
Kinara memasuki rumah dengan dua kotak kue di tangannya, tadi pagi dia pulang ke rumahnya karena merasa bosan dan Arumi juga sedang marah entah karena apa, padahal Kinara cuma membujuk untuk Arumi masuk sekolah umum saja, Kinara membersihkan rumahnya yang lama dia tinggalkan selama sakit, lalu ke rumah Yoga, dan sekarang kerumah Abi.
Kinara termenung sejenak memikirkan nasib hidupnya yang tak menentu setelah perceraiannya dengan Yoga, kecelakaan lalu pergi ke rumah Yoga hanya untuk melihat reaksi Yoga saat tahu Anita yang melenyapkan anaknya.
Lalu sekarang terdampar di rumah Abi, untuk mengurus Arumi, mengingat Arumi Kinara jadi ingat kembali jika anak itu sedang marah, maka Kinara terfikirkan untuk membuat kue dan semoga dengan itu bisa membujuk anak itu.
Kinara tersenyum melihat kotak kue yang dia bawa dengan hati- hati agar tidak rusak, salah satu kuenya adalah kue dengan krim susu diatasnya.
Kinara melangkah menuju kamar Arumi, dan tercengang melihat kamar Arumi yang berantakan.
"Ada apa dengan kamar ini?" Abi dan Arumi menoleh ke arah sumber suara dan mereka terpaku bersama.
"Kamu!" Abi mengerutkan keningnya melihat Kinara dengan membawa beberapa kotak di tangannya.
"Darimana saja kamu!" tapi tiba-tiba Arumi menangis lagi.
"Huuuaaa.." Arumi meronta lalu berlari kearah Kinara dan memeluk kakinya.
Kinara yang tidak siap nyaris terhunyung "Hey..?"
"Tante marah? makanya pergi ya.. hiks.. Aku mau masuk sekolah, Aku mau.. hiks asal tante jangan pergi.."
Kinara mengerjapkan matanya lalu melihat Abi yang masih berdiri di tempatnya, Kinara ingin bertanya ada apa tapi Abi memalingkan wajahnya.
Kinara mendengus dasar pria sombong.
Kinara berjongkok lalu meletakkan kuenya lebih dulu, barulah ia meraih Arumi.
"Ada apa?" Kinara bingung kemarin Arumi marah dan sekarang bocah ini malah menangis.
"Jangan tinggalin Arumi tante, aku.. aku janji tidak nakal, tapi jangan pergi seperti Mama.." Kinara tertegun, rupanya Arumi takut dia pergi meninggalkannya, itulah kenapa dia marah saat Kinara berkata suatu hari akan pergi.
Arumi takut dirinya pergi seperti Mamanya.. Astaga, anak malang ini..
Kinara mengelus pucuk rambut Arumi "Tante cuma pulang sebentar, lagipula Arumi juga sedang marah dan tidak mau bicara dengan tante, daripada tante cuma berdiam diri disini.."
Arumi mendongak "Benarkah?" Kinara mengangguk.
__ADS_1
"Oh iya, tante bawakan kue untuk Arumi, karena Arumi sedang marah jadi tante buatkan kue spesial untuk Arumi agar tidak marah lagi"
Kinara mengusap air mata Arumi lalu mengambil kotak kuenya "Lihat kuenya.."
Arumi masih sesegukan tapi tersenyum dengan mata sayu karena lelah menangis, melihat kue buatan Kinara yang menggugah selera "Aku mau.."
"Oke, kita potong kuenya" Kinara bangun dan membawa Arumi keluar kamar, meninggalkan Abi Kinara bahkan mendengus melihat Abi matanya bahkan melirik tajam, dasar majikan sombong!.
Abi menghela nafasnya lalu mengikuti Kinara dan Arumi pergi ke ruang makan.
Kinara mendudukan Arumi di atas kursi lalu membuka kotak kue dan memotong kue tersebut menjadi beberapa bagian "Karena kuenya sangat banyak, kita bisa berbagi dengan yang lain"
Arumi mengangguk "Tapi Aku mau potongan besar.."
"Oke.." Kinara tersenyum lalu meletakan potongan kuenya ke atas piring "Ini untuk kalian, di bagikan ya!" Kinara memberikannya ke salah satu pelayan agar di bagikan dan semua kebagian.
