
Kania mengurungkan niatnya untuk langsung menuju ruangannya. Kania justru menekan tombol lift lantai lain, dan disinilah sekarang Kania berada.
Di depan ruangan milik Alam. Kania harus memastikan sendiri berita itu kepada orangnya langsung.
"Kak" Kania membuka pintu itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dan apa yang ia dapat di dalam sana?? Kosong, tidak ada seorang pun.
"Bu Kania cari siapa??" Tanya seseorang dari belakang Kania.
"Saya cari Pak Alam, ada??"
"Loh bukannya Pak Alam sudah mengundurkan diri aya Bu?? Dan hari ini sudah tidak aktif lagi di kantor, dan Pak Jonatan telah memberikan ijin itu untuk Pak Alam" Jelas orang yang Kania tau itu adalah rekan Alam satu lantai.
"Maaf saya tidak tau, kalau gitu saya permisi. Terimakasih banyak Pak" Kania tidak peduli orang itu akan berpikir Kania istri yang aneh karena tidak tau suaminya ada di mana. Yang dia pedulikan hanyalah Alam seorang.
Kania bingung harus mencari Alam kemana, apalagi ini adalah jam kerja dan tidak bisa seenaknya pergi dari kantor tanpa ijin yang jelas.
Kania mencoba menghubungi Yesi. Barangkali mertuanya itu tau dimana keberadaan Alam saat ini.
"Assalamualaikum Mama, apa kabar??" Sapa Kania sebiasa mungkin.
"Walaikumsallam Mama baik Nak, kamu sama Alam gimana?? Sehat kan?? Kok lama ngga main kesini??" Dari pertanyaan Yesi saja Kania sudah tau jika suaminya tidak pulang ke rumah orang tuanya.
"Kita sehat kok Ma, maaf ya Kania dan Kak Alam jarang jenguk Mama" Ucap Kania dengan sedih, dia juga ingat dengan Bundanya yang beberapa bulan ini tidan ditemuinya.
"Nggak papa, yang penting kalian sehat. Besok kalau kalian tidak sibuk main sesekali ke sini. Biar rumah ramai lagi" Ucapan Yesi membuat Kania merasa bersalah.
"Iya Ma, sekali lagi maaf ya Ma"
"Tidak usah dipikirkan sayang, mama tau pengantin baru pinginnya berduaan terus kok" Goda Yesi yang tidak tau rumah tangga anaknya sedang di terpa badai.
"Apaan sih Ma, enggak kok"
"Nggak usah malu, Mama juga gitu dulu. Sekarang kamu kerja dulu, mama tau kamu lagi di kantor kan??"
"Iya Ma, Kania tutup ya. Assalamualaikum"
Kania melihat lagi pesan yang ia kirim pada Alam. Masih sama, belum ada jawaban darinya. Bahkan dibaca pun tidak.
Kania mencoba sekali lagi untuk menghubungi Alam, berharap kali ini Alam mau mengangkatnya.
Panggilannya selalu terhubung bahkan semua pesan yang Kania kirimkan juga masuk tapi Alam sama sekali tidak mau mengangkat atau membalasnya. Termasuk kali ini, panggilan itu masih terhubung, dan tidak menunjukkan tanda-tanda Alam akan mengangkatnya.
Kania berpikir sejenak dimana kemungkinan suaminya itu berada.
Tiba-tiba Kania menepuk jidatnya dengan keras, dia baru ingat kalau suaminya mungkin saja di bengkel.
Dengan secepat kilat Kania menyambar pekerjannya yang dari tadi terbengkalai, dia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat agar dia bisa ijin untuk pulang lebih awal dengan alasan yang akan Kania pikirkan nanti.
Kania terus konsentrasi pada pekerjannya itu, bahkan dia melewatkan makan siangnya, dan dia tidak ingat kalau tadi pagi dia juga tidak sarapan.
"Huufftt akhirnya selesai juga" Kania menghembuskan nafas panjangnya kemudian meregangkan otot pada jarinya yang sejak tadi menari di atas keyboard.
-
__ADS_1
-
Degan berbagai alasan yang dia berikan akhirnya Kania bisa juga sampai di depan bengkel milik Alam. Bengkel yang menurut Kania sangat besar itu hampir saja di hancurkan oleh Farel.
