Cinta Seorang Anya Yang Menghilang

Cinta Seorang Anya Yang Menghilang
Bab 45


__ADS_3

"Loly, ayolah ikut Om ke rumah sakit. Om hanya takut kalau kamu nanti menyesal dengan keputusan kamu sekarang yang gak mau ketemu ayahmu." ucap Arnold yang saat ini sedang berusaha sangat keras untuk membujuk Loly yang tetap keukeuh dan menolak hal itu.


Loly menatap tajam kepada James. Loly merasa kecewa kepada Arnold yang sejak dulu selalu membuat hati ibunya terluka luar biasa.


"Katakan padaku! Apakah aku harus memaafkan dia? Katakan padaku!" Loly terlihat histeris dan marah. James menarik nafas dengan dalam.


James bisa mengerti bagaimana perasaan Loly sekarang. James sudah mengetahui situasi dan keadaan Arnold dari dokter yang merawat Arnold.


Keadaan Arnold sangat kritis. Walaupun operasinya berhasil tetapi kondisi Arnold tidak stabil dan terus berada dalam tahap pengawasan yang amat ketat oleh dokter.


James mendapat telpon dari Anya. "Apakah Loly masih belum juga mau datang kemari? James, keadaan Arnold semakin kritis. Dokter merasa pesimis dengan kesembuhan Arnold. Kau tahu bukan? penyakit kanker bukanlah penyakit yang mudah untuk ditangani hingga tuntas. Perjuangan yang harus dialami oleh Arnold tidaklah mudah." Anya begitu sedih karena Loly yang tidak juga mau datang untuk bertemu dengan Arnold.


Arnold sekarang pingsan lagi. "Aku mohon James bawalah Loly kemari. Aku hanya khawatir kalau Arnold saat ini sedang menunggu untuk bertemu Loly sebelum dia menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kali." Suara Anya terbata-bata.


Hati James benar-benar tidak sanggup mendengar kesedihan Anya. James tidak merasa cemburu sama sekali karena Anya yang tetap memperdulikan Arnold walaupun mereka sudah bercerai lama.


James malah merasa bangga kepada Anya yang bisa berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan untuk Anya. "Baiklah aku akan menyeret Loly untuk ke sana. Aku benar-benar tidak ingin kalau sampai Loly menyesal apabila Arnold benar meninggal." Ucap James yang sengaja mengeraskan suaranya agar Loly bisa mendengarnya.


Loly yang tadi hendak masuk ke kamarnya sontak menghentikan langkah kakinya. Loly terlihat meneteskan air matanya karena sedih sekali.


Loly sebenarnya peduli dengan Arnold dan ingin sekali untuk menjenguknya. Tapi ego dan perasaan tersakiti benar-benar membuat Loly agak terganggu hatinya untuk datang dan menemui Arnold.

__ADS_1


James sengaja meloadspeaker panggilan tersebut supaya Loly bisa mendengarnya. Anya saat ini sedang menangis sedih. Hati Loly merasakan pilu ketika mendengar suara ibunya yang begitu sedih.


"Om, ayo kita ke rumah sakit!" Ajak Loly pada James yang tadi masih sibuk menelpon Anya.


Anya meneteskan air matanya mendengar suara Loly yang mau datang untuk Arnold. " Terima kasih nak karena kamu mau untuk bertemu dengan ayahmu. Mama akan menunggu kamu di sini." ucap Anya dengan suara gemetar dan rasa haru luar biasa.


Anya kemudian menutup panggilan telepon tersebut supaya James bisa mengantarkan Loly ke rumah sakit dengan segera.


"Hati-hati di Jalan James dan bawalah putriku kemari dengan selamat!" pesan Anya kepada James.


James benar-benar seorang laki-laki yang baik dan sangat tulus mencintai Anya dan sayang sakali kepada Loly. James tidak menghalangi Anya atau pun Loly untuk mendampingi Arnold di rumah sakit.


Bisa dikatakan James lah yang begitu antusias untuk membawa Loly agar bisa bertemu dengan ayahnya.


