
Arumi keluar dari mobil Abi dengan berlari, dia sudah tidak sabar bertemu Kinara.
Abi menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arumi, Abi memasuki rumah setelah memastikan pintu mobil terkunci.
Abi mengeryit saat masuk ke dalam rumah, yang membuka pintu bukan Kinara tapi pelayan, biasanya Kinara akan menyambutnya datang dengan senyuman cantiknya "Kemana istriku?" tanyanya pada salah satu pelayan, setelah mengedarkan pandangannya dan tidak ada tanda-tanda Kinara akan muncul.
"Anu pak, tadi Bu Nara mengeluh pusing, mungkin masih istirahat di kamar"
Tanpa menjawab Abi segera menaiki tangga untuk pergi ke arah kamar mereka, tiba di depan pintu Abi melihat Arumi yang sedang memanggil Kinara dengan mengetuk pintu..
"Ma.. Mama.. aku pulang" Namun pintu tidak juga terbuka.
Abi menghela nafasnya lalu mencegah Arumi kembali menggedor pintu "Mama tidak menyahut.." Arumi berkata dengan kesal.
"Mama sedang sakit, Arumi bisa pergi ganti pakaian dulu, biar Papa lihat kondisi Mama, setelah itu baru Papa memastikan Arumi bisa menemui Mama atau tidak.."
Arumi menunduk lalu pergi ke kamarnya.
Padahal dia ingin bercerita pada Kinara tentang perayaan ulang tahunnya.
Abi membuka pintu perlahan kemudian berjalan ke arah ranjang dimana Kinara menenggelamkan diri dalam selimut.
Meletakkan jasnya di atas sofa Abi berjongkok di depan Kinara, Abi meraba dahi Kinara, namun dahinya tidak panas "Sayang, kamu sakit?" Abi bertanya dengan pelan, namun mendapati Kinara yang bergeming Abi memilih membiarkan Kinara tertidur "Baiklah, istirahat yang cukup.." Abi mengecup dahi Kinara lalu bangkit, Abi memutuskan untuk membersihkan diri.
Kinara membuka matanya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka lalu tertutup kembali.
Mata Kinara mengerjap dengan tatapan datar, dia dengar saat mobil Abi memasuki garasi, dia juga mendengar saat Arumi mengetuk pintu kamar, namun Kinara tak ingin terlihat menyedihkan di depan Arumi ataupun Abi.
Kinara merasa ada yang salah disini? tapi Apa?.
Kinara meminta Riana untuk pulang lebih awal, lalu Riana mengangguk mengiyakan, tapi Riana tidak menepatinya malah membawa Arumi dan memberikan kejutan, tapi kenapa Riana tidak memberitahunya, bahkan Abi? apakah Riana sengaja?, apakah Abi tidak menganggap dirinya?.
Kinara memejamkan matanya kembali, dia lelah dengan pikiran negatif yang sejak tadi merasukinya, dia perlu menenangkan diri agar tidak salah dalam bertindak.
Abi selesai dengan mandinya, dan melihat Kinara masih tertidur, Abi memutuskan untuk melihat Arumi lebih dulu dan memastikan anak itu tertidur.
Saat Abi masuk Arumi baru selesai berpakaian, dan hendak naik ke tempat tidur "Papa, Mama mana?" biasanya Kinara yang mengantar Arumi tidur, tapi kenapa sekarang papanya yang datang?.
__ADS_1
"Mama sudah tidur, karena sedang tidak enak badan.. jadi Arumi tidur dengan Papa dulu"
"Aku, biasa tidur sendiri mama hanya menemani dan melihat ku, katanya Aku harus belajar tidur sendiri"
"Oh, bagus.. sejak kapan?" Abi mengusap kepala Arumi.
"Kemarin.." tapi meski begitu dia juga terbiasa tidur sendiri karena memang sejak dulu di abaikan, dan di temani pengasuh hanya semenjak Kinara menjadi pengasuh sampai jadi mamanya, Arumi mulai terbiasa di temani saat tidur.
Abi terkekeh "Itu berarti Arumi hebat.."
Abi hanya diam menunggu Arumi tidur, sambil menatap Arumi yang pelan-pelan menutup matanya, Kinara memang hebat dalam segala hal, dia bisa mengurus rumah, suami dan anak bahkan dia ajarkan Arumi untuk terbiasa tidur sendiri sebelum dia lepas sepenuhnya.
Setelah memastikan Arumi tidur, Abi kembali ke kamarnya.
Melihat Kinara yang masih berada di posisi yang sama, Abi menghela nafasnya, mungkin Kinara sedang lelah, jadi tidurnya sangat lelap, menaiki ranjang lalu berbaring dengan memeluk Kinara, Abi mulai memejamkan matanya dan ikut terlelap bersama Kinara.
....
Kinara bergumam dalam tidurnya, keringat dingin bahkan sudah memenuhi dahinya, Kinara tahu dia bermimpi tapi kenapa sangat sulit untuk bangun, dia ingin bangun dan menghentikan mimpi buruknya dan kembali ke dunia nyata.
Abi merasa terusik dengan pergerakan Kinara, Abi mengusap wajahnya dan melihat Kinara yang tidur dengan gelisah, melihat dahi Kinara yang basah Abi yakin Kinara sedang bermimpi buruk..