Mana tega Kania membiarkan usaha yang di rintis Alam ini hancur seketika hanya gara-gara dirinya.
Kania tersenyum senang saat melihat mobil Alam terparkir di sana. Dengan langkah pasti Kania memasuki bengkel itu mencari seseorang yang mungkin di kenalnya, untuk menanyakan keberadaan Alam.
Dari jauh Kania melihat seseorang yang pernah Alam kenalkan padanya.
"Permisi, Kak Ardan ya??" Sapa Kania setelah mendekati Ardan.
"Oh kamu cari Alam ya??" Entah bisikan dari mana Ardan bisa langsung menebak tanpa harus basa-basi lagi. Hal itu membuat Kania begitu senang.
"Iy-iya, Kak Alam ada di mana ya??"
"Ayo aku antar" Ardan berjalan mendahului Kania.
Kania pun mengekor di belakang Ardan tanpa sepatah katapun keluar dari bibir mereka berdua. Ardan membawa Kania menaiki tangga besi menuju lantai dua. Lantai yang memisahkan bagian bawah yang identik dengan bau oli dan berbagai macam peralatan perbengkelan. sedangkan lantai dua lebih nyaman dan bersih.
Ardan mengeruk dua kali pintu itu sebelum di bukanya dengan cepat. Kania tampak ragu untuk mengikuti Ardan yang sudah masuk ke dalam ruangan itu.
Tapi demi rumah tangganya, dan demi hatinya sendiri akhirnya Kania berlahan membawa Kakinya untuk masuk ke dalam sana.
"Di cari bini lo tu" Suara Ardan membuat jantung Kania berdetak lebih cepat, dia ingin melihat reaksi Alam saat Kania tiba-tiba ada di sana.
Tapi justru yang Kania tangkap pertama Kali adalah sosok wanita yang duduk di sebelah Alam. Kania ingat betul wanita itu siapa. Sontak rasa cemburu menggerayangi hati Kania.
Ya, wanita itu Sandra. Wanita yabg jelas-jelas menyukai suami Kania.
Dengan wajah kesalnya Sandra mengikuti Ardan keluar dengan sekali memberikan lirikan pada Kania.
Setelah pintu itu tertutup Kania kembali menatap Alam yang masih fokus pada laptopnya.
Kania berlahan mendekati Alan dan duduk di tempat Sandra tadi. Sedikit tidak rela dia duduk di bekas perempuan yang menyukai suaminya.
Alam masih diam tak melirik Kania sekalipun, matanya masih menatap laptop di depannya.
"Kak??" Panggil Kania dengan lirih.
"Kakak sudah makan siang??" Tanya Kania lagi setelah panggilannya tak di gubris oleh Alam. Dia membuang pertanyaan tentang pengunduran diri Alam itu.
Lagi-lagi Alam masih diam tanpa suara.
"Kenapa kamu ke sini??" Tanya Alam dengan suaranya yang dingin.
Kania memejamkan matanya sebentar sebelum memulai ucapannya.
"Aku mau jelasin semuanya sama Kakak" Kania meremas jarinya karena terlalu gugup.
"Jelasin apa?? Tentang hubungan kamu sama Farel?? Itu nggak perlu!!" Alam tidak mau melirik Kania sama sekali.
Kania kesal dengan sikap Alam kali ini. Dia tidak mau mendengarkan penjelasan Kania sama sekali.
__ADS_1
"Terserah Kakak mau mendengarnya atau tidak, mau percaya atau tidak tapi aku tetap akan jelaskan semuanya!!" Ucap Kania dengan kesal.
Alam masih tak bergeming, diammya Alam itu membuat Kania memutuskan untuk tetap berbicara meski tidak ada tanggapan dari Alam.
"Kemarin Kak Alam masuk penjara itu semua karena ulah Farel, dia yang telah menjebak Kakak dengan memalsukan semua dokumen itu" Mendengar hal itu Alam menghentikan jarinya yang berada diatas keyboard itu, tapi tanpa melihat Kania.
