Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka

Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka
Dan Ternyata


__ADS_3

"Biar aku yang melakukannya, ini pertama kali untukku, biarkan aku memegang kendali.."


Abi bisa merasakan Kinara menegang, lalu dengan pelan Abi berkata "Aku akan jelaskan nanti, bolehkah aku melanjutkannya?" Kinara mengangguk kaku lalu Abi kembali menjelajah Kinara.


Setiap gerakan yang Abi lakukan terkesan lembut dan hati-hati "Apakah sakit? katakan padaku jika kamu kesakitan" Merasakan kesempitan saat memasuki Kinara, Abi bertanya dengan khawatir.


"Aku bukan perawan yang akan mengeluarkan darah untuk pertama kalinya" Kinara meringis, mendengar ini pertama kalinya untuk Abi, Kinara merasa insecure.


"Tidak, aku hanya takut menyakitimu bukan bertanya kamu berdarah atau tidak" Abi mengecup dahi Kinara, lalu dengan pelan kembali memasuki Kinara.


Kinara menatap mata Abi, yang kini juga menatapnya debaran jantungnya bahkan semakin menggila "Jangan fikirkan sesuatu yang sia- sia, ini memang pertama kali untukku, tapi percayalah aku menikmatinya, uh.." Abi melenguh saat miliknya merasa di remas, gerakan naik turun mulai Abi lakukan hingga membuat Kinara mende sah lirih.


"Apa kamu juga menikmatinya?" Abi masih menatap wajah Kinara yang kini telah berubah merah, "Jawab aku!" Abi mengusap wajah Kinara, hingga Kinara mengangguk.


"Bagus, bolehkan aku bergerak lebih cepat?"


"Huh.. uhm Ya..Ah.." Saat Kinara berkata 'Ya' Abi memacu lebih cepat hingga tanpa sadar Kinara memekik.


"Mas?"


"Hum, ya.." Nafas Abi memburu dia masih memacu dengan cepat, rasanya seperti dia akan gila jika berhenti, ini benar-benar luar biasa.


"Aku.. ah.. aku.." Kinara merasa dirinya akan segera tiba.


"Oh, Kinara Aku akan.." Abi memasuki lebih dalam dengan sekali hentakan hingga Kinara mengejang, di susul Abi yang menggeram saat dirinya mengeluarkan cairannya untuk pertama kalinya, di dalam Kinara.


Apa yang terjadi di usianya yang sudah lebih dari kepala tiga, Abi baru pertama kali melakukannya, lalu bagaimana dengan pernikahan pertamanya, dan juga Arumi? Arumi anak siapa?.


Pertanyaan itu muncul, di benak Kinara setelah Abi menarik diri, dan nafasnya masih terengah dengan dada naik turun.


Kinara bisa melihat senyum puas dari bibir Abi, seperti seorang anak kecil yang menemukan permen, apa sebegitu senangnya?.


Abi menyadari Kinara yang mendongak ke arahnya segera memeluk Kinara lalu memberikan kecupan di dahi Kinara, sesuatu yang membuat Kinara merasa begitu di hargai, apa lagi kata-kata Abi selanjutnya seolah melambungkannya "Terimakasih ini sangat luar biasa"


"Mas, berhasil membuatku tak percaya diri saat mendengar ini pertama kalinya untukmu.. " Kinara menunduk, namun Abi segera mengangkat dagunya agar kembali melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu berfikir seperti itu?, Aku hanya melihat dirimu yang halal untuk ku, dan tidak ada dalam benakku memikirkan hal lainnya"


"Aku hanya takut kamu kecewa saat mendapati aku yang tidak sesempit perawan.."


"Apa itu kurang sempit, astaga.. aku bahkan sempat kesusahan saat memasukinya.."


"Mas!!"


"Apa?, kamu yang memancing ku bicara seperti itu" Kinara mencebik, benar dia yang menyebutkan itu, Abi bahkan tidak menyinggungnya sama sekali.


"Jadi kamu bisa jelaskan?"


Abi menghela nafasnya, lalu tatapannya menerawang seolah mengingat seseuatu.


"Aku hanya pria biasa, bahkan jauh dari kata biasa yang orang bayangkan, aku pria miskin yang tak punya apapun dan siapapun, Aku di besarkan di panti asuhan karena di buang oleh orang tuaku, pihak panti mengatakan mereka menemukanku di pinggir jalan dekat selokan.


"Aku bekerja dengan keras untuk bisa mencapai kesuksesan hingga aku berhasil meski dengan jerih payah yang tidak sedikit, suatu hari aku bertemu Riana, dia gadis periang dan baik hati, Aku bahkan sangat suka saat dia tertawa dan bercerita apa saja yang dia alami padaku.. aku akan dengan senang hati mendengarkan semua ceritanya, anggap saja aku adalah pengagum rahasianya, yang diam-diam mengaguminya tanpa berani mengatakannya.


