Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka

Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka
Dulu Dan Sekarang


__ADS_3

"Sayang.." Kinara berjengit saat Abi mengguncang bahunya.


"Eh?"


"Kamu melamun, apa yang kamu fikirkan?" Kinara tersenyum dia sendiri bingung apa yang sedang dia fikirkan.


Fikiran yang baru saja terlintas di kepalanya, benar- benar bodoh "Aku.. hanya terkejut melihat mas.."


"Iya, akhirnya aku pulang lebih cepat, tidakkah kamu mau memelukku, siapa yang berkata rindu setiap malam.." Abi melebarkan tangannya, dan Kinara tersenyum haru lalu masuk kedalam pelukan Abi, memeluknya begitu erat hingga Abi terkekeh merasa pelukan Kinara terlalu kencang "Ya, baiklah aku juga rindu kamu.." Abi mengecup dahi Kinara, dan Kinara semakin menenggelamkan dirinya di pelukan Abi.


Perasaan apa ini, apa Kinara terlalu mengada-ada, apakah dia begitu takut kehilangan semua kebahagiaan yang baru saja di dapatnya?.


Kinara mengenyahkan semua fikiran buruknya, tidak!. jangan sampai semua fikiran negatif menguasainya dan membuatnya berburuk sangka pada Abi.


"Mama?" Kinara berjengit saat Arumi memanggilnya, apa dia memeluk Abi terlalu lama?.


"Ya, sayang?"


"Lihat ini Aku di belikan ini?" Arumi menunjukan rumah barbie yang memang dia inginkan beberapa hari ini, setelah dia melihat iklan di televisi.


"Oh, bagus sekali.. sudah bilang terimakasih pada Mama Riana?"


Arumi mengerutkan keningnya "Mama, ini di belikan Papa"


Kinara mengerjap lalu melihat Abi "Ah, ya.. mama kira, mama Riana yang belikan.. maaf Mas, karena beberapa hari ini Arumi selalu pulang dengan mainan baru dari Riana.." Kinara melihat Riana yang tersenyum.


"Aku juga belikan, maaf Bi.. bukannya terlalu memanjakan, tapi aku mencoba mengganti semua hari yang sudah terlewati dengan percuma karena kebodohanku.."


Abi mengangguk dan tersenyum..


Kinara tak percaya apa Abi baru saja tersenyum pada Riana?, bukankah beberapa hari lalu Abi masih mendengus tak suka melihat Riana?.


Kinara menghela nafasnya saat lagi- lagi fikiran buruk merasukinya, bukankah bagus jika Abi mulai melunak, itu artinya hubungan Arumi dan Riana juga bisa semakin dekat.


"Ah.. karena sudah sore, aku pulang dulu, Arumi.. mama pulang dulu ya, besok mama jemput Arumi lagi.."


Arumi mengangguk lalu melambaikan tangan ke arah Riana, yang berjalan ke luar pintu.


"Ayo mama, kita bermain.." Arumi menyeret tangan Kinara untuk mengikutinya.


Abi mengikuti dari belakang "Hey.. Papa tidak di ajak?" protesnya saat melihat Arumi hanya mengajak Kinara.


"Papa, ini mainan perempuan, Papa laki-laki jadi tidak boleh.."

__ADS_1


"Astaga, sayang seharusnya kita segera membuat adik laki-laki agar aku tidak tersisihkan.." Kinara memukul Abi.


"Mas, apa kamu tidak bisa bicara dengan benar.."


"Apa yang tidak benar?"


"Apakah aku akan punya adik?" Kinara menatap tajam Abi, seolah mengatakan 'Lihatkan, apa yang Arumi fikirkan sekarang'


Abi tersenyum "Tentu saja, Arumi mau adik tidak?, jadi Arumi punya teman untuk bermain.."


Arumi mengerutkan keningnya "Tentu saja mau" namun Arumi menatap Abi dengan penuh curiga.


"Nah, jika begitu Arumi jangan tidur dengan Mama setiap malam, bagaimana bisa Papa dan Mama membuat adik jika Mama terus tidur bersama Arumi.."


Arumi mencebik "Kalau begitu Papa harus buat adik sendiri saja, tak usah pedulikan aku dan Mama.." Arumi kembali membawa Kinara yang terkekeh melihat Abi kehilangan kata-katanya.


Abi terpaku, bagaimana bisa Arumi berkata seperti itu, dan bagaimana bisa dia membuat adik sendiri tanpa Kinara.


Abi terkekeh saat melihat Arumi dan Kinara masuk ke kamar Arumi, bocah itu..


...


