
Anya terlihat begitu gugup saat melihat polisi yang sudah menodongkan pistol ke arahnya.
"Angkat tangan! Letakkan pria itu di sana!" Anya seketika berdiri dan melihat ke arah Arnold yang sudah jatuh pingsan.
Anya berusaha untuk tenang dalam menghadapi polisi. Dia tidak bersalah atas apa yang terjadi pada Arnold. Oleh karena itu, Anya tidak merasa takut dengan apapun.
"Mari ikut dengan kami ke kantor polisi dan jelaskan semua ini di sana!" ucap anggota polisi yang masih terus menatap ke arah Anya.
Arnold segera diangkat oleh tim paramedis yang ikut dengan polisi. Ketika polisi hendak membordol tangan Anya, kepala pelayan langsung masuk dan menjelaskan kepada polisi bahwa bukan Anya pelakunya. "Lalu siapa?" tanyanya heran.
Kepala pelayan kemudian menjelaskan semuanya kepada polisi yang bertugas menangani kasus itu.
"Tuan Arnold menelpon kami. Dia mengatakan kalau dia ditusuk oleh orang yang sudah mencuri sertifikat rumahnya. Saat kami sampai disini, kami hanya melihat Nyonya Anya. Tidak ada siapapun disini. Kami harus menangkapnya untuk menyelidiki kasus ini lebih jauh. Dia bisa meminta pertolongan kepada pengacaranya untuk membelanya di pengadilan. Kita juga bisa menunggu tuan Arnold untuk siuman dan menjelaskan semua kejadian penusukan ini yang sesungguhnya pada polisi," Anya merasa lemas mendengarnya.
"Tapi sudah saya pastikan bahwa bukan nyonya Anya yang menusuk Tuan Arnold. Anda tidak bisa berbuat sewenang-wenang seperti ini! Anda malah membiarkan penjahat yang sesungguhnya, mungkin saja sekarang sedang berusaha untuk kabur karena menghindari hukuman." Kepala pelayan tetap bersikeras untuk menolong Anya.
Anya menatap kepala pelayan yang sudah berusia senja. Anya merasa berterima kasih kepadanya. Karena kepala pelayan itu sudah berusaha untuk membantunya.
"Baiklah Anda ikut dengan kami ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Bukan sebagai tersangka. Nanti anggota kami yang lain akan segera menuju ke rumah Nyonya Lalita. Kalian berdua harus memberikan kesaksian tentang kasus ini!" hanya merasa lega setelah komandan polisi memutuskan hal itu.
"Terima kasih, Pak!" hanya benar-benar merasa bersyukur sekali karena dirinya bisa lolos dari penjara atas bantuan kepala pelayan yang bekerja di kediaman Arnold.
Arnold saat ini sudah dibawa ke rumah sakit dan sudah ditangani oleh dokter.
Setelah memberikan kesaksian di kantor polisi, Anya langsung mendatangi rumah sakit di mana Arnold saat ini sedang dirawat.
"Apakah Tuanmu masih belum sadar juga?" tanya Anya pada pembantu yang menunggu Arnold sejak tadi di ruangan perawatannya.
__ADS_1
"Belum Nyonya! Tuan Arnold sejak tadi masih saja pingsan. Dokter bilang katanya itu adalah pengaruh dari obat bius. Kondisi Tuan sudah stabil dan lewat dari masa kritisnya. Mungkin sekitar 2 sampai 3 jam lagi baru bisa siuman." Anya menghela nafas dengan lega. Dia senang karena kondisi Arnold sudah tidak berbahaya lagi.
Anya kemudian pulang ke rumahnya. Di sana James sudah menunggu kedatangannya dengan harap-harap cemas.
"Kamu dari mana?? Dari tadi aku menunggumu dan kau baru nyampe sini?" James mengikuti langkahnya dan masuk ke dalam Mansion.
Anya meletakkan sepatu dan tasnya sembarangan sehingga membuat James mengerutkan keningnya.
"Sejak kapan kau jorok seperti ini?" James terlihat protes kepada sepupunya yang langsung membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamunya.
