
Seperti perkataan Abi satu jam kemudian rapatnya selesai, namun Abi masih dengan wajah cemberutnya, Kinara menghela nafasnya ternyata marahnya lama sekali, Kinara melihat Arumi yang tertidur karena bosan menunggu Abi.
"Sudah selesai..?" Kinara bertanya sedikit tercekat melihat Abi tak melihat ke arahnya sama sekali, bahkan Abi hanya menjawab dengan gumaman.
Baiklah, Kinara harus beraksi untuk meredakan amarah Abi.
Kinara mendekat kearah kursi Abi, lalu melihat Arumi dan memastikan anak itu masih tertidur.
Kinara bergerak dengan gemulai lalu dengan pelan meraih jas Abi hingga Abi mendongak kearahnya dengan kening mengkerut.
Kinara melebarkan kakinya lalu duduk menghadap Abi, hingga membuat Abi terpaku karena Kinara duduk tepat di atas miliknya yang tiba-tiba berdenyut "Kamu mengabaikan aku?" Jari Kinara turun dari dahi hingga ke rahang.
"Baiklah, jika aku tidak boleh senyum pada orang lain, tapi jangan protes padaku jika ada yang bilang istri bos mereka sangat angkuh..."
Abi menelan ludahnya saat Kinara berbisik dan bibirnya sedikit menyapu telinga Abi hingga menyisakan rasa geli untuknya.
Kinara tersenyum saat melihat jakun Abi naik turun menandakan Abi mulai tergoda olehnya.
"Mas tahu, aku tidak suka di abaikan.." Kinara mengerucutkan bibirnya, kini tangan Kinara berpindah ke dada abi lalu menekan disana.
Kinara mundur dengan dada membusung, hingga membuat Abi semakin susah menelan ludahnya.
Dua tonjolan yang selalu membuat Abi tergoda untuk mel umat dan menggigit gemas.
Kinara mencebik saat Abi masih saja diam "Ya sudahlah, kalau mau marah.. marah saja sana!" dengan kesal Kinara mendorong dirinya, namun saat akan bangun Abi menahan pinggangnya hingga Kinara kembali terduduk di pangkuannya.
"Mau kemana?" suara Abi serak menahan gejolak gairah yang sudah menguasainya.
Kinara memerah saat Abi meremas bokongnya, dan Abi merapatkan tubuh mereka, apalagi kini Kinara merasakan benda keras milik abi yang tepat berada di bawah tubuhnya, andai tidak terhalang pakaian masing-masing, milik mereka mungkin sudah merapat.
"Bukankah, kamu masih marah..?" Kinara menahan dada Abi.
"Ya, dan aku akan semakin marah jika kamu tidak bertanggung jawab sekarang!" Abi menggeram saat menggesek miliknya yang masih tertutup di tubuh Kinara dengan menggerakkan tubun Kinara maju mundur.
"Mas!" Kinara mendongak saat Abi mengecup lehernya, dan kedua tangannya meremas dadanya yang sejak tadi membusung ke arah Abi, bagaimana jika ada orang yang tiba-tiba masuk, dan lagi.. Kinara melihat ke arah Arumi yang masih lelap, bagaimana jika dia terbangun. "Mas Arumi.." Kinara mencegah tangan Abi saat pria itu menurunkan resleting blouse nya.
"Siapa suruh kamu menggodaku.."
__ADS_1
"Itu karena kamu marah terus padaku.." Kinara memukul bahu Abi.
Abi terkekeh, lalu mel umat bibir Kinara lembut "Baiklah aku akan menahannya sekarang lain kali jangan lakukan itu, di tempat seperti ini"
"Dan yang paling penting jangan tersenyum terlalu manis pada orang lain!" Abi mencubit hidung kinara, hingga hidungnya memerah dan membuat Abi tertawa "Kau membuatku gemas sayang, andai tidak ada Arumi, aku makan habis kamu disini.."
Abi menyatukan kening mereka "Aku tidak bisa marah terlalu lama dengan kamu" desahnya.
"Maka jangan marah" Kinara mengusap rahang Abi. "Karena jika kamu marah, yang pusing adalah karyawan kamu.." Kinara terkekeh.
"Maka berjanjilah jangan membuat aku marah"
"Seperti?"
"Bersentuhan dengan pria lain, tersenyum pada pria lain, dan bersenda dengan pria lain!"
Kinara mengerjapkan matanya "Astaga.. aku bahkan tidak boleh bicara pada mereka?" Abi mengangguk "Baiklah.." katanya dengan pasrah, lebih baik iyakan saja.
...
Seorang kurir memasuki lobi dan mengatakan ada paket untuk seseorang bernama Pabian Aksan Wiratama, dia berbicara dengan resepsionis, hingga resepsionis menghubungi staf sekertaris.
