Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
72


__ADS_3

Sudah jadi kebiasaan bagi Kania jika dirinya akan menjadikan lengan Alam sebagai bantal sepanjang malam. Apalagi semenjak hamil ini Kania begitu menyukai aroma rubuh suaminya itu. Jika menciumnya Kania bisa langsung terlelap tanpa menunggu lama.


Namun tidurnya akhir-akhir ini tidak nyenyak karena hamilnya yang sudah berusia 9 bulan membuatnya bolak balik ke kamar mandi. Hampir satu jam sekali dia akan terbangun hanya untuk buang air kecil.


Tentu saja itu juga membuat Alam tidak bisa tidur, karena pasti akan terbangun setiap Kania bergerak kesusahan dengan perutnya yang besar itu.


Tapi kali ini Kania merasakan aneh pada bagian bawahnya, karena terasa dingin dan basah. Kania merana celananya yang terasa basah itu.


"Kak" Kania mencoba membangunkan Alam.


"Hemm, kenapa?? Mau buang air lagi??" Tanya Alam yang masih memejamkan matanya itu.


"Enggak, tapi kok ini basah. Masa aku ngompol" Ucap Kania berusaha untuk duduk.


"Hah ngompol??" Alam langung terduduk dan menyibakkan selimutnya.


"Tapi aku nggak kerasa mau buang air sama sekali dari tadi Kak"


"Ya udah, kamu ganti dulu aja, biar Kakak yang ganti spreinya"


Kania mengangguk lalu Kania berdiri ingin mengganti celananya yang basah itu.


"KAK!!" Seru Kania.


"Kenapa??"


"Tapi ini kok airnya keluar terus, ini nggak bisa di tahan"


Kania melihat air yang mengalir melewati kakinya yang tak kunjung berhenti.


"Hah, kenapa bisa??" Alam membungkuk melihat air yang sudah menggenang di bawah kaki Kania.


"Dek ini air ketuban, ayo kita ke rumah sakit. Anak kita harus segera dilahirkan" Panik Alam.


"Apa Kak?? Tapi aku belum merasakan apa-apa. Perkiraan dokter masih sekitar seminggu lagi kan??"


"Itu kan cuma perkiraan. Cepat ganti bajumu, Kakak siapkan yang lainnya dulu" Alam mencarikan baju ganti untuk Kania dan mulai memasukkan barang-barang yang memang sudah di siapkan oleh Kania sejak kemarin.


Berbeda dengan Alam yang panik, Kania justru terlihat tenang dan itu membuat Alam menjadi sangat gemas.


"Ayo dong Dek, cepat sedikit nanti air ketubannya keburu habis. Kasian kalian"


"Iya, iya!!" Seru Kania.


"Yang mau lahiran aku kok yang panik bapaknya" Gerutu Kania karena dari tadi Alam terus saja tergesa-gesa ingin membawanya ke rumah sakit.


-


-


Sesampainya di rumah sakit ternyata jalan lahir Kania belum terbuka sempurna, jadi masih harus menunggu beberapa waktu lagi sambil di bantu oleh obat agar cepat mendorong bayinya keluar.


Alam juga sudah menghubungi Yesi dan Bunda, begitu pula Dania dan Ardan. Sebentar lagi pasti mereka semua akan tiba di sana.


Sementara itu saat ini Kania mulai merasakan kontraksi pada perutnya. Dia hanya menggenggam tangan Alam, memejamkan matanya sambil terus menarik nafas panjang seperti anjuran dokter untuk mengurangi rasa sakitnya.


Alam terus mengusap perut Kania dan memberikan semangat untuk istrinya itu. Dalam hatinya juga tak henti-hentinya berdoa agar dua orang yang sangat dicintainya itu bisa melewati proses melahirkan dengan lancar dan sehat.


Bayi perempuan yang sudah Alam nantikan akan segera hadir ke dunia ini. Membayangkan bayi mungil yang akan mirip dirinya dan Kania itu saja sudah membahagiakan.

__ADS_1


"Kania, gimana keadaan kamu nak??" Bunda sudah datang bersama Dania dan juga Mama Yesi. Entah mereka janjian atau apa Alam juga tidak tau.


"Kania nggak papa Bunda, cuma mulesnya aja udah mulai sering" Jawab Kania dengan menahan rasa sakit pada perutnya.


"Ya udah kamu sabar ya, rasa sakit itu akan tergantikan saat kamu melihat bayi kecil di pelukan kamu" Bunda mencoba menenangkan Kania.


"Terus berdoa ya Nak, agar di berikan kemudahan sama Allah" Ucap Mama Yesi.


"Iya Ma"


Sementara Dania hanya mengusap-usap punggung adiknya itu dengan lembut.


Sebenarnya di dalam hatinya dia juga sangat ingin segera hamil. Agar kebahagiaannya bersama Ardan semakin lengkap.


Ardan menatap Dania dari sofa, dia memperhatikan istrinya yang terlihat melamun itu.


"Bunda, Ardan keluar sebentar ya??" Ardan meraih tangan Dania.


"Iya, nanti kalau Kania sudah mau melahirkan Bunda hubungi kalian" Jawab Bunda.


Dania hanya menurut saja, meski dia tidak tau Ardan akan membawanya kemana.


"Mau kemana sih Mas??" Tanya Dania setelah keluar dari ruangan Kania.


"Duduk di sana aja yuk!!" Tunjuk Ardan pada kursi yang tak jauh dari kamar Kania.


Dania masih menurut saja meski hanya diam sedari tadi.


"Kenapa dari tadi kamu sedih gitu??" Tanya Ardan dengan terus menggenggam tangan Dania.


"Sedih??" Kening Dania berkerut.