Loly langsung berlari ketika sampai di rumah sakit di mana saat ini Arnold sedang dirawat secara intensif.


"Tenanglah, jangan kita buru-buru seperti itu takutnya kamu malah jatuh nanti." James terus mengingatkan Loly untuk berhati-hati dan tidak berlarian secara sembrono untuk bisa segera bertemu dengan ibunya dan juga ayahnya.


Perasaan Loly saat ini benar-benar sedang kacau. Benar kata James kalau Loly sedang merasakan penyesalan. Karena dia tidak segera menemui Arnold pada saat pertama kali mereka datang ke rumah sakit itu.


"Mama, Bagaimana keadaan Papa sekarang?" tanya Loly dengan sedih dan air mata yang menetes di kelopak matanya yang bengkak karena kebanyakan menangis dalam diam.

__ADS_1


Walaupun mulutnya mengatakan tidak mau bertemu Arnold dan mengatakan hal-hal yang keras. Tetapi Loly adalah seorang anak gadis yang berhati baik dan lembut.


"Ikutlah bersama Mama dan bicaralah dengan ayahmu secara langsung. Papamu sudah menunggu kamu sejak tadi." Ucap Anya sambil memeluk Loly yang terlihat begitu sedih.


Perasaan Loly saat ini bercampur aduk antara marah, benci dendam dan rasa rindu sebagai seorang anak terhadap ayahnya yang tidak dia temui sejak lahir.


Anya membawa masuk Loly ke dalam ruangan di mana saat ini Arnold dijaga ketat oleh suster dan dokter yang berkualitas dan menjaganya dengan baik. "Dokter, tolong Izinkan putriku untuk bertemu dengan ayahnya yang sejak kemarin sudah menunggu kedatangannya." pinta Anya pada dokter jaga yang tugas pada malam itu.


Setelah berbicara cukup serius dan membujuk dokter itu. Akhirnya Loly diperbolehkan untuk bertemu secara langsung bersama Arnold yang masih dengan dibantu oleh penunjang kehidupan.


"Itu papa kamu. Dia benar-benar sangat kritis entah tidak bisa melewati malam ini atau tidak. Loly! Berdoa yang baik untuk ayahmu dan mintalah kesembuhan untuknya. Loly, doa seorang anak sholehah pasti di dengar sama Allah!" ucap Anya yang mendadak menjadi gugup untuk berhadapan dengan Arnold bersama dengan Loly dan juga James.


Loly mendekati Arnold yang masih memejamkan matanya. Karena masih berada dalam pengaruh obat bius. Setelah dia dioperasi kembali oleh tim dokter yang menanganinya.


"Papa tolong bertahanlah dan sembuhlah demi aku. Kau punya banyak hutang padaku yang harus kamu lunasi seumur hidup kamu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu selama hidupku. Kalau sampai kau pergi meninggalkan kami. Aku mohon Papa! Bangunlah dan bertemu denganku." Loly menangis sesegukan sambil menggenggam telapak tangan Arnold yang begitu dingin menurut Loly.


Anya hanya bisa menatap interaksi mereka berdua yang begitu mengharukan. Mendengar suara Loly, tiba-tiba sanggup membuat Arnold terbangun.


"Kau akhirnya mau juga untuk bertemu dengan papamu yang jahat ini. Loly, Papa mohon maafkanlah kesalahan Papa di masa lalu. Papa ingin pergi dengan tenang tanpa harus membawa rasa bersalah dan dosa kepada kalian berdua. Loly! Jadilah seorang gadis yang baik dan menyayangi ibumu sampai kapanpun. Papa mohon anakku!" Loly sampai bergidig karena mendengar suara Arnold.


Sejujurnya Loly ingin sekali segera berlari dan memeluk Arnold. Akan tetapi Loly terlihat angkuh dan dingin berusaha untuk menjaga sikapnya dan perasaan James.

__ADS_1


Loly tidak mau memberikan kesedihan untuk James dengan kepeduliannya terhadap Arnold. Loly benar-benar tidak mempedulikan tentang keadaan ayahnya sekarang.


__ADS_2