
Alam membuang bantal guling yang memberikan jarak antara mereka berdua itu.
Dengan tangannya yang kekar, Alam merengkuh Kania kedalam dekapannya. Kini punggung Kania sudah menempel tanpa jarak di dada Alam. Kecuali baju tipis yang sama-sama mereka kenakan.
"Maafkan Kakak Dek. Kakak salah sudah membentak kamu. Maafkan Kakak sudah membuatmu menangis" Alam berkata dengan bibirnya yang nyaris menyentuh telinga Kania dengan posisi mereka yang seperti itu.
Ucapan dan perlakuan Alam ini justru membuat Kania melepaskan isakannya. Dia tidak mampu menahan suaranya itu karena rasa di dadanya teramat sakit saat dia membekap mulutnya.
"Hiks.. Hiks.."
Isakan pilu itu membuat Alam semakin merasa bersalah. Ia jelas menyadari itu.
"Sssttttt jangan menangis lagi sayang, maafkan Kakak" Ucap Alam dengan lembut.
"Aku tau aku salah, aku juga sudah berusaha bertanya padamu dengan baik-baik. Tapi kenapa harus membentak ku??" Kania bersuara dengan tangisannya yang masih terdengar dengan jelas.
"Maaf Dek, Kakak terlalu kesal dengan ucapan kamu, Kakak tidak mau kamu mengucapkan kata pisah dengan semudah itu" Alam semakin mengeratkan pelukannya.
Sedari tadi memang Alam menahan semua rasa kesalnya dengan berusaha tetap diam agar tidak lepas kendali. Tapi entah kenapa Alam malah mengeluarkan suara tinggi itu.
"Tapi bisa di bicarakan baik-baikan??"
"Iya, Kakak salah. Maaf ya??" Alam menyusupkan wajahnya di ceruk leher Kania.
"Kakak ingat?? Ini yang ke dua kalinya Kakak membentak ku. Dan ini berhasil mengingatkanku pada yang pertama kalinya" Punggung Kania kembali bergetar hebat.
Alam memutar otaknya kembali ke masa-masa diaman dia belum menyadari perasaannya pada Kania. Dimana harinya masih di penuhi oleh Dania.
Setelah puluhan kilasan-kilasan berputar pada otaknya, Alam menemukan apa yang Kania maksud. Alam memejamkan matanya di bahu yang bergetar itu. Menyesali semua yang sudah terlanjur terjadi.
"Maaf" Hanya kalimat itu yang sedari tadi keluar dari bibir Alam.
"Kini aku tau, dulu kamu selalu menolak ajakan makan siang ku, bahkan dengan suara kerasmu itu tega membentak ku, menolak makan siang yang aku buat dengan bantuan Mama Yesi itu bukan karena kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Tapi kamu sibuk menjaga hati kamu untuk Kak Dania"
Kania mencoba melepaskan tangan Alam yang melingkar di pinggangnya itu. Tapi Alam justru semakin mengeratkannya.
Alam menggeleng di balik bahu Kania.
"Sudah cukup Dek, memang salah Kakak terlalu banyak sama kamu. Kakak tidak sanggup mendengarnya lagi"
__ADS_1
Hati Alam mulai berdenyut ketika Kania bisa mengingat dengan jelas segala perbuatannya dulu.
Tes..
Kania merasakan satu tetes air mengenai bahunya yang tak tertutup piyama itu.
Kania sadar jika Alam menangis setelah merasakan badan pria itu juga bergetar di balik punggungnya.
"Maafkan Kakak Dek. Mungkin kamu sudah bosan mendengar kata itu. Tapi Kakak tidak akan pernah berhenti mengucapkannya. Memang pantas jika kamu bersikap seperti ini. Kakak memang laki-laki yang b*doh. Dulu dengan mudahnya Kakak menyakiti wanita dengan cinta setulus kamu. Dulu harusnya Kakak dengan tegas menolak permintaan Dania. Tapi hanya demi cinta, Kakak tega menyakiti bidadari seperti kamu"
Alam bukannya menghibur istrinya itu tapi justru membuat isakan istrinya itu semakin menjadi.
Mereka berdua sama-sama hanyut dalam tangisan masing-masing.
