
"Loly sangat sayang sama kamu, James. Kau sejak dulu sudah menjadi ayah dan juga sahabatnya. Mungkin kasih sayang Loly terhadapmu jauh lebih besar daripada padaku. Aku harus terima itu. Karena memang kamu yang selalu ada dan bersama dia." ucap Anya tersenyum getir.
"Selama ini kamu selalu sibuk dengan pekerjaan. Itu juga kau lakukan demi masa depannya. Anya, jangan merasa bersalah karena hal itu." ucap James yang sedang berusaha untuk menghibur Anya yang kelihatan sedang sedih dan tertekan.
"Bagaimana kondisi Arnold?" tanya James pada Anya yang amat lesu dan tak bersemangat.
"Belum stabil, dia masih kritis." James menepuk bahu Anya memberikan dukungannya.
Anya melirik kepada James yang terlihat saat ini sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Terlihat sekali kalau James ingin menanyakan sesuatu.
"Katakan!! Kalau kau memang memiliki pertanyaan padaku." ucap Anya sambil tersenyum pada James.
James menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa benar kata Loly, kalau kamu akan rujuk dengan Arnold?" tanya James dengan hati-hati sekali.
Anya mengerutkan keningnya. Anya tersenyum sekilas. "Aku gak akan rujuk sama James. Dia saat ini sedang berjuang dengan nyawanya. Aku hanya ingin mendukung dia sebagai teman saja. Jangan salah paham." James merasa lega dengan hal itu.
"Syukurlah!! Dulu aku berpikir kalau kamu masih mencintai Arnold. Makanya balas dendam kamu tidak seperti ekspektasi yang ada di dalam pikiranku. Anya, balas dendammu pada Arnold tidak greget sama sekali." James tersenyum.
Anya hanya meringis mendengar hal itu. "Memang balas dendam yang greget itu seperti apa?" tanya Anya sambil menatap James dengan lekat.
James terlihat berpikir sebelum menjawabnya. "Aku pikir kamu akan mencabik-cabik hidup Arnold dan Lalita hingga berkeping-keping. Tapi, yang aku lihat, kamu memiliki rasa kasihan yang besar terhadap mereka. Kamu hanya mengambil perusahaan Arnold tanpa menghancurkan orangnya." Anya tersenyum.
__ADS_1
Anya menyesap minuman yang ada di hadapannya. "Aku bukan Serigala yang harus mencabik-cabik hidup seseorang. Bagaimanapun juga Arnold adalah Ayah dari Loly. Aku tidak bisa terlalu kejam kepadanya. Walaupun rasa sakit hatiku begitu besar kepada Arnold. Aku mengambil perusahaannya itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya, aku sudah mengambil kesombongan dan harga dirinya sebagai seorang laki-laki." James tersenyum bahagia.
Kebaikan hati Anyalah yang selalu membuat James jatuh cinta kepadanya. "James, apa kamu tahu? Aku selalu merasa nyaman dan bahagia ketika bersama kamu. Aku tidak tahu, apakah itu sebuah cinta ataukah hanya karena kebiasaan saja. Tapi, aku merasa yakin untuk menghabiskan hidupku bersama kamu." James mengangguk lalu menarik Anya ke dalam pelukannya.
"Aku mencintai kamu. Aku janji akan berusaha untuk membahagiakanmu dan Loly. Percaya padaku Anya. Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakitimu lagi." janji James pada Anya.
Anya hanya bisa membenamkan kepalanya di dada James yang bidang. "Anya, kalau aku minta kamu untuk menemaniku malam ini di apartemenku. Apa kau tidak keberatan?" tanya James dengan hati-hati.
Anya langsung menjauh dari James."Berani?" tanya Anya dengan memasang wajah horor. James tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Anya yang lucu dan menggemaskan.
Anya bangkit dan bersiap untuk pergi. Tapi James menariknya kembali sehingga mereka pun akhirnya saling berpelukan satu sama lain.
"Ayolah Anya! Berbaik hatilah padaku. Satu kali saja, ya? Kita kan sudah bertunangan!" James masih tidak menyerah untuk membujuk Anya.
