Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka

Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka
Kemarahan Arumi


__ADS_3

"Nara?"


"Ya..?"


"Kamu mau menjadi Ibu untuk Arumi?" Abi ingin mengatakan itu namun dia menyadari sesuatu hal maka yang terucap adalah "Rambut kamu bagus."


Kinara tersenyum "Terimakasih Pak, Aku cuma gak mau orang ketakutan lihat rambutku yang gak berbentuk.." Kinara menambahkan kekehan di belakang ucapannya.


Abi menipiskan bibirnya "Kalau begitu aku pergi dulu.." Abi bergumam lalu mengangguk.


Kinara pergi kearah dimana Arumi berada.


Abi melihat punggung Kinara yang semakin menjauh dengan desa han panjang yang keluar dari bibirnya, dia tidak punya keberanian lebih untuk mengatakannya, Abi juga tak tau apa Kinara akan menerimanya atau tidak. Bagaimana jika Kinara hanya menganggapnya memanfaatkannya demi Arumi.


Baiklah tunggu sebentar, sebentar saja.


**


"Kamu mau?" Arumi menggeleng "Arumi.. di sekolah baru kamu akan mendapat banyak teman, dan Arumi tidak akan kesepian lagi" Kinara mencoba membujuk Arumi agar mau pergi ke sekolah umum.


"Arumi gak kesepian, ada tante sekarang"


"Tetap saja Arumi harus pergi sekolah"


"Arumi mau sekolah di rumah saja di temani tante"


"Bagaimana kalau tante gak bisa menemani kamu sepanjang hari, dan setiap waktu, bagaimana kalau tante pergi dari sini?."


Arumi mengerutkan keningnya "Tante mau pergi?."


"Tentu saja, tante punya kehidupan sendiri, suatu hari nanti mungkin tante akan menikah, dan punya anak. Tante gak mungkin masih harus berada disini selamanya."


Arumi mengerucutkan bibirnya, dengan mata menatap tajam ke arah Kinara, nafas Arumi bahkan naik turun, anak kecil itu sedang mengeluarkan amarahnya " Kalau tante mau pergi, kenapa datang sekarang!" Kinara tertegun.


Arumi, bocah kecil itu tak pernah merasakan kasih sayang ibu, dan dia baru pertama kalinya merasakan kasih sayang dari seorang wanita yang bahkan baru dia kenal, dan langsung menaruh perhatian padanya "Harusnya tante gak usah peduli dan datang kalau mau pergi!" teriakan Arumi membuat semua orang berdatangan termasuk Abi yang berjalan dengan tergesa- gesa.


"Rumi, Ada apa sayang?" tanya Abi dengan khawatir.


"Rumi gak suka tante Kinara, dia sama aja kayak Mama! dia mau tinggalin Arumi!" Arumi menangis.


Abi melihat ke arah Kinara yang masih membeku kebingungan, ada apa dengan Arumi?


Kinara hanya bisa mengerjapkan matanya "Ada apa ini?" pertanyaan Abi beralih ke Kinara.

__ADS_1


"Itu.. aku hanya bilang aku tidak bisa terus menerus berada disini, karena itu.. Arumi juga harus mulai bersosialisasi, dan.." Kinara merasa tercekat melihat tatapan Abi yang mulai menajam.


"Dan?" desak Abi merasa tak sabar.


"Dan.. aku juga kelak akan menikah, jadi Arumi tidak bisa terus bergantung padaku" Itu perkataan nya barusan pada Arumi, Meski Kinara tidak keberatan Arumi datang padanya, tapi bukankah Arumi lebih baik bisa bergaul dengan yang lain selain Kinara.


Lagipula Kinara juga tidak sungguh- sungguh, dia belum memikirkan sesuatu sejauh itu, luka yang di berikan Yoga juga belum sembuh, tapi Kinara hanya berkata apa yang akan terjadi jika Kinara sudah tidak ada, apa Arumi akan kembali jadi anak kesepian?.


Rahang Abi mengeras, bahkan dia terlihat lebih marah, di banding Arumi.


Beraninya Kinara mengatakan itu, dia akan menikah dan pergi dari sana begitu?.


Abi memalingkan wajahnya dan melihat Arumi yang masih cemberut "Pantas saja Arumi marah!" Abi membawa Arumi kedalam gendongannya "Ayo sayang" Arumi menenggelamkan wajahnya di bahu Abi, Arumi bahkan tak mau melihat Kinara.


