
Karena Arumi tidak melepaskan Kinara semalaman, terpaksa Kinara tertidur di kamar Arumi, saat di pagi hari Kinara terbangun melihat Arumi masih terlelap, Kinara memutuskan untuk bangun lebih dulu untuk membersihkan diri,lalu dia akan menyiapkan sarapan untuk Arumi, Kinara dengan pelan melangkah dan keluar kamar lalu menutup pintu pelan.
Setelah membuat sarapan Kinara kembali untuk membangunkan Arumi agar pergi sarapan bersama.
Saat Kinara akan membuka pintu Abi baru saja keluar dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Arumi, penampilannya sudah rapi dengan setelan kerja seperti biasa, terlihat tampan dan elegan, bahkan Kinara bisa mencium aroma parfum Abi dari jaraknya yang sekitar dua meter.
Abi berdehem "Arumi belum bangun..?" Abi merasa canggung mengingat penolakan dari Kinara kemarin.
"Hmm, aku mau membangunkannya" tak jauh dari Abi, Kinara pun merasa canggung, jadi tak berlama- lama Kinara pun masuk ke kamar Arumi.
Kinara melihat Arumi masih terlelap, dengan selimut yang menutupinya, dengan pelan Kinara membuka selimut Arumi, dan mengeryit saat melihat raut Arumi yang pucat dan berkeringat.
Kinara meletakan tangannya di dahi Arumi, lalu membelalakan matanya, suhu tubuh Arumi sangat panas.
"Pak.. Pak Abi!" Kinara berteriak panik.
Saat bangun Kinara tidak memperhatikan karena Arumi terbalut selimut, dan lekas bangun. tapi sekarang dia menjadi khawatir melihat raut Arumi yang juga pucat.
"Ada apa?" Abi lekas berlari saat mendengar Kinara berteriak "Apa yang terjadi?"
"Arumi panas, suhu tubuhnya sangat tinggi" Kinara akan membawa Arumi, namun Abi mencegahnya..
"Biarkan aku" Abi menggendong Arumi dan berjalan cepat keluar kamar.
Abi merasakan suhu tubuh Arumi memang panas, Arumi demam tinggi.. "Astaga apa yang terjadi dengan kamu sayang" Abi berteriak memanggil supir untuk mengantar mereka ke rumah sakit terdekat, Abi benar-benar gugup karena khawatir. "Tenanglah sayang Papa ada bersamamu.."
Abi memasuki mobil diikut Kinara yang masuk ke kursi samping kemudi, sedangkan Abi memangku Arumi duduk di belakang.
Sepanjang jalan Abi terus memeluk Arumi dan menggumamkan doa memohon agar Arumi baik- baik saja.
Kinara melihat kearah Abi yang begitu mengkhawatirkan Arumi bahkan Abi sudah tak peduli membentak supir agar melaju dengan cepat.
Abi begitu menyayangi Arumi, pantaslah Abi akan melakukan apapun untuk Arumi termasuk memintanya menjadi ibu untuk Arumi, ada rasa kagum dari Kinara melihat betapa pria acuh itu punya rasa sayang yang begitu dalam untuk anaknya, meski mungkin setiap orang tua akan melakukan hal yang sama seperti Abi, tapi tetap saja dimata Kinara Abi berbeda.
...
Abi menunggu dengan gelisah saat dokter memeriksa Arumi, dokter langsung melakukan penanganan saat Abi datang dan membawa Arumi, terlebih Arumi mengalami kejang saat tiba di rumah sakit.
__ADS_1
"Minum dulu Pak.."Kinara menyodorkan minuman untuk Abi.
"Maaf aku gak memeriksa Arumi, lebih teliti.." Kinara merasa bersalah seandainya dia tahu lebih awal jika Arumi sakit.
"Arumi selalu seperti itu jika demam, tapi tetap saja aku panik.." Abi melihat Kinara yang berdiri di depannya, wajahnya nampak pucat karena terkejut, Kinara mengerti dengan perasaan Abi.
"Setiap orang tua akan bereaksi seperti itu.." Kinara meletakan botol minuman ke tangan Abi, karena Abi tak juga mengambilnya.
"Aku juga akan merasakan hal sama kalau itu terjadi pada anakku, Pasti." Kinara menunduk andai saat ini di dalam perutnya masih ada sang bayi.
Abi menghela nafasnya, lalu menoleh melihat Kinara yang duduk di sebelahnya sesaat, sebelum memalingkan wajahnya kembali dimana pintu yang menelan Arumi berada.