Sekertaris memberikan semua berkas pada Rudi yang akan menyerahkannya kepada Abi, sementara dia periksa terlebih dahulu, sebelum jatuh ke tangan Abi "Apa ini?" Rudi bertanya saat melihat amplop coklat bertuliskan nama atasan mereka.
"Saya tidak tahu pak, kata kurirnya ini dokumen penting, dan harus Pak Abi yang membukanya langsung" Rudi mengangguk.
"Oke kamu boleh pergi." Rudi merapikan semua berkas yang akan dia antar ke ruangan Abi.
Rudi membuka pintu ruangan Abi tanpa mengetuk, namun buru- buru dia menutupnya kembali saat melihat adegan tak biasa ada di depannya "Maafkan Aku Pak!" Rudi meringis saat Abi berteriak dari dalam, bagaimana dia bisa lupa jika istri Abi ada disana, karena terbiasa keluar masuk ruangan Abi, Rudi terkadang datang tanpa mengetuk seperti sekarang.
.
.
Kinara terperanjat saat mendengar pintu terbuka lalu tertutup dengan keras mungkin orang disebrang sana terkejut melihat dirinya tengah duduk di pangkuan Abi, dan lagi Abi sedang menyandarkan kepalanya ke dada Kinara.
Kinara panik sedangkan resleting blouse nya sudah terbuka mungkin saja punggungnya juga terlihat.
__ADS_1
Abi mengumpat lalu berteriak "Rudii!!"
Abi menaikan kembali resleting blouse Kinara lalu Kinara dengan cepat berdiri dan merapikan dirinya.
Rudi kembali masuk, kali ini setelah mengetuk pintu "Maafkan aku pak" Rudi membungkuk.
"Kurang ajar sekali kamu Rudi, jika aku dan istriku sedang melakukan hal yang lebih intim lagi bagaimana..!!"
"Kenapa anda tidak mengunci pintunya Pak" Rudi meringis dalam hati dia baru saja menyiram bensin kedalam api.
"Apa kamu juga tidak bisa mengetuk, sebelum masuk!" Abi menatap tajam Rudi yang semakin mengkerut.
Kinara memerah dia sungguh malu baru saja ketahuan sedang berbuat mesum, meski dengan suami sendiri tetap saja dia malu..
Saat menyadari Abi benar- benar marah pada Rudi, Kinara segera memegang tangannya "Mas!" benar ini memang salah mereka karena tidak mengunci pintu, meski tidak melakukan apapun, tetap saja dia merasa itu posisi yang cukup intim.
Belum lagi ini cara Kinara untuk membujuk Abi, tapi Kinara juga bingung harus dengan cara apa membujuk Abi agar tidak marah lagi, ya! dan yang paling laki- laki sukai adalah ketika wanitanya terlihat sedikit nakal, terbukti sekarang Abi tak marah lagi, namun berakhir Abi yang memarahi Rudi.
Abi menghela nafasnya "Apa yang kau bawa cepatlah aku akan segera pergi" dia punya janji dan menunggu Arumi bangun mereka akan segera pergi.
"Ada beberapa berkas Pak, dan ini ada sebuah paket" Rudi meletakan semuanya diatas meja.
"Apa ini..?" Abi membalik amplop coklat yang tidak ada nama pengirimnya tersebut.
"Aku tidak tau pak, tapi kurir berpesan agar anda yang membukanya langsung" Abi mengerutkan keningnya lalu meminta Rudi pergi.
"Baiklah aku permisi.." Rudi masih menunduk, dan tidak berani melihat Abi, menurut yang baru saja terjadi cemburu Abi begitu mengerikan bahkan semua peserta rapat kena marah oleh Abi, hanya karena istrinya tersenyum pada orang lain, dan yang terjadi baru saja dia melihat sedikit punggung putih Kinara, jika sampai Abi marah habislah dia.
Kinara menghela nafasnya saat melihat pintu tertutup dan menelan Rudi, lalu melihat Abi yang serius dengan amplop coklat di depannya, Kinara memutuskan akan membangunkan Arumi agar mereka bisa pergi jalan- jalan dan membeli kado untuk Arumi.
Namun baru beberapa langkah Kinara beranjak Abi berseru dengan tajam sambil menunjukan beberapa foto pada Kinara "Apa ini Nara?"
Kinara membelalakan matanya melihat fotonya bersama Yoga, dengan posisi yang membuat orang salah faham.
Astaga, baru saja Kinara meredakan amarah Abi dan sekarang dia akan mendengar Abi marah- marah lagi.
Like..
__ADS_1
Komen..
Vote