Kinara terpaku di tempatnya melihat Ayah, dan anak itu pergi begitu saja.


Apa salahnya?


Para pelayan saling berbisik dan membubarkan diri, Kinara berubah menjadi canggung, kenapa dengan Ayah dan anak itu menjadi dingin.


.


.


.


Kinara mendesah lelah karena keesokan hari nya Arumi masih tak mau bertemu dan bicara dengannya.


Kinara mendengus lalu untuk apa dia masih disana?.


Kinara meraih tasnya lalu keluar dari kamar, tugasnya adalah mengurus Arumi, tapi Arumi sendiri tak mau dia asuh, lebih baik dia keluar rumah saja sambil menunggu Arumi mau bicara lagi dengannya.


Juga tuan rumah yang ikut-ikutan tak pernah muncul jadi Kinara memutuskan untuk pergi.


Arumi keluar kamar dengan wajah cemberut, dan melihat sekelilingnya "Dimana tante Kinara?" tanyanya pada salah satu pelayan yang melewatinya, satu hari tidak bertemu Kinara, Arumi malah kesal sendiri.


"Oh, Mbak Kinara pergi Non"


"Pergi? pergi kemana?"


"Iya, Nona pergi, sejak tadi pagi"


Arumi berlari ke arah kamar Kinara dan benar saja Kinara tidak ada, Arumi menangis terisak, ternyata semua orang pergi meninggalkannya, entah itu Mamanya, atau pun Kinara, mereka sama saja, Arumi kembali ke kamarnya dengan langkah gontai.

__ADS_1


Arumi benci ditinggal sendiri, benci semua orang meninggalkannya.


Arumi mengamuk dan melempar semua perabot yang ada di kamarnya, semua orang jahat padanya, meninggalkannya sendirian.


Pelayan yang ketakutan Nona Arumi terluka mulai panik dan mencoba menghentikan Arumi.


Pelayan yang lain juga mencoba menghubungi Kinara namun tidak juga di angkat, mereka beralih menghubungi tuan mereka dan saat panggilan terjawab, pelayan itu langsung mengatakan bahwa Nona kecil mereka sedang menangis dan marah.


Abi yang memang sibuk sejak kemarin dan belum sempat untuk pulang, memutuskan untuk segera beranjak dan menuju rumahnya.


Saat tiba di rumah Abi melihat Arumi sudah duduk dengan barang berantakan, tidak ada yang berani mendekat karena Arumi akan berteriak dan melempar mereka.


Abi mende sah lelah, benar- benar sifat ibunya menurun pada Arumi, tempramen Arumi sudah keras sejak usia dini, dan ternyata anak itu bisa mengamuk dengan mengerikan.


Abi berjalan mendekat lalu berjongkok di depan Arumi "Hey.. sayang"


Hiks.. hiks.. Arumi masih sesegukan "Tante Nara jahat, dia juga pergi tinggalin Rumi, sama seperti Mama, jahat.. hiks.. jahat.."


Abi beralih kearah pelayan lalu bertanya "Kemana Kinara?"


"Mbak Nara pergi Pak, sejak pagi.." Abi mengeraskan rahangnya, beraninya Kinara pergi begitu saja tanpa memberitahunya, dia fikir siapa dia, beraninya melakukan itu pada Arumi dan dirinya, apa Kinara lupa bahwa dia sedang bekerja sebagai pengasuh Arumi. "Saya sudah mencoba menghubungi Mbak Nara Pak, tapi tidak di angkat"


Abi melihat Arumi yang masih menangis di pelukannya, saat Riana pergi Arumi sama sekali tidak menangis dan terlihat acuh, tapi sekarang saat Kinara pergi kenapa Arumi mengamuk bahkan histeris, apakah begitu besar pengaruh Kinara untuk Arumi.


Apakah dia benar-benar harus mengikat Kinara demi Arumi.


Suasana menjadi hening saat para pelayan satu persatu mulai pergi dari kamar Arumi.


Yang tersisa hanya Abi dan Arumi yang masih menangis di pangkuan Abi "Ada apa dengan kamar ini?" Abi dan Arumi menoleh ke arah sumber suara dan mereka terpaku bersama.


"Kamu!" Abi mengerutkan keningnya melihat Kinara dengan membawa beberapa kotak di tangannya.


"Darimana saja kamu!"


"Eh,?"


.


.


Like..


Komen..

__ADS_1


Vote..


__ADS_2