
Anita masih berfikir dimana dia pernah bertemu Abi, hingga saatnya tidur Anita masih mengingat- ingat kapan dan dimana, saat di rumah sakit? tidak Anita pernah bertemu Abi sebelum itu, hari itu juga Anita berfikir pernah bertemu Abi dan setelah pertemuannya tadi Anita mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu Abi.
Anita menggeleng mungkin bukan sesuatu yang penting, sudahlah Anita memutuskan merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menoleh ke arah kanan dimana seharusnya Yoga berada, namun hingga kini Yoga tidak menampakan wajahnya.
Anita meraba perutnya, lalu menatap langit- langit kamar, dalam hati dia terus menggumamkan kata maaf.
Fikiran Anita kembali saat dokter berkata ada masalah dengan bayinya.
"Ada masalah dengan bayi mu"
"A-pa maksud anda?" Anita mulai khawatir sejak awal melihat dokter yang menatap kasihan padanya membuatnya ketakutan.
"Pertumbuhan janin sangat lambat harusnya berat bayi sudah stabil sejak usia 7 bulan, dan sekarang satu bulan menjelang melahirkan berat bayi masih tetap seperti pemeriksaan terakhir kali"
"Aku sudah menyarankan agar jangan stres, tapi sepertinya kamu terlalu tertekan hingga berpengaruh besar pada bayimu.."
"Lalu tentang keluhanmu keluar banyak cairan, kita harus melakukan tes lab, karena dari hasil USG air ketubanmu sudah berkurang, kita harus segera menjadwalkan operasi untuk mengeluarkan bayimu, jika tidak bisa berbahaya.. bisa saja air ketuban sudah terhirup dan tertelan.."
"Dan bagian terburuknya.." Dokter menghela nafasnya, saat wajah Anita sudah pucat pasi dengan raut wajah tercenung, sedangkan dokter seolah belum selesai membombardirnya dengan kenyataan menyakitkan, sekarang apa lagi..
"Aku juga menemukan benjolan di dekat rahim, tepat di jalan lahir bayi.." Anita sudah tidak bisa berkata-kata air matanya tiba-tiba menganak sungai.
Astaga..
"Jika kamu tidak mengeluarkan bayinya sekarang dan melahirkan secara normal, di khawatirkan saat bayi keluar akan membuat benjolan pecah dan terjadi pendarahan, dan itu akan sangat berbahaya bagi nyawa kamu sendiri.."
Anita menangis tersedu- sedu hingga beberapa saat dokter pun membiarkan Anita meluapkan kesedihannya.
"Apa yang harus aku lakukan?" dengan nafas masih tersengal, dan sesegukan Anita mulai membuka suaranya.
"Lakukan operasi cesar keluarkan bayimu, lalu kamu bisa melakukan pengobatan sesegara mungkin.."
__ADS_1
...
Anita mengusap air matanya, masalahnya berkali lipat, jika dia mengeluarkan bayinya sekarang, dia akan segera kehilangan Yoga, karena segera setelah dirinya melahirkan Yoga akan menceraikannya, jika Anita bertahan demi Yoga, keadaan bayinya akan dalam bahaya, dan yang lebih mengerikan tumor di rahimnya akan semakin besar, lalu nyawanya menjadi taruhannya
Seolah bertaruh dengan nyawa Anita berkorban hanya demi Yoga, tapi sampai sekarang Yoga masih saja acuh, Yoga tidak tahu bahwa Anita di ambang kematian, terlebih kondisinya yang tidak bisa menelan obat keras karena sedang mengandung, pantas saja dia selalu merasa nyeri di bagian bawah perutnya, Anita kira itu karena dia selalu stres tapi ternyata pemicunya bukan hanya itu, ada tumor di mulut rahimnya atau bisa di sebut juga dengan kanker serviks.
Anita ingin menangis meraung kenapa dia baru tahu sekarang, dan bagaimana bisa dia tidak menyadari dirinya sedang sakit.
Tapi nasi sudah menjadi bubur disaat dirinya mengorbankan seluruh jiwa bahkan nyawa bayinya sendiri, dia tidak dianggap sama sekali oleh Yoga.
Anita egois? ya, itu benar.
Anita jahat? itu juga benar.
Bagaimana bisa dia akan membawa bayinya mati bersamanya, hanya demi pria yang dia cintai yang telah membenci bahkan mengutuknya.
