Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka

Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka
Kamu Berarti Untukku


__ADS_3

"Mas, sebenarnya apakah.. arti aku untuk kamu?"


Abi mengerutkan keningnya "Kenapa bertanya seperti itu?"


"Kamu menikahi aku demi Arumi bukan, lalu apakah jika Arumi tidak membutuhkan aku lagi kamu akan meninggalkan aku.."


Abi semakin mengerut bingung "Sayang, apa yang kamu bicarakan?"


Kinara terkekeh "Kamu memanggilku sayang, tapi apakah kamu memiliki rasa sayang itu?"


"Kamu meragukan aku?"


"Itu karena faktanya kamu menikahi aku demi Arumi!"


"Demi Arumi, demi Arumi, sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, aku memang menikahi kamu demi Arumi, tapi untuk aku juga..." Abi mengeraskan rahangnya, apa maksud Kinara bertanya seperti itu..


"Itu kenapa aku tanya apa arti aku buat kamu, Mas.."


"Tentu saja kamu berarti untuk ku, kamu istriku!"


"Lalu kenapa kamu tidak melibatkan aku dalam segala hal, aku memang hanya ibu tiri untuk Arumi, tapi apa aku harus tidak tahu kamu merayakan ulang tahun dengan mantan istri kamu!" Kinara menunjukan foto yang di kirim oleh Riana.


Abi mengerutkan keningnya "Ini.."


"Romantis sekali bukan.." potong Kinara sambil terkekeh, "Kalian seperti keluarga harmonis, kenapa kalian tidak rujuk saja.. bukankah Riana sudah baik dengan Arumi"


Abi menggeleng tak terima"Apa maksud kamu?!" matanya menatap tajam, namun Abi menahan amarahnya.


"Kamu jelas mengerti maksudku mas, bukankah kamu juga menikahiku demi Arumi"


"Astaga Nara, aku memang menikahi kamu demi Arumi, tapi bukan berarti aku juga tidak menginginkan kamu jadi istriku.."


Abi menghela nafasnya "Memangnya jika aku katakan aku mencintai kamu, kamu akan mempercayainya, kamu bahkan melihat bagaimana Arumi saat kamu pergi, wajar jika kamu mengira ini hanya demi Arumi, tentu saja aku melakukannya demi Arumi, tapi apa kamu fikir jika Arumi mau aku menikahi wanita yang sama sekali tidak aku inginkan aku akan melakukannya?"


"Aku fikir dengan menunjukan semua perlakuanku sama kamu, aku gak perlu lagi mengatakan cinta.."


Kinara diam terpaku..


"Lalu soal foto itu.. aku tidak tahu itu diambil oleh Riana, kebetulan sekali saat aku mencium Arumi Riana juga melakukannya.. Aku datang ke restoran untuk rapat, lalu aku melihat ada Riana dan Arumi disana, apa menurut kamu pantas jika aku acuh dan bahkan tidak peduli, sedangkan Arumi yang berulang tahun, aku ingin memberitahu kamu, tapi ternyata ponselku kehabisan baterai, aku tidak tau kamu akan memberi kejutan untuk Arumi, karena aku pun berencana untuk mengundur pesta yang aku adakan karena memang aku sedang sangat sibuk.."


"Sayang.." Abi menghela nafasnya berusaha menurunkan amarahnya, dia harus fokus dan membuat Kinara percaya padanya. "Aku.. aku kira kamu masih mencintai Yoga, maka aku akan menunggu hingga kamu benar-benar lupa masa lalu kamu, barulah aku akan mengatakan perasaanku, tapi.. percayalah.." Abi memejamkan matanya, sedangkan Kinara mengigit bibirnya, menunggu ucapan Abi selanjutnya "Aku juga menginginkan kamu, aku mencintai kamu.. "

__ADS_1


Abi mendongak melihat Kinara yang tidak merespon apapun, apa dia salah bicara "Sayang..?"


Tiba- tiba saja Kinara meneteskan air matanya "Ini juga salahku rupanya.."


"Hey.. kenapa menangis.."


