Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka

Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka
Abi Yang Tampan


__ADS_3

Kinara menipiskan bibirnya saat menerima pesan dari salah satu temannya mengenai reuni yang kerap mereka lakukan, biasanya di lakukan satu tahun sekali, namun entah mengapa kali ini di adakan kurang lebih jangka waktu delapan bulan, terkahir kali Kinara tidak menghadirinya kerana tepat di hari itu juga Kinara mengetahui pengkhianatan Yoga dan Anita.


Dan yang membuat Kinara bingung dari mana mereka tahu nomer ponsel baru Kinara, sedangkan dia tidak memberikan nomer ponsel barunya pada siapapun.


"Ada apa?" Kinara berjengit, lalu melihat sekitarnya.


"Mas, nanti ada yang lihat.." Kinara mencoba melepaskan tautan tangan Abi, ayolah mereka sedang berada di rumah Abi, meskipun ini sudah malam tapi tetap saja bagaimana jika nanti ada pelayan yang melihat mereka, dengan posisi mereka saat ini yaitu Abi memeluknya dari belakang, Kinara mengeluh rencananya untuk menginap di rumahnya gagal gara-gara Abi dan Arumi menyeretnya pulang.


"Kenapa memangnya.. bila perlu aku akan umumkan kalau kamu calon istriku."


Kinara menggeleng "Aku belum setuju.."


Abi mengerut "Lalu hubungan apa ini?"


"Mmmm pacaran!?" Kinara berkata ragu-ragu, alisnya berkerut seolah berfikir.


Abi terkekeh "Oh ya, lalu siapa yang mengatakan kalau terlalu tua untuk pacaran!"


Kinara merona malu "Baiklah, kalau begitu perlukan kita pergi berkencan?" Kinara makin merona, tapi tak bisa berkata-kata.


"Apa itu..?" Abi menunjuk ponsel Kinara yang terus menampilkan notifikasi pesan.


"Ini undangan reuni dari teman SMA ku" Teman Kinara, Andini masih menanyakan perihal kehadirannya di acara reuni, dan terus saja mengirimkan pesan.


"Kamu akan datang?" Kinara menggeleng "Kenapa, takut bertemu mantan?"


"Bukan, hanya saja aku sedang nyaman dengan diriku sendiri sekarang dan kehidupan baruku.. tapi kalau aku tidak datang apa mereka tidak menganggap aku menghindar ya?.. terlebih terakhir kali aku tidak datang."


"Lagi pula, Yoga dan Anita justru jarang sekali hadir karena kesibukan mereka..." Dan Kinara menyadari sekarang kenapa mereka tidak memilih hadir, karena mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama di kamar hotel, dibanding pergi reuni.


"Mau aku temani?"


"Mas tidak sibuk..?"


"Aku akan luangkan waktu"


Kinara membalikkan tubuhnya, dan kini berhadapan dengan Abi "Aku tidak mau merepotkan, kamu pasti sibuk, lagi pula tidak masalah aku datang sendiri.."


"Kamu yakin?" Kinara mengangguk.


"Oke, kalau butuh sesuatu kamu beritahu aku..." Kinara mengangguk "Tidurlah ini sudah malam" Abi memberikan kecupan di dahi Kinara.


"Mas juga.." Kinara pun pergi ke arah kamarnya meninggalkan Abi yang menghela nafasnya.


Pagi sekali Kinara sudah berkutat mempersiapkan bekal untuk Arumi, hari ini adalah hari pertama Arumi pergi ke sekolah meski hanya bisa menyecap satu tahun, karena tahun berikutnya Arumi harus memasuki sekolah dasar tapi Kinara rasa itu cukup untuk membuat Arumi bersosialisasi dengan teman sebayanya.


Kinara selesai menyiapkan bekal selanjutnya dia akan membangunkan Arumi, namun siapa sangka Arumi sudah datang dengan menggandeng tangan Abi "Oh, wow.. sudah siap.." ucapnya kagum, tak biasanya Abi dan Arumi kompak, dan sepertinya Abi yang menyiapkan Arumi, karena sejak ada Kinara, Arumi tak mau di urusi orang lain.

__ADS_1


Abi menyeringai.. "Kamu melakukan semuanya sendiri, bisa-bisa aku pecat semua pekerja dapur.." Kinara menjadi canggung, sedangkan para pelayan di sekitarnya menjadi pucat.


"Itu, tidak akan terjadi..heee" Kinara tersenyum tak enak hati "Lagi pula aku hanya mengurusi perlengkapan Arumi.."


Abi mengangguk "Tapi nanti setelah menikah bukankah kamu juga harus mengurusiku" Kinara membelalakan matanya, lalu melihat kembali ke arah pelayan yang juga terpaku bingung.


"Bukan.. apa-apa.. Pak Abi memang suka bercanda.." Kinara meringis, bisa-bisa dia jadi bahan pembicaraan para pelayan mulai sekarang.


Abi berdecak lalu duduk di kursinya, bersamaan dengan Arumi "Mama, Arumi mau itu.." Arumi menunjuk nasi goreng di dalam mangkuk.


Lagi-lagi Kinara meringis, Ayah dan anak ini sepertinya memang sengaja mempermainkannya, meskipun dari kemarin Arumi memanggilnya Mama tapi rasanya tidak secanggung sekarang, saat para pelayan memperhatikan mereka.


Kinara masih berdiri, dia sudah seperti seorang istri yang melayani suami dan anaknya.


Para pelayan tidak ada yang berani bicara, tapi mereka senyum malu-malu seolah merasakan perasaan canggung yang tengah Kinara rasakan.


