Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
39


__ADS_3

Alam meregangkan ototnya karena terlalu pegal semalaman menjadi bantal untuk Kania.


Saat ini ranjang di sebelahnya telah kosong, Alam membiarkan Kania bangun tiga puluh menit yang lalu. Sebenarnya dia masih mau berlama-lama di tempat tidur bersama Kania. Tapi mereka harus bersiap untuk pergi ke kantor.


Alam memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum turun menghampiri Kania di dapur.


-


-


-


Kania yang tengah sibuk dengan menu sarapannya tidak menyadari jika di meja makan sudah ada seseorang yang memperhatikannya.


"Sekarang kamu udah pinter masak ya Dek??" Sura Alam membuat Kania terlonjak hingga tidak sengaja jarinya terkena pisau.


"Aawww" Kania meringis kesakitan.


"Kamu kenapa Dek??" Alam berdiri menghampiri Kania yang memegangi jarinya.


"Kamu ngagetin tau!!" Omel Kania.


"Maaf"


Kania tak menggubris, dia masih fokus pada jarinya yang mengeluarkan darah.


Alam meraih tangan kania, membawa jarinya itu ke wastafel mencuci jarinya yang mengeluarkan darah itu hingga bersih.


"Masih keluaarrr!!" Ucap Kania dengan manja.


Alam menarik jari itu lagi, memasukkan ke dalam mulutnya. Menghisap jari itu dan menelan begitu saja darah yang keluar dari jari Kania tanpa rasa jijik.


Kini posisi wajah Alam begitu dekat dengan Kania. Karena Alam menundukkan kepalanya sejajar dengan Kania.


Dalam jarak sedekat itu Kania dapat mencium bau harum dari rambutnya yang masih sedikit basah. Di tambah bau parfum yang sama seperti pertama kali Kania bertemu di perusahaan setalah tiga tahun pergi. Parfum yang Kania belikan dulu.


"Sudah tidak keluar, sebentar ya" Alam membuka laci mencari sebuah plester luka di sana.


"Ini udah nggak papa kok" Ucap Kania sembari melihat jari cantiknya yang robek di bagian sampingnya.


"Udah nggak papa tapi harus tetap di plester biar nggak kena kuman!!" Ucap Alam sudah meraih jari Kania lagi.


Alam memasangkannya dengan hati-hati seperti memasang pada anak-anak yang takut akan menangis jika terlalu kasar.


"Kenapa kamu masih pakai parfum ini??" Tanya Kania tiba-tiba.


Alam yang masih memasang plester itu kemudian menghentikan tangannya. Melirik Kania sekilas lalu melepaskan tangan Kania yang sudah rapi terpasang plester.


Kania masih menunggu jawaban Alam yang tak kunjung keluar.


Alam menatap kedua manik mata Kania dengan intens. Menelisik lebih jauh ke dalam sana berharap bisa menembus dinding yang di buat oleh wanita yang dicintainya itu.


"Karena saat memakai parfum ini, Kakak merasa kamu selalu dekat dengan Kakak" Ucap Alam dengan suara yang berbisik.


Mata mereka masih saling mengunci. Bergerak ke kiri dan kanan, benar-benar mengamati setiap incinya.


Kania yang kalah dalam hal ini, dia menyerah. Kania memutus kontak itu terlebih dahulu.


"Kamu mandi saja dulu, biar Kakak hang teruskan" Alam tau istrinya itu berusaha menghindarinya.


Kania yang memang canggung dengan situasi itu berlalu begitu saja sesuai perintah Alam.


-


-


-


"Dek nanti pulang kantor kita makan di luar yuk??"


Alam membuka obrolannya di meja makan.


"Memangnya kenapa?? Tumben"


"Biar kaya orang-orang pacaran gitu. Kita kencan, ya??" Rayu Alam dengan wajah yang di buat lucu tapi menggelikan menurut Kania.

__ADS_1


"Emm boleh" Jawab Kania enteng.


