
"Kamu udah tenang belum?? Ayo Om antarkan kembali ke mama kamu. Mamamu sekarang pasti sangat khawatir dengan keadaanmu." pinta James yang saat ini sedang mengawasi Loly, anak gadis yang sudah berusia 11 tahun itu.
Loly menggeleng dan menolak. "Om, sebenarnya mencintai Mama atau tidak?" tanya Loly kepada James yang saat ini sedang menatapnya lekat.
James kemudian duduk di dekat Loly, mencoba menasehati gadis kecil yang sedang sedih dan marah itu agar mau pulang ke rumahnya.
"Loly, Om mencintai Mama kamu. Om percaya kalau jodoh itu ada yang udah atur dan sudah tercatat di lauhful mahfudz bahkan sebelum kita terlahir di atas dunia ini. Om gak akan maksa kalau memang Mama kamu bukan jodohku!" Ucap James dengan bijak.
Loly tiba-tiba saja memeluk James. "Om, Ada kemungkinan mamaku akan rujuk dengan laki-laki yang katanya ayahku. Saat ini dia sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit karena penyakit kanker yang dia derita." Loly bercerita kepada James dengan mata sembab dan sedih.
James bisa merasakan bagaimana perasaan Loly saat ini. James selama ini yang melihat tumbuh kembang Loly sejak dia masih bayi. "Om percaya sama mama kamu. Dia sudah menerima lamaran Om. Om yakin dia juga pasti memiliki pemikiran sendiri tentang segala sesuatu di dalam hidupnya. Loly, mari kita percaya dengan Mama kamu." James menatap Loly dengan tulus.
Loly sejak dulu sangat sayang kepada James. Loly ingat ketika dirinya masih kecil, Jane lah yang selalu datang ke sekolahan setiap kali hari ayah sedunia. James yang selalu berperan sebagai ayah yang baik untuk dirinya di kala sang ibu begitu sibuk dengan pekerjaan dan hidupnya.
Loly sangat tahu kesulitan ibunya yang harus berjuang sendiri setelah perceraiannya dengan Arnold. Loly juga sering melihat ibunya yang selalu menangis di tengah malam di setiap doa-doanya. Dalam tahajud dan witirnya. "Loly gak bisa memaafkan laki-laki itu yang sudah menyakiti mamaku, Om! Ga bisa!" Loly menangis sesegukan.
James memeluk Loly dengan lembut. Mengelus rambutnya dan berusaha untuk membuat Loly merasa nyaman sehingga bisa tenang kembali.
__ADS_1
"Mama dan Papa kamu dulu pernah saling mencintai satu sama lain. Loly, belajarlah untuk memaafkan ayahmu. Dia juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Om tahu, itu pasti sulit untuk Loly. Karena kamu yang selama ini sudah begitu banyak menderita karena perpisahan mereka. Tapi, membenci Papa kamu hanya akan menyakiti hati kamu. Memaafkan jauh lebih baik untuk kamu saat ini. Hatimu akan jauh lebih damai. Apalagi, saat ini ayahmu sedang meregang nyawa dan berjuang untuk kesembuhan dari penyakitnya. Loly! Jangan sampai nanti kamu menyesal ketika ayahmu tidak bisa lagi di samping kamu." James menatap mata Loly dengan teduh.
Loly hanya bisa terdiam mendengar perkataan James yang terdengar begitu menenangkan hatinya. Selama ini hubungan James dan Loly memang dekat sekali. Keadaan yang membuat mereka seakan memiliki perasaan yang mendalam.
James dan Loly sama-sama kekurangan sosok ayah di dalam hidup mereka sejak kecil. James bisa mengerti dengan baik semuanya yang terjadi dalam hidup Loly. Bagaimana perasaan Loly sejak dulu, James sangat paham.
