Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
35


__ADS_3

"Maaf cari sia___. Kak Dania??"


Kania terkejut karena Kakaknyalah yang bertamu sepagi ini di rumahnya. Terlebih lagi Dania sudah tau alamat rumahnya meski Kania belum memberitahu siapa-siapa.


Ada rasa sedikit kecewa di hatinya. Kania mengira jika Alam yang memberi tahu Alamatnya.


"Pagi Dek" Sapa Dania dengan senyum manisnya.


"Pagi Kak" Jawab Dania dengan kaku.


"Oh ya ayo masuk dulu" Kania tidak mungkin membiarkan Kakaknya berdiri di luar pagar seterusnya.


Dania mengikuti langkah Kania ke dalam rumah. Terlihat jelas di mata Dania jika dia memang mengagumi rumah pengantin baru itu.


"Silahkan masuk Kak, maaf ya masih berantakan" Basa basi Kania saja karena nyatanya rumah itu audah rapi dan bersih meski pagi ini Kania belum menyapunya.


"Iya makasih Dek" Dania mendudukkan dirinya tanpa disuruh oleh Kania.


"Dek, maaf ya Kakak datang pagi-pagi sekali. Soalnya Bunda udah masakin makanan kesukaan kamu. Jadi sekalian Kakak yang antar"


Terjawab sudah pertanyaan Kania yang belum sempat keluar dari bibirnya itu.


"Loh kok Bunda repot-repot masakin segala sih Kak. Kakak juga mau aja di suruh Bunda, rumah ini kan jauh dari tempat kerja Kakak" Kania memang benar merasa kasihan pada Kakaknya itu.


"Nggak papa kok Dek, makanya Kakak datangnya pagi-pagi biar masih ada waktu"


"Ya udah Kakak mau minum apa biar aku buatin??"


"Nggak usah Dek, Kakak langsung aja" Tolak Dania.


"Ada siapa sayang??" Suara Alam masih di ujung tangga. Nampaknya dia belum tau jika tamunya adalah Dania.


Deg...


Tatapan mereka bertemu, namun Alam tampak biasa saja sedangkan Dania masih merasa gugup jika berhadapan langsung dengan mantan kekasihnya itu. Dan semua itu tak luput dari pandangan Kania.


Dia nampak bisa menangkap reaksi suaminya yang acuh tak acuh tapi berbeda dengan Kakaknya.


Dari situ saja Kania sudah nisa menangkap jika perasaan Dania pada Alam masih sama.


"Hay Dan??" Sapa Alam dengan senyum tipisnya. Saking tipisnya bahkan hanya sejajar dengan bentuk bibirnya, tidak menimbulkan lengkungan sama sekali.


"Hay Lam" Balas Dania canggung.


"Sayang?? Bahkan dulu Alam tidak pernah memanggilku seperti itu" Sedih Dania dalam hatinya.


"Kakak jangan pergi dulu ya, nanti kita berangkat bareng aja. Biar kita natar Kakak ke tempat kerja dulu!!"


"Nggak usah Dek, biar Kakak naik taksi aja" Jelas saja Dania menolak, ia tidak mau berada di antara pasangan itu.


"Tidak ada penolakan. Sekarang aku mandi dulu. Kalian ngobrol aja sambil nunggu aku selesai siap-siap"


Kania sudah pergi menaiki tangga sebelum mendengar kalimat apapun dari mereka berdua. Sebenarnya ada rasa tak rela membiarkan mereka hanya berduaan meski hanya sebentar saja.

__ADS_1


"Mau minum apa Dania, biar aku buatkan?" Alam ingin mengurangi suasana canggung dengan memilih pergi ke dapur.


"Nggak usah Lam, tadi aku sudah minum kok" Tolak Dania halus.


"Ya sudah, aku mau buat minum dulu buat Kania" Sedetik kemudian Alam sudah melesat ke dapur. Sedangkan Dania masih berkutat dengan pikirannya sendiri di ruang tamu itu.


"Aku tau kamu pasti menghindari ku Lam" Sedih Dania dalam hatinya.


Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya Kania muncul lagi dengan keadaan yang sudah rapi dengan baju kantorannya.


Kania melihat Dania yang hanya duduk sendirian di ruang tamu. Teryata Alam tak kembali menemui Dania setelah selesai membuat teh untuk dirinya dan Kania.


"Loh, Kak Alamnya mana Kak?" Tanya Kania yang celingukan mencari Alam.


"Tadi katanya mau buat minum buat kalian" Jawab Dania.


Dania tau sebenarnya jika membuat minum tak mungkin selama itu, tapi yang pasti Alam tidak mau menemani Dania di sana.


"Kalau gitu ini aku bawa masuk ya Kak?? Kakak sudah sarapan belum??" Tanya Kania meraih tas berisi makanan kiriman Bunda itu.


"Kakak sudah kok Dek, kalian saja yang sarapan berdua. Kakak tunggu disini"


"Kalau gitu tunggu bentar ya Kak!!" Dania menjawab adiknya itu dengan anggukan saja.