Anya terlihat memejamkan matanya. Dia merasakan kepalanya berdenyut kencang. Sakit sekali!! James bisa melihat ekspresi ketidaknyamanan di wajah Anya.
"Kamu baik-baik saja kan, Anya?? Di luar sana ga terjadi apa-apa kan? Kenapa pulang-pulang wajah kamu seperti itu?" James mendekat kepada Anya dan memeriksa suhu tubuhnya.
"Tolong biarkan aku beristirahat! Aku lelah sekali!" James kemudian mundur dan memperhatikan Anya dari jarak aman.
"Lalita?? Apa benar kalau dia yang sudah menusuk mantan suamimu?" tanya James pada Anya.
Anya yang sedang merasa lelah lahir batin hanya diam saja dan tidak menanggapi semua pertanyaan James padanya.
"Heh, jawab dong!! Benar Lalita sudah menusuk mantan suamimu?" James mengguncang lengan hanya sampai terbangun.
Anya merasa risih dengan kehadiran James yang sejak tadi terus saja berisik dan tidak mau diam.
"Pergi sana ke rumahmu! Jangan ganggu aku!" Anya kemudian bangkit dari kursi dan menuju ke dalam kamarnya sendiri.
James yang masih penasaran dengan berita itu mengikuti sepupunya yang terlihat begitu lelah dan mengantuk.
__ADS_1
" Ya ampun jawab pertanyaanku, susah banget!" James mulai merasa kesal dengan kelakuan hanya yang acuh kepadanya sejak tadi.
Anya juga mulai merasa jengkel terhadapnya. "Apa kau tidak lihat jam berapa sekarang, huh? Astaga! Sempat-sempatnya kau mengganggu orang lain, huh?? Sana pulang ke rumahmu sendiri!" James terkejut melihat hanya yang bersikap kasar padanya.
James sampai tidak bisa berkata-kata melihat emosi di wajah sepupunya yang cantik.
James baru kali ini melihat emosi seperti itu diperlihatkan oleh Anya terhadap dirinya. "Kamu lagi sakit ataukah kesambet setan? Kenapa kau kasar sekali?" tanya James heran pada Anya.
Terlihat Anya yang menghala nafas dengan berat. " Lagi pula kamu juga aneh banget! Kenapa kamu malah mengganggu orang yang sedang lelah seperti ini? Apa kamu tidak punya mata untuk bisa melihat keadaanku sekarang?" tanya Anya pada James.
James merasa bersalah karena sudah membuat sepupunya terganggu dengan kehadirannya.
"Baiklah kau tidurlah dulu. Aku akan pergi ke dapur dan membuatkan makanan untukmu. Aku yakin kamu pasti melupakan makan malammu lagi!" Anya hanya mengambil bantal guling kemudian kembali terlelap.
James yang semula marah terhadap sepupunya, dia sekarang malah merasa kasihan kepadanya yang hidupnya terlihat begitu berantakan.
"Bahkan untuk sekedar makan saja, kau tidak peduli dengan dirimu sendiri. Kamu bisa sakit kalau terus menjalani kehidupan seperti itu." James kemudian pergi ke dapur dan memasak makanan kesukaan Anya. Hidup bersama Anya di luar negeri selama 10 tahun, sudah cukup membuat James mengenal Anya luar dan dalam.
Sambil menunggu masakannya matang, terlihat James yang sedang membereskan mansion milik Anya. James paling tidak suka melihat tempat yang berantakan.
James adalah type pria perfeksionis yang suka kebersihan dan tidak suka sesuatu yang jorok. James tampak begitu terampil membereskan rumah milik Anya.
Setelah semua makanan siap, James kemudian membangunkan Anya yang masih lelap di kamar.
Entah kenapa, tiba-tiba James merasa jantungnya berdegup sangat kencang saat dia melihat Anya yang tertidur begitu bebas dan leluasa.
Anya bahkan menendang selimut yang tadi di pakaikan oleh James padanya. "Ih, apa yang terjadi padaku?? Apa jantungku sakit? Kenapa berdebar kek gini?" monolog James pada dirinya sendiri.
__ADS_1