Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
49


__ADS_3

Setelah Farel setuju untuk melepaskan Kania malam ini. Kini Kania sudah duduk di ruang tunggu untuk menemui Alam. Kania juga sudah membawakan Alam makan malam untuk mereka makan bersama.


Kania berusaha setenang mungkin agar Alam tidak melihat sesuatu yang mencurigakan dari tingkah Kania. Mengingat suaminya itu terlalu peka dan pintar membaca pikiran orang lain.


"Dek" Suara berat itu mengangetkan Kania.


"Kak??" Kania mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan senyuman yang manis.


"Kamu kok datang lagi, kamu harusnya istirahat di rumah. Pasti kamu capek kan??" Alam sudah mengeluarkan petuahnya saat baru saja duduk di hadapan Kania.


"Jadi nggak suka kalau aku kesini?? Kakak nggak mau lihat aku??" Wajah Kania berubah sendu. Tentu saja itu membuat Alam gelagapan.


"Bukan begitu maksudnya Dek. Tentu saja Kakak senang kamu ke sini, Kakak juga kangen. Tapi kamu pasti capek bolak balik ke sini, belum lagi pekerjaan kamu yang banyak itu" Jelas Alam agar istrinya tidak salah paham.


"Aku tidak papa kok. Sekarang kita makan dulu ya??"


Kali ini Alam tidak meminta disuapi oleh Kania. Dia tau istrinya sudah lelah, ditambah lagi memikirkan Alam yang ada di penjara. Pasti berat untuk perempuan cantik itu.


"Kok nggak di makan??" Alam menatap Kania yang melamun dengan terus mengaduk-aduk makanannya.


"Dek??" Panggil Alam lagi karena Kania tak menyahut.


"Eh, iya Kak. Kenapa??" Alam merasa istrinya terlihat aneh.


"Kamu kenapa melamun, sampai tidak dengar Kakak ngomong apa"


"Aku nggak papa Kak. Ayo makan lagi, aku juga makan kok"


Kania memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa menatap Alam yang masih intens menatapnya.


"Jujur sama Kakak Dek, apa yang sedang kamu pikirkan??" Sudah Kania duga kalau Alam pasti bisa merasakan keanehan dalam diri Kania.


Kania bingung harus menjawab apa, dai tidak bisa melemparkan jawaban yang semakin membuat Alam curiga.


"Aku hanya memikirkan keadaanmu di sini Kak. Aku tidur dengan nyaman di rumah, sementara Kamu?? Gimana kalau tiba-tiba gula darah mu turun??" Kania menunduk karena matanya sudah mulai mendung.


Kania tidak bohong jika dia memang memikirkan Alam, tapi pikiran tentang ancaman Farel lebih mendominasi.


"Maafkan aku karena membohongimu Kak. Semoga kamu bisa memaafkan saat bebas nanti." Batin Kania. Dia sangat berasa berdosa karena menyembunyikan hal sebesar ini dari suaminya.


"Kamu tidak usah khawatir Dek, Kakak di sini baik-baik saja. Kamu lihat sendiri kan?? Kakak bisa tidur di mana saja, tidak maslaah. Kakak hanya orang biasa yang sudah biasa mengalami kesulitan. Bukan anak raja yang manja" Alam meyakinkan Kania kalau dirinya benar-benar baik-baik saja di dalam jeruji besi itu.


"Iya, aku percaya" ucap Kania dengan matanya yang berkaca-kaca. Kania sangat tau jika Alam mengatakan itu hanya untuk membuat dirinya tidak banyak pikiran.

__ADS_1


"Kalau gitu kita lanjutkan makannya, setelah itu kamu lekas pulang, ini sudah malam" Alam mengusap lembut pucuk kepala Kania.


"Iya" Kania memberikan seulas senyum untuk suaminya.


Kania memandangi wajah tampan milik Alam itu dengan rinci. Seolah meminta kekuatan untuk memghadapi Farel. Kania tidak tau apa yang akan Farel rencanakan untuknya besok. Jadi sebisa mungkin Kania harus mempersiapkan dirinya agar tidak terus terintimidasi dengan ancaman-ancaman Farel.


-


-


-


Kania menarik nafasnya dalam-dalam karena hari ini dia akan menghadapi hari yang berat. Kania sudah ada di depan sebuah rumah yang di tunjukkan oleh Farel.


Kania datang sendiri ke tempat itu, rumah yang cukup besar menurut Kania. Bahkan rumah miliknya dan Alam tidak sebesar rumah yang berdiri kokoh didepannya itu.