"Aku.. juga mengatakan jika saat dekat dengan kamu aku dapat melupakan semua kesakitanku, tanpa aku sadari itu bukan pengalihan saja, namun karena posisi orang lain di hatiku sudah berganti oleh kamu, aku hanya terlalu malu untuk mengatakan 'Aku mencintai kamu' pengalaman buruk mencintai sepihak membuat aku takut, takut kamu tidak merasakan perasaan yang sama.."


"Astaga, Kinara.." Abi mengeratkan genggamannya, lalu terkekeh "Jadi kamu juga merasakan perasaan yang sama.." Kinara menunduk dengan pipi memerah entah karena menangis atau karena merasa malu "Oh, ayolah.. kamu membuatku gemas" Abi mengecup bibir Kinara, dan membuat Kinara semakin memerah "Ya ampun sayang.. ini hanya kecupan kita bahkan sudah melakukan lebih.." Kinara memukul bahu Abi dan mencebik.


"Apa lagi yang ingin kamu tahu, katakanlah.. katakan apapun yang menurut kamu perlu kamu tahu.. langsung tanyakan padaku.. dan jangan biarkan kesalah fahaman menghancurkan kita.."


"Maaf.." Kinara berkata lirih, dia memang harusnya mempercayai suaminya ini, tidak seharusnya dia berprasangka yang membuatnya sesak tanpa sebab.


"Boleh aku katakan sesuatu.." Kinara mengangguk "Aku sudah bilang ada yang salah dengan Riana.."


Kinara tertegun "Benar bukan, jika niatnya untuk mendekati Arumi bukankah ini terlalu berlebihan?"


Kinara mengangguk, benar. untuk apa Riana mengirimnya foto itu jika hanya untuk menunjukan kedekatannya dengan Arumi, harusnya dia tidak membawa Abi berfoto, yang bahkan Abi sendiri tak menyadari siapa yang mengambil foto itu.


"Mas..?" tiba-tiba Kinara merasa takut, apa Riana punya niat tersembunyi, tangan Kinara mengerat.


Abi tersenyum "Tenanglah, aku tidak akan pernah tergoda oleh wanita lain, sedangkan aku mencintai kamu, yang harus kita lakukan adalah saling percaya, dan apapun yang terjadi katakan padaku, dan dengar langsung dari mulutku, dan aku juga akan melakukan hal yang sama"


"Ck.. bukan kah kamu yang meyakinkan aku, jika Arumi berhak dekat dengan ibunya, maka aku mengikuti apa yang istriku katakan.."


"Maafkan aku, tanpa aku sadari aku sendiri yang memberi celah orang lain untuk masuk.."


Abi tersenyum dan mengusap kedua pipi Kinara.. "Tidak masalah kita akan hadapi ini, Ayo tidur sudah malam.." Abi bangun untuk membiarkan Kinara merebahkan dirinya.


"Mas bolehkah aku melakukan sesuatu tentang Arumi?" Kinara mendongak menatap Abi.


"Lakukan apapun, jika itu untuk kebaikan kita dan Arumi, Aku percaya meski Arumi bukan anakku ataupun kamu, tapi Arumi sudah lahir dari hati kita.. dan aku tahu kamu tulus menyayangi Arumi.." Abi mengecup dahi Kinara.


"Makasih Mas, aku mencintai kamu.."


Abi tersenyum lebar "Aku lebih mencintai kamu.."


"Sudah selesai? ayo tidur.. jika tidak, aku tidak bisa menjamin untuk tidak memakan kamu" Abi menatap Kinara penuh cinta, tentu saja tidak akan dia biarkan Kinara terluka, bahkan jika itu sekedar kesalah fahaman.


Kinara tersenyum lalu mengangguk, ternyata ini hanya salah faham, Kinara hanya takut.. apalagi saat mimpi itu datang, namun Kinara rasa mimpi itu karena sugesti negatif yang dia bentuk sendiri.

__ADS_1


"Kemarilah" Abi melebarkan tangannya, lalu Kinara masuk ke pelukan Abi, pelukan yang hangat dan membuatnya nyaman, "Tidurlah!" Abi mengecup dahi Kinara lembut hingga Kinara terpejam merasakan ketulusan Abi.


Benar, apapun itu tanyakan langsung dan dapatkan jawabannya secara langsung.. sudah sepatutnya mereka salin percaya.


