
Kania cukup lega karena Farel tidak muncul di hadapannya bahkan menghubunginya lagi. Dia cukup was-was jika mendadak Farel menemuinya. Apalagi setelah Alam keluar dari penjara, Kania takut Farel akan mengatakan macam-macam pada Alam yang akan membuat kesalahpahaman.
Setelah pekerjaannya selesai Kania cepat-cepat pulang ke rumah. Tak dapat di pungkiri Kania sangat merindukan Alam. Terlebih lagi dia sudah menyadari perasaannya yang tidak pernah hilang untuk Alam. Entah kapan dia akan memberitahu Alam tentang perasaannya itu. Tapi Kania ingin menyiapkan mengungkapkan semua itu dengan memberikan Alam sebuah kejutan.
Kania membuka pintu rumahnya tapi hanya kegelapan yang menyambutnya. Kania heran kenapa rumahnya menjadi gelap seperti ini padahal Alam ada di rumah. Tapi sebuah tangan menghentikan Kania yang ingin menyalakan lampu.
"Dek" Kania sempat ingin berteriak jika saja tidak mendengar suara itu.
"Kakak, kenapa rumahnya gelap seperti ini??" Kania melihat ke luar dan semua lampu menyala, tapi kenapa di dalam rumah padam.
"Tidak udah di pikirkan, sekarang kamu ikut Kakak" Alam menuntun Kania untuk mengikutinya.
Alam membawa Kania menaiki tangga menuju kamarnya. Dan mendorong Kania masuk ke dalam.
"Kenapa Kak??" Kania masih bingung dengan sikap Alam ini.
"Ini, pakailah dan dandan yang cantik. Jangan keluar sebelum Kakak menjemputmu lagi" Alam menyerahkan sebuah kotak besar pada Kania.
"Memangnya mau apa Kak, dan apa ini?" Tanya Kania masih kebingungan.
"Buka saja, dan nanti kamu akan tau. Sekarang bersiaplah" Alam menutup pintu kamar itu dan menguncinya dari luar.
Kania yang masih kebingungan hanya menurut saja apa yang Alam perintahkan itu. Dia membuka kotak yang ada di tangannya.
Senyum Kania tidak bisa di tahan lagi saat melihat apa isi kotak itu. Ternyata sebuah gaun indah berwarna maron dengan kedua lengannya yang berbentuk pita.
"Indah sekali" Ucap Kania sambil melihat gaun itu di cermin yang ia pasangkan di depan badannya.
Setelah itu Kania bergegas membersihkan dirinya lalu merias dirinya secantik mungkin sesuai permintaan Alam. Walau Kania tidak tau Alam akan membawanya kemana tapi Kania mengikuti permintaan suaminya itu.
Kania masih melihat dirinya di cermin, melihat setiap detail riasan dan tatanan rambutnya. Tak lupa gaun yang sangat pas di tubuhnya itu. Menurutnya itu sudah sangat sempurna.
"Kamu sudah siap Dek??" Kania tidak mendengar Alam membuka pintu kamarnya. Tiba-tiba saja suaminya itu sudah memeluk Kania dari belakang. Melingkarkan tangannya di pinggang ramping itu.
Tatapan mereka saling bertemu di cermin itu.
"Kamu cantik sekali sayang" Bisik Alam di telinga Kania.
Suara rendah itu berhasil membuat Kania merinding. Terlebih lagi keadaan mereka yang tidak menyisakan jarak itu menambah debaran jantung Kania meningkat seketika.
"Sebenarnya kita mau ke mana Kak??" Kania juga melihat Alam yang berpakaian formal.
__ADS_1
Alam tidak menjawab, dia melepaskan pelukannya lalu kembali menuntun Kania berjalan keluar.
Suasana di luar sungguh berbeda dari saat dia masuk tadi. Jika tadi hanya ada kegelapan, saat ini seluruh ruangan sudah berganti terang dengan cahaya lilin di mana-mana.
Sekilas Kania teringat saat Farel menyambutnya dengan suasana seperti ini. Tapi sebisa mungkin Kania menghilangkan bayangan itu.
Dengan tangan yang masih di genggam Alam, Kania terus menuruni tangga hingga sampai di ruang tamu.
Kani menutup mulutnya melihat kejutan yang Alam berikan. Makan malam romantis dengan suasana romantis telah di siapkan Alam untuknya.
"Ayo duduk" Alam menarik kursi untuk Kania.
"Kakak menyiapkan ini semua seharian ini??"
