
"Kak" Kania menggoyangkan badan Alam yang tertidur sangat pulas itu.
"Kak bangun!!" Kania mulai berkaca-kaca karena Alam tak kunjung membuka matanya.
Saat Kania mulai terisak barulah Alam mendengar sesuatu yang mengusik telinganya.
"Loh Dek kenapa, kamu kok nangis??" Alam panik melihat istrinya menangis tengah malam begini.
"Kakak kenapa sih susah banget di bangunin??" Tanya Kania sambil terisak.
"Maaf sayang Kakak nggak dengar. Kamu mau apa?? Bilang sama Kakak, ada yang sakit??" Alam mengusap perut Kania yang sudah berusia tujuh bulan itu.
Kania menggeleng, tapi masih terus menangis.
"Bilang sama Kakak sayang, kalau kamu nangis terus Kakak nggak tau" Bujuk Alam dengan lembut.
"Aku lapar Kak. Anak kamu mau minta makan" Ucap Kania dengan pelan karena malu. Tapi membuat Alam justru tertawa lepas.
"Tuh kan malah ketawa hiks..hiks" Kania kembali terisak karena Alam.
"Maaf sayang maaf, ayo kebawah kamu mau makan apa biar Kakak buatin" Bujuk Alam dengan halus. Dia harus ekstra sabar mengahadapi ibu hamil yang satu ini.
"Nggak mau" Kania menggeleng pelan.
"Loh katanya lapar??" Alam melirik jam yang berada di atas nakas. Istrinya itu menangis karena lapar di jam dua pagi.
"Aku mau makan seblak Kak" Ucap Kania dengan suaranya yang pelan.
"Apa seblak?? Ini jam 2 loh Dek" Alam tak menyangka dini hari seperti ini istrinya minta makanan yang aneh-aneh.
"Ya udah aku nggak jadi makan aja, biar kelaparan anaknya" Kania kembali merebahkan dirinya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Iya, iya Kakak cari tapi jangan marah ya??" Sebenarnya Alam juga tidak tau harus mencari seblak di mana dini hari seperti ini.
"Yang bener??" Kania membuka selimutnya lagi.
"Iya"
Cup..
Alam mengecup pipi Kania yang sedikit chubby karena kehamilannya itu.
"Tapi aku nggak pingin beli di luar, aku pinginnya kamu yang buat sendiri" Pinta Kania dengan manja.
"Hah, bikin seblak?? Mana bisa Kakak Dek. Tadi katanya nggak mau aku yang buatin??" Kini Alam yang merebahkan dirinya di ranjang, dia terkejut dengan permintaan istrinya itu.
Jika hanya memasak mie, menggoreng telur atau nasi goreng Alam masih bisa tapi kalau seblak Alam juga ragu.
"Bisaaa, lihat di youtube aja resepnya. Pasti bisa kok, bahan-bahannya juga ada semua di dapur. Aku temenin ke bawah yuk" Kania menarik lengan Alam agar suaminya itu mau berdiri.
"Iya, iya ayo. Apa sih yang enggak buat kamu dan anak kita" Alam mencubit gemas pipi Kania.
Alam semakin gemas dengan Kania yang terlihat lebih berisi saat ini. Tapi Alam tidak pernah mengatakan itu pada Kania. Karena dia takut di terkam oleh singa betina itu.
Alam mulai menyiapkan bahan-bahan seperti yang baru saja dia lihat di video masak memasak itu. Sementara Kania duduk manis di sofa menyalakan televisi sebagai temannya menunggu Alam memasak.
Dengan mengikuti setiap detai dari video itu, satu mangkuk sebak berkuah merah kental itu sudah siap di hadapan Kania.
"Tapi Kakak nggak yakin sama rasanya Dek, lebih baik nggak usah dimakan aja ya. Daripada sakit perut. Besok beli tempat abang-abang aja ya??" Alam ingin menyingkirkan mangkuk itu dari hadapan Kania namun berhasil Kania tahan.
"Enggak!! Laparnya sekarang masa harus nunggu besok!!"
"Tap___"
__ADS_1
Kania sudah mencicipi seblak itu sebelum Alam berhasil mencegahnya. Tidak ada reaksi apapun dari Kania, dia justru kembali memasukkan lagi dan lagi ke dalam mulutnya.
"Dek, kok doyan banget??" Heran Alam.