"Maafkan sikap Kakak tadi Dek. Hukumlah Kakak sesukamu. Tapi jangan meminta perpisahan lagi. Setidaknya pernikahan kita masih tersisa tiga bulan lagi dalam perjanjian kita"
Deg...
Tiba-tiba jantung Kania seperti berhenti berdetak. Kania baru ingat jika pernikahan mereka itu hanya sementara. Itu juga karena kesepakatan yang di mintanya sendiri.
Alam meraih tangan Kania menyusupkan jarinya di sela-sela jari milik Kania dengan posisi yang masih sama yaitu Alam memeluk Kania dari belakang.
"Berhentilah menangis Dek. Sudah cukup air mata kamu itu untuk menangis hanya karena laki-laki seperti Kakak"
"Kakak tau di hati kamu hanya tersisa rasa sakit bukan lagi rasa cinta untuk Kakak. Dan Kakak rasa, waktu tiga bulan ke depan itu Kakak ragu bisa mendapatkan cinta itu kembali"
Alam malah asik berbicara panjang lebar di belakang Kania. Hembusan nafas Alam di tengkuk Kania itu justru membuat Kania meremang.
"Jadi kamu sudah menyerah??" Tanya Kania dengan suaranya yang serak.
"Tidak, Kakak hanya ragu" Bantah Alam.
"Sama saja" Singkat Kania.
"Jelas beda, kalau Kakak menyerah maka Kakak sudah lepaskan kamu sekarang juga. Tapi walau ragu Kakak akan terus berusaha sampai waktu yang kamu berikan itu habis"
"Itu namanya egois" Celetuk Kania.
"Tidak ada namanya egois dalam cinta Dek" Bisik Alam di telinga Kania hingga hidung mancung itu mengenai daun telinga mili Kania. Itu membuat Kania bergidik karena rasa geli.
__ADS_1
"Terserah deh, sekarang lepas aku mau tidur" Kania ingin menarik tangannya yang masih terpaut dengan jemari panjang milik Alam.
"Tidak, untuk malam ini Kakak tidak akan melepaskan kamu. Biarkan seperti ini sampai pagi" Alam justru menaikkan kakinya di atas Kaki Kania. Menjadikan tubuh Kania sebagai guling hidupnya.
"Enggak, lepas!! Sekarang kenapa semakin menjadi setelah berani menci__" Kania menghentikan ucapannya. .
"Berani apa Dek??" Alam menggoda Kania, dia tau apa yang sebenarnya istrinya itu ingin katakan.
"Sudah lupakan, yang penting sekarang lepas!!" Kania terus bergerak tak tenang.
"Berhenti bergerak seperti ini jika kamu tidak ingin membangunkan sesuatu di bawah sana. Atau akau akan melakukan kegiatan kita seperti yang ingin kamu katakan barusan" Ancam Alam dengan suaranya yang terdengar sangat seksi.
Kania mati kutu dengan seketika. Tubuhnya langsung diam seperti batu.
"Istri pintar" Ucap Alam dengan senyum kemenangan.
Dengan sangat terpaksa Kania mulai menutup matanya dengan terus menggerutu di dalam hatinya.
"Gimana aku bisa tidur dengan posisi seperti ini?? Awas saja jika besok sampai terdapat lingkaran hitam di mataku karena begadang malam ini" Kesal Kania dalam hatinya.
"Tidurlah Dek, jangan terus-terusan menggerutu seperti itu. Atau kita akan melakukan ritual suami istri lebih dulu hemm??"
Tentu saja reaksi Kania sudah bisa di tebak. Dengan satu tangannya yang masih bebas, Kania mencubit tangan Alam yang berada di pinggangnya.
Alam justru terkekeh dengan tindakan Kania itu.
Kania lupa jika suaminya itu punya kemampuan membaca ucapan orang di dalam hati.
Akhirnya Kania mengalah untuk diam, daripada Kania harus membangunkan benda keramat itu dan Alam membuktikan ucapannya itu.
Akhirnya mereka tenggelam dalam tidurnya masing-masing dengan posisi berpelukan. Seolah mereka lupa jika aksi peluk-memeluk mereka itu di mulai dengan adegan tangis-menangis.
-
-
-
Happy reading readers.. Berikan like dan komentar kalian untuk karya ini ya.. 😊
__ADS_1