Mereka sama-sama diam, tanpa kata menunggu dokter menangani Arumi yang kejang, akibat suhu tubuhnya yang tinggi.
Abi lekas berdiri saat melihat pintu terbuka, belum sempat Abi bertanya dokter sudah mengeluarkan suaranya "Ada yang bernama Kinara..?"
"Saya dokter" Kinara mengeryit heran saat namanya di sebutkan.
Dokter melihat Kinara lalu membuka pintu ruangan pemeriksaan "Silahkan masuk, dia terus memanggil nama anda"
Dokter mengangguk "Kalau begitu silahkan masuk! keadaannya sudah membaik, kita akan pindahkan ke ruang rawat. hanya saja pasca kejang memang tubuh anak terasa lemas, saya akan cek kembali dua jam kemudian kondisinya" Abi mengangguk lalu memasuki ruangan pemeriksaan dokter.
Abi memasuki ruangan dan melihat Kinara memeluk Arumi yang terbaring dengan selang infus di tangannya.
Abi merasa dirinya sendiri sudah dikalahkan oleh Kinara yang baru saja hadir di hidup Arumi, tapi Abi juga menyadari jika dirinya jarang meluangkan waktu untuk Arumi, pantaslah Arumi tidak terlalu antusias padanya.
"Hay sayang.." Abi mengelus kepala Arumi, Arumi menoleh namun tangannya tidak melepas pelukannya dari Kinara.
"Papa.." Arumi terlihat pucat, dengan pipi merah karena suhu tubuhnya.
"Ya, Arumi mau apa?" Arumi menggeleng.
"Rumi mau tidur.. ngantuk"
"Oke.. tidur.." Abi mengelus rambut Arumi.
"Tapi tantenya jangan kemana-mana.." Abi mengangguk dan melihat kearah Kinara.
__ADS_1
Kinara tersenyum lalu naik keatas ranjang "Tante disini, temani Arumi.." Kinara memeluk Arumi dan mengelus punggung Arumi hingga terlelap.
.
.
Arumi sudah di pindahkan ke ruang rawat dengan ruangan luas khas vip yang di pesan Abi.
Arumi masih terlelap, dan Kinara masih menunggu duduk di sisi ranjang.
"Aku masih berharap kamu mau menjadi ibu untuk Arumi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Arumi jika kamu tidak ada di sisinya.." Arumi histeris bahkan sekarang dia jatuh sakit, hanya karena takut Kinara pergi.
Kinara mendongak melihat Abi yang menatapnya penuh harap. "Aku tahu apa yang kamu fikirkan, mungkin kamu berfikir kalau aku melakukan semuanya hanya untuk Arumi saja, tapi Nara.. aku juga bukan pria brengsek yang akan menyakiti wanita begitu saja, hanya demi keegoisan dan melakukannya hanya demi Arumi saja.
Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu, aku berjanji akan membuat kamu merasa nyaman dan kita pasti bisa menjadi keluarga yang harmonis, aku tahu kamu juga belum bisa melupakan masa lalu kamu begitupun aku, dan kita akan menjalani semuanya secara perlahan.." Kinara terdiam dan terpaku mendengar ucapan Abi "Aku tahu ini terlalu cepat, tapi Nara aku tidak tahu apakah kesempatan akan datang dua kali, karena itu aku mengatakan sekarang "Kinara maukah kamu menikah denganku, dan menjadi ibu untuk Arumi?" Abi menggenggam tangan Kinara, dia tak bisa berkata dia mulai merasakan suatu perasaan untuk Kinara tapi dia akan membuktikan dengan membuat Kinara bahagia, Abi berjanji dan dengan perlahan mereka pasti akan saling jatuh cinta dan Kinara bisa melupakan Yoga mantan suaminya.
Kinara membeku, genggaman tangan Abi membuatnya membisu tak bisa berkata-kata apa yang harus dia katakan, jawaban apa yang harus dia berikan pada Abi, apakah dia harus menerimanya dan mencoba meski dengan resiko kembali tersakiti, jika cinta tak kunjung tumbuh diantara mereka, atau dia harus menolak dan menghindari kegagalan yang kedua kalinya.
Pernikahannya dengan Yoga mengajarkan, bahwa terkadang hubungan yang di landasi cinta pun, kita tak tahu kemana arahnya dan ternyata pernikahannya berujung perceraian, lalu fakta yang menyakitkan datang bahwa selama ini Yoga hanya pura- pura mencintainya.
Jadi, apakah saling belajar untuk mencintai akan baik nantinya.
"Aku mau.."
.
.
.
Like ..
Komen..
Vote..
Kopiiiiiii😅
__ADS_1