Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
42


__ADS_3

Apa cinta ku sama sekali belum menyentuh hatimu lagi Dek??"


Air mata itu semakin menggenang di pelupuk mata Alam.


Dia dulu memang menyakiti hati seorang perempuan yang sangat mencintainya. Menyia-nyiakan cinta itu hingga perempuan itu pergi jauh darinya. Tapi apa kesalahannya itu sungguh tidak bisa di maafkan.


Tes...


Tepat saat air mata itu menetes Kania sudah menyatukan bibir mereka terlebih dahulu.


Otak Kania masih bisa berpikir jika yang dilakukannya itu sungguh di luar nalar. Tapi perasaannya yang mendorongnya melakukan itu.


Alam sangat terkejut dengan Kania yang menciumnya terlebih dahulu. Bahkan mata milik Alam sudah melebar sempurna di buatnya.


Bibir mereka masih saling menempel. Hanya sebatas menempel tanpa ada gerakan dari bibir Kania yang terlebih dahulu memulai aksi itu.


Kemudian Alam mengikuti nalurinya, dia memejamkan matanya menyusul Kania yang sidah terlebih dahulu menutup matanya.


Tangan Alam bergerak ke atas meraih tengkuk Kania. Mulai menggerakkan bibirnya untuk memperdalam c*uman mereka.


Alam terus memagut hingga dia merasakan Kania mulai mengimbangi pergerakan bibirnya. Alam sedikit mengulum senyumannya di tengah c*umannya.


Kania merasa kewalahan menghadapi suaminya yang terus saja bermain dengan bibirnya. Bibir yang sudah ke tiga kalinya di cicipi Alam itu terus di permainkan. Dil*mat seperti ingin menghabiskannya saat itu juga.


Kania memukul dada Alam dengan pelan untuk melepaskan c*umannya. Dia sudah kehabisan nafas karena Alam begitu beringas memangsanya.


Alam tau apa yang Kania maksud itu, dengan berat hati Alam melepaskan bibir Kania. Dia tidak mau membuat istrinya itu jatuh pingsan hanya karena tidak bisa bernafas.


Alam memberikan jarak tanpa menjauhkan wajahnya. Kemudian mencecap bibir itu lagi dengan singkat sebelum akhirnya benar-benar menarik mundur wajahnya.


Bisa di lihatnya dengan jelas dada Kania yang masih turun naik karena ulahnya. Wajah putih mulus itu kini terlihat memerah, namun itu membuat Alam ingin kembali menerkam istrinya lagi.


Mereka berdua masih saling berpandangan dengan jarak yang cukup dekat.


"Apa yang harus Kakak artikan dari semua ini Dek??" Tanya Alam dengan suara seraknya.


"Memangnya apa yang bisa Kakak tangkap??" Kania balik bertanya.


"Jangan membuat Kakak salah paham jika kamu sudah menerima Kakak kembali" Tebak Alam dengan penuh keraguan di dalam hatinya.


"Entahlah, aku juga belum seyakin itu. Tapi apa Kakak mau membantuku??"


Alam mengerutkan keningnya.


"Membantu untuk membuat hatiku semakin yakin??"


Senyum di bibir Alam mengembang dengan sempurna. Dia menubruk tubuh langsing Kania hingga mereka berdua berguling di ranjang.


"Terimakasih sayang. Itu pasti, Kakak pasti akan membantumu dengan sepenuh hati ini" Alam justru terharu sampai meneteskan air matanya di bahu Kania yang masih berada dibawahnya.


"Kok nangis sih??" Ucap Kania dengan posisi tidak layak di tiru anak di bawah umur. Karena Alam masih menindih tubuh Kania di atas ranjang.


"Kakak terlalu bahagia" Ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.


"Hi hi.. "

__ADS_1


Kania justru tertawa geli dengan tingkah suaminya itu.


"Udah ah, kenapa jadi cengeng gini. Biasanya juga garang kaya singa" Kania mengusap punggung Alam dengan lembut.


