
Suasana di ruangan Arnold terasa mencekam. Loly masih saja menjaga jarak untuk tidak terlalu dekat dengan ayah kandungnya sendiri.
Loly lebih banyak diam dan bergelut dengan pikirannya sendiri yang amat kalut. Sejujurnya saja, Loly merasa takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan Arnold. Di akui atau tidak, Loly merasa bahagia karena dia ternyata masih memiliki orang tua yang lengkap.
Dulu sewaktu Loly masih kecil dan belum terlalu mengerti tentang status ibunya yang seorang janda. Loly sering sekali mendapatkan bully dan juga hinaan dari teman-temannya karena dia tidak pernah memiliki seorang ayah yang ada di sampingnya.
Pada fase yang berat itu, James yang selalu mendampingi Loly dalam setiap situasi yang terjadi. Anya dan James bisa dikatakan memiliki andil yang besar dalam pendidikan Loly di masa kecilnya.
Jadi sangat wajar kalau James sangat sayang kepada Loly, begitu juga sebaliknya. Mungkin kalau orang yang tidak mengetahui tentang kehidupan mereka akan berpikir kalau mereka benar-benar ayah dan anak. Hubungan mereka lebih dekat dari pada hubungan darah yang di miliki oleh Loly dan Arnold.
Arnold sejak tadi terus menatap ke arah Loly. Ingin sekali dirinya memeluk Loly dan dipanggil Ayah oleh dia. Tapi Arnold sadar diri. Dia tahu bahwa segala sesuatu tidak bisa didapatkan secara instan. Butuh kesabaran dan kekuatan mental yang kuat untuk bisa diakui oleh sebagai ayahnya.
Tapi saat ini fisik dan mental Arnold benar-benar sedang berada di ambang titik terendah dan lemah. Arnold sendiri tidak tahu sampai kapan usianya akan bertahan. Bagi Arnold, setiap detik dalam hidupnya begitu berarti dan ingin dihabiskan bersama orang yang dia kasihi dan dia cintai.
"Anya, apa kau bisa minta kepada Loly untuk memanggilku Ayah lagi? Aku benar-benar ingin sekali mendengar hal itu." pinta Arnold dengan suara pelan dan terdengar begitu bergetar.
Anya sudah mengetahui kondisi Arnold yang masih kritis dan parah. Dokter sudah angkat tangan dalam menyembuhkannya. Saat ini dokter hanya bisa memberikan obat anti nyeri dan bantuan alat medis untuk menunjang kehidupan Arnold yang amat menyedihkan sekali.
__ADS_1
"Sabarlah! Loly pasti juga membutuhkan waktu untuk bisa memahami semua ini. Tolong jangan paksa Loly untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukan. Aku yakin, Loly menyayangi kamu juga. Walaupun dia tidak menyatakannya secara langsung kepada kita." Anya melirik kepada Loly yang sejak tadi terlihat serius berbicara dengan James yang begitu setia mendampingi Anya dalam menghadapi kejadian itu.
James benar-benar seorang lelaki sejati yang sangat mencintai Anya dengan tulus. Dia tidak marah ataupun kesal melihat hanya yang memperhatikan Arnold yang saat ini memang dalam kondisi yang lemah. "Aku tidak tahu kapan waktuku akan berakhir. Apakah tidak bisa Loly untuk memaafkan Papa?" tanya Arnold sambil menatap Loly.
Loly sejak tadi sebenarnya mendengarkan percakapan ibu dan ayahnya. Dia sengaja terlihat seperti sibuk bersama James. Padahal saat ini hatinya sedang kebat kebit dan galau.
"Om, aku mau keluar dulu." Pamit Loly kepada James. James hanya bisa mengangguk saja.
James mencoba untuk memahami perasaan Loly yang pastinya berat un begitu saja menerima kehadiran Arnold dan memaafkan ayahnya.
Sebelas tahun lamanya Arnold tidak pernah hadir dalam kehidupannya ataupun berperan sebagai ayahnya. Kini tiba-tiba saja Arnold datang dan mengaku sebagai ayahnya di saat dia sekarat dan sedang berjuang untuk mempertahankan nyawanya.