Dania tersenyum tipis, ternyata Ardan melihatnya saat melamun berkhayal dia mempunyai bayi seperti Kania.


"Kenapa hemm??" Tanya Ardan lagi dengan lembut.


Apakah terlalu dini jika Dania bersyukur menerima ajakan Ardan untuk menikah waktu itu. Karena sejak pernikahan itu Ardan selalu memperlakukan Dania bak ratu. Dengan segala perhatiannya, tanggungjawabnya, serta cinta yang selalu tercurah untuk Dania membuat Dania merasa sangat beruntung.


"Mas, kayaknya kalau kita punya bayi pasti rumah bakalan ramai deh" Ucap Dania.


"Kamu pingin punya bayi??"


"iya, aku juga ingin sempurna seperti wanita-wanita lain. Bisa melahirkan dan merawat anak mereka. Emangnya kamu nggak pingin Mas??" Membayangkannya saja Dania sudah sangat bahagia.


"Jelas pingin dong sayang. Tapi anak itu rezeki dari Allah. Jadi kita hanya menunggu saatnya Allah mempercayakan itu semua sama kita" Begitulah yang Ardan tau selama ini.


"Tapi kita udah tujuh bulan nikah loh Mas, tapi aku belum hamil juga" Ucap Dania sedih.


"Tapi kan kita baru melakukannya pertamakali dua bulan yang lalu sayang" Jawaban polos dari Ardan itu membuat Dania kelabakan. Dia menoleh ke kiri dan kanan takut ada yang mendengar ucapan Ardan itu.


"Maasss!! Omes banget mulut kamu!!" Ucap Dania kesal kemudian meninggalkan Ardan kembali ke ruangan Kania.


Tapi di balik itu, Dania tersenyum senang karena Ardan juga mempunyai keinginan yang sama.


-


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya Kania sudah berhasil melahirkan buah hatinya yang cantik itu.


"Terimakasih sayang, Kakak mencintaimu" Alam mengecup kening Kania setelah suara tangisan bayi terdengar di ruang bersalin itu.

__ADS_1


Kania yang lemas itu hanya mampu mengangguk pelan, tidak bisa berkata-kata lagi.


Air mata kebahagiaan milik Alam dan Kania sudah benar-benar tidak bisa di bendung lagi saat melihat bayi mungil itu kini berada di dalam dekapan Kania. Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil itu.


"Dia cantik seperti kamu sayang" Ucap Alam terus merasa kagum kepada makhluk ciptaan Tuhan itu.


"Iyaa, tapi di mirip banget sama Kakak" Bayi yang masih merah itu merengek mengeluarkan suara kecilnya yang lucu.


"Lucunya anak Papa" Alam mencium pipi gembul milik bayinya.


"Maaf Ibu, biarkan bayinya saya bersihkan dulu, setelah itu baru saya antar ke ruangan Ibu" Perawat itu mengambil bayi di dekapan Kania itu. Walau sedikit tak rela tapi Kania membiarkan mereka membawa bayinya untuk di bersihkan.


Bunda dan Mama Yesi serta Dania dan Ardan tersenyum lega setelah melihat Kania kembali dari ruang bersalin dengan wajah sumringah. Dari wajahnya saja mereka sudah tau jika persalinan Kania berjalan dengan lancar.


"Mana cucu kita Lam??" Tanya Mama Yesi.


"Baru di mandikan Ma, nanti pasti di antar kesini kalau udah selesai"


"Mama sudah nggak sabar mau lihat cucu Mama yang cantik"


"Benar jeng, cucu pertama kita" Sambung Bunda dengan bahagia.


"Kamu juga harus cepat nyusul loh Dania, biar Mama punya cucu satu lagi dari kalian" Ucap Mama Yesi.


"Doakan saja ya Ma, Dania sama Mas Ardan juga pingin banget cepat di kasih momongan" Jawab Dania.


"Itu pasti, kita akan doakan yang terbaik untuk anak-anak kita" Ucap Mama Yesi yang diangguki oleh Bunda.


"Makasih Bunda, Mama Yesi" Ucap Diandra terharu.


Tak lama kemudian Bayi cantik itu datang diantarkan oleh seorang perawat. Bayi yang tampak tertidur pulas di dalam boxnya.


"Wah ini cucu saya kan suster??" Sambut Mama Yesi dengan wajah gembiranya.


"Iya Ibu, ini putri dadi Bapak Alam" Suster itu mendorong box bayinya hingga berada di sebelah ranjang Kania.


"Terimakasih suster" Ucap Kania.


"Sama-sama Ibu, saya permisi"


"Cantik sekali Cucu Mama Lam" Mama Yesi sudah tidak sabar ingin menggendong cucu pertamanya itu.


"Iya Mah, dia mirip aku. Tapi cantik seperti Mamanya" Jawab Alam dengan mata berair. Dia masih belum percaya bisa mempunyai malaikat kecil itu.


" Kamu benar" Mama Yesi setuju.


"Kalian mau beri nama siapa bayi cantik ini??" tanya Bunda.


"Kania sudah siapin beberapa nama Bun, tapi masih bingung" Jawab Kania dengan polos.


"Loh gimana kalian ini" Tawa Bunda dan Mama Yesi.


"Mas lihat, lucu banget kan?? Semoga kita cepet di kasih juga ya??" Bisik Dania pada suaminya.


"Nanti malam Mas akan berusaha semaksimal mungkin" Bisik Ardan membuat Dania refleks menginjak kaki Ardan.


"Awww!!" Pekik Ardan membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Kenapa Dan??" Tanya Alam.

__ADS_1


"Oh ini tadi di gigit semut besar"


__ADS_2