"Itu kan kalau di depan orang lain. Kalau di depan kamu, aku hanya anak kucing yang manja" Alam mengusap-usapkan hidungnya di pundak Kania seperti kucing yang benar-benar manja.


"Apaan sih, udah ah berat tauk!!" Alam akhirnya menggulingkan badannya ke samping. Membebaskan Kania dari kungkungan badannya yang atletis itu.


"Jadi besok mau mau kan datang ke pesta sama Kakak??" Tatap Alam dengan penuh harap.


"Iyaa" Jawab Kania dengan lembut.


"Tapi ada satu hal yang aku minta Kak" Tambah Kania.


"Apa itu sayang??"


"Aku minta maaf karena belum bisa memberikan hak mu sebagai seorang suami. Jika aku sudah benar- benar yakin dengan keputusanku, aku pasti akan menyerahkan semuanya padamu. Tapi untuk saat ini aku masih belum siap" Jelas Kania dengan rasa bersalahnya.


Alam tersenyum dengan lembut, dia tau ada kecemasan di dalam hatinya.


"Tidak papa Dek. Pelan-pelan saja, Kakak akan terus membuat hatimu yakin. Sampai kamu sendiri tak mampu menolaknya. Jujur Kakak juga sangat menginginkan hal itu, terlebih Kakak ini pria normal. Tapi Kakak masih bisa menahannya, Kakak hanya ingin membuat kamu nyaman dan tidak tertekan akan hal itu" Alam mengusap lembut pipi Kania.


"Terimakasih Kak"


"Tidak!! Aku yang harus berterimakasih, karena kamu mau menerima Kakak lagi"


Kini Kania yang terharu mendengar ucapan Alam itu. Dengan spontan dia memeluk Alam dari samping. Kini posisi mereka saling berpelukan di atas ranjang.


Mereka berdua menutup matanya, pergi ke Alam mimpi tanpa membetulkan posisi mereka yang tidur secara asal. Mereka terlalu enggan untuk sekedar melepas pelukan hangat itu.


****


Alam memperhatikan istrinya yang mulai mendekat. Dress putih panjangnya yang memiliki belahan sampai batas lutut membuat mata Alam sukses tal berkedip.


Rambut panjang milik Kania di biarkan tergerai ke samping memperlihatkan bahunya yang sedikit terekspos.


Ada sedikit rasa tak rela dalam diri Alam karena Kania memperlihatkan aset miliknya.


"Apa nggak ada baju yang lain Dek??" Bukan memuji kecantikan istrinya Alam justru mengkritik penampilan Kania.


"Loh memangnya kenapa?? Ini kan udah sesuai dresscode. Bajunya juga masih sopan kok, ngga terlalu terbuka, ini juga masih berlengan" Tunjuk Kania pada bahunya.


"Kakak nggak suka milik Kakak di lihat orang lain" Gerutu Alam.


"Mulai deh posesifnya. Bukanya di puji cantik gitu kek, malah diomelin" Kini gantian Kania yang menggerutu.


"Iya, iya maaf. Kamu cantik kok, cantik banget" Alam menatap Kania dengan penuh cinta.


Alam meraih tangan Kania menuntunnya dengan lembur menuju mobilnya. Mereka harus segera tiba di hotel tempat pesta itu di selenggarakan.


***


Sejak kedatangan Kania yang berdampingan dengan Alam. Sedikit-sedikit Kania bisa mendengar bisikan di telinganya. Mereka semua heran dengan Kania yang bisa datang bersama Alam. Padahal selama ini Kania hanya dekat dengan Farel.


Kania menajamkan pengelihatannya saat dia melihat bayangan orang yang sangat dia kenali. Dengan sengaja Kania mengapit lengan Alam yang sedari tadi di biarkan menganggur.

__ADS_1


"Kenapa sayang??" Bisik Alam karena tiba-tiba Kania mau menggandengnya di tempat umum.


