
Kinara menghela nafasnya, lalu melihat kearah dua manusia beda usia di depannya, karena tidak diizinkan pulang akhirnya Kinara menyerah dengan syarat dari Abi dan Arumi, Kinara boleh pulang asalkan mereka ikut, bahkan Abi meminta membawa pelayan dari rumah agar membersihkan rumah Kinara, dan biarkan Kinara mengawasi saja, tapi Kinara menolak keras usulan Abi, Jadi disinilah mereka sekarang duduk dengan santai di kursi ruang tamu rumah Kinara.
Kinara mendengus saat Abi dan Arumi pura- pura tak melihatnya yang berkacak pinggang dan malah seolah fokus pada ponsel mereka. Kinara menghentakkan kakinya dan pergi kearah dapur.
Setelah Kinara pergi barulah Abi dan Arumi tertawa dan melakukan high five, seolah rencana mereka berhasil.
Kinara tak peduli dan melakukan pekerjaannya membersihkan rumah, tidak terlalu kotor hanya saja memang berdebu.
Kinara menyapu dan mengepel lantai bahkan sengaja mengganggu Arumi dan Abi yang sedang bermain ponsel, Abi dan Arumi mengangkat kakinya keatas kursi saat Kinara mengepel lantai dan sengaja menyenggol kaki mereka.
"Mama.. kaki Rumi sakit.." Arumi meringis manja karena Kinara menyenggol kakinya.
"Apa sakit sekali? maaf sayang," Kinara mengusap kaki Arumi lembut lalu menelitinya, tapi Kinara rasa dia tak menggunakan kekuatannya saat menyenggol kaki mereka, setelah di rasa tidak ada yang memar Kinara menurunkan kaki Arumi kelantai. "Maaf Sayang.."
Kinara memang sengaja melakukan itu agar mereka menyingkir, siapa sangka Arumi malah terkena tongkat pel yang dia gunakan.
"Mama, aku juga kena, ini sakit sekali.." sekarang giliran Abi yang mengangkat kakinya, namun Kinara mencebik dan berkata..
"Siapa yang suruh kalian ikut, merepotkan saja, kalian memperlambat pekerjaanku.." Kinara ingin memukul Abi apalagi mendengar panggilan Abi padanya.
Kinara pergi meninggalkan Abi yang terkekeh, lalu melihat Arumi. "Papa tahu kamu hanya pura- pura" Abi mengusak rambut Arumi, dan Arumi tertawa karena merasa berhasil mengelabui Kinara.
Kinara berusaha menyelesaikan pekerjaannya meski dengan gangguan Arumi dan Abi, saat Kinara selesai suasana terasa hening, Kinara mengeryit saat tak terdengar suara, kemana dua manusia pengganggu itu, apa mereka pergi?,Kinara pergi kearah ruang tamu namun tak melihat Arumi ataupun Abi, baguslah setidaknya Kinara bisa beristirahat sebentar.
Kinara merasakan perutnya mulai kelaparan, lalu melihat ke arah jam di dinding, pantas saja dia sudah lapar rupanya sudah waktunya makan siang, Kinara ingat dia punya beberapa bungkus mie instan, jadi dia berencana memasaknya untuk makan siang.
Usai berkutat dengan dua bungkus mie instannya Kinara meletakan satu mangkuk penuh mie ke dalam mangkuk besar dengan toping dua telur mata sapi di atasnya.
Kinara menepuk tangannya dan siap duduk untuk menyantap mienya "Aromanya wangi.."
Suapan pertama mendarat mulus kedalam mulutnya, lalu kedua dan ketiga, kinara menggeram karena nikmatnya mie yang masuk melalui tenggorokannya. Di suapan keempat tangan Kinara ditarik kebelakang dan masuk kedalam mulut pria jangkung yang entah sejak kapan ada disana, bagaimana bisa Kinara tidak menyadari kalau Abi sudah ada di belakangnya.
"Kamu makan sendirian saja" Abi duduk di sebelah Kinara "Aku juga lapar.."
"Aku fikir kalian tidak ada, dimana Arumi?" Kinara bertanya dengan canggung saat Abi membalikkan kursi agar mengarah padanya dan kini kaki Abi yang panjang mengurung Kinara.
__ADS_1
"Tidur di kamar kamu, aku juga sempat tidur sebentar sampai aku mencium aroma wangi makanan.." Kinara melihat ke arah rambut Abi yang memang berantakan, juga wajah bantal khas bangun tidur, tapi menjadikan Abi lebih tampan lagi dan lagi.
"Mau aku pesankan makanan? disini tidak ada bahan makanan, lagipula hanya ada mie.." Kinara akan bangun namun Abi mencegahnya.
"Aku mau ini saja!" Abi menunjuk mie Kinara "Suapi aku!" Kinara mencebik lalu kembali duduk dan kembali memakan mienya dan sesekali menyuapi Abi.