"Maafkan Mama, tapi.. mama sungguh tidak rela kamu dirawat orang lain, jadi lebih baik kita mati bersama, lagi pula, apa papa kamu mau mengurus anak yang cacat seperti kamu.. dunia terlalu kejam Nak.."
Semua karena Kinara, kini dia hanya sendirian, tidak ada Yoga atau siapapun.. hanya sendiri meratapi nasibnya yang malang.
...
"Mas, kamu bercanda?"
Abi menatap Kinara dengan datar, dia acuh saja saat Kinara pagi-pagi sudah misuh- misuh karena kelakuan Abi, sejak acara reuni selesai beberapa hari lalu, hari ini ponsel Kinara terus berbunyi bahkan sejak bangun.
Dan telpon itu dari sebuah WO yang Abi sewa, belum lagi beberapa menit lalu, dia menerima panggilan dari sebuah butik untuk mencoba gaun yang di pesan Abi dua hari lalu, setelah acara reuni Abi benar-benar melakukan rencananya.
"Mas?" Kinara menghentakkan kakinya kesal, karena Abi masih bertingkah seolah tidak melakukan kesalahan.
"Apa?"
__ADS_1
"Kamu kenapa melakukan itu tanpa memberitahuku lebih dulu, mas aku belum siap menikah.."
Abi menghela nafasnya, dia tahu Kinara belum siap, tapi Abi ingin membuktikan kalau dia serius dengan niatnya "Hari ini aku tidak bekerja.."
Kinara mencebik "Bukan urusanku, yang aku tanyakan kenapa kamu melakukan itu tanpa memberitahuku lebih dulu!"
"Dan aku akan membawa kamu ke suatu tempat"
Kinara mengerutkan keningnya, dia tidak ingin pergi kemanapun, kenapa Abi terkesan menghindari pertanyaannya.
Kinara menghela nafasnya lalu memilih pergi untuk menyiapkan Arumi pergi ke sekolah, namun saat Kinara masuk ke kamar Arumi, Arumi sudah rapi tapi tidak mengenakan seragamnya.
"Sayang kamu sudah mandi?" Arumi mengangguk "Kenapa tidak pakai seragam, kita akan sekolah.."
"Kata Papa hari ini Arumi boleh libur karena kita akan pergi jalan-jalan"
"Kemana?"
Arumi menggeleng "Tidak tahu"
Menjelang siang Abi telah siap dan menuruni tangga menemui Arumi dan Kinara yang sudah menunggu "Sudah siap?"
Hanya Arumi yang mengangguk semangat, sedangkan Kinara hanya diam saja.
Abi menggandeng tangan Kinara dan Arumi lalu mempersilahkan mereka masuk ke dalam mobil, menempuh perjalanan hampir dua jam karena mobil melaju dengan kecepatan sedang, Kinara mulai mengenali kemana jalan ini menuju, Kinara mengalihkan tatapannya pada Abi, yang masih dengan tenang mengemudi, sedangkan jantung Kinara seolah berpacu lebih cepat, Kinara tidak menyangka Abi akan mengajaknya ke tempat ini, tempat dimana ibu dan ayahnya berada.. Ya, Abi membawanya ke pemakaman umum dimana ibu dan ayah Kinara di makamkan.
"Papa, kenapa berhenti di sini? papa bilang kita akan bertemu nenek dan kakek?" Arumi protes karena tempat yang mereka tuju tidak seperti yang ada di bayangannya ternyata mereka pergi ke hamparan pemakaman, dan tentu saja tidak ada bayangan Arumi sama sekali
"Karena orang tua Mama, sudah meninggal.." Kinara menelan ludahnya kasar matanya berkaca-kaca.
"Oh, sorry Mama, aku gak tahu" Arumi mendongak melihat Kinara yang berada di belakangnya, posisinya yang berada di pangkuan Kinara membuatnya harus mendongak agar bisa melihat Kinara.
__ADS_1
"Gak papa.. ayo turun, mama kenalkan Arumi ke orang tua mama" Kinara membuka pintu lalu menurunkan kakinya Kinara membawa Arumi pergi ke sudut dimana makam orang tuanya berada.
Abi mengikuti dari belakang dengan sesekali memperhatikan langkah Kinara, bukan karena dia tidak tahu dimana letak makamnya, hanya saja Abi ingin memperhatikan bahu rapuh Kinara dari belakang.