"Farel merasa malu karena kejadian di pesta itu Kak, jadi dia balas dendam dengan membuat Kakak di penjara"
Kania merasakan sakit di dalam dadanya karena Alam sama sekali tidak peduli pada Kania. Tapi Kania tidak menyerah, dia tetap melanjutkan penjelasannya lagi.
"Dan Kakak tau apa yang Farel lakukan??" Tanya Kania dengan wajahnya yang tersenyum tipis tapi air matanya mulai tak tertahan.
"Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengancam ku. Dia akan membebaskan Kakak asalkan aku tidak menjauhinya lagi, dia ingin kita tetap bersahabat seperti dulu lagi. Dia mengancam akan menghancurkan Kakak, juga usaha yang sudah Kakak bangun ini jika aku tidak menuruti semua keinginannya itu"
"Saat itu aku bingung Kak, aku hilang arah. Aku tidak tau lagi harus minta bantuan pada siapa. Melihat kekuasaan Farel aku sudah tidak berkutik, apalagi melihat suamiku harus terkurung di tempat seperti itu"
Kania mengusap air matanya dengan punggung tangannya secara kasar.
"Maafkan aku Kak, aku memang salah karena aku tidak mengatakan semua ini sama Kakak, aku gegabah mengambil keputusan. Aku langsung menyetujui syarat dari Farel itu, karena ku pikir dia benar-benar menginginkan kita kembali seperti dulu saat kita bersahabat"
"Tapi di hari saat kamu malamnya di bebaskan itu, Farel mengajakku ke sebuah rumah. Aku tidak curiga sama sekali tentang niat buruknya itu. Di sana dia memberiku minuman yang di campur dengan obat entah apa itu. Tapi beruntung aku menyadari semua rencana jahat Farel itu. Jadi aku meminta bantuan Kak Dania untuk menyusul ke rumah itu"
"Kak Dania tiba di sana tepat waktu sebelum Farel berbuat yang lebih buruk padaku. Dan jam tangan itu, mungkin terjatuh saat aku lari dari sana bersama Kak Dania"
Kania menatap Alam dari samping, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Sorot matanya yang dingin, juga bibirnya yang tertutup rapat membuat Kania seperti di sayat-sayat.
Kania tidak menyangka jika dia akan merasakan kembali di acuhkan oleh Alam.
"Dan ternyata yang membebaskan Kakak dari penjara itu adalah Kak Dania, dia meminta bantuan pada Pak Jonatan" Baru kali ini Alam mampu mengalihkan perhatiannya dari laptop itu dan menatap Kania.
Ada rasa sakit di dalam hati Kania saat Alam mau melihatnya setelah menyebut Dania yang telah menolongnya.
"Kak Dania adalah anak kandung Pak Jonatan, dam mereka baru bertemu beberapa bulan yang lalu" Lagi-lagi Alam tampak tertarik dengan cerita Kania itu.
"Aku sudah menjelaskan semuanya sama Kakak, sekali lagi aku minta maaf atas semua kesalahanku. Dan aku tegaskan sekali lagi kalau aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Farel. Mau Kakak percaya atau tidak itu terserah Kakak. Yang jelas aku tidak ingin kita berpisah"
Kania menarik nafasnya dengan dalam dan panjang, untuk mengurangi sesak di dalam dadanya.
"Karena dari dulu sampai sekarang aku hanya mencintai Kakak"
Deg...
Tatapan mereka kembali bertemu, tatapan dingin sama seperti saat pagi hari dimana Kania mengetahui hubungan Alam dan Dania.
Getaran di dalam dada itu masih sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Malah semakin bertambah menurut Kania.
"Aku pulang dulu, kalau Kakak sudah selesai pulanglah dengan hati-hati. Aku kesepian di rumah tanpa Kakak"
Kania sudah tidak kuat lagi menahan perasannya di dalam ruangan itu. Dia lebih memilih pergi, tidak tahan lagi jika berlala-lama dengan pria yang jelas-jelas sedang mengacuhkannya.
Kania berdiri dan mulai beranjak meninggalkan Alam yang masih diam tak peduli.
Tapi saat tangan Kania ingin meraih gagang pintu, tangan seseorang sudah menyerobotnya lebih dulu dari belakang.
__ADS_1
"Ayo aku antar pulang" Suara dingin itu tentu saja Kania tau milik siapa.