Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
23


__ADS_3

"Sudah Kak jangan terlihat aku yang sangat egois dan bersalah disini. Jujur aku belum bisa melupakan pengkhianatan yang kalian lakukan" Batin Kania.


Kania berjalan ke dalam, melihat seluruh ruangan di sana. Ia lebih memilih mengacuhkan Alam. Bukan maksud Kania tidak peduli dengan Alam yang sedang menangisi hubungannya dengan Kania. Tapi Kania tidak ingin membuat Alam malu jika Kania tau pria itu sedang menangis.


"Mau lihat ke atas Dek?" Alam sudah berada di samping Kania dengan senyumannya yang terlihat sangat miris bagi Kania.


"Boleh" Kania melangkahkan kakinya menaiki tangga mengikuti Alam yang berada di depannya.


"Ternyata kamu memilih berpura-pura Kak?" Batin Kania dengan terus memandangi punggung yang dulu sangat disukainya itu.


"Kalau kamu nggak mau rumah ini juga nggak papa Dek, kita lihat-lihat aja ya? Selama enam bulan nanti Kakak ikut di manapun kamu tinggal kok. Yang penting kamu nyaman" Alam lagi-lagi mengusap kepala Kania dengan lembut.


"Eh udah nggak enam bulan lagi dong, kan ini udah hampir satu bulan. Berarti lima bulanan lah" Lanjut Alam mengedikkan bahunya lalu berjalan menyusuri kamar demi kamar di lantai atas rumah baru itu.


Kania berhenti pada satu ruangan. Sebuah ruangan yang tidak besar, tapi yang menarik perhatian Kania adalah desain dari ruangan itu yang terlihat sangat ceria dengan warna biru cerah dan gambar-gambar kartun yang lucu di dindingnya.


Kania memegang dadanya. Ada sesuatu yang menyerang hatinya, tapi Kania tidak tau rasa apa itu.


"Dek!!"


Alam baru sadar jika Kania tidak ada di belakangnya.


"Sedang apa di sini Dek? Ayo kita lihat yang lain saja!!"


Alam menarik Kania keluar dari ruangan itu, dan dengan buru-buru Alam menutup pintunya. Alam seolah tidak ingin Kania melihat lebih jauh ke dalam ruangan itu.


"Kenapa memangnya?" Tanya Kania heran.


"Tidak papa, itu tidak penting!!" Jawab Alam dengan wajah sendunya.


Kania mengikuti Elang yang terus menuntunnya menjauh dari ruangan yang bisa di sebut kamar anak itu. Tatapan Kania tak lepas dari wajah tampan milik Alam yang terlihat gugup dan aneh.


"Ini ruangan apa?" Tanya Kania karena Alam tidak menunjukkan padanya, karena Alam menuntun Kania melewati ruangan itu.


"Bukan apa-apa!! Kita lihat yang lain saja ya?" Alam berusaha menutupi pintu itu agat tidak dibuka oleh Kania.


"Aku mau lihat!!" Kania mencoba menyingkirkan tubuh tinggi milik Alam itu.


"Ini bukan apa-apa Dek, kita lihat ke taman di bawah aja yuk!!"

__ADS_1


Alam menarik tangan Kania untuk menjauh dari ruangan itu. Tapi dengan secepat kilat Kania menghentakkan tangannya hingga genggaman Alam terlepas.


"Aku mau lihat!!" Kekeh Kania.


"Tidak usah Dek, tidak penting. Hanya ruangan yang belum jadi!!"


Alam berdiri di depan pintu itu. Tapi justru hal itu yang semakin membuat Kania semakin penasaran dengan apa yang Alam sembunyikan di ruangan itu.


"Minggir nggak!!" Kania menatap Alam dengan tajam sehingga membuat Alam sedikit demi sedikit menyingkir dari pintu itu.


Tanpa menunggu lama lagi Kania membuka pintu itu dengan cepat.


CEKLEK..


DEG..


Hal yang pertama kali Kania lihat adalah sebuah foto dengan ukuran sangat besar terpasang di atas tempat tidur yang langsung menghadap ke pintu.


Yang membuat kania semakin tidak percaya dengan apa yang ia lihat adalah seseorang di dalan foto itu yang ternyata dirinya sendiri.