"Yes!!" Sorak Alam dengan gembira membuat Kania mengulas senyum tipisnya.


"Kalau mau senyum ya senyum aja, nggak usah malu-malu gitu sayang" Goda Alam yang melihat senyum tipis yang sengaja di sembunyikan Kania itu.


"Nggak usah resek deh!!" Kesal Kania yang di sambut tawa lepas dari Alam.


-


-


-


Menurut Alam jam yang berputar hari ini begitu lama. Dia sudah tidak sabar ingin menghabiskan waktu bersama Kania di luar.


Jika ingat saat dulu Kania mengajaknya pergi berkencan pasti Alam selalu mempunyai banyak alasan. Sekalipun bisa, pasti dengan syarat mengajak Dania.


Alam saat ini benar-benar menyesali perbuatannya dulu. Hingga sangat ingin menggantinya dengan kenangan manis.


FLASHBACK ON


"Kak, kamu mau makan apa??" Tanya Kania pada Alam dengan memperlihatkan buku menu yang ada di tangannya.


"Samakan saja" Jawab Alam dengan acuh. Matanya masih menatap Dania, tak peduli dengan Kania yang berada di sampingnya terus mengajaknya berbicara.


"Habis ini kita nonton yuk Kak??" Ucap Kania lagi setelah seorang pelayan mencatat pesanan mereka.


Alam hanya diam saja karena sangat malas menyahuti Kania.


Hingga Dania yang berada di depan Alam, menyenggol Kaki Alam dengan kakinya. Memberikan isyarat agar Alam menjawab pertanyaan Kania.


"Iyaa boleh" Jawab Alam pasrah.


"Tapi__"


"Tapi harus sama Kak Dania kan??" Potong Kania dengan cepat.


"Hemmm" Jawab Alam dengan singkat.


"Tenang saja, aku sudah pesan tiga tiket kok. Aku tau kalian itu sahabat yang tidak bisa di pisahkan. Aku jadi berpikir kalau kalian masing-masing sudah menikah, apa akan tetap seperti ini??" Tanya Kania dengan sedikit candaan.


"Jelas tetap seperti ini!!" Jawab Alam dengan cepat sambil menatap Dania dengan tajam.


"Wah kalian bikin iri aja deh" Celetuk Kania.


"Sudah ayo makan dulu!!" Alam mengambil kesempatan mengalihkan pembicaraan Kania saat pelayan datang membawa pesanan mereka.


Nyatanya omongan Alam itu hanya bualan semata karena Alam masih terus berbicara dengan Dania.


Banyak topik pembicaraan yang nyambung di antara mereka hingga membuat Kania mati kutu dengan hanya diam menikmati makanannya.


Alam benar-benar mengacuhkan Kania atau memang tak ingat jika gadis yang berada di sampingnya adalah kekasihnya.


Aksi mendiamkan Kania itu berlangsung sampai ke dalam bioskop. Alam duduk di antara kedua Kakak beradik itu.


Di saat lampu bioskop di matikan, Kania mulai mengapit lelangan berotot milik Alam. Menyandarkan kepalanya di sana.


Alam sedikit risih dengan tindakan Kania itu, Alam melirik Kania yang memejamkan matanya.


Di dalam hatinya sempat menggerutu.


"Kenapa harus nonton jika hanya ingin tidur. Buang-buang waktu saja!" Batin Alam dengan kesal.


Namun kesempatan itu di manfaatkan dengan baik oleh Alam. Justru hatinya yang tadi menggerutu berubah menjadi berterimakasih lada Kania.


Karena jika Kania tertidur, maka Alam bebas menikmati film itu dengan Dania.


Dia menggenggam tangan Dania dengan tiba-tiba.


"Apa yang kamu lakukan!!" Bisik Dania dengan marah. Dia takut ulah Alam itu di ketahui oleh Kania.


"Dia tidur" Jawab Alam santai.


"Mungkin dia bosan menonton film seperi ini. Aku saja tidak suka" Ucap Dania.

