Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
50


__ADS_3

Farel menggendong Kania ke dalam sebuah kamar yang sudah disiapkannya. Dengan berlahan Farel menurunkan Kania di atas ranjang yang di penuhi kelopak bunga mawar. Pantas saja bau harum begitu menusuk saat masuk ke kamar itu.


Dipandanginya wajah Kania yang terlelap dengan begitu cantiknya. Jika saat ini Kania membuka matanya, pasti dia ketakutan melihat tatapan Farel yang seolah ingin menelannya.


Tangan Farel bergerak menyentuh pipi halus Kania dengan lembut. Kemudian mengusap bibir yang terbentuk dengan indah namun telah di cicipi oleh Alam itu.


"Kamu begitu sempurna di mataku Kania. Aku tidak rela kamu di miliki siapapun selain aku. Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan mu kembali. Aku tidak peduli dengan suamimu itu. Yang aku inginkan hanya kamu" Bisik Farel pada Kania yang masih setia menutup matanya.


Dengan berani Farel mulai mendekatkan wajahnya, secara berlahan sambil terus menikmati kecantikan alami yang dimiliki Kania.


Nafasnya sudah memberubu ingin cepat melahap apa yang ada di depannya. Namun....


BUUGGG....


Farel tersungkur menimpa Kania. Pria itu sudah tidak sadarkan diri akibat pukulan di punggungnya.


"Bangun Dek!!"


"Bantu aku menyingkirkan dia Kak!!"


Ternyata Dania yang telah memukul Farel dari belakang. Dengan cepat Dania menarik tubuh kekar Farel agar Kania bisa terlepas darinya.


"Ayo cepat pergi dari sini Dek, sebelum dia sadar!!"


Dania menarik tangan adiknya keluar dari rumah indah namun menyeramkan itu.


Dua wanita tak sedarah itu berlari keluar mencari taksi yang akan membawa mereka pergi jauh dari tempat itu.


FLASHBACK ON


"Maaf Rel, boleh aku ke toilet sebentar??"


"Oh iya, toiletnya ada di dalam sebelah dapur. Kamu cari saja"


Kania berjalan dengan cepat menuju toilet yang telah di tunjukkan Farel tadi.


"Huekkk... Huekk..."


Kania menggapai rongga mulut yang paling dalam jarinya hingga membuatnya merasakan mual.


Dia memang sengaja melakukan itu untuk mengeluarkan minuman yang sempat ia teguk.

__ADS_1


Kania curiga Farel memasukkan obat ke dalam minumannya karena Kania tidak sengaja melihat serbuk yang tertinggal di pinggiran gelasnya. Lalu melihat Farel yang terus melihat pada gelas di tangannya.


Apalagi lirikan Farel saat Kania meneguk minumannya membuatnya yakin ada sesuatu yang di masukkan ke dalam minumannya.


Sebenarnya Kania pintar bukan?? Tapi kenapa hanya karena ancaman seperti itu membuatnya mengambil keputusan yang sangat b*doh. Cinta memang membutakan segalanya.


Kemudian Kania merogoh ponsel yang sengaja ia sembunyikan di dalam sakunya. Karena Kania tidak mau Farel curiga kepadanya jika membawa ponsel ke dalam toilet.


Dengan cepat Kania mengirim pesan pada Dania jika dia dalam bahaya, Kania juga mengirimkan alamat rumah itu kepada Dania.


Kania tidak tau lagi harus meminta bantuan kepada siapa. Yang terlintas di kepalanya saat ini hanya Kakaknya.


"Aku mohon cepatlah Kak!!" Gumam Kania.


Kania berusaha tetap tenang kemudian berjalan keluar dan duduk bersandar pada sofa. Sambil menunggu kedatangan Dania. Dia akan berpura-pura tertidur seolah obat yang Farel berikan sudah bereaksi.


Di dalam hatinya Kania terus berdoa agar bantuan cepat datang. Dia tidak mau sampai Farel berbuat yang lebih tidak pantas lagi kepadanya.


FLASHBACK OFF


"Tenang Dek, kamu sudah aman" Dania menggenggam tangan Kania yang masih gemetar.


Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Kania. Tapi rasa ketakutan Kania belum juga hilang. Mengingat kalimat Farel yang begitu men**jikkan di telinganya dan sentuhan tangan Farel di wajahnya.


Kania belum juga membuka mulutnya hingga mereka berdua sampai di rumah. Kejadian yang baru saja dia alami menyisakan trauma tersendiri pada dirinya.


"Minum dulu Dek" Dania memberikan segelas air untuk adiknya.


Dania merasa tidak tega melihat keadaan Kania saat ini. Rambut berantakan dengan tatapan kosong.


Tapi hal itu semakin membuat Dania yakin akan suatu hal. Dia akhirnya tau apa yang harus dia lakukan.


