Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
37


__ADS_3

"Seandainya Kakak nekat memberi tahu semua orang tentang pernikahan kita gimana??" Tanya Alam dengan serius untuk kali ini.


Kania menolehkan kepalanya ke samping untuk menatap suaminya itu.


"Ya kita pisah saat itu juga" Ucap Kania spontan tanpa berpikir dulu dengan otaknya.


"Apa??" Sahut Alam tak percaya.


"Jadi kamu rela kita berpisah hanya karena pernikahan kita diketahui banyak orang dek??"


Kania memejamkan matanya, mengutuk mulutnya karena tidak bisa mengontrol ucapannya sendiri.


"Kakak benar-benar nggak nyangka sama kamu Dek, teryata pernikahan kita ini sama sekali nggak ada harganya di mata kamu" Ucap Alam dengan kecewa.


Kata perlawanan atau apapun juga tidak bisa keluar dari bibir Kania. Dia takut jika ucapan yang keluar dari bibirnya semakin memperkeruh suasana.


Keheningan terjadi di antara mereka sampai mobil Alam sampai di depan pintu gerbang rumahnya.


Kania sudah beberapa kali menolah pada suaminya itu. Aura yang tidak enak sudah terlihat jelas di wajah tampan milik Alam.


Pria yang sudah merubah sikapnya itu biasanya akan banyak bicara atau menggodanya kini sudah kembali ke setelan awalnya. Terlihat dingin dan Kaku.


"Apa dia marah??" Batin Kania mulai cemas.


Kania turun dari mobil setelah Alam membuka pintu gerbangnya. Kania membiarkan Alam memarkirkan mobil, sedangkan dia memilih masuk terlebih dahulu.


Kania hanya meletakkan tasnya di sofa, lalu berjalan ke dapur.


"Aku buatin teh tawar Kak"


Kania menyodorkan satu cangkir teh ke depan Alam saat pria itu baru menginjakkan kakinya di ruang tengah.


Alam menerimanya dengan diam tanpa pujian dan ucapan terimakasih yang baisa ia ucapkan. Pria itu memilih duduk di sofa menikmati teh hangatnya, tanpa repot-repot harus bersuara.


"Aku naik duluan ke atas ya, mau mandi. Abis itu aku buatin makan malamnya" Ucap Kania dengan lembut.


Entah kenapa dia merasa takut dengan sikap diamnya Alam itu.


"Iya" Hanya itu jawaban Alam.


Kania berjalan meninggalkan Alam di ruang tengah. Langkahnya pelan sambil sesekali menoleh ke belakang. Berharap suaminya itu menyusulnya.


***


Kania menuruni tangga dengan matanya yang langsung menuju tempat di mana ia terakhir melihat suaminya itu.


Suaminya itu masih di posisi yang sama sejak Ia meninggalkannya. Tapi kali ini kepala pria itu sudah tumbang bersandar pada sandaran sofa.


"Kak??"


Kania melihat mata pria itu terpejam.


"Hemm" Gumam Alam tak membuka matanya.


"Mandi dulu aja sambil tunggu makan malamnya" Ucap Kania dengan lembut.

__ADS_1


Saat ini Kania seperti melihat Alam tiga tahun yang lalu. Dingin dan abai pada Kania.


"Iya" Lagi-lagi hanya jawaban singkat itu yang keluar dari mulut Alam.


Kania ingin sekali berteriak didepan Alam saat ini juga karena pria itu terus saja bersikap aneh sejak tadi.


Dengan rasa kesal di dalam dadanya, Kania meninggalkan Alam yang masih belum bergerak. Mau marah tapi tidak bisa, mau bertanya apa penyebab pria itu menjadi dingin juga Kania teramat sungkan.


-


-


-


"Kak??" Panggil Kania dengan ragu.


Mereka berdua sudah berbaring ditempat tidur dengan pembatas guling di atara mereka berdua.


Setelah makan malam yang mereka lewati hanya dalam keheningan kini Alam melanjutkan aksi diamnya sampai di tempat tidur.


"iyaa??" Jawab Alam membuka matanya kembali.


Kania memiringkan badannya menghadap Alam.


"Apa Kakak marah karena ucapan Kania tadi??"


"Tidak" Jawab Alam singkat.


Benar, kini Kania semakin yakin jika Alam memang mendiamkannya karena itu.


"Kalau tidak kenapa Kakak diam saja dari tadi??" Tanya Kania lagi.


"Aku hanya lelah" Jawab Alam ogah-ogahan tanpa melihat Kania yang serius menatap ke arahnya.


"Tapi.."


"Sudahlah!! Sebaiknya kamu tidur, aku lelah!!" Bentak Alam dengan suaranya yang sedikit meninggi. Untuk ke dua kalinya Alam membentak Kania seperti itu.


