Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka

Cinta Setelah Perceraian: Hati Yang Terluka
Buah Yang Manis


__ADS_3

Kinara masih bergeming saat Anita menggenggam tangannya, apa yang baru saja dia katakan.


"Bisakah? bisakah aku mempercayakan bayi ku padamu" Anita menatap penuh permohonan.


"Aku tahu, selama ini aku bersalah dan sekarang aku akan merepotkan, tapi aku tak punya orang lain yang aku percaya.." bagaimana bisa dia percayakan anaknya pada mertuanya yang bahkan berlaku egois itu, atau Yoga yang justru tidak menginginkannya, sedangkan dia, mungkin tidak selamat.


Kinara tersenyum "Maafkan aku Anita, tapi aku tidak bisa.. aku tidak mau repot mengurus bayi orang lain.." Kinara mengerutkan bahunya "Maka dari itu kamu harus sehat kembali dan menjaganya sendiri"


"Dengar Anita tidak ada yang lebih baik bagi seorang anak, kecuali ibu kandungnya sendiri.. jadi kamu harus menjadi ibu yang baik dan yang pasti.. hiduplah, jangan berfikir untuk mati, karena bayi kamu akan sendiri nanti!"


Kinara ikut mendorong brankar Anita ke ruang operasi, mereka akan melalukan operasi sesar, Anita akan melahirkan bayi nya.


Tepat saat akan memasuki ruang operasi Yoga yang di giring dua polisi datang dan dan menghentikan brankar Anita, Yoga menatap nanar Anita "Anita.." Yoga melihat Anita begitu kurus dan raut yang sangat pucat, benar kapan terakhir kali dia melihat wajah Anita.


"Mas?"


"Apa yang terjadi?" Yoga menatap bingung, Mama Yoga datang dan mengatakan bahwa Anita sedang sekarat, lalu Yoga teringat akan ucapan Kinara entah mengapa hatinya merasa resah.. berkat pengacaranya Yoga berhasil mengajukan keluar dari penjara beberapa jam dengan sejumlah jaminan dan harus di dampingi polisi.


Yoga menatap Kinara yang hanya menghela nafasnya "Anita akan melahirkan.."


Yoga melihat Anita yang memalingkan wajahnya "Bolehkah aku menemaninya?" Yoga bertanya pada pengacaranya, sedangkan Anita tertegun mendengar ucapan Yoga.


.


.


Kinara menunggu di luar ruangan operasi dengan dua polisi beserta pengacara yang menjamin Yoga, dari ujung koridor dia melihat Abi baru saja datang, Kinara melihat Abi mengerutkan keningnya saat melihat dua orang pria berseragam polisi dan satu pria paruh baya berpakaian formal.


Kinara tersenyum dan menyambut Abi agar duduk di sebelahnya "Siapa mereka?"


"Beliau pengacara Yoga" Kinara menunjuk pria paruh baya "Dan mereka mengantar Yoga, dia berada di dalam.."


Setelah menunggu beberapa lama, Kinara mendesah lega saat mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan, saking takutnya Kinara sejak tadi menggenggam tangan Abi, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Anita atau pun bayinya.


Baru saja Kinara bernafas lega, namun beberapa detik kemudian terdengar raungan Yoga yang begitu pilu memanggil Anita, dan Kinara pun menangis di pelukan Abi.


...


Eman bulan kemudian..

__ADS_1


"Sayang Baby El perempuan bukan laki-laki, lagi pula baby El belum mengerti.." Kinara melihat Arumi mengambil sebuah mobil mainan untuk di berikan pada bayi gembul kesayangannya.


Elysa Dinata Akbar, bayi yang lahir enam bulan lalu ke dunia dengan banyaknya rasa sakit tapi juga kebahagiaan, perjuangannya sungguh luar biasa untuk bertahan.


Arumi mengerucutkan bibirnya, "Bisakah mama memberiku adik laki- laki saja, aku ingin membeli mobil- mobilan.." Kinara terkekeh.


"Sayang jenis kelamin adik bayi tidak bisa kita ketahui sebelumnya, bahkan kita tidak bisa memaksa apa yang kita inginkan, tapi Arumi bisa berdoa agar Arumi di beri adik laki- laki." Kinara menghela nafasnya mengingat dirinya belum juga di karuniai seorang anak, apakah begitu sulitnya dia untuk memliki buah hatinya sendiri.


"Baiklah.." Arumi berjalan lesu ke arah konter boneka, mereka akan pergi mengunjungi Elysa dan membawa hadiah, sudah lebih dari satu bulan mereka tidak bertemu.


Setelah menyelesaikan belanjanya Kinara segera membayar masih dengan Arumi yang mengikutinya.


"Ya Mas?" Kinara mengangkat panggilannya, saat mengantri di kasir dan mendengar ponselnya berdering.


"Sudah selesai belanja?"


"Hmm.. baru akan membayar.." Kinara berjalan ke depan saat antrian di depannya sudah mulai berkurang.


