
"Aku mau.." Abi menunduk melihat Kinara yang berdiri kaku di depannya, tangannya masih abi genggam.
"Aku mau.." sekali lagi suara itu terdengar tapi bukan dari mulut Kinara, Kinara dan Abi menolehkan kepala pada gadis kecil yang mereka kira tertidur tapi rupanya dia membuka matanya sambil tersenyum.
"Aku mau tante Kinara jadi Ibuku.." Arumi tersenyum polos dengan bibir pucat "Aku janji gak bakal nakal lagi.."
Kinara mengerjapkan matanya, Abi masih menggenggam tangannya, Kinara mendorong tangan Abi agar melepaskannya lalu mendekati Arumi "Kok tidurnya sebentar.."
"Aku kebangun karena denger suara Papa.. Papa berisik.." Abi meringis.
"Sorry.." katanya dengan raut malu, siapa sangka ungkapannya pada Kinara akan di dengar oleh Arumi.
"Tante mau jadi ibu aku?" Kinara menatap wajah kecil Arumi, dia menyayanginya, tapi apakah dia bisa menjadi ibu sambung untuk Arumi, apakah dia pantas?, jika tidak apakah Kinara mampu menolak permintaan Arumi.
"Itu.."
"Mau kan.."
"Mau Ya..!"
"Ya kan.. Mama..?"
Astaga Arumi bahkan sudah menegaskan panggilannya, Kinara menoleh melihat Abi yang tersenyum menatapnya dengan alis terangkat, dua manusia beda usia itu sedang bersekongkol sekarang.
Kinara menghela nafasnya "Tante butuh waktu, Arumi mau menunggu?"
Arumi mengerucutkan bibirnya lalu melihat Abi.
Abi mengusap pucuk kepala Arumi, lalu matanya kembali menatap manik Kinara "Ambil sebanyaknya waktu kamu, aku harap jawaban kamu tidak mengecewakan kami.."
Kinara hanya mempu mengigit bibirnya meredakan jantungnya yang bertalu, melihat tatapan Abi, jelas sekali Kinara merasakan ketulusan di balik senyuman Abi.
"Bolehkah aku meminta satu hal?" Abi mengeryitkan dahi "Selama aku memikirkannya mau kah kamu membuktikan kesungguhan kamu agar aku tidak salah mengambil keputusan.."
"Tentu saja, dan sebaiknya kamu bersiap untuk menerima semua pembuktian keseriusanku.." Abi masih menatap Kinara, dan Kinara hanya mampu menelan salivanya, kenapa rasanya Kinara yang akan terjebak.
.
.
Dua hari sudah Arumi berada di rumah sakit, lebih cepat dari yang dokter perkirakan, mungkin karena suasana hati Arumi yang membaik jadilah berpengaruh pada kesehatannya yang lebih cepat pulih.
Abi juga selalu pulang lebih cepat dan menemani Arumi di rumah sakit, Kinara menemani di siang hari, lalu saat Abi datang Kinara akan pulang sebentar lalu kembali ke rumah sakit dengan bekal makan malam untuk Abi.
"Terimakasih.." Abi selalu memakan apapun yang di bawa Kinara untuknya, apalagi Kinara mengatakan itu adalah masakannya "Ini enak.." puji Abi, bukan bualan belaka, atau sekedar rayuan, karena masakan Kinara selalu enak, dan Abi tidak pernah kecewa dengan rasanya.
Kinara mencebik, alih-alih bangga mendapat pujian Abi, Kinara jadi merasa Abi hanya sedang membuat pembuktian dan mencoba menarik perhatiannya, meski tak dapat di pungkiri Kinara juga senang atas pujian Abi.
__ADS_1
"Tidak percaya?"
"Kamu hanya sedang merayu.."
"Hey.. kemari" Abi melambaikan tangannya dan meminta Kinara mendekat, Kinara memang sedang menyuapi Arumi diatas ranjang sedangkan Abi duduk di sofa memakan menu makan malam buatan Kinara.
"Ma..u apa?" Tanya Kinara ragu-ragu.
"Kemari saja!"
Kinara berjalan ragu kearah Abi dan berdiri di dekat Abi, sebelum Abi menariknya dan Kinara terduduk di sebelahnya. "Buka mulut!" Abi bicara dengan nada penuh perintah.
Kinara menelan salivanya lalu mulutnya terbuka sedikit, namun Abi langsung memasukan satu sendok masakan buatannya "Enak kan?" Kinara masih menganga dengan makanan yang berada di mulutnya. "Masakan kamu memang selalu enak, kamu memang calon istri yang sempurna" Abi kembali menyuapkan makanannya. "Kamu harus bisa membedakan mana rayuan dan kenyataan"
Kinara nyaris saja tersedak mendengar ucapan Abi, sejak kapan Abi menjadi pintar menggombal dan banyak bicara.