Suatu hari Riana bercerita jika dia sudah berpacaran dengan seorang pria di kampusnya, ya usia kami memang terpaut lima tahun saat bertemu dan dia masih duduk di bangku kuliah, Entah karena apa aku merasa kecewa, dari yang aku dengar pria itu terkenal playboy dan suka bermain wanita, aku bahkan sudah memperingatkan Riana, namun Riana bilang dia juga mencintai pria itu, jadi aku hanya bisa mendoakan semoga Riana selalu bahagia.


Setelah sekian lama Riana datang padaku dengan menangis, bahwa kekasihnya meninggalkannya dan yang membuatku semakin marah adalah dia dalam kondisi hamil, Riana berniat melakukan bunuh diri dia begitu benci bayi yang ada di perutnya terlebih dia berasal dari pria brengsek yang sudah menyakitinya, dan ternyata dirinya hanya di jadikan bahan taruhan saja, saat Riana tahu dirinya hamil dia mencoba mencari kekasihnya, tapi kekasihnya telah pergi ke luar negeri.


mengingat diriku begitu menyakitkannya hidup seorang diri dan terbuang, bagaimana bisa itu terjadi di depan mataku, Riana bahkan mencoba membunuh Arumi sejak dalam kandungan, namun usahanya tak pernah berhasil karena aku selalu mencegahnya."


["Untuk apa dia ada? brengsek kenapa dia selalu selamat!"


"Apa yang akan kamu lakukan setelah melenyapkannya?" Abi begitu kecewa bagaimana bisa Riana berfikir untuk membunuh bayi yang tidak berdosa.


"Lalu aku harus bagaimana, pria brengsek itu sudah pergi, dan aku tidak mau menanggung malu sendirian!"


"Aku, aku akan menikahimu, biar aku yang menjadi ayahnya" Abi berkata dengan yakin, namun Riana tertawa terbahak-bahak.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan dirimu Abi, dia akan menjadi aib" Abi tertegun saat mendengar ucapan Riana, bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu, Abi mengepalkan tangannya menahan gejolak di hatinya, marah dan kecewa.


"Tidak peduli bagaimana pun caranya, aku tidak akan membiarkan anak itu mati begitu saja.."]

__ADS_1


"Dan karena Riana tak ingin menanggung malu dia akhirnya menikah denganku, Aku kira Riana akan berubah dengan berjalannya waktu, namun ternyata Riana tidak berubah dan semakin menjadi, minum alkohol dan tak peduli dengan kehamilannya, hingga aku dan Riana membuat kesepakatan, dia mau melahirkan Arumi, namun tidak mau di repotkan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Arumi, jangankan untuk menyusui, Arumi bahkan tidak pernah mendapat pelukan dari Riana."


"Hingga akhirnya aku menyadari tidak ada gunanya bertahan saat Riana tidak punya niat sama sekali untuk berubah, selama ini aku bertahan demi Arumi, namun tetap saja Arumi tidak pernah di sentuh oleh Riana.."


"Kinara mengusap air matanya, betapa malangnya Arumi, bagaimana bisa ada ibu yang tega mengabaikan anak kandungnya seperti itu.."


"Tapi sekarang Arumi punya kamu, dan berjanjilah kamu akan menjadi ibu yang baik untuk Arumi.."


Kinara mengangguk "Aku akan berusaha semampuku Mas.."


"Terimakasih.." Abi mengecup dahi Kinara.


"Jadi selama lima tahun pernikahan kamu dan Riana tidak pernah melakukan itu..?"


Abi mengangguk "Entahlah, aku jadi hilang keinginan meski dulu sempat mengaguminya, terlebih kami memang tidur di kamar terpisah, bahkan sejak menikah.."


"Tidak bisa di percaya, bagaimana bisa ada pria yang mampu menahan hasratnya di usia tiga puluh tiga tahun.."


Abi terkekeh "Tapi aku tidak menyesal, karena aku menemukan kamu sekarang.." Kinara akan membuka mulut namun Abi mencegahnya. "Jangan berkata apapun tentang perawan atau bukan!, karena itu tidak menjamin kebahagiaan, dan aku bahagia bisa memilikimu"


Kinara tertegun, benarkah Abi begitu bahagia mendapatkannya "Apa kamu mencintaiku?"


Kinara menatap Abi penuh harap, dan berharap Abi mengatakan 'Ya'


.


.


.


Like..


Komen...


Vote...

__ADS_1


__ADS_2