Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
64


__ADS_3

Setelah meyakinkan hatinya sendiri, Dania akhirnya mengambil keputusan untuk membawa Jonatan bertemu dengan Bundanya.


Dia juga akhirnya sadar jika rahasia itu tidak selamanya bisa di sembunyikan. Apalagi Dania seorang perempuan, yang pastinya akan menikah dengan Ayah kandungnya sebagai wali.


Dengan rasa gugupnya, Dania mendekati Bunda yang sedang duduk di teras belakang menikmati tehnya.


"Bunda" Dania duduk di samping seseorang yang merawatnya sejak bayi itu.


"Kenapa Dania?? Kamu nggak kerja?? Kok belum siap-siap??" Bunda tampak bingung melihat putrinya yang masih dengan baju rumahnya.


"Bunda, sebenarnya ada yang ingin Dania sampaikan" Dania mengusap-usap tangan Bundanya.


"Ada apa?? Apa tentang Ardan?? Kapan dia mau kesini??" Bunda langsung terlihat antusias dengan tebakannya sendiri itu.


"Bukan, Bunda. Bukan itu"


"Lalu apa??"


"Dania mau tanya Bun, seandainya Dania ketemu sama orang tua kandung Dania gimana??" Baru saja menanyakan hal itu, suara Dania sudah bergetar dengan sendirinya.


Bunda mengangkat wajah Dania yang menunduk.


"Dania, dengar Bunda. Kamu memang putri Bunda. Bunda sayang sama kamu seperti Bunda sayang sama Kania. Tapi jika suatu saat nanti kamu menemukan orang tua kandungmu, menemukan kebahagiaanmu sendiri, Bunda tidak akan menahan mu tatap di sisi Bunda"


Bunda beralih pada tangan Dania yang sedari tadi mengusap lembut tangan Bundanya.


"Hanya satu pesan Bunda. Temukanlah kebahagiaan mu yanng benar-benar membawamu pada hal yang positif, tidak membawamu ke dalam hal keburukan"


Dania memang tidak salah di besarkan dari sosok orang tua seperti Bunda dan Ayahnya.


"Bunda, sebenarnya Dania sudah bertemu dengan Ayah kandung Dania" Dania langsung memeluk Bundanya tidak sanggup melihat ekspresi terkejut dari Bunda.


"Ayah kamu?? Kapan Nak?? Kenapa nggak kasih tau Bunda sebelumnya??" Bunda Mengusap punggung Dania yang sedang terisak itu.


"Maaf Bunda, Dania tidak sanggup memberitahu Bunda. Dania tidak mau melihat Bunda kecewa. Lagi pula Dania juga tidak ingin berpisah dari Bunda, Dania ingin selalu di sini sama Bunda"


"Kenapa bisa berpikir seperti itu sayang?? Bunda justru senang kamu bisa bertemu dengan Ayah kandung mu. Kalau kamu menikah juga pasti membutuhkannya"

__ADS_1


"Bunda juga tidak akan melarang mu untuk tinggal di sini setelah kamu bertemu orang tua kandungmu. Rumah ini akan selalu terbuka untuk mu. Kamu tidak usah khawatir tentang itu. Walaupun kamu tidak bertemu dengan orang tua kandungmu, kelak juga kamu pasti akan meninggalkan Bunda. Karena kamu akan menikah, hidup dengan rumah tangga kamu sendiri. Jadi jangan pernah berpikir terlalu jauh sayang"


"Hiks.. hiks.. Dania sayang Bunda" Dania semakin.


"Bunda juga sayang anak-anak Bunda lebih dari apapun" Bunda tersenyum di tengah rasa harunya.


Bunda sudah siap jika sewaktu-waktu hal ini akan terjadi. Karena tugasnya hanya merawat anak yang di titipkan oleh Allah, sementara nasibnya tetap Allah yang menentukan.


"Kalau gitu kapan kamu akan bawa Ardan kesini?? Kelihatannya dia pria yang baik Nak" Ucap Bunda mengusap air matanya.


"Bunda tenang saja, pasti Dania akan bawa Ardan kesini kok. Tapi sebelumnya, Dania akan memperkenalkan seseorang dulu sama Bunda"


"Siapa Dania??" Tanya Bunda merasa penasaran.


"Sebentar Bun, seharusnya sebentar lagi sampai" Dania melirik jam di ponselnya.


Hari ini Dania memang sengaja tidak masuk kerja. Karena hari ini lah Dania membawa Jonatan bertemu dengan Bunda. Agar semuanya cepat selesai dan tidak menjadi beban tersendiri di hati Dania.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.


"Bunda tunggu di sini sebentar ya" Dania bergegas keluar rumah untuk menyambut tamunya.


"Dania, apa kabar kamu sayang??" Jonatan begitu bahagia melihat putrinya itu. Apalagi saat kemarin Dania menghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumah. Dania benar-benar menepati janjinya untuk memperkenalkan Jonatan dengan Ibu angkatnya.


"Baik, Papa apa kabar??" Dania meraih tangan Jonatan lalu menciumnya dengan sopan.


"Papa baik sekali" Senyum cerah terlihat dari wajah tua itu.


"Kita masuk ya, Bunda sudah menunggu" Jonatan mengekori Dania yang berjalan di depannya.