"Kamu tidak jijik ini bekasku" Kinara menunjuk sendoknya, bukankah secara tidak langsung bibir mereka saling bersentuhan?, Kinara mengigit bibirnya merasa gugup, kenapa dia bicara seperti itu bukannya diam saja. Kinara ingin menepuk bibirnya, beruntung semua itu hanya terucap di hatinya, dan apa yang terjadi saat mereka melakukannya tidak sekali.
Abi menyeringai saat pipi Kinara memerah "Aku sama sekali tidak jijik, bahkan kalau kamu langsung menggunakan mulutmu aku tidak keberatan.." Kinara membelalakan matanya mendengar ucapan Abi yang terkesan mesum.
Kinara mencebik dan segera menghabiskan mienya, setelahnya Kinara membawa mangkuk kearah wastafel untuk dia cuci, Kinara mencuci dan menyimpannya di rak piring setelah selesai Kinara hendak pergi namun saat berbalik dahinya membentur sesuatu yang keras, Astaga.. sejak kapan Abi ada di belakangnya? kenapa Kinara tidak bisa mendengar suara langkahnya.
Kinara mengelus dahinya yang terbentur dada Abi "Mas, kebiasaan ih, ngagetin aja!"
Abi terkekeh lalu mengelus dahi Kinara "Masa sakit, cuma terbentur dadaku saja"
"Iya, dada sih dada tapi kalau keras kayak batu begini ya sakitlah.." Kinara merengut, dan Abi semakin tergelak.
"Baiklah aku akan mengobatinya.."
Abi mengecup dahi Kinara "Apa masih sakit?" Kinara membeku dengan mata yang mengedip cepat "Harusnya sudah tidak sakit lagi, ini cukup ampuh kalau Arumi sakit.." Kinara masih terdiam saat Abi merapatkan tubuhnya hingga Kinara terpojok di meja wastafel.
Abi menangkup wajah Kinara dan membuat Kinara mendongak padanya, kedua netra itu saling memandang hingga Abi semakin memangkas jarak.
Abi menundukan wajahnya.. terus menunduk hingga mencapai benda kenyal milik Kinara, berhasil.. bibirnya menyentuh bibir Kinara, bibir merah muda yang menggodanya selama ini, kecupan lembut Abi berikan berusaha setenang mungkin meski jantungnya berderu dan bertalu begitu cepat.
Kinara membeku saat bibir basah Abi memberikan ciuman lembut, secara perlahan namun menuntut untuk semakin dalam, tangan Abi masih mengunci rahang Kinara hingga Kinara hanya bisa terdiam menerima setiap gerakan lembut Abi, Kinara membalas dengan membuka celah mulutnya dan membuat Abi semakin leluasa menjelajah dan menyesap bibir Kinara yang dirasa begitu manis.
Abi menarik dirinya hingga Kinara merasa kehilangan dan bibirnya menjadi dingin "Aku tidak akan minta maaf, tentang ini.. Nara, kita harus segera menikah, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika tidak bisa menikahi kamu.." Nafas keduanya terengah seolah meraup udara sebanyak- banyaknya.
Dahi Abi masih menempel di dahi Kinara, bak saling bertukar udara, hingga saat Abi akan menjauh Kinara menarik tengkuk Abi agar mendekat kepadanya, dan bibir mereka kembali bersentuhan.
Kali ini Kinara yang mencium Abi, sesaat Abi terpaku dengan apa yang dilakukan Kinara, namun kemudian Abi tersadar dengan kedua bibir yang tertarik penuh, Kinara membalasnya, Kinara bahkan balik menciumnya, dengan segera Abi mengambil alih kembali permainan.
Seolah belum puas Abi menarik Kinara untuk mensejajarkan tinggi mereka, merapatkan tubuh dengan tangan menekan pinggang Kinara, Abi bahkan mendudukan Kinara di meja wastafel dengan bibir yang masih saling bertaut, bahkan semakin rapat.
__ADS_1
Kinara melenguh saat merasakan tubuh mereka semakin merapat dan merasakan sesuatu yang menonjol di perutnya.
Astaga.. Kinara hampir menyerah, dia tahu apa ini dan bagaimana kelanjutannya jika tidak berhenti, jangan katakan Abi bodoh, dia jelas tahu apa yang mereka rasakan sebuah gairah yang lama tak tersalurkan seolah akan meledak jika mereka tak segera melakukannya.
Kinara ingin berhenti namun tubuhnya menginginkan lebih dan lebih..
Ah,
Kinara men de sah saat tangan Abi mulai bergerak merambat kearah dua benda kenyal miliknya.
"Mas.."
Abi tak menghiraukan bahkan bibirnya mulai merambat kearah tengkuk Kinara, semakin membuat Kinara terbuai..
Abi gila setelah sekian lama dia bisa merasakan sesuatu yang tertahan, begini rasanya.. Astaga..
Mereka semakin tenggelam dalam gai rah yang telah lama tertahan, kancing kemeja Kinara bahkan hampir terlepas sepenuhnya, hingga sebuah suara membuat mereka terkejut dan kembali ke dunia yang sedang mereka pijak..
"Papa..
"Mama?"
.
.
.
Like..
Komen..
Vote..
☕☕☕☕
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