Kania sangat terkejut dengan reaksi Alam ini. Dadanya terasa perih mendengar bentakan itu. Jantung Kania berdetak cepat, dan ini membuat Kania kembali mengingat Alam yang dulu.


FLASHBACK ON


Kania menapaki halaman perusahaan yang cukup besar itu dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Tangannya membawa tas yang berisi kotak makan siang untuk Alam.


Gadis yang berada di semester akhir perkuliahannya itu duduk di bangku taman tempat biasa ia menunggu kekasihnya itu.


Gadis dengan kegigihan yang luar biasa itu tetap menunggu Alam dengan sabar, meski tak jarang pria yang di tunggunya itu tidak menampakkan diri dengan berbagai alasan.


Kali ini pun sama, Kania tetap menunggu dengan sebuah harapan jika Alam akan segera turun menghampirinya, kemudian memakan makan siang yang telah di bawanya itu bersama-sama.


Senyum Kania semakin melebar kala melihat sosok yang sudah amat di kenalnya berjalan mendekatinya.


"Akhirnya kamu turun juga Kak, aku takut waktu istirahat kamu keburu habis" Sambut Kania dengan suaranya yang lembut seperti tatapan matanya.

__ADS_1


"Hari ini aku masak udang kesukaan kamu loh. Kita makan bareng di sini ya" Kania mulai membuka tasnya. Menyiapkan sagu kotak untuk Alam.


"Aku akan makan di salam saja. Lebih baik kamu pulang saja. Pekerjaanku masih sangat banyak. Aku tidak ada waktu lagi" Jawab Alam dengan sekali tarikan napas.


"Tapi Kak, kita sudah satu minggu lebih tidak bertemu. Aku kangen banget sama kamu, kita makan sebentar saja ya??" Tatapan kecewa terlihat jelas di mata Kania.


Alam berdecak malas, ini yang Alam tidak suka dari Kania. Dia terlalu manja, hingga makan pun minta berdua. Tidak mandiri seperti Kakaknya.


"Cuma sebentar saja kok Kak. Aku janji tid__"


"KANIA!!"


Bentakan Alam itu membuat Kania sedikit terperanjat. Dia diam seketika, tangannya yang memegang kotak makan sedikit bergetar karena rasa takutnya.


"Aku mohon jangan bersikap kekanakan seperti ini. Tolong mengertilah, pekerjaanku sudah sangat membuatku pusing jadi jangan menambahnya lagi!! Kalau hanya mau makan berdua bisa kan cari waktu lain!!" Ucap Alam dengan terus menatap Kania dengan tajam.


Kania tak berani menatap mata itu. Dia hanya menunduk sambil menyembunyikan pelupuk matanya yang sudah di penuhi dengan air.


Justru Kania menyempatkan diri bertemu di waktu istirahat karena Alam selalu sibuk dengan pekerjaannya. Alam begitu susah di temui bahkan di hari minggu sekalipun.


"Maaf Kak, aku tidak bermaksud mengganggu pekerjaanmu"


"Sebaiknya kamu pulang, aku tidak ada waktu hanya untuk menemanimu makan siang" Alam pergi begitu saja meninggalkan Kania yang menelan kekecewaan. Alam pergi tanpa membawa makanan yang sudah di buatkan khusus untuknya.


Niat hatinya ingin melepas rindu dengan menyantap makan siang bersama setelah beberapa hari tak bertemu. Kini harapan itu musnah sudah.


Kania hanya bisa menatap punggung yang mulai menjauh itu dengan nanar. Kini air mata itu sudah tak malu lagi dengan Alam. Dia sudah keluar dengan bebas setelah kepergian pria itu.


FLASHBACK OFF


"Maaf kalau Kania tadi sempat menyingung perasaan Kakak. Sungguh aku tidak berniat seperti itu, entah apa yang membuatku tiba-tiba berucap seperti itu. Tapi itu tidak dari dalam hatiku" Ucap Kania dengan suara yang bergetar.


Kania berbalik memunggungi Alam dengan cepat. Ternyata benar, usahanya selama tiga tahun ini hanyalah sia-sia belaka. Karena hanya mendapat perlakuan seperti itu saja Kania sudah runtuh.


Kania membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya.


Alam yang mendengar kalimat itu keluar dari Kania menjadi kalang kabut. Hatinya menjadi terasa sakit.


Alam memang kecewa dengan ucapan Kania tadi sore yang dengan mudahnya mengucapkan kata pisah.


Tapi dia juga salah karena tidak bisa membendung rasa marahnya. Hingga keluar sebuah bentakan yang pastinya akan melukai istrinya.


Alam melihat Kania yang sudah memunggunginya. Dapat Alam lihat dengan jelas jika punggung itu bergetar. Seketika Alam mengutuk dirinya sendiri karena telah membuat Kania menangis.


Belum juga dia meraih hati itu kembali tapi kini dia sudah menyakitinya lagi.


-


-


-


-


Happy reading😊

__ADS_1


__ADS_2