"Nggak papa" Jawab Kania masih terus menatap sesuatu.


Alam yang merasa curiga mengikuti arah pandang Kania. Kemudian Alam mengulas senyum di bibirnya.


"Kalau mau bikin orang cemburu, Kaka bantuin" Bisik Alam membuat Kania menoleh. Tapi belum sempat Kania protes Alam suah melepaskan tangan Kania dari lengannya dan beralih menarik pinggang ramping itu hingga menempel pada Alam.


Sekarang posisi mereka begitu dekat bak pasangan sungguhan.


Tapi mereka memang pasangan sungguhan kan??


Kania tak bisa berkutik dia hanya diam. Dia melirik pada seseorang yang menatap Kania dengan penuh kemarahan di kejauhan. Tapi Kania justru semakin menunjukkan kepemilikannya terhadap Alam.


"S*alan tu anak baru!! Beraninya dia coba rebut gebetan gue" Ucap Jesy pada beberapa temannya.


"Yah kalah saing lo Jes, dia udah maju duluan noh sampai Pak Alam mau peluk pinggangnya" Teman Jesy itu justru membuat Jesy semakin panas.


"Lihat aja, gue bakal bikin perhitungan sama dia!!" Geram Jesy.


Ternyata Kania sengaja melakukan semua itu hanya untuk memanas-manasi Jesy. Dia tidak suka suaminya di dekati perempuan seperti Jesy. Tapi bukan hanya Jesy, perempuan manapun Kania juga merasa tidak rela.


Rangkaian acara demi acara sudah dilewati dengan lancar. Sambutan dan ucapan selamat dari CEO dan beberapa direksi juga sudah paripurna. Termasuk juga Alam yang dengan gagah dan aura dinginnya naik ke atas panggung dengan penuh karisma membuat Kania tidak bisa menghentikan senyum bangganya.


Kini hanya tinggal hiburan yang di isi oleh beberapa artis ibukota saja. Namun sebelum itu, terlihat seseorang naik ke atas panggung.


Begitu lampu menyoroti orang itu, barulah terlibat jika orang itu adalah Farel. Pewaris tunggal perusahaan uang sedang berulang tahun yang ke 40 itu.


Semenjak tadi Farel memang sengaja tidak menemui Kania karena Alam selalu berada di dekat wanitanya itu. Apalagi Farel bisa melihat tangan Alam yang bertengger manis di pinggang Kania membuatnya semakin geram.


"Selamat malam semuanya!!" Suara di atas panggung itu membuat suasana hening seketika.


"Saya berdiri di atas sini bukan untuk mengulang kembali ucapan-ucapan selamat ulang tahun yang sedari tadi sudah banyak di dengar dari jajaran direksi"


"Tapi saya berdiri di atas sini, dengan keyakinan dan keberanian. Saya ingin memperkenalkan seseorang yang sangat berarti di hati saya. Dia orang yang sangat istimewa bagi saya"


"Awalnya kita hanya sebatas sahabat saja, sampai akhirnya perasaan itu terus berkembang hingga menjadi sebuah perasaan perasaan ya g bisa saya tafsirkan itu cinta"


Alam langsung tau apa yang Farel maksud. Dia menatap Kania penuh tanda tanya.


Kania tau apa yang ada di dalam pikiran suaminya itu. Dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, jika dia tidak tau sama sekali tentang semua ini.


Kania berusaha menggenggam tangan suaminya. Mencoba memadamkan api yang mungkin saja sudah tersulut di dalam hati suaminya itu.


"Wanita itu ada di depan sana, wanita cantik dengan rambut panjangnya" Farel menunjuk ke ke depan dengan tangannya.


Lampu yang semula menyorot Farel kini bergerak-gerak mencari wanita yang di maksud Farel.


-


-


-


-

__ADS_1


Happy reading, semoga kalian suka..


Jangan lupa berikan like dan vote kalian untuk karya ini yaa.. Terimakasih😊


__ADS_2