"Ini enak tauk, kamu mau??" Kania menyodorkan sendoknya ke mulut Alam.
Karena rasa penasarannya akhirnya Alam tertarik untuk mencobanya, mengingat Kania begitu lahap memakannya.
"Asin Dek, nggak enak sama sekali!!" Alam terpaksa menelannya kemudian mengambil air minum untuk membilas mulutnya dari rasa garam yang menempel di lidahnya.
"Enggak kok ini pas banget" Elak Kania terus menghabiskan seblaknya hingga tandas.
Alam hanya menggeleng keheranan dengan istrinya itu.
"Alhamdulillah kenyang juga, saatnya tidur lagi" Kania mengusap perut besarnya itu dan pergi ke kamar meninggalkan Alam.
-
-
-
Pernikahan Dania dan Ardan memang berjalan baik-baik saja. Meski tanpa cinta mereka saling terbuka dan sama-sama belajar mengenali pasangannya. Terutama Dania yang terus berusaha untuk mencintai Ardan.
Di usia pernikahan mereka yang hampir lima bulan itu Ardan terus menunjukkan rasa cintanya kepada Dania. Perhatian, tanggung jawab dan kesetiaan selalu saja Ardan tunjukkan pada Dania.
Seperti beberapa hari yang lalu saat Sandra sengaja menghubungi Ardan tengah malam untuk meminta bantuan. Dan ternyata saat itu Sandra sengaja melakukannya untuk menarik perhatian Ardan.
Untung saja Ardan saat itu meminta Dania ikut dengannya. Dia tidak mau nanti menimbulkan kesalahpahaman saat Ardan nekat menemui Sandra seorang diri.
Dan di saat itu juga Ardan menunjukkan ketegasannya kepada Sandra. Jika dirinya tidak akan peduli apapun yamg di lalukan Sandra lagi termasuk jika meminta bantuannya. Karena Ardan tidak mau menyakiti Dania. Wanita yang dicintainya.
Malam ini turun hujan yang sedikit lebat, dan Ardan belum juga pulang dari bengkel. Dania dengan setia menunggu kepulangan suaminya itu di ruang tamu. Sementara Bunda memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Hujan gini enaknya makan yang anget-anget kali ya" Dania mengambil ponselnya untuk menghubungi Ardan.
Dia ingin Ardan mampir membelikannya basko saat dia pulang nanti.
Dania sudah lima kali mencoba menghubungi suaminya itu, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Sampai akhirnya panggilan ke enam baru Ardan mengangkat teleponnya.
"Halo Mas, kamu udah mau pulang??" Tanya Dania begitu suara Ardan terdengar dari seberang telepon.
"Sebentar lagi pulang, ada apa??"
"Aku rasanya mau, halo Mas?? Mas??" Dania melihat ponselnya yang ternyata panggilannya sudah terputus.
"Yah kok nggak bisa dihubungi lagi sih!!" Kesal Dania karena kini ponsel Ardan tidak aktif. Dia juga belum sempat mengatakan apa keinginannya.
Akhirnya Dania pasrah, tidak ada bakso untuk hujan malam ini. Dia memilih melihat media sosialnya sambil menunggu suaminya pulang.
Tapi beberapa saat kemudian terdengar pintu yang di ketuk dengan keras dari luar.
"Siapa malam-malam begini??" Gumam Dania sedikit takut.
Dania membuka tirai sedikit untum melihat siapa yang mengetuk pintu seperti itu.
"Astaghfirullah Mas Ardan!" Dania buru-buru membuka pintu untuk suaminya itu.
"Dania, kamu nggak papa kan??" Tanya Ardan panik. Karena beberapa hari yang lalu Dania sempat pingsan karena kelelahan.
"Kamu kenapa basah kuyup begini??" Dania tidak menjawab pertanyaan Ardan malah justru terlihat khawatir dengan keadaan Ardan yang bash seluruh bajunya.
"Aku panik karena kamu menghubungiku berkali-kali. Dan ponselku mati sebelum aku mendengar apa yang kamu katakan tadi. Aku takut kamu pingsan lagi kaya kemarin" Ucap Ardan dengan bibirnya yang membiru karena kedinginan.
