Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka

Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka
Abi Marah?


__ADS_3

"Istriku benar Riana, dan aku yakin apapun yang istriku lakukan semua demi kebaikan kami, dan juga.. jika kamu terus mengantar Arumi, bagaimana dengan kesibukan kamu.. ah iya, aku lupa untuk menanyakan ini.. kamu bekerja?, bekerja dimana sekarang.. bukankah tidak baik mengambil cuti terlalu lama untuk mengantar Arumi, sedangkan Kinara punya banyak waktu karena dia ibu rumah tangga.."


Abi kembali mengecup dahi Kinara dan hal yang membuat Kinara mencebik, Abi pasti sengaja melakukan ini di depan Riana jadi dia tidak bisa menolaknya, Kinara merasa malu karena banyak pelayan di pagi hari yang berlalu lalang memperhatikan mereka..


Riana semakin meradang, Abi tau kelemahannya, tentunya dia tau Riana tidak bekerja, dan selama ini hanya mengandalkan uang dari perceraiannya dengan Abi.


Keluarga Riana memang keluarga berada tapi sejak dia bercerai dengan Abi, mereka semua menjauhinya terlebih dia pergi tanpa Arumi, selama ini Abi juga menjadi investor di perusahaan keluarga Riana, dan sejak bercerai Abi menarik semuanya, maka keluarganya semakin menjauhinya.


Setelah bercerai Riana mengandalkan uang pemberian Abi, yang banyaknya tak main-main namun saat dia menyadari terlalu lama dia terlena pergi kemanapun yang dia suka dan membeli apapun, hingga tak menyadari uangnya mulai berkurang.


Dia mulai kebingungan, hingga dia bertemu seseorang dan menawarinya sebuah kerja sama yang juga menguntungkannya, jika dia berhasil untuk menghancurkan keluarga Kinara, dia akan mendapatkan uang, lalu dia juga bisa masuk kedalam keluarga Abi kembali, bagus sekali bukan jika dia bisa menjadi istri Abi kembali, selain tak perlu memikirkan uangnya akan habis karena selama dirinya menjadi istri Abi, Abi tak pernah membuatnya kekurangan meski dirinya yang tak pernah melayani Abi sekalipun.


Riana pergi dengan marah, dia jadi terlihat bodoh di depan Kinara, ternyata wanita itu tak semudah yang dia fikirkan.


Kinara menghela nafasnya saat Riana sudah tak terlihat "Berhenti menciumku Mas!" Abi terkekeh namun dia terus saja mengecupi wajah Kinara bahkan kini dia sudah memeluknya dari belakang.


"Astaga, Mas!"


"Kenapa memangnya?" Kinara melihat sekelilingnya, dan syukurlah para pelayan sudah tidak ada, sudahlah terserah.


.


.


.


Riana membanting pintu mobil dengan kesal, sudah satu minggu bukannya mendapat kepercayaan Abi dan menyingkirkan Kinara, dia malah kalah telak oleh wanita itu.


Riana bahkan sudah mengirimkan fotonya bersama Arumi dan Abi, yang terlihat harmonis, bukannya itu cukup untuk menggoyahkan keluarga mereka, tapi yang terjadi adalah dia melihat mereka semakin mesra pagi ini, lalu Abi yang terlihat semakin tak tahu malu mencium Kinara di depannya.


Sial..


Baru saja keluar dari gerbang rumah Abi, suara ponsel membuatnya menepikan mobilnya di pinggir jalan "Hallo.." Riana mengangkat panggilannya.


"Bagaimana?"


"Gagal, mereka bahkan terlihat lebih harmonis dari sebelumnya" kata Riana dengan kesal..


"Bodoh, bagaimana bisa kamu gagal, aku bahkan sudah pesan restoran dimana Abi rapat, harusnya kamu bisa manfaatkan momen itu untuk membuat Kinara marah!" terdengar teriakan di sebrang sana, dan membuat kuping Riana terasa pegang.. "Lagipula bagai mana bisa sebagai ibu kamu lupa ulang tahun anakmu, jika aku tidak mencari tahu, kau akan malu sendiri.."


