
James merasa bahagia karena Anya akhirnya mau menerima lamarannya. Walaupun dengan catatan satu bulan harus membuat dia jatuh cinta kepada James. Bagi James hal itu perkara mudah dan sangat gampang.
Dia sudah mengenal Anya sangat lama. Bahkan dia juga sangat dekat dengan Loly, akses untuk dirinya bisa dekat dengan Anya sangatlah mudah.
"Deal! Pernikahan kita satu bulan dari sekarang!" ucap James dengan senyum tengilnya yang sangat menyebalkan bagi Anya.
Walaupun selama ini Anya sudah terbiasa dengan sikap pola James yang absurd dan konyol. Tapi tetap saja Anya merasa jantungnya amat berdebar.
"PD sekali Anda!" Anya tersenyum hanya untuk mengurangi kecanduan dan juga debaran di hatinya.
James mendekat kepada Anya. "Tentu saja! Aku yakin kalau aku sudah berhasil membuat jantungmu sekarang berdebar-debar dengan kencang! Ayo ngaku!" James melirik kepada Anya berniat untuk menggoda wanita matang itu.
Anya terus mundur dan berusaha menghindari James Yang sepertinya mempunyai banyak cara untuk membuat dia kelapakan dengan semua aksi gokil dan absurdnya.
Loly merasa bahagia sekali melihat interaksi antara keduanya yang sangat akur dan rukun. "Loly berharap akan segera mempunyai adik!" Ucap Loly dengan senyum yang merekah.
Anya sampai terbahak-bahak mendengarkan ucapan putrinya yang dengan begitu PD dan tanpa malu, Loly telah mengancamnya untuk menikah dengan James kalau dia tidak mau menerima lamaran James. Apakah ada hal yang lebih msmbagongkan dari kelakuan Loly ini??
Anya memeluk Loly dengan penuh kasih sayang. Anya bisa mengerti perasaan oleh yang mengharapkan kasih sayang dari seorang ayah.
Sangat wajar kalau Loly sangat menyayangi James. Karena memang pemuda itu yang selama ini selalu menyayanginya dengan tulus. James sejak Loli masih bayi selalu melimpahkan dan memberikan begitu banyak kasih sayang dan cinta untuk Loly.
"Papa pasti akan memberikanmu adik yang banyak. Kamu nanti harus mengasuh mereka dengan baik dan menjadi kakak yang baik. Papa akan marah kalau kau tidak menyayangi adikku. Paham?" tanya James sambil mencium kening Loly dengan lembut.
Hati Anya begitu terharu melihat kasih sayang yang ditunjukkan oleh James kepada putrinya. Anya sampai saat ini belum belum mengetahui tentang kabar terbaru Arnold yang saat ini sedang berjuang dengan penyakit yang dia derita.
__ADS_1
Rudi terus berjuang untuk memberikan pengobatan yang terbaik untuk putranya. Anjani pontang panting membantu suaminya untuk mencari dokter terbaik yang bisa membantu Arnold.
"Ayo cepat kita selesaikan acara makan malamnya. Setelah itu kita pulang." perintah Anya pada Loly.
Tetapi James malahan menarik Anya ke dalam pelukannya. "Sebaiknya kau menginap malam ini di sini. Bukankah kita sudah resmi menjadi tunangan? Apa kau tidak ingin kita tinggal di rumah saja?" tanya James sambil berbisik di telinga Anya.
Anya langsung menginjak kaki James dan melotot kepadanya. "Berani mati, huh?" tanya Anya pada Jemas yang malah tertawa bukannya merasa marah ataupun sakit hati kepada Anya.
James mengikuti Anya dan terus menempel kepadanya, "Ayolah! Kau tidak rindu di belai seorang lelaki?" tanya James terus saja memprovokasi Anya.
"Kalau begitu kita batalkan saja tunangan dan rencana pernikahan kita. Bagaimana, James?" tanya Anya sambil meringis kepada James.