"Iya, setelah kamu berangkat kerja" Alam menjauhi Kania untuk memutar musik romantis untuk mengiringi makan malam mereka.
"Ayo makan dulu" Kania tida dapat menyembunyikan bibirnya yang terus tersenyum manis.
Kania tidak menyangka, menikah dengan orang yang dulu pernah menyakitinya justru membuatnya merasakan bahagia seperti ini.
Alam bangkit dari duduknya, dan bersimpuh di depan Kania. Mengeluarkan kotak berwarna hitam dari dalam jasnya.
"Dek, Kakak minta maaf karena menikahi kamu dengan cara dadakan seperti itu. Kakak juga tidak bisa memberikan maskawin yang layak waktu itu. Tapi ijinkan Kakak mengganti cincin pernikahan kita ini dengan cincin yang sesungguhnya. Kakak tidak meminta kamu membuang cincin pertunangan kita ini. Hanya saja, Kakak akan membuang semua kenangan buruk itu dan mengganti dengan cinta yang sesungguhnya"
Kania mengangguk menyetujui apa yang Alam inginkan.
Berlahan Alam melepas cincin pertunangan mereka itu dan memasangkan cincin baru yang cantik di jari Kania.
Alam juga melepas cincin di jarinya lalau memberikan membiarkan Kania memasangkan cincin baru untuk Alam.
"Maukah kamu berdansa dengan Kakak sayang?" Masih dalam posisi bersimpuh Alam meminta pada Kania.
"Tentu saja" Kania tidak dapat menolak perlakuan romantis itu.
Dengan senyuman yang sama-sama mereka berikan, sepasang suami istri itu mulai berdansa mengikuti alunan musik yang sejak tadi berputar di ruangan yang telah di sulap menjadi romantis itu.
"Kakak bahagia bisa bersama mu lagi sayang" Alam menyatukan kening mereka. Membuat jarak tidak ada artinya lagi di antara mereka.
"Aku juga Kak"
Jawaban Kania membuat Alam berani mengikis beberapa senti yang tersisa di antara mereka.
__ADS_1
Dengan gerakan yang lembut Alam mulai menggerakkan bibirnya.
Alam melihat Kania memejamkan matanya. Seolah pertanda bahwa Kania memberikan lampu hijau untuk Alam melanjutkan aksinya.
Alam melepaskan sejenak c**manya untuk sekedar mengambil oksigen sebanyak banyaknya.
Dengan nafas yang memberubu, Alam menggendong tubuh ramping Kania menaiki tangga menuju kamar.
Tidak ada penolakan dari Kania. Wanita itu justru mengalungkan tangannya di leher Alam. Pasrah dengan apa ayang akan suaminya itu lakukan padanya.
Dengan perlahan Alam menurunkan Kania di ranjang, tanpa menjauhkan tubuhnya yang berada di atas Kania.
Dia justru mengungkung Kania di bawahnya dengan tatapan memuja. Mata Alam yang teduh sudah tidak bisa Kania lihat lagi. Yang ada hanya tatapan penuh g*irah di sana.
Sebagai wanita dewasa tentu saja Kania tau apa yang di rasakan suaminya saat ini. Apalagi Kania merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
"Kak___"
Cup..
"Jangan katakan apapun!!" Bisik Alam setelah memberikan kecupan di bibir Kania.
"Tap__"
Cup..
"Sudah kukatakan jangan katakan apapun sayang" Tekan Alam dengan suara yang parau.
"Ak___"
Kania sudah tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi. Bibirnya sudah di bungkam oleh Alam.
"Sayang bolehkan??" Suara Alam yang berat itu menunjukkan dia sudah tidak dapat menahannya lagi.
Dengan wajah yang memerah Kania menganggukkan kepalanya memberikan ijin pada Alam sepenuhnya.
Alam tersenyum tipis mencium kening Kania, lalu turun ke hidung dan kedua kelopak matanya.
"Kakak janji akan melakukannya dengan lembut" Bisik Alam kembali diangguki Kania.
Kania yang sudah tidak berdaya hanya bisa menerima apa yang Alam lakukan padanya. Terlebih lagi Alam melakukannya dengan sangat lembut hingga membuat Kania seakan terbang melayang.
__ADS_1
Malam pertama yang akhirnya terjadi setelah 5 bulan pernikahan mereka. Tapi itu tidak mengurangi rasa bahagia pada kedua anak manusia yang telah kekalahan itu
"Terimakasih kamu telah menjaganya untuk Kakak sayang" Alam memberikan kecupan pada kening Kania yang telah lebih dulu memejamkan matanya.