Abi menuruni tangga mengedarkan pandangannya untuk mencari Kinara, seharusnya Arumi sudah tidur tapi Kinara tak juga masuk ke kamar, bahkan Abi melihat ke kamar sebelah dimana Kamar Arumi berada, dan Kinara tidak ada di sana "Kau melihat istriku?" tanyanya pada salah satu pelayan.


"Ibu sedang di dapur Pak" Abi mengerutkan keningnya, untuk apa Kinara di dapur malam- malam begini..


"Sama-sama Pak" Abi pun melanjutkan langkahnya dan pergi ke arah dapur dimana Kinara berada.


"Sayang?" Kinara berjengit.


"Mas bikin kaget saja, ish.." Kinara menutup lemari yang baru saja dia isi dengan bahan kue yang tadi siang di belinya.


"Sedang apa, malam-malam begini?"


Kinara tersenyum lalu mendorong Abi untuk menjauh dari dapur "Tidak, aku cuma merapikan belanjaanku tadi siang.."


Abi menoleh ke arah belakang dimana Kinara masih mendorongnya "Apa?"


"Kamu menyembunyikan sesuatu?" Kinara mengerutkan keningnya.


"Apa yang bisa ku sembunyikan di dapur?"


Abi mengangguk "Baiklah ayo tidur," Abi menarik Kinara hingga kini mereka berjalan bersama beriringan..

__ADS_1


Abi merangkul bahu Kinara dengan sesekali mengecup pipi istrinya itu.


"Mas, nanti ada orang lihat.." Kinara melihat sekelilingnya, jikalau ada pelayan yang sedang lewat, ini memang sudah malam tapi pelayan Abi masih ada yang bekerja di jam ini


"Siapa peduli.." Abi berjongkok lalu menyelipkan tangannya di kaki dan punggung Kinara, hingga wanita itu kini berada di gendongannya.


"Mas!" Kinara memekik terkejut..


"Kita masih pengantin baru kan, seharusnya ini tidak asing untuk siapapun.."


Astaga, Kinara ingin memukul suaminya yang mesum tapi tampan ini, tapi bagaimana pun Kinara juga merindukan Abi, jadi pasrah adalah salah satu pengabdiannya, meski wajahnya memerah saat tak sengaja mereka berpapasan dengan pelayan.


Abi membawa Kinara menaiki tangga lalu memasuki kamar mereka, Kinara tertawa kecil saat Abi menutup pintu dengan kakinya.


Pintu tertutup hingga suasana menjadi hening, terang saja kamar yang luas tidak akan ada yang mendengar dari jarak pintu yang tertutup.


Abi merebahkan Kinara di ranjang dan selanjutnya mereka memulai ritual kebangsaan suami istri pada umumnya, desa han kenikmatan juga geraman dari Abi yang terdengar begitu lirih menambah panas suasana penuh keringat diantara mereka, hingga sebuah puncak mereka raih membalut semua rindu setelah tiga hari tidak bertemu, juga rasa cinta yang belum mereka ungkapkan masing- masing.


...


Seperti hari sebelumnya Riana datang untuk menjemput Arumi dan entah mengapa hari ini dia datang lebih pagi, bahkan Abi sekeluarga masih ada di meja makan untuk sarapan.


"Pagi sekali?" Kinara melihat Riana yang datang ke arah mereka dengan senyuman.


"Maaf tapi aku cuma tidak sabar bertemu Arumi, hay.. sayang.." Riana mencium pucuk kepala Arumi "Kalian masih sarapan?"


"Ya, mari ikut sarapan bersama" Kinara mempersilahkan Riana untuk duduk.


"Bolehkah?"


"Tentu.."


"Aku memang berencana untuk sarapan di luar setelah mengantar Arumi masuk sekolah.." namun Kinara mengkerut saat Riana akan menduduki kursi yang biasa dia duduki, yaitu di sebelah Abi.


"Tunggu Riana" Riana melihat ke arah Abi yang sudah duduk di kursinya.


"Ya?"


"Itu kursi Kinara.." Riana memerah, lalu melihat Kinara yang menatap Riana dengan wajah tak terbaca.


"Oh, sorry.. karena ini dulu juga kursiku.."


Abi terkekeh "Itu berbeda Riana, jika dulu kamu hanya duduk disana tanpa pedulikan orang lain, Kinara duduk disana untuk melayani aku suaminya.."

__ADS_1


Riana bangun dengan salah tingkah lalu berpindah ke sisi sebelah Arumi, sedangkan Kinara duduk di sebelah Abi dan tersenyum saat Abi juga melayangkan senyum untuknya.


Benar dulu adalah dulu, dan sekarang adalah sekarang, dan dialah istri Abi sekarang!.


__ADS_2