Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka

Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka
Duda With Janda


__ADS_3

Yang terakhir adalah gerakan refleks Abi yang gemas melihat tampang Kinara yang gugup begitu menggemaskan dengan pipi yang merah,membuat Abi tiba-tiba saja ingin menciumnya, nyaris saja dia melabuhkannya di bibir jika saja dia tidak ingat disana ada Arumi.


Jadilah Abi hanya mendaratkan kecupan di pipi Kinara saja.


Namun Arumi memekik sambil menutup mata, sontak saja Kinara yang terpaku buru-buru mendorong Abi menjauh.


"Mas!" Abi hanya menyeringai, sedangkan Kinara sudah sangat malu apalagi dengan Arumi.


Kinara membenarkan duduknya setelah berhasil mendorong Abi. "Aku.. mau ke toilet dulu" Kinara segera pergi ke arah toilet dan menutup pintu.


Abi dan Arumi tertawa melihat Kinara yang salah tingkah, Abi bangun dan berjalan kearah Arumi "Kamu senang?"


Arumi mengangguk "Papa akan lakukan apapun asal Arumi senang" Abi mengelus kepala putrinya.


"Terimakasih Papa, Rumi sayang Papa, juga Mama Nara.." Abi mengecup dahi Arumi.


"Sekarang waktunya tidur!" Abi mengambil ponsel Arumi dan meletakkannya di meja nakas "Besok kita akan pulang jadi kamu harus istirahat yang cukup, mengerti!" Arumi tersenyum sambil mengangguk.


Mulai sekarang dia akan menurut dan patuh, agara Kinara mau menjadi Ibunya, begitu kata sang Papa, jadi Arumi akan menjadi anak baik agar Kinara selalu bersamanya, pengalamannya yang tak pernah merasakan kasih sayang ibu membuat Arumi ingin Kinara yang menyayanginya terus bersamanya, dan setelah mendengar pembicaraan sang Papa Arumi menjadi senang, lalu Papanya bilang jika Arumi ingin Kinara menjadi Ibunya, dia harus membantu dan menjadi anak baik.


Saat Kinara keluar kamar mandi Arumi sudah terlelap "Arumi sudah tidur..?" apa dia terlalu lama di kamar mandi hingga saat dia keluar Arumi sudah terlelap?. Kinara rasa tidak, dia hanya mencuci wajahnya yang terasa panas, apalagi setelah Abi menciumnya.


Astaga.. kenapa pipinya terasa panas kembali hanya dengan mengingat kejadian tadi.


"Sudah.." Kinara bergumam lalu mengalihkan atensinya pada rantang yang dia bawa tadi, bekas makan Abi yang belum dia rapikan. Abi berjalan ke arah sofa dimana Kinara berada.


"Kamu sudah memikirkannya?"


Kinara mendongak, lalu mencebik "Baru saja dua hari, apa yang terjadi dengan mengambil waktu sebanyak- banyaknya."


"Lagipula untuk menikah lagi belum terfikirkan" Kinara berkata lirih.


Abi mengerti Kinara masih belum bisa melupakan pernikahannya dengan Yoga, apalagi Kinara memang mencintai Yoga, berbeda dengan dirinya yang tidak mencintai Riana, mungkin dulu pernah ada rasa kagum.. tapi setelah Abi merasa benar- benar kecewa, Abi dengan segera melupakan Riana, Abi hanya menjalani pernikahannya demi Arumi, tapi tetap saja semuanya berakhir.


Lalu sekarang dia menemukan Kinara sosok yang Arumi sukai, dan tentu saja itu saja cukup untuk menggugah hatinya yang Abi kira sudah mati.


Demi Arumi, Abi akan segera mengikat Kinara dan menjadikannya istri. "Bagaimana kalau naik dulu ke pase pacaran?" Kinara mengerut lalu tertawa kecil.


"Aku rasa aku malu jika harus pacaran, aku seorang janda.. bukankah itu hanya untuk remaja" meski usianya masih 27 tahun, tapi tetap saja dia seorang janda.


Abi tersenyum kecut "Kamu lupa aku seorang duda.."


"Ya, kita adalah janda dan duda, yang gagal dalam pernikahan.. jadi pantas saja bukan, jika kita punya ketakutan tersendiri tentang pernikahan."


"Aku tidak, kenapa harus terus memikirkan masa lalu yang membuatmu terus sakit, lagi pula kenapa tidak fikirkan 'Janda dan Duda adalah pasangan yang cocok' mungkin saja dengan pengalaman yang kita miliki, kita bisa lebih tahu dengan masalah yang akan kita hadapi dan tidak akan ada perceraian lagi.."

__ADS_1


Kinara terdiam lalu menghela nafasnya, sepertinya waktu yang Abi berikan bukan untuk menolak tapi untuk menerima, jadi mau bagaimana pun Kinara berfikir dan Abi memberi kesempatan pilihan Kinara hanya satu, yaitu menerima.


.


.


.


"Sedang apa?" Abi menghampiri Kinara yang sedang termenung di taman belakang. "Arumi sudah tidur?" Abi baru pulang dari kantor, setelah pulang dari rumah sakit Abi menjadi sibuk karena banyak pekerjaan yang tertunda, jadi sudah beberapa hari ini Abi pulang malam.


Dan saat akan menaiki tangga, Abi melihat Kinara di kursi taman.


"Sudah tidur satu jam lalu, Mas baru pulang?" Kinara melihat Abi masih mengenakan stelan jasnya, itu artinya Abi belum memasuki kamarnya.