__ADS_1
"Astaga, ya udah ayo masuk. Ganti baju dulu" Dania menarik Ardan menuju kamarnya. Kemudian menyiapkan baju ganti untuk suaminya yang tadi langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Dania menyiapkan teh hangat sambil menunggu Ardan keluar dari kamar mandi.
"Kamu nggak kenapa-kenapa kan??" Tanya Ardan ketika melihat Dania yang menunggunya di ranjang.
"Enggak, aku itu cuma mau minta beliin bakso aja. Tapi telponnya terputus" Jelas Dania.
"Yahh baksonya jadi nggak dapat, terus gimana dong. Mau Mas beliin sekarang??"
"Apaan sih, nggak udah lah. Lagian mobil kamu mana kok kamu bisa basah semua kaya tadi??" Dania juga heran apa mobil Ardan itu atapnya bocor sampo bisa membuat pengemudinya basah semua.
"Tadi mobilnya mogok jadi Mas pesan ojek agar bisa cepat sampai rumah. Mas panik takut kamu kenapa-napa" Dania hampir saja menepuk jidatnya karena suaminya yang bertindak bodoh seperti itu.
Dania memberikan teh yang di buatnya tadi untuk Ardan. Bibir pria itu terlihat sedikit bergetar, mungkin masih merasa kedinginan.
Dania yang tidak tega meraih satu tangan Ardan yang tidak memegang gelas. Mengusapnya lembut, merasakan dinginnya tangan suaminya itu.
"Bodoh!!" Celetuk Dania.
Ardan sempat terkejut dengan ucapan tiba-tiba dari Dania itu.
"Kenapa jadi laki-laki sebodoh ini!!" Ardan semakin bingung karena Dania mulai meneteskan air matanya.
"Apa maksud kamu Dania?? Kenapa kamu menangis??" Ardan meletakkan gelasnya lalu mengusap air mata Dania.
"Kenapa kamu bisa nekat kaya tadi?? Kan bisa ponselnya di charger dulu. Bisa pakai telepon bengkel buat telpon ke rumah kalau nggak hafal nomor aku. Bisa naik taksi biar nggak kehujanan kaya tadi. Kenapa ceroboh banget cuma buat aku sih!!" Dania marah dengan air matanya yang terus mengalir.
"Maaf Dania, aku panik saat itu. Aku nggak bisa berpikir sama sekali"
"Iya karena memang kamu itu bodoh!! Bisa-bisanya kamu menikahi perempuan yang sama sekali tidak mencintaimu. Kamu berjuang hanya untuk mendapatkan cintanya sampai harus rela kaya gini!!" Dania benar-benar melepaskan segala unek-uneknya.
"Apa perjuanganku saman sekali belum ada hasilnya?? Apa di hati kamu sama sekali belum ada namaku??" Tanya Ardan dengan matanya yang mulai memerah, sepertinya dia akan menyusul Dania meneteskan air mata.
"Tapi tidak papa, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan cin_____"
Ucapan Ardan terpaksa harus berhenti karena Dania yang membungkam bibir Ardan dengan paksa menggunakan bibirnya.
Ardan sempat syok dan terbelalak dengan tindakan Dania itu. Tapi berlahan Ardan menarik tengkuk Dania untuk memperdalam c*umannya.
Ardan menjauhkan wajahnya untuk memberikan kesempatan Dania mengambil nafas.
"Apa artinya itu Dania??" Tanya Ardan menatap lekat manik mata Dania.
"Kamu sudah berhasil" Jawab Dania.
"Maksud kamu??"
"Kamu berhasil mengambil alih hatiku Mas, aku mencintaimu" Ucap Dania sekali lagi.
"Benarkah yang aku dengar?? Katakan lagi" Ardan bahkan sudah mengeluarkan air matanya.
"Aku mencintai mu"
"Sekali lagi" Pinta Ardan masih tak puas.
"Aku menc____"
Ardan sudah menubruk Dania hingga terbaring di ranjangnya.
Mata Ardan mengunci mata Dania dengan posisi Ardan yang mengungkung Dania.
"Aku juga mencintaimu sayang, sangat" Panggilan sayang itu mampu membuat hati Dania bergetar hebat. Apalagi Ardan yang mulai mengikis jarak di antara mereka.
__ADS_1
Di temani hujan di luar sana yang tak kunjung berhenti, Ardan akhirnya melepas keperjakaannya dengan mengambil keperawanan istrinya setelah menunggu lima bulan lamanya.