"Sayang.." terdengar nada sedikit aneh yang membuat Kinara mengerutkan keningnya.


"Ya?"


"Sepertinya aku tidak bisa menemani kalian pergi menemui bayi itu.."Abi meringis saat mendengar Kinara terdiam, akhir- akhir ini Kinara sedikit menyeramkan kadang marah lalu menangis, dan jika sudah begitu dia tak di beri jatah malam.. "Sayang maafkan aku.. karena ada rapat mendadak jadi... hallo?.. hallo?" Abi menghela nafasnya saat melihat ponselnya mati,Kinara mematikan panggilannya "Habislah aku.."


"Lihat bahkan mama tidak melihatku"


"Eh..?" Kinara tersentak saat mendengar ucapan Arumi.


"Bagaimana bisa mama bicara kesepian lalu aku harus bagaimana disini.."


Kinara meringis, bagaimana dia bisa lupa Arumi ada bersamanya "Ayo antriannya sudah berkurang.." Kinara berjalan ke depan dan menyimpan belanjaannya di atas meja kasir, untuk di hitung dan dia bayar.


...


"El..." teriakan Arumi menggema ketika mereka memasuki rumah besar bercat putih, rumah yang dulu juga di tinggali Kinara, saat masih menjadi istri Yoga.


"Hai El, kakak belikan ini.." Arumi menggoyang boneka kelinci berwarna putih yang dia pilih sendiri.


"Oh.. terimakasih kakak cantik.." Arumi tersipu tentu saja itu bukan suara El si bayi gembul, melainkan ibunya yang kini tengah menggendongnya.

__ADS_1


"Apa kabar?" Kinara memeluk Anita, dan menyapa bayi gembul di pangkuannya "Haii.. putri mama yang cantik" Kinara mengecup pipi merah El, yang menepuk- nepuk tangannya, Kinara tau Elysa pasti sangat merindukannya dan ingin segera di gendong.


"Sepertinya dia begitu merindukan kamu" Kinara terkekeh melihat Anita yang mencebik.


"Bagaimana kesehatan kamu?"


Anita tersenyum "Sudah lebih baik.." Anita menggerakan kursi rodanya, ya.. Anita menjalani pengobatannya, sebuah keajaiban saat Anita kembali menemukan semangat hidupnya dan dia berjuang keras untuk hidup, demi putrinya, Kinara menangis saat terdengar raungan Yoga menyebut nama Anita, Kinara kira Anita tidak selamat, namun Anita kembali bernafas saat baby El di simpan di atas tubunya.


Anita baru menyelesaikan kemo nya, jadi tubuhnya masih lemas "Maaf untuk kemo yang terakhir aku tidak bisa menemani.. aku merasa tidak enak badan" Anita menggeleng.


"Tidak.. seharusnya aku berterimakasih karena kamu selalu menjaga El saat aku tidak ada.."


"Bagaimana disini, apa sudah isi?" Anita menyentuh perut Kinara.


Kinara menghela nafasnya "Entahlah, setiap bulan aku bahkan membeli testpack tapi hasilnya selalu negatif, aku jadi malas membeli lagi.."


"Mungkin kamu dan Abi kurang berusaha" Anita mengerlingkan matanya, sedangkan Kinara menjadi kesal karena mengingat Abi yang tidak jadi menemaninya ke rumah Anita.


Kinara meletakkan Elysa di atas bok bayi dan langsung di ajak berbincang oleh Arumi.


"Oh, ya.. kemana dia sekarang, bukankah kamu bilang akan datang bersama..?"


Kinara mencebik benar itu yang baru dia fikirkan "Tidak tahu.. dia selalu sibuk akhir- akhir ini.." Anita menggeleng sambil tersenyum, Kinara pasti sedang bertengkar.


"Hati- hati suami yang melihat istrinya selalu marah- marah bisa mencari wanita lain" Anita mengucapkannya dengan senyum kecut, itu juga awal dari Yoga berpaling darinya dan kembali mengharap Kinara, dia yang terlalu banyak menuntut dan marah, membuat Yoga membandingkan nya dengan Kinara, dan membuat Yoga semakin muak, dan berambisi mendapatkan kembali Kinara istri yang dia kira lebih baik dari Anita, terlebih kebodohan yang dia lakukan menyakiti Kinara begitu dalam.


Kinara tertegun "Apa?" Anita menggeleng saat Kinara terlihat khawatir, tapi Anita yakin Abi tidak akan melakukan itu.


Terbukti sejak dulu masalah selalu datang pada rumah tangga mereka, tapi Abi selalu bertahan, bahkan saat Kinara yang ternoda oleh Yoga, Abi tetap mempertahankan Kinara, dan kesetiannya berbuah manis karena sebenarnya Yoga sama sekali tidak menyentuh Kinara.


....


Mau tahu bagaimana dengan Yoga?


Apakah Yoga menyesali semua perbuatannya?


Besok lagi yak..yang sabar! bentar lagi end😅


Like..

__ADS_1


Komen...


Vote..


__ADS_2