"Dek itu, Kakak anu.. sebenarnya itu" Alam terdengar gelagapan setelah melihat tatapan dengan penuh tanda tanya dari Kania.


"Iy iya, rencananya Kakak membuat kamar ini untuk kita Dek. Tapi kamu tidak usah pikirkan tentang ini ya? Ayo kita pulang saja!!" Alam meraih tangan Kania, mencoba membawanya keluar dari kamar yang sengaja di tata seindah mungkin oleh Alam.


Kania tak menghiraukan Alam, dia justru menarik tangan Alam yang menggenggamnya menyusuri kamar itu.


Tangan satunya yang terkulai bebas menyentuh satu demi satu hiasan-hiasan yang tertata rapi di atas kabinet dengan telunjuknya. Menatap dengan kagum barang-barang indah itu.


"Seingatku aku tidak pernah punya foto itu" Kania menatap foto yang tadi sempat mencuri perhatiannya pertama kali masuk ke dalam kamar itu.


Foto wajah Kania sebatas bahu sedang menengadahkan kepalnya dengan mata yang terpejam menikmati hembusan angin di sore hari. Hal itu terlihat dari rambut Kania yang tampak tertiup angin dengan cahaya matahari berwarna jingga memantul di wajah Kania.


"Itu Kakak yang ambil waktu kita jalan-jalan ke pantai dulu. Ingat kan??" Senyum Alam melihat wajah cantik Kania di foto itu.


"Iya ingat kok, waktu itu kamu hanya membelikan Kak Dania kelapa muda kan?? Sedangkan aku juga kehausan saat itu" Jawab Kania dengan senyum miris mengingat dirinya di masa itu.


"Maaf Dek" Lagi-lagi hanya kata itu yang bisa Alam ucapkan. Alam semakin sadar betapa banyaknya dia menyakiti Kania pada waktu itu.


"Tak masalah, itu hanya masa lalu. Lupakan saja!!" Kania pergi meninggalkan kamar itu.

__ADS_1


"Tunggu Dek!! Kamu mau kemana?" Alam mengikuti Kania yang terus berjalan menuruni tangga.


"Katanya mau ke rumah Mama setelah menginap di rumah Bunda?" Kania berbalik pada Alam.


"Oh iya lupa, ya udah kita jalan. Mau makan siang dulu atau makan di rumah Mama saja?" Tanya Alam sambil mengunci pintu rumahnya itu.


"Di rumah Mama aja, aku udah kangen masakan Mama"


"Ya udah ayo!!" Alam membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.


Mobil sudah melaju beberapa menit yang lalu, menyusuri jalan yang sudah sangat Alam hafal.


"Rumah sebesar dan sebagus itu pasti butuh biaya yang nggak sedikit kan??" Suara Kania yang tiba-tiba sempat membuat Alam tidak konsentrasi saat mengemudikan mobilnya.


"Kakak punya sedikit tabungan Kok Dek, lagian siapa sih yang nggak mau punya rumah masa depan. Mau berapapun biayanya asal itu rumah impian pasti akan di keluarkan"


"Emang dulu udah yakin kalau aku bakalan kembali ke sini terus nikah sama kamu, sampai-sampai bangun rumah itu segala" Kania menatap wajah Alam dari samping


"Kamu mau percaya apa enggak, tapi entah kenapa saat itu Kakak begitu yakin kamu akan kembali pada Kakak Dek!!" Ucap Alam dengan yakin.


"Dan memang benar kan kamu sudah berada di samping Kakak saat ini, walaupun hati kamu tidak" Alam terlihat sendu di akhir kalimatnya.


Kania terdiam tidak ingin mendengar tentang masa lalunya lagi untuk saat ini.


Keheningan terus terjadi hingga perjalanan mereka sebentar lagi akan sampai pada tempat tujuannya. Hanya tinggal beberapa blok lagi akan sampai di komplek perumahan milik Mama Yesi.


"Jadi kapan kita mulai tinggal di sana?"


-


-


-


-


-


Happy reading, tinggalkan dukungan kalian untuk karya ini ya? Terimakasih!! 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2