Baru sekali memencet bel tapi pintu pagar sudah terbuka dengan sendirinya. Meski sedikit terkejut, Kania dengan ragu mulai membawa Kakinya masuk ke dalam sana.


Seperti tadi malam saat Farel mengajaknya bertemu, disini juga tidak ada seorangpun yang terlihat. Kania semakin bingung, dia takut jika Farel berbuat macam-macam padanya.


Sampailah Kania di depan pintu kayu yang tingginya dua kali lipat dari tinggi badannya.


Belum juga Kania mengetuk pintu, tapi pintu itu sidah terbuka sendiri. Sudah sangat jelas bahwa rumah itu terlihat menunggu kedatangan Kania.


Pikiran Kania langsung ingat dengan ucapan Farel waktu itu.


"Bukankah Farel ingin hubungan kita seperti dulu, tapi kenapa dia selalu berusaha menciptakan suasana romantis?? Apa maunya sebenarnya??" Batin Kania yang masih mencari Farel di rumah itu.


"Selamat datang Kania, bagaimana?? Kamu suka kejutannya??" Suara Farel muncul dari tangga.


"Kenapa kamu menyiapkan semua ini Rel, bukankah ini terlalu berlebihan??"


"Tidak ada yang berlebihan untuk orang yang kita cintai"


"Farel, ingat kesepakatan kita dari awal!!" Kania mencoba mengingatkan Farel tentang statusnya saat ini.


"Maaf Kania, ya udah sekarang kamu ikut aku" Farel membawa Kania semakin masuk ke dalam rumah itu.


Kania semakin heran karena Farel bukan hanya menghias bagian depan rumah itu saja tapi semua ruangan di rumah itu sudah berhiaskan bunga-bunga dan lilin yang telah menyala.


"Kamu mau bawa aku kemana Rel??"


"Enggak kemana-mana, kita cuma minum dan menghabiskan waktu berdua seperti dulu"

__ADS_1


Farel membawa Kania ke taman belakang rumah itu. Mendudukkan Kania di kursi yang bersebelahan dengan kolam renang yang tak luput dari hiasan-hiasan sama seperti di dalam rumah.


Kania semakin tak nyaman dengan semua ini. Terlebih Kania menerima satu gelas minuman berwarna dari Farel.


Kania tidak tau minuman jenis apa itu tapi Kania tampak ragu meminumnya.


"Kania, kamu ingat kan saat kita pertama bertemu??" Farel menatap dalam mata Kania.


"Tentu saja Rel, saat acara amal itu kan??"


"Iya betul, dan saat itu merasakan yang namanya jatuh cinta"


"Rel__"


"Ssttttt, aku hanya ingin mengenang masa-masa itu Kania" Farel tak membiarkan Kania berbicara.


"Saat kamu mengajakku untuk menikah, tentu saja saat itu aku bahagia sekali walau aku tau hatimu belum bisa menerima ku. Tapi kamu justru membuat aku kecewa Kania"


"Maafkan aku Farel. Tapi setelah aku pikir lagi, jika saat itu kita jadi menikah, rumah tangga kita tidak akan berjalan dengan baik karena hanya satu hati yang tulus menjalaninya. Aku sungguh minta maaf Rel" Ucap Kania dengan rasa sesalnya.


"Sudah jangan bahas itu lagi, maaf aku sudah lebih dulu mengingatkanmu. Minumlah!!"


Farel melirik Kania yang meneguk minuman di gelasnya.


"Maaf Rel, boleh aku ke toilet sebentar??"


"Oh iya, toiletnya ada di dalam sebelah dapur. Kamu cari saja"


Kania berjalan dengan cepat meninggalkan Farel yang terus menatap punggung Kania dengan tatapan yang sulit di artikan.


Tidak ada yang tau apa yang akan Farel lakukan pada Kania. Tapi Kania jelas bisa merasakan keanehan selama memasuki rumah itu.


Setelah beberapa menit berlalu, Farel tak kunjung melihat Kania kembali dari toilet. Dengan rasa penasarannya, Farel mencoba mencari keberadaan Kania. Dia takut tiba-tiba Kania melarikan diri darinya.


Tapi dugaan Farel itu salah. Senyuman licik terbit di bibir Farel karena saat dia tiba di ruang tengah, justru melihat Kania yang terlelap di sofa dengan posisi duduk bersandar.


-


-


-


-

__ADS_1


Aduh, mau apa lagi ini si parel yaa??


__ADS_2