James langsung merubah duduknya dan bersikap manis di hadapan Anya. 'Astaga!! Sulit sekali membujuk Anya untuk melakukan hal kayak gitu. Aku sudah berjuang sangat keras untuk bisa mendapatkan dia. Aku tidak akan membiarkan dia pergi dariku!' batin James pada akhirnya.
Setelah mereka selesai makan malam, Anya dan Loly kemudian pergi dari rumah James dan kembali ke rumah mereka sendiri. Loly terlihat begitu bahagia dengan apa yang terjadi pada malam ini terhadap ibunya yang sangat dia sayangi.
"Terima kasih Mama karena sudah mau menerima lamaran Om James." Loly sampai memeluk Anya dengan penuh rasa haru.
Anya bisa melihat begitu besar harapan di mata putrinya untuk dia bisa menikah lagi. Loly ternyata memang benar-benar menginginkan dirinya untuk bersama dengan James.
"Mah, Loly hanya ingin kebahagiaan mama. Loly gak mau lihat mama sedih terus. Mama juga berhak bahagia seperti wanita lainnya. Mah, Loly pasti akan selalu berdoa dan mendukung apapun yang akan Mama lakukan di masa yang akan datang!" Anya memeluk Loly dengan erat.
Saat itulah terdengar bunyi ponsel di dalam tas Anya. "Sebentar mama angkat telepon dulu!" Anya melepaskan pelukannya dari Loly dan mengambil ponselnya di dalam tas tangan yang selalu Anya bawa untuk menunjang penampilannya.
"Assalamualaikum," sapa Anya pada seseorang yang ada di seberang sana.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Anya!! Apa kau bisa datang ke rumah sakit? Saat ini Arnold ingin berbicara denganmu." rupanya Rudi yang saat ini sedang menghubungi Anya.
Anya mengurutkan keningnya karena tidak mengerti dengan isi pembicaraan yang Rudi sampaikan.
"Ada apa om? Ada apa sama Mas Arnold? Kenapa saya harus ke rumah sakit?" tanya Anya yang merasa bingung.
Rudi kemudian menjelaskan semua hal tentang Arnold kepada Anya tanpa ada yang ditutupi.
Anya terlihat shock dan lemas sekujur tubuhnya. "Ya Allah!! Kenapa kau berikan cobaan sebesar ini kepada Mas Arnold?" entah kenapa Anya merasakan hatinya mencelos dan tidak tega.
Hati Anya yang baik dan mulia. walaupun di masa lalu Arnold telah menyakiti hatinya dengan begitu dalam. Tetapi semua itu seakan menghilang bagaikan butiran debu. "Baiklah, Om. Anya akan ke sana bersama Loly." Ucap Anya yang pada akhirnya memutuskan untuk mempertemukan Loly dan Arnold secara langsung.
Sudah seharusnya dia mempertemukan ayah dan anaknya. Sebelum semuanya terlambat dan disesali.
Hanya pergi ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian yang lebih santai. Loly dari tadi hanya memperhatikan kesibukan ibunya yang terlihat seperti orang linglung dan frustasi.
Anya seakan dunianya hancur begitu saja mendengar berita tentang Arnold yang saat ini sedang berjuang dengan nyawanya.
"Mama kenapa sih?" tanya Loly yang terlihat bingung melihat semua itu.
Anya kemudian mengajak Loly untuk mengikutinya. "Kita mau kemana, Mah? Ini sudah malam loh waktunya kita untuk tidur. Bukan untuk jalan-jalan!" Loly yang memang sudah lelah terlihat protes dengan apa yang dilakukan ibunya.
Anya sebenarnya hendak menggunakan mobilnya untuk pergi ke rumah sakit tetapi dia merasakan tungkainya begitu lemas dan tidak mau untuk fokus dan menyetir dengan aman.
Anya pada akhirnya memutuskan untuk pergi dengan menggunakan taksi. Anya hatinya sudah tidak karu-karuan saja. Loly dari tadi hanya terus memperhatikan ibunya yang memperlihatkan gelagat begitu aneh. Loly benar-benar merasa tidak nyaman melihat raut wajah ibunya yang amat khawatir sekali.
__ADS_1