"Bagaimana bisa kau minta hal seperti itu padaku? Sementara kita belum resmi menikah." protes Anya pada James.
James tersenyum. Karena saat ini dia sebenarnya hanya sedang menggoda Anya saja dan ingin mengetahui bagaimana pendapat Anya kalau dirinya berubah menjadi serigala buas.
"Aku pulang dulu aku takut kalau Loly sedang menungguku. Kamu sebaiknya mandi dan membersihkan otakmu dari kotoran yang ga penting!" Anya sampai tersipu ketika mengatakan ucapannya itu.
James mengejar Anya dan memeluknya dengan lembut. "Kau benar-benar tidak mau menolongku? Padahal selama ini aku selalu menolongmu dan selalu siap sedia ketika kau membutuhkan pertolongan." ucap James sambil tersenyum penuh arti kepada Anya.
__ADS_1
"Big no!!" Anya langsung berlari keluar dari apartemen James. James hanya tersenyum saja melihat tingkah laku Anya. James terus menetap kepergian Anya.
"Ya ampun!Memangnya apa yang dia pikirkan? Aku hanya ingin memintanya untuk memasak makan malam buat aku. Aku sangat lapar sekali tetapi aku sudah malas untuk pergi keluar. Sudah lama Anya tidak memasak di rumah ini. Aku hanya rindu dengan masakan dia. Apa yang dia pikirkan saat ini tentang aku? Astaga!" James langsung menutup mulutnya karena terkejut dengan isi pikiran Anya.
"Apa dia berpikir kalau aku akan mengajaknya ke ranjang? Oh my God! Anya!! Aku tidak menyangka kalau kau berpikir kalau aku berpikir hal seperti itu!" James akhirnya hanya bisa masuk ke dapur dan membuat mie instan untuk diri sendiri.
Sepanjang malam James hanya bisa tersenyum melihat rona wajah Anya yang sangat lucu dan menggemaskan. Anya sejak dulu selalu memiliki daya tarik yang sangat luar biasa terhadap James.
"Aku sebaiknya tidur saja supaya besok bisa segera mengurus rencana pernikahan kami. Aku juga harus membujuk Loly untuk bertemu dengan ayah kandungnya. Aku gak mau kalau nanti dia akan menyesal suatu saat nanti. Loly adalah seorang anak yang baik dia pasti akan menuruti apa yang aku katakan." James akhirnya menelpon Anya untuk merbuat janji temu.
Anya yang saat ini sedang di rumah sakit terlihat senang karena James berinisiatif untuk menolongnya agar bisa membawa Loly bertemu dengan Arnold.
Tadi ketika Anya sudah bersiap untuk pulang ke kediamannya. Tiba-tiba dia mendapat telepon dari Rudi. Rudi mengatakan kalau Arnold saat ini sudah siuman dan mencarinya.
"Baiklah aku akan datang ke rumah sakit bersama dengan Loly!" James kemudian menutup panggilan telepon karena dia akan menjemput Loly di apartemen Anya.
Anya saat ini sudah berada di dalam ruangan Arnold dan menatap wajahnya yang terlihat semakin kurus dan menahan sakit yang tiada tara.
Melihat Arnold yang menderita seperti itu membuat Anya hatinya benar-benar terhiris. Semua dendam dan kebencian di hatinya yang dulu menggunung. Entah kenapa saya akan menghilang begitu saja.
Anya mendekati Arnold yang susah payah untuk berbicara dengannya.
__ADS_1
"Beristirahatlah jangan terlalu dipaksakan untuk berbicara." bisik Anya di telinga Arnold yang sangat kesulitan untuk berbicara ataupun menggenggam telapak tangannya.
"Anya! Tolong kau maafkan aku. Aku sudah banyak salah sama kamu di masa lalu. Aku, aku udah gak kuat lagi menahan semua ini. Anya! Aku mohon. Maafkan aku." Ucap Arnold dengan berlinangan air mata dan penuh penyesalan.