"Loly, belum tentu mama kamu mau rujuk dengan Papa kamu. Mungkin Papa kamu ada keinginan untuk rujuk karena menyesali perbuatan dia yang sudah menyakit di hati ibumu dengan begitu dalam." James tetal berusaha meyakinkan Loly, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya sendiri dia juga saat ini sedang kebab-kebit memikirkan perkataan Loly.
James sangat mencintai Anya. Dia juga tidak akan sanggup kalau harus kehilangan Anya. Tapi, James juga sadar bahwa jodoh, maut dan rejeki tidak bisa di paksakan. Ada sang pengatur kehidupan yang sudah menggariskan semuanya sesuai dengan porsinya masing-masing.
James hanya bisa pasrah dan berdoa. Agar dirinya bisa diberikan keikhlasan untuk menerima segalanya dengan baik apapun yang akan terjadi.
Flash back on
James menemukan Loly sedang menangis di depan rumah sakit. Loly sebelumnya memang sudah menelpon James meminta untuk dijemput olehnya.
Loly bersembunyi di dalam gelap saat Anya begitu panik mencari dirinya. Loly yang merasa kecewa kepada ibunya yang masih memperdulikan Arnold yang sudah jahat kepada mereka sejak dulu.
__ADS_1
Loly masih ingat saat dirinya selalu di bully oleh teman-teman sekolahnya karena dirinya yang tidak punya ayah. Loly tidak sanggup melupakan perasaan sedih dan menyakitkan itu. Ketika dirinya di anggap anak haram oleh semua orang.
Perasaan seperti itu benar-benar sebuah perasaan yang sangat menyakitkan dan menyedihkan. Gadis kecil itu terus menangis dalam gelap dengan menutup mulutmu agar tidak bersuara.
Loly langsung memeluk James ketika James menemukan dia sedang meringkuk di pinggir jalan dalam kegelapan dengan keadaan yang amat menyedihkan sekali. James pada saat itu bertanya-tanya tentang keadaan Loly yang sesungguhnya.
Flash back off
"Ayo kita pulang dulu, kasihan pemilik restorannya. Mereka pasti ingin beristirahat karena sudah tengah malam. Om tadi membayar sangat mahal untuk membuat mereka masih mau membuka restoran ini." Loly melirik kepada James yang masih bisa berkelakar dalam keadaan seperti itu.
Loly tahu kalau James hanya sedang bercanda saja dan benar-benar sedang membujuk dirinya untuk segera pulang. Loly tahu kalau James itu pria baik yang selalu mengkhawatirkan ibunya.
"Apa di hati Om, hanya ada Mamaku saja?" tanya Loly sambil menatap pria yang sekarang sudah berusia 30 tahun itu. Pria matang yang tampan dan gagah sekali di usianya yang masih terbilang muda tapi sudah mencapai puncak kesuksesan.
James mengangguk dan tersenyum, "Kau tahu kan kalau Om itu tergila-gila sama mamamu?" tanya James sambil meringis berniat menggoda Loly agar tidak sedih dan menangis lagi.
"Cih!! Om dari dulu tidak pernah memperhatikan Mama. Cuma memperhatikan aku. Apa benar kalau yang Om cintai itu Mamaku?? Bukan aku?" tanya Loly tiba-tiba.
__ADS_1
James merasa terkejut mendapat pertanyaan semacam itu dari Loly. Loly sendiri merasa heran dengan dirinya yang begitu aneh karena berani bertanya seperti itu pada James.
"Om sejak dulu menyayangimu seperti adik, anak, saudara. Kamu tahu sendiri kan Loly? Kalau Om sejak dulu hanya sebatang Kara di dunia ini. Kalau bukan karena kebaikan hati ibumu yang sudah menyekolahkan dan membiayai seluruh kehidupan Om di masa lalu, Om tidak tahu apa yang akan terjadi sama Om sekarang." Loly hanya diam dan terus menyimak semua penjelasan dan perkataan James tentang hidupnya di masa lalu yang jauh lebih menyedihkan dari pada dirinya.