Abi mengangguk "Kamu sendiri kenapa belum tidur? ini sudah malam"


Kinara tersenyum "Belum mengantuk.."


Abi melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Kinara "Tapi di luar dingin.." Kinara tertegun, kulitnya yang awalnya terasa dingin kini menghangat.


"Terimakasih.." Kinara merapatkan jas Abi di tubuhnya, tidak ada gunanya merasa sungkan dan menolak, karena itu pasti membuang waktu, karena sudah jelas Abi pasti memaksa memakainya.


"Ah, aku sudah mendaftarkan Arumi ke sekolah umum, mulai senin ini Arumi bisa langsung masuk sekolah, Rudi sudah mengurus semuanya.."


"Baik.."


Kinara menoleh "Kamu tidak sibuk? aku bisa antar Arumi sendiri.."


Abi menggeleng "Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku sejak kemarin, untuk pergi mengantar Arumi pertama kali.."


Kinara tersenyum senang "Bagus kalau begitu, Arumi pasti senang.."


Abi mengangguk, matanya menatap Kinara yang berbinar "Kamu begitu senang..?"


"Tentu saja, bagi seorang anak perhatian adalah yang paling penting, apalagi dari orang tua.. aku akan menyiapkan bekal nanti" Abi tersenyum, dia tahu karena itu Arumi kekurangan perhatian karena dia terlalu sibuk.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi"


Kinara mengeryit "Apa?"


"Sedang apa disini? kamu melamun?"


Kinara menggeleng "Tidak, aku baik-baik saja.."


"Kamu masih meragukan aku?" Kinara mengerjapkan matanya saat Abi memangkas jarak "Kamu masih tidak mau terbuka?"

__ADS_1


"Aku sungguh baik- baik saja.." Kinara menunduk.


"Benarkah, lalu apa ini?" Abi mengusap pipi Kinara yang basah sisa air mata, Kinara memang sudah menghapusnya tetap saja jejaknya masih ada.


"Itu.. " Kinara menghela nafasnya "Aku hanya teringat bayiku.." Kinara menunduk "Meski aku benci pernikahanku yang penuh dengan pengkhianatan tapi.. anakku tidak bersalah.." Abi tertegun, melihat Kinara kembali menangis.


"Kenapa dia harus terenggut begitu saja.. apa aku tidak pantas menjadi seorang ibu.."


"Sssttt.." Abi meletakan jarinya di bibir Kinara "Tidak seperti itu.." Abi memeluk Kinara, dan membuat Kinara semakin terisak meluapkan tangisnya, ini sudah hampir dua bulan setelah bayinya gugur karena kecelakaan. "Percayalah, apa yang tuhan takdirkan itulah yang terbaik, dan kamu jangan pernah merasa buruk untuk diri sendiri.." Abi mengelus rambut Kinara, entah berapa lama Kinara menangis hingga kemeja Abi sudah terasa basah, dan Abi terus memeluk Kinara, mengusap punggung Kinara dan menenangkan, membiarkan Kinara meluapkan kesedihannya "Menangislah, setelah ini jangan di ingat lagi.."


"Percayalah, jika kelak kita memiliki anak, kamu akan menjadi ibu yang paling baik, dan anak kita beruntung bisa mendapatkan ibu seperti mu.." Kinara mengurai pelukannya.


"A..anak kita?" Kinara menghapus air matanya, dia mendadak tersadar apa yang baru saja terjadi, kenapa Abi bisa memeluknya tapi rasanya nyaman hingga Kinara tak sadar berapa lama dia menangis.


"Tentu saja Anak kita, bukankah kita akan menikah itu berarti kamu akan mengandung anakku.." Kinara ingin menepuk pipinya yang tiba-tiba terasa panas "Dan anak kita akan bahagia punya ibu penyayang seperti kamu.." Abi menyeka air mata Kinara, dan merapikan anak rambutnya, lalu mengecup dahi Kinara, yang tentu saja membuat jantung Kinara semakin berdebar.


"Kamu lihat sebagai bukti Arumi saja sangat menempel padamu" Abi mencoba mengembalikan suasana agar Kinara tak sedih lagi.


Kinara mencebik "Mas benar, Arumi menempel padaku, Arumi bahkan tidak mengizinkan aku pulang pekan ini.." Abi mengeryit.


"Kamu akan pulang?"


Kinara mengangguk "Tentu saja, aku harus mengurus rumahku, aku akan kembali senin pagi untuk mengantar Arumi ke sekolah, boleh kan?"


"Tentu saja tidak boleh" Abi berkata dengan segera.


"Apa?! kenapa kalian tidak mengizinkan aku pulang" Kinara mencebik.


"Karena.. tidak ada alasan, kamu hanya tidak boleh pulang.."


"Tidak mau, aku tetap akan pulang" Kinara bersedekap, enak saja.. wewenang dari mana mereka bisa melarang Kinara pulang, Kinara mungkin akan menikah dengan Abi, tapi bukankah itu belum terjadi. Lagipula Kinara perlu membersihkan rumahnya agar tetap terawat, lagipula dia tidak pulang setiap hari, dan hanya dua hari saja berada di rumahnya, setelah itu dia akan kembali bekerja.


"Aku bilang tidak!"


"Terserah..!"


"Dasar janda keras kepala!"


"Dasar duda pemaksa!"


. . .


Like..


Komen..

__ADS_1


Vote..


Malam-malam enaknya ngopi gaes ☕🤭


__ADS_2