
Yoga menghela nafasnya saat melihat wanita paruh baya di depannya, Mamanya kini tengah bersedekap dan menatapnya tajam.
"Maksud kamu apa, memperlakukan Anita seperti itu, kamu akan menceraikannya setelah melahirkan, lalu menikahi Kinara kembali" Yoga tahu Anita pasti mengatakan semuanya pada Mamanya, dan Yoga juga sudah menyangka hari ini akan datang, dimana sang Mama datang dan mencecarnya.
"Mama bisa tanyakan padanya, kenapa aku melakukan itu.."
"Mama gak peduli ya Ga, menantu mama cuma satu itu Anita, apapun yang terjadi sebelumnya mungkin hanya kekhilafan Anita saja, harusnya kamu bisa memaafkan dia.."
"Mama bilang menghilangkan nyawa dengan sengaja itu hanya sebuah ke khilafan, harusnya Anita bersyukur aku tidak melaporkannya ke polisi, apa Mama juga gak berfikir kalau yang sudah Anita lenyapkan itu anakku, keturunan Mama juga" Mama Yoga mendengus.
"Lalu kamu mau apa, toh bayi Kinara juga sudah tidak ada.. dan cucu Mama masih ada di perut Anita, kalau sampai ada sesuatu terjadi pada cucu Mama, kamu yang bertanggung jawab, karena membuat Ibunya stres!"
"Pulang kamu Yoga, setidaknya jangan buat cucu Mama yang tinggal satu juga ikut tidak ada!" Mama Yoga bangkit dan pergi meninggalkan Yoga yang mengerang marah, mau semarah apapun dia, tetap saja wanita itu adalah Ibunya, dan Yoga menyayanginya.
.
.
.
Anita meremas tangannya sambil duduk di tepi ranjang, dia dilanda gelisah, setelah apa yang dokter bicarakan tentang kehamilannya, Anita tak bisa berfikir lagi.
Bagaimana jika Yoga tahu tentang kondisinya dan bayinya, apakah Yoga akan mempercepat perceraian mereka.
Saat Anita mengerang frustasi memikirkan kondisinya, terdengar deru mobil memasuki pekarangan rumahnya, Anita bangkit dan melihat dari jendela, senyum merekah dari bibirnya saat melihat Yoga turun dari mobil tersebut.
Akhirnya Yoga pulang..
Anita bergegas keluar kamar untuk menyambut sang suami, Anita masih tersenyum saat Yoga muncul dari balik pintu besar rumah mereka "Mas..?"
Yoga berjalan dengan acuh melewati Anita begitu saja, namun Anita tak peduli baginya saat Yoga sudah pulang itu berarti usahanya untuk membuat Yoga mencintainya kembali terbuka lebar.
"Mas pulang, Mas mau makan apa biar aku yang buatkan, atau Mas mau mandi dulu.." Anita mengikuti Yoga dari belakang, Anita tahu jika sejak menikah dia hampir tidak pernah memasuki dapur, tapi untuk kali ini Anita rela berkutat agar Yoga melihatnya.
__ADS_1
Yoga membalikkan tubuhnya dan membuat Anita menghentikan langkahnya "Aku datang bukan untuk berbasa basi, aku hanya datang demi anakku, jadi Anita kamu tidak perlu membuang waktu dengan perhatian kamu, karena itu sia-sia." Yoga melanjutkan langkahnya meninggalkan Anita yang hanya mampu menghela nafasnya melihat Yoga pergi begitu saja.
Anita terus mengikuti Yoga hingga memasuki kamar mereka, lalu dia melihat Yoga pergi ke arah kamar mandi, dan Anita memutuskan untuk duduk di tepi ranjang menunggu Yoga keluar dari kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Yoga keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, dan handuk terlilit di pinggangnya.
Anita menelan ludahnya kasar, sudah sejak beberapa bulan lalu Anita tak pernah di sentuh Yoga, selain pertengkaran yang lebih sering, kehadiran Kinara terakhir kali membuatnya terlupakan.
Anita melangkah mendekat ke arah Yoga yang sedang membuka lemari, memberanikan diri memeluk Yoga dari belakang. Anita berdebar saat tangannya menyentuh kulit perut Yoga yang basah, Anita takut Yoga marah dan melemparnya menjauh, namun ternyata Yoga terdiam dan membiarkannya.
Anita menerbitkan senyum kala tidak ada perlawanan dari Yoga dan semakin merapatkan tubuhnya "Mas, betapa pun marahnya kamu, aku sungguh merindukan kamu.. aku istrimu bukan, sentuhlah aku.." Anita berkata lirih, penuh permohonan, bahkan dulu saat Yoga menginginkannya Yoga selalu mendapatkannya, lalu sekarang Anita harus memohon pada Yoga hanya karena begitu merindukannya.
