
"Aku tidak punya apapun untuk dijanjikan, tapi aku akan berusaha menjaga putri kalian dengan baik dan sepenuh hatiku.."
"Aku harap kalian merestui aku, untuk menjadikan Kinara istriku, doakan kami agar selalu bahagia.." Kinara meneteskan air matanya saat mendengar ucapan Abi, tidak menyangka dengan apa yang Abi lakukan hari ini.
Abi berjongkok lalu mengangkat tangan memberikan orang tuanya doa terlebih dulu, sebelum memperkenalkan diri sebagai calon suaminya.
Abi bahkan memperkenalkan Arumi sebagai putrinya sekaligus putri sambung untuk Kinara "Mungkin anakku akan sedikit merepotkan putri kalian, dengan kemanjaanya.." Kinara tersenyum saat Abi terkekeh merasa lucu dengan ucapannya sendiri.
"Hanya saja putri kalian belum setuju untuk menikah.. apa dia tidak berfikir bahwa aku semakin tua, dan masih harus menunggunya, atau aku kurang tampan? tapi aku sering melihatnya menatapku diam- diam aku yakin dia juga menyukaiku.."
Kinara memukul bahu Abi dengan tatapan tajam yang dia layangkan, kenapa dia harus bicara seperti itu membuatnya malu saja, dan bagaimana Abi tahu jika Kinara selalu menatap Abi dari jauh.
"Ayah dan Ibu tidak perlu dengar ucapannya, dia duda mesum tua, yang punya kepercayaan diri yang tinggi.." Abi terkekeh saat Kinara ikut bicara.
"Itu salah satu caraku agar kamu mau menerimaku, biar saja di katai terlalu percaya diri, karena memang itu kenyataannya.."
"Ish.." Kinara mencebik.
"Lihat bukan? putri kalian memang seperti itu.. dia selalu berkata belum siap.. belum si..."
"Aku mau.." Kinara menyela ucapan Abi.
Abi tertegun "Aku mau, maafkan aku sempat ragu.. aku mau menikah dengan kamu" Abi tersenyum lalu terdengar teriakan Arumi yang memekakkan telinga.
"Horeee!!!"
Abi berhasil..
Kinara tersenyum dan berharap keputusannya kali ini tidaklah salah, semoga semua keputusan yang dia ambil tidak menjadi penyesalan dan membahagiakannya bersama keluarga barunya.
Hanya ada Kinara, Abi dan Arumi.
...
Seluruh persiapan sudah terlaksana bahkan Abi memajukan tanggalnya, bukan satu bulan melainkan satu minggu . dan dalam satu minggu saja semua sudah selesai.
Kinara menganga saat mendengar jawaban Abi mengapa dia memajukan tanggalnya bahkan sangat cepat.
"Karena aku tidak mau kamu berubah fikiran kembali.." dan akhirnya Kinara hanya bisa mendesah pasrah atas keputusan Abi.
Seperti keinginan Kinara tak ada perayaan, dan pesta berlebihan hanya syukuran kecil atas pernikahan mereka, hanya beberapa kerabat yang di undang, jadi tak perlu persiapan lama.
"Mama cantik sekali" Arumi menopang dagu memperhatikan Kinara yang sedang di rias MUA profesional.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, kamu juga cantik.." Arumi berputar dengan gaunnya, gaun putih yang telah diserasikan dengan pakaian pengantin Kinara.
"Aku sudah lihat bahkan sebelum anda di rias, anda memang cantik" perias ikut bicara dan mengagumi kecantikan Kinara.
"Kau berlebihan.."
"Aku serius Nona, aku yakin pengantin pria akan pingsan melihat bidadari di depannya.." Kinara tersenyum dan merasa pipinya memanas, membayangkan Abi terpana melihatnya, benarkah?.. apa Abi juga akan memujinya.
Kinara berjalan anggun dengan Arumi di gandengannya hingga tiba di tempat dimana Abi sudah menunggunya.
Abi menoleh saat Kinara berjalan kearahnya, gaun pilihannya memang tidak pernah salah, Kinara berkali lipat lebih cantik dan anggun karenanya, Meski di saat biasa Kinara juga cantik, tapi hari ini aura kebahagiaan begitu terpancar.
Kinara duduk di sebelah Abi dengan raut tegang, tidak di sangka bahwa dia akan kembali mengucap janji suci secepat ini, tapi hatinya mulai yakin saat Abi bahkan datang ke makam orang tuanya.
Abi berdehem beberapa kali mencoba menepis kegugupan saat Kinara mulai duduk, Abi langsung terserang panik bagaimana jika dia salah berucap atau dia lupa dialog apa yang harus dia ucapkan.