"Memangnya mudah mengambil perhatian Abi." Riana mendengus marah, orang di seberang sana terlalu mengira semuanya mudah, tidak mudah memang menghancurkan kepercayaan Kinara.. benar- benar sial untuknya.


"Tidak berguna!" orang di sebrang sana menutup telponnya dan membuat Riana membanting ponselnya ke kursi samping.


...

__ADS_1


Anita merasa seluruh tubuhnya terasa sakit mungkin karena kankernya yang semakin menyebar dan dia sudah tidak bisa melakukan hal berat apapun.


Anita menatap nanar foto pernikahannya dengan Yoga, dan mengapa dia jadi seperti ini sekarang, dia berfikir sudah melakukan semuanya sekuat tenaganya, tapi kenapa semuanya terasa sia-sia.


Yoga sudah tidak menghiraukannya, meskipun dia pulang tapi Anita tak bisa mendapatkan waktu berdua dengan Yoga, Anita hanya bisa pasrah menunggu waktunya untuk melahirkan lalu pergi.. pergi untuk selamanya.. Anita menatap kalender kecil di atas nakas "Dua minggu lagi.." desahnya "Dan akhirnya sia- sia, meski Kinara sudah menikah, tetap saja kamu tidak bisa bersamaku Mas.."


Anita tersenyum kecut lalu menulis sesuatu di sebuah kertas putih, setelah selesai Anita memasukannya ke dalam sebuah amplop dan menyimpannya di laci nakas.


Anita menghela nafasnya, lalu mengusap perutnya, semoga.. setelah ini penderitaan kita selesai, doanya dalam hati.


Anita beranjak dan memutuskan semuanya sudah berakhir sampai disini, tidak ada gunanya lagi bertahan, setelah berusaha satu bulan ini, kini dia ingin menyerah, persetan dengan Yoga.


...


Kinara pergi dengan Arumi ke kantor Abi, Abi berjanji pekerjaannya akan selesai dengan cepat dan selanjutnya mereka akan pergi bersama-sama untuk merayakan ulang tahun Arumi.


Setelah membicarakan semuanya kesepakatan di buat, tidak ada pesta dan mereka hanya akan menghabiskan waktu bersama.


Abi berjalan dengan Kinara juga Arumi di gandengannya, sesekali mereka tertawa karena Arumi yang bicara dengan khasnya jutek dan lugu.


"Bolehkah kita pergi ke taman bermain seperti waktu itu, aku ingin masuk ke rumah hantu.."


"Tidak!, lagipula itu bukan taman bermain itu pasar malam, tidak setiap hari ada" dengan cepat Kinara menolak, dia tidak akan mau masuk ke dalam rumah hantu lagi, tidak akan pernah.


"Yah.. mama payah" Arumi ikut mencibir..


"Ah, kalian bersekongkol meledekku.." Abi dan Arumi tertawa.


Tanpa mereka sadari, semua karyawan Abi memperhatikan, tidak biasanya mereka melihat bos mereka tertawa. Abi tak pernah datang dengan putrinya, dan juga yang menjadi perhatian mereka adalah wanita yang berada di sebelah sang bos, dan tentu saja istri baru dari bos mereka.


Rasa penasaran tentu saja meliputi mereka, siapa wanita beruntung itu, dan juga.. dari keluarga mana hingga dia mampu bersanding dengan ceo mereka.


Para karyawan yang sedang memperhatikan, mendadak salah tingkah saat Kinara dengan ramah tersenyum saat melewati mereka, bahkan hampir semua mata laki-laki terpana melihat Kinara.


Abi berdecak melihat Kinara membagikan senyumnya, bahkan dia bisa mendengar bisik- bisik dari para pria yang memuji kecantikan Kinara dan senyumnya yang indah, timbul rasa posesif dalam dirinya, saat mendengar bahwa mereka mengagumi Kinara dengan berbagai pujian, dengan cepat Abi meraih Arumi yang berada di tengah- tengah mereka dan menggendongnya, setelahnya sebelah tangannya membawa Kinara mendekat dan memeluk pinggangnya erat.