Kania membawa tas itu ke dapur, dan di sana ia melihat suaminya malah duduk di meja makan sedang asik dengan ponselnya.


"Aku tau kamu sengaja nggak mau nemenin Kak Dania di depan kan??" Ucap Kania yang sudah tiba di samping Alam.


"Iya, Kakak nggak mau buat dosa. Berduaan buka mahrom itu dosa. Kakak juga nggak mau bikin seseorang cemburu" Jawab Alam mendongak menatap Kania.


"Kakak nggak bilang itu kamu kok!!" Pipi Kania memerah seketika karena merasa malu dengan kenarsisannya itu.


"Kamu kasih tau Kak Dania alamat rumah ini??" Kania mengalihkan pembicaraannya.


"Enggak, tapi Kakak kasih tau Bunda. Mungkin saja Bunda ayang kasih tau" Jawab Alam sambil meniup-niup tah panasnya.


Kania merasa bersalah karena tadi sempat berfikir jika suaminya itu memberi tahu mantan pacarnya dimana rumah baru mereka.


"Ohooohh.. Tapi kamu mau kan nanti antar Kak Dania dulu??" Kania masih fokus membuka satu persatu kiriman lauk itu.


"Asal sama Kamu Kakak nggak keberatan" Jawab Alam sebelum menyeruput tehnya.


"Ya udah oke, tapi kita sarapannya di kantor aja ya. ini udah mepet banget waktunya. Aku siapin ya??" Tanya Kania.


"Iya, terserah kamu aja" Jawan Alam pasrah. Karena memang rumahnya dengan hotel tempat Dania kerja lumayan jauh, belum lagi jika jalanan sudah macet. Pasti akan memakan banyak waktu.


-


-


-


Akhirnya mereka bertiga sudah berada di dalam mobil, dan sebentar lagi akan memasuki kawasan hotel Dania yang sangat besar itu.

__ADS_1


Selama perjalanan hanya di isi suara Kania dan Dania yang saling membicarakan keadaan Bunda saat ini. Dan tak sepatah katapun keluar dari Alam.


"Makasih ya Dek, Lam karena udah mau antar sampai sini" Ucap Dania sebelum keluar dari mobil milik Alam.


"Sama-sama Kak, makasih juga ya udah ngerepotin nganter makanan segala. Sampaikan salam ku sama Bunda, aku belum bisa ke sana lagi" Ucap Kania dari kursi depan.


"Iya Dek nanti Kakak sampaikan. Sekali lagi terimakasih" Dania bergegas keluar.


Berlahan mobil itu mulai melaju kembali, membawa Kania dan Alam ke kantornya. Perjalanan yang akan mereka tempuh hanya sekitar 20 menit jika tidak macet. Tapi kota jakarta mana ada kata tidak macet.


"Duh macet lagi, mana belum sarapan. Kerjaan juga udah nungguin lagi" Gumam Kania kesal.


"Kamu sudah lapar Dek?" Tanya Alam.


"Belum terlalu sih sebenarnya, tapi kalau sampai kantor udah mepet nanti pasti nggak sempat"


Ucap Kania kesal. Namun dia kembali tersenyum, ia meraih kotak makan yang ia taruh di kursi belakang.


"Kamu mau apa Dek??" Tanya Alam yeng keheranan.


"Mau makan lah, lagian macet juga. Daripada nanti buru-buru mendingan sekarang sambil makan aja" Ucap Kania senang karena sudah membayangkan betapa enaknya makanan Bunda


Kania mulai memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Reaksinya yang sesekali memejamkan mata menandakan makanan itu begitu memanjakan lidah membuat Alam ikut merasa lapar.


Tapi tak ada yang bisa ia lakukan karena saat ini sedang mengemudi.


"Kamu mau??"


Tiba-tiba saja, tak ada angin tak ada hujan Kania sudah menyodorkan sendok berisi makanan di depan mulut Alam.


Tentu saja Alam tidak menolak. Sungguh karma baik apa yang di terimanya hari ini. Mulai dari nikmatnya bibir Kania hingga istrinya itu menyuapinya.


"Aaaa" Ucap Kania agar membuka mulutnya.


Satu suapan berhasil mendarat dengan mukus di mulut Alam.


"Enak Dek, apalagi di suapi istri jadi tambah enak. makasih ya" Ucap Alam dengan makanan yang baru saja di telannya.


"Aduh maaf ya sendoknya bekas aku" Kania baru sadar kalau ia menyuapi Alam dengan sendok yang sama dengannya.


"Nggak papa Dek, air liur kamu aja Kakak mau kok"


Blussss...


Kania merasakan pipinya memanas, ia teringat kejadian tadi pagi saat bibirnya di jajah oleh Alam.


-


-


-


-

__ADS_1


Silahkan beri like dan komentar yang banyak ya😊


__ADS_2