Abi melihat asistennya sekaligus sahabatnya yang menyeringai lalu berkata tanpa suara 'Rasakan'
Sial, Abi mengumpat kenapa rasanya jantungnya semakin berdebar, ini berbeda dari saat dia menikahi Riana, dulu Abi rasa tidak seperti ini, mungkin karena ada suatu keterpaksaan saat menikahi Riana, namun sekarang.. dibalik dia menikahi Kinara demi Arumi, tapi dirinya sendiri menginginkannya.
Rudi mencondongkan tubuhnya lalu menyeringai menggoda "Anda perlu ke toilet Pak?"
"Sialan" dengusnya.
...
Bagai duri yang tercabut Abi merasakan lega, sesaat setelah dia berhasil meminang Kinara.
Kinara mencium tangan Abi dengan takzim, lalu Abi mengecup dahi Kinara, tampak Kinara meneteskan air matanya
Prosesi Akad telah selesai, para tamu mulai mengucapkan selamat dan doa semoga pernikahan mereka bertahan selamanya dan selalu bahagia.
Resepsi berjalan lancar, tak ada keributan karena tak ada acara mengundang mantan..
Andai Yoga tahu mungkin dia akan datang dan memporak porandakan semuanya, dan benar saja saat Yoga tahu keesokan harinya, dia mengamuk dan melampiaskan amarahnya
Yoga terus bergumam bahwa Kinara adalah miliknya, tak ada yang boleh menyentuhnya selain dirinya.
Mata Yoga berkilat tajam, akan dia buktikan bahwa hanya dirinyalah yang pantas untuk Kinara..
Anita tersenyum saat mendapat berita pernikahan Kinara, meski awalnya dia kira Kinara berbohong, namun rupanya Kinara benar-benar menikah dengan Abi, dan yang baru Anita tahu Abi juga adalah seorang duda beranak satu.
Kinara memang tidak mengundangnya ataupun Yoga, namun salah satu temannya di alumni di undang, tidak lain dan tidak bukan adalah Andini, dan saat ini Anita menggenggam ponselnya saat melihat postingan Andini di media sosial saat dirinya pergi ke pernikahan Kinara.
__ADS_1
Bagus sekali, Yoga sudah kehilangan kesempatannya untuk kembali pada Kinara. setidaknya tidak hanya dirinya yang terluka.
Anita sedang merasa bahagia, dia akan menghabiskan waktunya untuk berbelanja hari ini, dia akan melupakan sejenak masalah hidupnya yang mengikat bahkan mungkin hingga dia akan mati.
Anita memasuki pusat perbelanjaan dan memilih apa saja yang dia mau, seolah dia benar-benar akan mati esok hari.
Saat membayar Anita memberikan kartu berwarna hitam dari Yoga, yang bahkan tak pernah dia sentuh, namun sekarang dia tidak peduli bahkan meski uang Yoga habis karenanya.
"Kau kira aku akan membayar dengan daun!" Anita mengerutkan keningnya saat mendengarkan teriakan dari salah satu pengunjung.
"Aku ingin tas ini, aku akan bayar dua kali lipat.."
"Tidak bisa, aku yang lebih dulu melihat dan aku yang lebih dulu harus memilikinya, lagi pula nona.. bukankah kartu kreditmu kosong.." suara berbeda terdengar, awalnya Anita ingin acuh namun ternyata rasa penasaran menggelayutinya, Anita berjalan mendekat..
"Kamu meremehkan aku, aku hanya perlu mencari mesin atm dan menarik uangku.."
"Cih membuat malu, jika tidak punya uang harusnya jangan sok untuk membeli barang mewah.."
"Kau.." Kedua pengunjung itu terus saling mengejek di tengah- tengah ada pelayan yang mengkerut bingung apa yang harus dia lakukan.
Anita menggelengkan kepalanya saat melihat dua perempuan berebut tas edisi terbatas, membuang- buang waktu saja.
Anita akan berbalik namun tiba-tiba dia ingat sesuatu, Anita menoleh kembali dan melihat salah satu perempuan yang masih dengan angkuhnya berkata bahwa dia punya uang untuk membeli tas yang di perebutkan.
"Riana?" Anita sempat tercenung sebelum dia menyadari bahwa dia pernah melihat salah satu perempuan tersebut. "Riana?" Kali ini Anita bersuara agak keras hingga perempuan itu menoleh ke arahnya.
"Ya," tatapan yang dilayangkan masih tajam, mungkin karena seluruh emosinya masih menguasai.
Anita tersenyum benar dia adalah Riana, sepupu jauhnya yang sudah lama tidak bertemu, dia mengenalinya.
Dan satu lagi yang Anita sadari, Anita ingat sekarang dimana dia pernah melihat Abi.
.
.
.
Like..
Komen..
Vote..
__ADS_1