Mereka merasa Kinara beruntung karena mampu menarik perhatian tuan dan nona kecil mereka, tapi mereka juga merasa tuan mereka beruntung karena kedatangan Kinara yang baik bisa menjadikan rumah ini seperti rumah sesungguhnya, kasih sayang yang tak pernah di dapat Nona kecil mereka, belum lagi pertengkaran antara Tuan mereka dengan Nyonya terdahulu, membuat rumah ini seperti neraka.


Apalagi Nyonya mereka yang dulu semena- mena terhadap pelayan, dan hampir setiap hari mereka dibuat takut akan di pecat jika membuat Nyonya mereka marah, tapi sejak Nyonya Riana pergi, datang Kinara dan rumah ini terasa damai.


"Kalian akan ikut makan?" Abi mengeluarkan suaranya, tentu saja itu bukan ajakan melainkan peringatan bahwa mereka sudah terlalu lama berdiri disana.


Sontak semua pelayan bergegas undur diri dari sana meninggalkan Kinara, dengan kerutan di dahinya, kata-kata Abi menyiratkan pengusiran secara halus, tentu saja pelayan mana yang berani makan dengan majikannya "Kamu keterlaluan Mas!" Kinara mengerucutkan bibirnya.


"Sudah, sekarang kamu duduk!" Abi menarik satu kursi di dekatnya.


Kinara duduk sambil mencebik "Harusnya aku ikut ke dapur dengan mereka.."


Kinara menelan ludahnya kasar lalu melihat Arumi yang sudah anteng dengan nasi gorengnya seolah tidak mendengar perbincangan antara Abi dan Kinara, dan yang terpenting Arumi tidak melihat Abi yang kini..


Astaga..,


Abi mengecup telinganya dan memberikan sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhnya.


Duda mesum sialan.. tidak tahu tempat..


Kinara mengumpat dalam hati sedangkan matanya menatap tajam Abi yang menyeringai sambil duduk kembali di kursinya.


.


.


Arumi melangkah riang dengan mata bergantian melihat Kinara dan Abi yang menggandeng tangannya, kiri dan kanan, ini adalah sesuatu yang diimpikan Arumi, bisa pergi berjalan-jalan dengan orang tuannya, meski Kinara bukan Ibu kandungnya, tapi sosok Kinara satu-satunya wanita yang mau memberikan kasih sayang untuknya.


Abi masih berwajah datar namun saat melihat kearah Arumi dan Kinara senyum tampan terbit dari bibirnya dan sontak membuat orang di sekitar mereka memekik kagum.


Tidak hanya Arumi yang pergi di antar oleh Ibu dan Ayah, di taman kanak-kanak adalah hal lumrah mereka diantar orang tua, maka saat itu banyak pula orang tua murid yang di dominasi para ibu mengantar anak mereka.

__ADS_1


Dan saat ini mereka melihat pemandangan baru, pemandangan yang jarang terlihat mata mereka, pria tampan dan tinggi dengan gentlenya mengantar anaknya pergi sekolah, seolah mengabaikan Kinara yang berada di sebelah gadis kecil berseragam, mereka mulai memuji sosok tampan dan tinggi tersebut.


"Astaga, bukan kah dia tampan.."


"Ya, tampan sekaliii"


"Lihatlah di tersenyum.."


"Ya, Manis sekali"


"Lihat lengan kemejanya yang tergulung hingga ke siku.."


"Ya ampun.. aku ingin menyentuh otot di tangannya.. lalu dadanya apakah itu keras.."


"Aku rasa itu gambaran dari tokoh novel favoritku.."


"Andai aku menjadi istrinya.."


"Aku juga mau.." mereka bahkan lupa jika mereka punya suami.


Kinara mendengus, lalu melihat Abi yang terlihat biasa saja, lalu pandangannya turun ke arah dada bidang Abi, tentu saja itu keras dia juga pernah merasakannya, eh maksudnya dahinya pernah terbentur dada Abi.


Kinara semakin cemberut kala mendengar semua ucapan para wanita di sekitarnya semakin menjadi, apa mereka tidak menyadari kalau suara mereka terdengar olehnya, dan bukan tidak mungkin kalau Abi juga mendengarnya.


Harus Kinara akui, hari ini Abi memang terlihat berkali lipat lebih tampan, meski biasanya Abi juga tampan. Padahal penampilan Abi tidak formal seperti biasanya tidak ada dasi dan jas, hanya kemeja biru dengan bagian tangan tergulung hingga siku, karena seperti janjinya Abi hanya akan menemani Arumi hari ini, tapi siapa sangka kehadirannya menarik perhatian banyak orang.


Kinara kembali melihat Abi yang masih biasa saja.. Kinara menggenggam tangannya erat dan tidak menyadari jika dirinya tengah menggenggam tangan Arumi, hingga Arumi memekik.


"Mama, sakit.." Kinara berjengit lalu menatap tangannya.


"Astaga, maafin Mama sayang.." ucapnya penuh penyesalan, Kinara merengut ini salah Abi jika saja dia tidak ikut, dia tidak akan menarik perhatian banyak orang dan mengganggu fikirannya lalu membuat Arumi kesakitan.


Kinara melihat ke arah Abi, namun tiba-tiba Abi juga menoleh ke arahnya dan berkata dengan seringai di bibirnya dan membuat Kinara merona malu..


"Apa kamu sedang cemburu.."


.


.


.


Like..


Komen..


Vote..

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


☕☕☕☕


__ADS_2