"Apa- apaan itu sayang kamu tersenyum pada pria-pria itu.." Kinara yang terpaku akan perlakuan Abi pun mendongak saat Abi berbisik tajam di telinganya.


Apa Abi sedang cemburu hanya karena dia tersenyum pada orang lain..


"Jangan melakukan itu lagi!"


Kinara menelan ludahnya kasar, mereka memasuki lift sesaat setelah pintu tertutup Kinara hendak melepaskan Abi, namun Abi malah semakin memeluknya erat, apa tangan Abi tidak pegal memegangnya belum lagi Arumi, gadis yang kemarin menginjak enam tahun itu sekarang berat badannya bertambah karena makannya sangat lahap.


"Mas?, kamu apaan sih?" Abi menampakan wajah datar, seolah dia sedang marah, dan akhirnya Kinara hanya menghela nafasnya.

__ADS_1


Kinara menganga tak percaya saat tiba di ruangannya Abi meletakan Arumi yang juga melihatnya bingung.


Tangan Abi juga dengan segera melepas pinggangnya, lalu Abi berjalan ke arah kursi kerjanya tanpa menoleh dan bicara lagi, apa begitu jika pria jangkung ini marah.


Suasana hening lalu Abi mulai memeriksa berkas di mejanya dan berteriak memanggil asistennya "Rudi..!"


Rudi yang di panggil pun segera datang "Ya, Pak?"


"Apa- apaan ini, rapat akan segera dimulai tapi berkas yang harus aku bawa tidak ada di meja!"


Rudi melihat ke arah Kinara yang menggedik bingung, Rudi menghela nafasnya "Bukankah aku sudah memintamu kemarin merevisi semua kesalahannya, dan selesai hari itu juga!"


Kinara melihat rudi yang mulai gelagapan "Begini.. Pak, saya baru akan membawanya.."


Kinara dan Arumi masih berdiri melihat Abi yang memarahi Rudi, Rudi yang ternyata sudah biasa hanya menundukan wajahnya.


"Persiapkan rapatnya sekarang, dan jangan sampai ada kesalahan, jika ada sedikit saja kesalahan kamu habis!"


Rudi mengangguk "Baik Pak?" Abi pergi lebih dulu, dan meninggalkan Kinara dan Arumi yang masih berdiri di tempat yang sama saat Abi melepaskan mereka.


"Ada apa dengan Papamu?" tanya Rudi setelah Abi berjalan menjauh.


Rudi berjongkok di depan Arumi "Tidak tahu, tadi Papa cemberut saat mendengar orang berkata 'Astaga senyum bu bos membuatku meleleh'.." Rudi menoleh melihat Kinara yang meringis.


Rudi tertawa "Maafkan aku Bu Kinara, tapi kau harus memikirkan cara untuk menghentikan marahnya, jika tidak kami akan kena getahnya.." Kinara makin meringis kala menyadari ini semua salahnya.


Mereka berjengit saat mendengar teriakan Abi dari luar yang sedang memarahi stafnya yang lain.


"Astaga, apa dia begitu jika marah?" tanya Kinara pada Rudi.


Rudi mengangguk "Dan aku rasa kamu mengerti kenapa dia marah.." Kinara dan Rudi kembali berjengit saat Abi meneriakkan namanya.


"Rudi, sedang apa kau di dalam.."


"Aku datang Pak!" Rudi terkekeh lalu melihat Kinara.


"Mari Bu, saya rapat dulu" Abi memang datang untuk rapat, dan dia sudah pastikan selesai dalam satu jam, Kinara dan Arumi hanya perlu menunggu sampai Abi selesai rapat dan mereka akan pergi bersama.


Namun Kinara kini punya pekerjaan sendiri sambil menunggu Abi, yaitu memikirkan bagaimana caranya pria itu tak marah lagi.


Like..


Komen..


Vote..

__ADS_1


__ADS_2