"Terimakasih Mbak Nara" Kinara tersenyum "Sama- sama semoga kuenya enak ya"
"Pasti enak loh Mbak, kelihatannya juga enak kok.."
Abi mendenguskan senyumnya melihat Kinara yang tersipu hanya dipuji oleh pelayan, bagaimana jika Abi yang memujinya.
Abi berjalan mendekat dan melihat kue yang sudah terpotong di atas piring, Abi berniat mengambil satu potong tapi Kinara menggeser piring hingga tangan Abi membeku di udara "Hey..?"
"Maaf Pak Abi, kue ini untuk Arumi.." Kinara bicara dengan ringan bibirnya bahkan tersenyum kearah Abi, tentu saja senyuman mengandung ejekan, lihat siapa yang tadi memalingkan wajah, sekarang beraninya dia akan mengambil kue buatannya.
Abi menarik tangannya dan memasukannya ke dalam saku celananya, dia merasa canggung tapi wajahnya berusaha dia datarkan, seolah tidak peduli dengan ucapan Kinara.
"Bagaimana apa kuenya enak?"
Arumi mengangguk "Enak banget tante, Aku suka.."
Kinara mengelus rambut Arumi "Makan yang banyak, ya.." katanya sambil menyodorkan piring kue kearah Arumi.
"Tante mau?"
"Akan tante ambil satu.." Kinara mengambil satu potong dan memasukannya kedalam mulut, "Enak kan?" Kinara mengangguk sambil mengunyah. "Kue buatan tante selalu enak.."
__ADS_1
"Kalau begitu, kalau Arumi rajin sekolah tante akan buatkan Arumi kue apapun yang Arumi mau.."
"Benar?" Kinara mengangguk "Janji..?"
"Tentu saja.." Kinara akan memasukan potongan kue yang tersisa di tangannya, namun saat mulutnya sudah terbuka sebuah tangan besar meraihnya lalu memasukan kue di tangan Kinara kedalam mulutnya.
Kinara tertegun, melihat Abi melahap kuenya bahkan melu mat sisa krim susu di tangan Kinara, dengan bibirnya "Kuenya memang enak.." Abi berkata masih dengan mengunyah kue di mulutnya, memperhatikan Kinara yang bersemu merah, Abi menarik sudut bibirnya, melihat Kinara salah tingkah. Lihat wajahnya yang putih terlihat lebih merah dibanding dengan saat mendapatkan pujian dari pelayan tadi.
Kinara merasakan wajahnya memanas apalagi saat merasakan mulut Abi yang ******* jarinya lembut, sesuatu di dadanya berdebar kencang, tentu saja itu adalah jantungnya yang berdetak dua kali lipat.
"Ish Papa nakal, itu kue tante Nara!" Arumi menaikan tangannya di pinggang. "Keluarkan!" Arumi menunjuk mulut sang Papa.
Abi mendengus, lihat siapa tadi yang menangis histeris di pelukannya karena di tinggal Kinara, dan sekarang membela Kinara "Boleh, apakah tantemu mau memakan yang sudah ada di mulut Papa?!" Kinara membelalakan matanya, wajahnya semakin bersemu saat Abi menunjuk mulutnya.
"Bi..biar tante ambil lagi saja.." Kinara mengambil potongan kue lagi di atas piring, namun lagi- lagi Abi merebut dan memasukan ke dalam mulutnya.
Kinara menelan ludahnya melihat tangannya yang lagi- lagi masuk kedalam mulut Abi, sedangkan Arumi tertawa merasa jika Abi sedang sengaja mengerjai Kinara, anak itu tidak tau bahwa yang dilakukan Abi sangat sensitif bagi Kinara.
"A..apa yang Pak Abi lakukan.."
"Kamu sekarang sedang tidak bekerja, jadi jangan panggil Pak!"
Kinara semakin merasa pipinya memanas dan dengan cepat merambat ke hatinya yang berdebar melihat tatapan intens dari Abi yang berjongkok menumpu tangannya di ujung meja makan.
Tatapan Abi tak lepas dari Kinara yang mulai salah tingkah, dan terlihat semakin menggemaskan, Abi rasa dia pertama kali melihat raut seperti itu, rasanya sangat menyenangkan. Bahkan saat dulu melihat Riana pun tidak seperti sekarang, mungkin karena memang apa yang dirasakan berbeda.
"Ayo panggil Mas!"
..
Like..
Komen..
Vote..
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1