"Kak" Panggil Kaia lirih.


"Kenapa Dek??" Dania duduk di sebelah Kania.


"Tentang yang aku alami tadi, aku mohon jangan katakan pada siapapun termasuk Kak Alam. Aku mohon Kak" Kania menumpahkan air mata yang sejak tadi dia tahan.


"Tapi Dek, aku rasa Al__"


"Jangan Kak, aku takut Kak Alam jijik padaku. Demi aku Kak, aku mohon" Dania memeluk adik kesayangannya itu.

__ADS_1


"Kakak ngerti Dek, Kakak nggak akan bilang sama siapapun termasuk Bunda dan Alam" Melihat adiknya terpuruk seperti itu membuat hatinya juga terluka. Dia hanya mampu menuruti keinginan adiknya itu.


"Makasih Kak, kalau tadi kamu datang terlambat saja. Aku lebih baik m*ti saja. Aku tidak sanggup menghadapi Kak Alam. Aku tidak mau mengecewakannya" Tangis Kania di dalam pelukan Dania.


"Ssstttt jangan bicara seperti itu. Kamu tidak apa-apa, Farel juga belum menyentuhmu kan?? Jadi jangan khawatirkan hal itu. Sekarang pikirkan bagaimana kamu lepas dari ancaman Farel. Jangan biarkan dia terus menekan mu"


"Tapi dengan cara apa lagi Kak?? Semua bukti mengarah pada Kak Alam. Dan Farel juga mengancam untuk menghancurkan Kak Alam. Apa aku sanggup melihat Kak Alam hancur hanya gara-gara aku??" Kania semakin terisak hingga nafasnya tersengal-sengal.


"Sekarang jawab jujur Dek!! Kamu masih mencintainya kan?? Kamu tidak pernah melupakannya walau kamu sudah pergi jauh darinya kan??" Dania melepaskan pelukannya untuk menatap manik mata adiknya yang berair itu.


"Jawab dengan jujur dari hati kamu" Titah Dania.


"Aku yakin Kakak juga tau jawabannya kan?? Mana mungkin aku melupakan cinta pertamaku dengan mudah Kak. Aku memang pergi Kak tapi dia telah membawa hatiku. Aku pergi hanya dengan ragaku tapi jiwaku masih melekat pada hatiku yang terus bersamanya. Aku ini memang payah dan b*doh. Walau sudah jelas aku di sakiti, tapi tetap tidak bisa menghapus semua rasa cinta itu. Apa Kakak perlu menanyakan itu lagi?harusnya tidak kan??"


Akhirnya pernyataan itu keluar lagi dari bibir Kania setelah lima bulan pernikahannya dengan Alam. Dan menurut perjanjian hanya tinggal satu bulan lagi sisa waktu pernikahan mereka.


"Iya, Kakak memang sudah tau. Kakak hanya ingin mendengar itu langsung darimu. Jangan pernah pergi tinggalkan Alam lagi. Dia hancur tanpamu Dek. Dulu saat kamu pergi, di juga pergi. Sama dengan Alam yang membawa hatimu. Tanpa sadar kamu juga membawa hati Alam pergi bersamamu. Kalian memang sudah di ditakdirkan dari dulu. Tapi hanya karena keegoisanku Kalian harus berpisah"


"Jadi Kakak mohon, pertahankan pernikahan kalian. Jangan sampai Farel merusak rumah tangga kalian. Kakak yakin kalian bisa melewati ujian ini"


Kania mengangguk mendengar petuah Dania. Memang saat ini hanya itulah yang Kania butuhkan. Kania butuh seseorang untuk menguatkan hatinya. Karena penguat yang sesungguhnya sedang jauh darinya.


"Sudah jangan menangis. Kakak akan membuat Alam bebas secepatnya. Kalau perlu hari ini juga!!" Ucap Dania dengan yakin.


"Bagaimana caranya Kak?? Kita tidak mungkin bisa melawan Farel" Kania tidak percaya dengan apa yang Dania katakan. Seperti lelucon tidak akan membuat Kania terhibur.


"Kamu tidak perlu tau caranya. Yang harus kamu lakukan hanya satu, yaitu percaya sama Kakak!!" Tegas Dania.


"Sekarang Kakak pergi dulu, kunci semua pintu agar Farel tidak bisa datang kemari. Tetap di dalam rumah dan tunggu kepulangan suamimu"


Setelah mengatakan hal yang tidak mungkin itu, Dania benar-benar pergi meninggalkan Kania. Dia tidak terlalu memasukkan ke dalam hati janji yang di berikan Dania itu. Karena Kania tau, Farel tidak semudah itu di lawan.


-


-


-


-


-

__ADS_1


Sebenarnya ada apa dengan Dania ya?? Kenapa dia seyakin itu bisa membebaskan Alam🤔


__ADS_2