"Bunda!!" Panggil Dania yang ternyata sudah duduk di ruang tamu. Menunggu tamu yang di bawa Dania.


"Sudah datang tamunya??" Tanya Bunda.


"Sudah Bunda" Dania melihat ke belakangnya, mempersilahkan Jonatan untuk berdiri sejajar dengannya.


"Ini Pak Jonatan Bun, Ayah kandung Dania. Sekaligus pemilik perusahaan tempat Kania dan Alam bekerja" Ucap Dania tak ada rasa ragu lagi dalam dirinya.

__ADS_1


Bunda berdiri tampak terkejut dengan tamunya itu. Apalagi Dania memperkenalkannya sebagai Ayah kandungnya. Bunda tidak menyangka jika secepat ini Diana akan membawa Ayah kandungnya itu. Apalagi ternyata Dania adalah anak orang yang kaya raya.


"Selamat pagi Bu, saya Jonatan. Saya Ayah kandung Dania" Ucap Jonatan mengulurkan tangannya.


"Saya Bundanya Dania" Bunda memang sengaja tidak menyebutkan Ibu angkat. Karena baginya Dania juga bukan anak angkat tapi seperti anak kandungnya sendiri.


"Mari silahkan duduk" Bunda mempersilahkan Jonatan untuk duduk di depannya. Berbagai pertanyaan sudah di siapkan untuk pria pemilik perusahaan besar itu.


"Maafkan saya karena bertamu pagi-pagi seperti ini Bu. Dan maafkan kemunculan saya yang tiba-tiba ini pasti sangat mengganggu kenyamanan keluarga Dania di sini" Ucap Jonatan dengan sopan.


"Pak Jonatan jangan sungkan, karena Dania anak saya maka Bapak juga keluarga saya" Ucap Bunda dengan ramah.


Pak Jonatan tampak tersenyum mendapat sambutan yang terbuka lebar itu. Semua pikiran buruknya tadi kini telah hilang.


"Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena sudah merawat Dania hingga seperti ini. Berkat bimbingan Ibu dan suami, Dania menjadi wanita yang mandiri dan berpendidikan" Ucap Jonatan dengan kesungguhan hatinya.


"Itu sudah kewajiban saya sebagai orang tua Pak"


"Dan kalau anda tidak keberatan, saya ingin tau bagaimana Dania di temukan dulu" Dania juga ikut menatap Bunda. Dia ingin tau dimana dia ditemukan. Karena selama ini Bunda tidak pernah menceritakan padanya.


Bunda tampak sedikit ragu, karena Bunda menemuka mata Dania yang sudah sangat penasaran dengan ceritanya.


"Jadi dulu saat suami saya sedang dinas malam, suami saya mendengar suara tangisan bayi di dekat pohon. Di dalam sebuah kardus seorang bayi cantik di temukan suami saya hanya berbalut kain dan bertopi bulu tanpa selimut"


"Jaman dulu belum ada kamera cctv, belum ada media sosial seperti saat ini. Jadi kami tidak mudah untuk mencari siapa pelaku yang tega meninggalkan bayi mungil itu di sana. Setelah lebih dari satu bulan tidak ada kabar dari pelaku dan juga berita kehilangan bayi, jadi kami memutuskan untuk mengadopsi Dania. Kebetulan waktu itu kami juga belum mempunyai Kania"


Dania tampak terisak dengan wajah tertunduk. Karena ternyata sepahit itu nasibnya waktu masih bayi.


"Dulu kami kehilangan Dania saat kami pergi ke pantai. Disaat ada seseorang yang mengalihkan perhatian kamu berdua. Saat itu juga seseorang mengambil Kania dari kami. Kami dulu sudah mencari putri kecil kami kemana-mana tapi tak juga di temukan" Jelas Jonatan.


"Tapi kenapa anda bisa yakin jika Dania adalah anak kandung anda??" Kini giliran Bunda yang mengajukan pertanyaan.


Jonatan menunjukkan selembar foto kepada Bunda. Di dalam foto itu, ada seorang wanita cantik berambut panjang sedang tersenyum menatap kamera.


"Itu adalah foto almarhum istri saya. Bukankah sangat mirip dengan Dania saat ini?? Dan juga kalung yang di pakai Dania sama dengan kalung milik istri saya ini. Dan sekali lagi saya minta maaf karena telah diam-diam melakukan tes DNA pada Dania. Itu yang semakin menyakinkan saya jika Dania memang putri saya yang pernah hilang dulu" Jonatan menunjukkan sebuah kalung yang dia ambil dari kantongnya.


Bunda masih menatap foto yang ada di tangannya itu. Wajah Dania dengan wanita itu bak pinang di belah dua. Benar-benar mirip.

__ADS_1


"Saya tidak bisa membantah lagi kalau begitu, tapi saya memang dari dulu tidak akan menghalangi jika Dania ingin mencari orang tua kandungnya. Apalagi Dania akan segera menikah, jadi dia pasti butuh Ayahnya untuk menjadi wali nikahnya" Ucapan Bunda justru membuat Dania terkejut. Karena dia belum memberi tahu apa-apa tentang rencana pernikahannya itu pada Jonatan.


"Apa?? Dania ingin menikah??" Jonatan menatap Dania penuh tanya.


__ADS_2