berlibur berkunjung ke Jepang. Di sana dia bisa bertemu dengan teman lamanya di masa kecil. Saat dulu mereka tinggal di Jepang untuk mengejar kesuksesan Anya dalam menghadapi segala tantangan yang dihadapi oleh ibunya yang saat itu dalam fase sedang mengobati luka di hatinya akibat perselingkuhan Arnold.
Mereka kemudian pergi menuju ke balkon kediaman James. Di sana beberapa orang anak buah James sudah bersiap dan sedang sibuk merias tempat itu menjadi tempat yang indah dan cantik.
Loly sampai terkesima melihat tempat itu. "Om! Ini sungguh indah sekali!" Loly tidak mempercayai apa yang ada di hadapannya.
James merasa bahagia karena melihat sinar mata Loly yang penuh dengan kebahagiaan.
"Udah ya, terpesonanya. Om mau mandi dulu dan mersiapkan diri untuk acara lamaran ini." James lalu pergi meninggalkan Loly yang sedang sibuk mengatur para pekerja.
__ADS_1
Setelah pekerjaan mereka selesai. Mereka pun meninggalkan kediaman James.
James terlihat begitu tampan dengan dandanan yang sudah dia persiapkan. Hari ini adalah hari yang paling penting dalam hidupnya. James sudah menunggu hari ini sangat lama dan dia selalu bersabar untuk menemani Anya dalam menghadapi segala tantangan yang dihadapi oleh Anya dalam rangka membalas dendam kepada Arnold.
James sudah banyak berkontribusi untuk membantu wanitanya mencari keadilan setelah kehidupannya yang hancur lebur karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Arnold dan Lalita.
Loly mengetuk pintu kamar James, "Om! Cepatlah pergi ke balkon mau apa sebentar lagi datang!" perintah Loly dari balik pintu.
James tersenyum setelah merasa puas dengan pantulan dirinya sendiri yang begitu sempurna di hadapan cermin.
"Semangat, James! Kamu pasti bisa untuk menjadikan Anya sebagai anggota keluarga besar kamu. Menjadikan Anya sebagai istri kamu! Semangat!" James kemudian keluar dan menemui Loly.
Loly begitu takjub menyaksikan ketampanan James yang sejak dulu selalu sangat dia idolakan. "Wow! Om the best!" James tersenyum melihat kebahagiaan di mata Loly.
"Seandainya Loly terlahir 15 tahun yang lalu, Loly pasti akan pilih Om untuk menjadi suamiku!" Loly memeluk James dengan penuh kasih sayang.
"Mamaku sungguh beruntung sekali karena di cintai oleh Om! Om, Ayo cepat! Pergilah ke balkon. Jangan sampai nanti Mamaku curiga dengan acara yang sudah susah payah kita atur ini." James menepuk jidatnya karena hampir saja melupakan hal itu.
"Om ambil cincinnya dulu. Kamu siap-siap juga dengan akting kamu. Ingat, Loly! keberhasilan acara ini semuanya ada di tangan kamu!" James kembali mengingatkan kepada Loly untuk bisa berakting senatural mungkin supaya Anya tidak curiga.
Loly yang memang sudah biasa melakukan akting di teater tempat dia belajar. Loly merasakan bahwa apa yang dia lakukan sekarang merupakan hal yang sangat mudah.
__ADS_1
"Tenang saja Om! Karena Loly sudah ahli dalam hal ini!" Loly membentuk jarinya dengan bentuk O yang membuat James semakin yakin bahwa dirinya pasti akan berhasil dalam acara lamaran malam ini.
Setelah mendapatkan cincin yang akan dia gunakan untuk melamar Anya, James langsung menutup pintu kamarnya dan menuju ke area balkon yang sudah cantik dengan dekorasi yang sangat elegan dan mewah. Makan malam juga sudah siap di sana yang di atur dan disiapkan oleh chef ternama yang dia datangkan dari restoran miliknya sendiri.