Anya kemudian meminta tolong kepada James untuk memanggil dokter yang bertanggung jawab merawat Arnold selama berada di rumah sakit.
Rudi dan Anjani saat ini sedang berada di bagian administrasi dan membereskan tagihan biaya perawatan Arnold. Sementara Anya bersama dengan Arnold yang terlihat kesulitan bernafas.
Anya benar-benar sudah panik luar biasa melihat kondisi Arnold yang amat memprihatinkan. "Tolong! Tenanglah dan jangan terlalu banyak berpikir yang tidak penting. Kamu saat ini lebih baik fokus dengan kesehatanmu sendiri. Jangan terlalu memusingkan Loly. Dia pasti sayang dan mencintaimu sebagai ayahnya walaupun tidak dia tunjukkan secara nyata. Sabar!! Dia secara perlahan-lahan pasti akan menerima kamu dalam hidupnya!" Anya memegang tangan Arnold yang terasa begitu dingin dan kaku.
__ADS_1
James sudah datang bersama dengan dokter. Rudi dan Anjani juga terlihat begitu siaga dengan kondisi Arnold. "Ada apa Mah?" tanya Loly saat dia kembali melihat kehebohan di depan kamar Arnold.
"Papa kamu drop lagi. Loly! Mama mohon sama kamu. Tolong jangan terlalu bersikap keras terhadap ayahmu yang saat ini sedang lemah kondisinya. Maafkan ayah kamu. Anakku!! Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Setiap kita menjadi sejarah kelam di dalam kehidupan orang lain. Anakku! Belajarlah untuk memaafkan seseorang yang pernah menyakiti kita di masa lalu. Kasihan ayah kamu, Nak!" Anya memeluk Loly dengan penuh pengharapan.
Loly saat ini terus menetap Arnold yang mulai kehilangan kesadaran lagi.
'Ya Allah! Jika memang ini adalah kehendakMu dan engkau begitu menyayangi ayahku. Aku iklas kalau kau akan mengambil dia dariku. Aku sungguh benar-benar tidak tega melihat penderitaannya. Aku mohon ya Allah! Ampunkanlah dosa-dosa ayahku di masa lalu. Mudahkan jalannya menuju ke sisimu. Aku mohon ya Allah!' doa suci mengalir begitu saja di hati Loly saat melihat Arnold melalui kaca jendela.
Loly hatinya merasa begitu terhiris melihat penderitaan ayahnya. Rasa sakit yang begitu besar terus ditahan oleh Arnold. Loly bisa melihat semua penderitaan dan perjuangan ayahnya saat ini.
Loly bahkan melihat Arnold yang muntah darah dalam diam. Arnold sengaja menyembunyikan hal itu dari keluarganya agar mereka tidak khawatir dengan kondisi dan kesehatannya.
Rudi saat ini benar-benar sedang mengkhawatirkan kondisi anaknya. Rudi berpikir bahwa kondisi anak sudah membaik Karena dia sudah mulai bisa berbicara dengan normal dan tidak kehilangan suaranya lagi seperti beberapa hari yang lalu.
Rudi berpikiran kalau Arnold akan sembuh. Setelah dia bertemu dengan Loly. Tertapi kondisi Arnold malah semakin memperhatikan. Dokter terlihat keluar dari ruangan Arnold di rawat.
Wajah dokter yang di tekuk dan begitu tertekan membuat semua orang menjadi tidak bisa berpikir dengan jernih. Loly sejak tadi sudah menangis di dalam pelukan ibunya. Entah kenapa melihat raut wajah dokter membuat Loly memiliki firasat yang buruk tentang kondisi ayahnya.
__ADS_1
"Mah, Papa akan baik-baik saja kan? Mah, Loly takut tidak akan bisa bertemu dengan Papa lagi esok hari. Loly menyesal Mah. Kenapa tadi ketika Papa sadar, Loly tidak mau memberikan apa yang dia minta? Loly sungguh anak yang jahat!" Loly sesegukan sambil memeluk Anya yang terlihat menangis juga.