Kinara ingin memeluk Abi, tapi rasa kecewa di hatinya masih menguasai, Kinara tahu dia baru saja bermimpi, tapi Kinara merasa semuanya seperti nyata, di mimpinya Abi meninggalkan dirinya demi kembali bersama Riana hanya karena Riana Ibu dari Arumi, dan tentu saja Abi akan melakukan apapun demi Arumi.
"Hei.. tenanglah kamu baik-baik saja.." Abi mengusap dahi Kinara juga pipinya.
"Aku akan ambilkan air.. tunggulah.." Abi melihat teko air di nakas kosong, lalu memutuskan untuk pergi ke dapur.
Abi merasa ada yang aneh dengan Kinara yang hanya diam tanpa merespon perkataannya.
Abi pergi kelantai bawah dan menuju ke dapur, melihat suasana hening abi yakin para pelayan sudah tidur, jadi Abi hanya bisa melakukannya sendiri mengambil air di dalam lemari es lalu menuangnya ke dalam teko.
Abi berjongkok untuk menyimpan kembali botol air lalu matanya terpaku pada kue tart bertuliskan nama Arumi juga ucapan selamat ulang tahun.
Abi mengerjap beberapa kali lalu mengambil kue tersebut dan menyimpannya di meja bar di depannya.
Abi masih menatap kue di depannya saat seorang pelayan muncul dari balik pintu belakang "Bapak butuh sesuatu?"
__ADS_1
Abi menoleh melihat pelayan berdiri di belakangnya "Kue ini..?" Abi bertanya dengan linglung, apa Kinara menyiapkan semua ini..
Pelayan menunduk lalu berkata "Begini Pak Abi, sejak pagi Bu Kinara menyiapkan kejutan kecil untuk nona, dari kue, hingga makanan kesukaan Nona, tapi.."
Ah, Abi tahu.. karena dia dan Arumi pulang terlambat jadilah usaha Kinara sia-sia.
Abi mengusap wajahnya, benar tadi pagi Kinara memintanya pulang lebih awal, bagaimana bisa dia abai "Bisakah, Mas pulang lebih awal hari ini... " Abi bahkan ingat tatapan Kinara pagi tadi penuh harap, jadi dia akan memberi kejutan untuk Arumi.
"Sebenarnya Bu Kinara meminta kami untuk memakan kuenya saja, tapi kami merasa tidak enak Pak, Bu Nara memasaknya sejak pagi... bahkan kami dilarang memasuki dapur untuk membantu"
Astaga..
Abi bergegas pergi dengan teko dan gelas baru untuk Kinara, sepanjang jalan menuju kamarnya, Abi terus memikirkan rasa bersalahnya.
Bagaimana bisa dia abaikan permintaan Kinara, tidak Abi tidak lupa sepenuhnya, tapi saat Abi baru saja selesai rapat bersama klien di salah satu restoran, Abi tak sengaja melihat Riana dan Arumi, dan ternyata Riana menyiapkan kejutan untuk Arumi, karena itu Abi ikut meniup lilin bersama Arumi, saat Abi akan memberitahu Kinara Abi baru menyadari jika ponselnya sudah mati, kehabisan baterai.. jadi dia fikir untuk memberitahu Kinara saat dia pulang saja, Abi kira Kinara tidak menyiapkan kejutan untuk Arumi.
Abi tahu hari ini adalah ulang taun Arumi, dan Abi juga sudah menyiapkan pesta untuk Arumi, hanya saja karena kesibukannya Abi memutuskan untuk memberikan Arumi pesta beberapa hari lagi, namun saat melihat Riana dan Arumi bagaimana bisa Abi tidak ikut merayakan.
Abi menghela nafasnya saat melihat Kinara duduk di tepi ranjang dengan tatapan mengarah ke jendela kamar, jadi ini yang membuat Kinara berprilaku aneh, pantas saja dia kecewa padanya.
"Sayang, minumlah.." Kinara menoleh melihat Abi membawakan sebuah gelas berisi air.
Tanpa kata Kinara meneguknya perlahan hingga beberapa teguk, mimpi buruk yang baru saja datang lumayan membuat tenggorokannya kering.
Abi meletakan gelas bekas minum Kinara di atas nakas lalu berjongkok di depan Kinara "maafkan aku.. aku tidak tahu kalau kamu menyiapkan kejutan untuk Arumi" Abi meraih tangan Kinara, dia merasa bersalah.
Mendengar perkataan Abi, Kinara yakin Abi baru saja tau apa yang dia lakukan kemarin, Kinara menatap Abi dengan pandangan sendu..
"Mas, sebenarnya apakah.. arti aku untuk kamu?"
.
.
.
Dua bab kan..
__ADS_1
kalian udah ngopi.. kalau belum cus ngopi dulu☕☕☕ bareng aku di tenda biru biar otak gak ngebul 😅😅apalagi tadi pagi bumiku masih bergoyang, aku hampir mau keluar tenda sama anakku, saking kagetnya🤭 ealah aku inget kalau tenda gak mungkin roboh kayak rumah bata 🤣🤣🤣.