...


Seperti biasanya Riana sudah datang di pagi hari, Kinara jadi bingung Riana ini ibu Arumi, atau supir pengantar Arumi ke sekolah, dan Kinara hanya bisa menghela nafasnya "Riana kamu sudah datang?"


Riana tersenyum, masih dengan senyum yang Kinara kira tulus, namun rupanya menyimpan misteri, untuk apa sebenarnya Riana mendekati Arumi. "Maaf aku lupa kasih tau, kalau hari ini Arumi libur dan kami berencana untuk pergi jalan-jalan sekeluarga" Kinara menekankan kata 'keluarga', dan membuat Riana tersenyum kecut.


"Maaf ya, kamu juga tidak perlu.. melakukan ini setiap hari, aku dan mas Abi sudah sepakat untuk mengatur jadwal kita, dimana ada saat Arumi bisa bersama kamu seharian penuh dan kamu tidak perlu mengantar Arumi setiap pagi, lagi pula aku yakin kamu punya kesibukan lain.." Kinara bicara tanpa rasa bersalah, namun dengan ekor matanya dia bisa melihat raut Riana yang semakin mengeraskan rahangnya.


"Kamu menghalangi aku bertemu dengan Arumi?"


Kinara mengerutkan keningnya lalu menyelesaikan piring terakhir yang dia simpan di meja untuk sarapan "Aku tidak bilang melarang kamu bertemu Arumi.."


"Aku hanya bilang aku akan membagi jadwal untuk kita bisa bertemu Arumi, bukankah ini tidak adil untukku?"


"Kamu memang ibunya, tapi bukankah selama ini yang merawat Arumi, Mas Abi?. Riana aku mungkin hanya ibu tiri untuk Arumi, tapi aku menyayangi Arumi seperti anakku sendiri, dan tentu saja aku merasa kamu terlalu banyak menyita Arumi hingga kalian pulang malam dan Arumi melupakan kami keluarganya"


Riana menatap Kinara tajam "Aku bahkan baru satu minggu dekat dengan Arumi, sedangkan kalian..."


"Itu maksudku.." Kinara memotong ucapan Riana "Jangan sampai kamu lupa bahwa sejak awal kamilah keluarganya, dan hak asuh Arumi ada di tangan kami, jadi kami berhak memutuskan.."


Riana menghela nafasnya, lalu pandangannya jatuh pada Abi yang baru menuruni tangga "Bukankah sejak awal kamu yang mengizinkan?"


"Riana aku bukan melarang, aku hanya mau kamu mengerti bahwa kami juga ingin waktu bersama Arumi, jika kamu mengantar Arumi di malam hari, Arumi hanya akan pulang untuk tidur.."


"Ada apa ini?" Abi menghampiri Kinara lalu mengecup dahinya.


Pemandangan yang sungguh membuat Riana geram, kenapa dia baru menyadari Abi punya sikap lembut terhadap wanita, selama ini dirinya tidak pernah memperhatikan Abi, dan sibuk membenci orang yang sudah meninggalkannya dan mengutuk Arumi, Riana semakin menyesal sudah menyianyiakan keluarganya dulu.


"Kinara melarangku untuk bertemu Arumi Bi" adu Riana, matanya memelas seolah minta dukungan dari Abi, jika dulu Riana melakukan itu Abi pasti akan luluh, tapi tidak sekarang.


Abi mengerutkan keningnya lalu melihat Kinara yang menunduk sambil tersenyum lalu kepalanya menggeleng pelan. "Aku gak larang Riana, Mas. bukankah kita sepakat membagi waktu agar Riana masih bisa bertemu Arumi?"


"Istriku benar Riana, dan aku yakin apapun yang istriku lakukan semua demi kebaikan kami, dan juga.. jika kamu terus mengantar Arumi, bagaimana dengan kesibukan kamu.. ah iya, aku lupa untuk menanyakan ini.. kamu bekerja?, bekerja dimana sekarang.. bukankah tidak baik mengambil cuti terlalu lama untuk mengantar Arumi, sedangkan Kinara punya banyak waktu karena dia ibu rumah tangga.."


Like..


Komen..

__ADS_1


Vote..


__ADS_2