Apa ini adalah sosok sesungguhnya Abi?, tapi kenapa sosok ini tersembunyi di balik raut dinginnya selama ini.
Tanpa Kinara sadari Abi terus saja menyuapi Kinara hingga makanan tandas, Abi bahkan hanya menggunakan satu sendok untuk mereka berdua.
Kinara bahkan lupa jika sebelumnya sedang menyuapi Arumi, beruntung Arumi sudah makan cukup banyak.
Kinara dibuat semakin membeku saat dia merasakan tangan Abi mengusap sudut bibirnya lembut, Abi membersihkan sisa makanan yang tersisa.
"Apa.. yang bapak lakukan?" Kinara menegakkan punggungnya lalu mengusap bibirnya sendiri.
"Aku bisa sendiri.."
Abi berdecak "Dan harusnya kamu sudah tidak memanggilku Pak"
"Aku.. sedang bekerja sekarang.."
"Apa ada calon istri yang bekerja untuk calon suaminya" Kinara merasakan pipinya tak berhenti memanas sejak tadi, meski Abi mengucapkannya dengan raut datar tetap saja kata-katanya mengandung arti, tentu saja dan ini karena permintaannya untuk membuktikan bahwa Kinara tidak akan salah pilih seperti ucapannya.
" Ten.. tu saja ada, dan aku orangnya.."
"Baiklah, karena kamu calon istriku aku akan menggajimu tiga kali lipat dengan bonus uang belanja dan perawatan"
"Tidak bisa begitu, aku tidak mau!" Kinara mencebik.
"Terserah aku.. jika tidak mau terima gaji, anggap saja itu tanggung jawabku sebagai calon suamimu"
"Kenapa kamu jadi pemaksa, aku bahkan belum menerima.."
"Kalau begitu cepat terima!" Kinara terkesiap saat Abi mencondongkan tubuhnya.
"Apa yang kamu..lakukan..?" Kinara nyaris terjengkang jika Abi tidak menghela pinggangnya.
__ADS_1
"Kamu bisa jatuh kalau terus mundur.." Kinara menatap ngeri lantai di bawah, meski tidak tinggi dan jatuh pun tidak akan terlalu sakit, tapi pasti akan sangat memalukan.
Kinara menelan salivanya, lalu bagaimana dengan posisinya sekarang tubuhnya hampir merapat dengan Abi andai dia tak menahannya dengan kedua tangannya "Pak Abi.. Ada Arumi.." Kinara berkata gugup, bagaimana kalau Arumi menoleh dan melihat adegan tidak pantas ini.
"Bocah itu tidak akan peduli, lihat saja dia sedang memainkan ponselnya.." Arumi memang sedang bermain ponsel, sejak sakit dua hari lalu Arumi baru di perbolehkan lagi memegang ponsel oleh Kinara.
"Tap..tapi bagaimana kalau tiba-tiba melihat kemari.."
"Jadi kalau Arumi tidak melihat tidak apa-apa?" Abi menaikan alisnya, sudut bibirnya menyeringai, tatapan apa itu?.
"Tidak begitu..Pak" Abi menggeleng.
"Mas,! aku tidak akan melepaskan kamu kalau belum mengganti panggilanmu.."
Kinara makin memerah, ayolah Abi semakin merapatkan posisinya, Kinara bahkan takut Abi akan mendengar detak jantungnya yang berdetak kencang.
"Ma..s Abi, sekarang lepaskan aku.. bagaimana kalau Arumi melihat kita" bisik Kinara.
"Arumi tidak lihat.. Arumi tidak dengar Mama!" Arumi berkata dengan santai dia bahkan tak memalingkan wajahnya dari layar gawai yang di pegangnya.
Astaga..! Kinara ingin berteriak karena malu.. benar bukan, Arumi mendengar mereka sejak tadi, meskipun tidak ada kata-kata tidak senonoh yang di ucapkan Abi, tetap saja Kinara dalam posisi berada di pelukan Abi sekarang.
"Mas.." baiklah Kinara menyerah, raut wajahnya begitu memohon agar Abi mau melepaskannya.
"Aku memiliki ide sekarang, bagaimana aku memanggilmu Mama juga.. 'Mama' bukankah bagus?"
Kinara membelalakan matanya mendengar Abi memanggilnya 'Mama' Kinara tak tahu apalagi yang akan di perbuat Abi selanjutnya.
Belum reda keterkejutannya Kinara kembali dibuat tercengang dengan suara di belakang mereka, sontak saja Kinara menoleh ke arah Arumi.
"Papa, Mama!" Kali ini Arumi mengalihkan pandangannya dari ponsel dan bertepuk tangan kearah Abi dan Kinara yang masih bertahan di posisi yang sama.
Berpelukan.. tidak tepatnya Abi yang memeluknya, dan tiba-tiba..
Cup..
....
Like..
Komen..
Vote..
🌹🌹🌹🌹
☕☕☕☕
__ADS_1