Yoga membalikan tubuhnya, dan menatap Anita dengan datar, Anita mendongak melihat Yoga dengan senyum di bibirnya tangannya terangkat dan ia letakan di tengkuk Yoga, Anita mendekatkan bibirnya kearah bibir Yoga dan melu matnya lembut.
Beberapa saat Anita bermain sendiri, hingga dia hampir menyerah, lalu tiba-tiba saja Yoga membalasnya, meraih pinggangnya hingga merapat.
Anita tersenyum senang saat ciumannya mulai bersambut, lalu tak lama Anita mulai merasakan tubuhnya melayang, Yoga menggendongnya dan berjalan kearah ranjang, tanpa kata Yoga kembali menyentuh Anita setelah Anita terbaring di atas ranjang.
Yoga terus memacunya hingga keringat terlihat mengucur dari tubuhnya, meski dia benci Anita, tapi dia berusaha melakukannya dengan lembut mengingat Anita sedang mengandung anaknya.
Tak bisa Yoga pungkiri meski hatinya membenci, tapi Yoga juga rindu perasaan ini, perasaan melepas hasrat yang telah lama tak dia lakukan, terlebih saat dia telah menikah dengan Anita, hanya beberapa kali saja mereka memadu kasih karena rumah tangga nya di dominasi dengan pertengkaran.
Andai Anita tak selalu membuatnya kecewa, andai sedikit saja Anita punya sifat Kinara yang lemah lembut, dan tak suka bertengkar, andai Anita tidak mengikuti bisikan setan untuk melenyapkan anaknya dan Kinara.
Mengingat Kinara, Yoga memejamkan matanya lalu membayangkan Kinara yang berada di bawahnya untuk mengganti kebenciannya pada Anita, hingga Yoga mempercepat gerakannya dan di saat terakhirnya Yoga melepaskan segalanya, segala yang bercokol di hatinya..
Anita menatap nanar Yoga yang menggeram nama wanita lain saat pelepasannya, siapa lagi kalau bukan Kinara.
Anita meneteskan air matanya saat Yoga menarik dirinya dan berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Anita yang mulai bergetar karena tangis.
Anita menutupi tubuhnya lalu menutup mata, Anita membuka mata saat merasakan tempat di sebelahnya bergerak tanda seseorang sedang menaiki dan membaringkan diri.
Anita menatap sayu punggung Yoga, Yoga bahkan tidur membelakanginya.
__ADS_1
Anita ingin memeluk punggung itu, atau bolehkan Anita tidur di pelukan hangat Yoga, tapi sepertinya Anita harus mengubur keinginannya karena Yoga sama sekali tak sudi untuk sekedar melihatnya.
...
Dihari berikutnya Yoga masih bersikap sama, acuh dan sama sekali tidak menghiraukannya, Anita bahkan sama sekali tidak punya kesempatan untuk bicara pada Yoga.
Yoga memang selalu pulang namun dia tak pernah menganggap Anita ada, dan hanya menyentuh Anita saat dirinya menginginkan melepas hasrat saja.
"Mas, pekan ini ada reuni SMA, kita pergi ya" pintanya, mereka berada di meja makan, Anita sedang berusaha membujuk Yoga agar ikut dengannya.
Yoga menghentikan kunyahannya dan menatap datar Anita "Lagipula sudah lama kita tidak hadir.." katanya lagi, sebenarnya Yoga juga mendapat undangan itu, tapi dia tidak yakin akan hadir.
"Lihat nanti saja" Anita mengeram dalam hati, dia mencoba untuk bersabar meski itu sangat sulit.
"Oke" Yoga mengerutkan keningnya, melihat Anita yang tak banyak bicara, biasanya dia akan menyanggah ucapan Yoga seperti 'Apa kamu tidak bisa luangkan waktu sedikit saja!'
Padahal Yoga sudah bersiap untuk membalikan ucapan Anita, tapi Anita hanya diam saja, Yoga melihat sekilas pada Anita yang tersenyum ke arahnya, lalu Yoga kembali memalingkan wajahnya.
Anita akan berusaha bersabar dan membuat Yoga kembali padanya, masih ada waktu sampai dia melahirkan, siapa tahu Yoga merubah fikirannya tentang menceraikannya setelah melahirkan.
.
.
Like..
Komen..
Vote..
🌹🌹🌹🌹
☕☕☕☕
__ADS_1