__ADS_1


Dania memang tidak pernah menemani Alam nonton film kesukaannya. Dania lebih suka film yang bergenre horor atau semacamnya. Jadi saat Alam ingin menonton film kesukaannya, pria itu akan pergi sendiri tanpa Dania.


Alam menarik Dania ke dalam pelukannya. Mengusap kepalanya dengan lembut.


Untung saja mereka duduk di bangku paling belakang dan dalam keadaan gelap, sehingga tidak ada yang bisa melihat apa yang di lakukan Alam saat ini.


Sehingga tidak akan ada yang melihat pria yang membawa dua kekasihnya sekaligus, dengan kedua bahunya menjadi sandaran bagi dua kekasih itu di waktu yang bersamaan.


FLASHBACK ON


"Dulu aku benar-benar jahat. Jadi wajar jika sikap Kania sekarang berubah drastis padaku"


"Bahkan sekarang aku tau kenapa dulu Kania selalu tertidur saat menonton film kesukaanku"


Alam terkekeh pelan.


"Itu karena kamu hanya ingin menemaniku saja kan. Padahal kamu juga tidak suka sama sekali"


Alam bergumam seorang diri di ruangannya. Dia terus berkutat dengan masa lalunya, hingga tanpa terasa waktu yang dia tunggu telah tiba.


Dengan bersemangat Alam keluar dari ruangannya. Terus berjalan hingga membawa mobilnya ke tempat baisa dia menunggu Kania dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


GLEEKKK..


Kania jiga sudah tiba di sana, karena tadi Alam sempat melihat Kania juga sudah berjalan keluar Kantor.


"Sudah siap Dek??" Tanya Alam.


"Apaan sih, kaya mau kemana aja" Jawab Kania menatap Alam dengan aneh.


"Untuk kencan pertama setelah pernikahan kita" Ucap Alam dengan antusias.


"Dih" Kania tersenyum geli melihat tingkah Alam yang seperti itu.


-


Setelah beberapa waktu mengemudi mobil Alam tiba di sebuah cafe yang sangat Kania tau.


"Kenapa harus kesini??"


Tanya Kania dengan kesal. Kania tidak suka dengan cafe ini karena menyimpan kenangan buruknya waktu itu. Saat kue ulang tahunnya masih utuh karena Alam tidak datang ke cafe itu.


"Kakak tau Kakak pernah menyakitimu di sini. Jadi Kakak ingin sekali menghapus kenangan buruk itu dengan kebahagiaan"


"Maksudnya??" Tanya Kania dengan lirikan matanya.


"Ayo kita masuk dulu"


Mau tak mau Kania menuruti Alam. Mengikuti pria itu masuk ke dalam cafe yang sangat di hindari itu.


"Kita duduk di sana ya??" Kania mematung.


Kenapa juga Alam harus memilih meja yang sama di saat ulang tahun mengenaskan itu terjadi.


"Ayo sayang!!" Alam kembali menghampiri Kania dan menuntunnya berjalan menuju meja itu.


"Kakak sudah pesankan menu favorit kamu di sini. Kita tinggal tunggu saja"


"Hah, kapan??" Setau Kania sejak tadi Alam bersamanya. Jadi kapan dia bisa memesan makanan.


"Ada deh" Ucap Alam sok misterius. Sementara Kania berdecih kesal.


"Dek, Kakak tau kalau dulu Kakak sudah meninggalkan kenangan buruk di cafe ini buat kamu. Kakak minta maaf untuk itu"


Kania mulai menatap Alam. Hatinya mulai bertanya kenapa suaminya itu bisa tau, padahal dia tidak pernah bercerita pada siapapun.


"Ini" Alam menunjukkan sebuah foto yang membuat Kania terkejut.


"Inikan..?" Kania menutup mulutnya karena terkejut.


-


-


-

__ADS_1


-


Happy reading, jangan lupa untuk berikan like di karyaku ini ya... satu like kalian sangat berarti untukku.. Terimakasih😊


__ADS_2