
"Hay Kak Dania??"
"Farel??" Gumam Dania.
Saat Dania membalikkan tubuhnya, dia sudah melihat Farel.berada di belakangnya. Dengan kedua tangannya yang di masukkan kedalam saku celananya, Farel menatap Dania dengan aneh.
"Iya, aku Farel adikmu. Tidak, lebih tepatnya adik angkat mu" Dania terbelalak mendengar ucapan Farel itu.
"Apa dia sudah tau tentangku??" Batin Dania.
"Tidak udah kaget begitu. Gana rasanya mengetahui jika orang tuamu adalah pemilik perusahaan besar di negara ini??" Ucapan Farel itu seperti mencemooh Dania.
"Apa maksud kamu??" Dania masih berpura-pura bodoh di hadapan Farel.
"Yah seharusnya kamu senang, karena kamu bisa melepaskan pekerjaanmu yang gajinya tidak seberapa itu dan memanfaatkan kekayaan Pak Jonatan yang terhormat itu" Ucapan Farel kali ini benar-benar mampu menyinggung perasaan Dania.
"Kalau aku memang benar seperti itu, mau memanfaatkan kekayaan Ayah kandungku sendiri, tentu saja itu semua adalah hak ku karena aku anak satu-satunya. Tapi sayangnya aku tidak seperti itu. Aku tidak pernah menginginkan menjadi anak dari Ayah angkat mu itu, aku sudah bahagia dengan hidupku sendiri!! Jadi kalau kamu menginginkan kekayaan Ayah kandungku silahkan ambil aku tidak butuh!!"
Ucap Dania dengan tenang meski sebenarnya di dalam hatinya sudah memanas.
"Tidak usah munafik seperti itu, semua orang menginginkan uang dan kekayaan. Aku yakin itu hanya kata-katamu saja untuk menutupi niatmu yang sesungguhnya" Ucap Farel masih saja merendahkan Dania.
"Aku tidak percaya jika Farel yang dulu aku anggap baik dan ramah pada semua orang ternyata salah. Yang ada di hadapanku saat ini hanyalah seorang pria yang putus asa, dia putus asa karena semua yang pernah ada di dalam hidupnya ternyata bukan miliknya lagi. Pria tamak dan angkuh, yang rela melakukan apa saya untuk memenuhi keinginannya" Balasan Dania itu mampu menampar Farel dengan keras.
Memang dulu Farel bukanlah pria yang seperti Dania katakan itu. Farel dulu adalah pria yang rendah hati dan baik kepada semua orang. Tapi sejak pernikahan Kania itu, Farel menjadi pria yang ambisius dan keras kepala.
"Itu semua bukan urusanmu!!" Farel yang tampak mulai emosi mulai mendekati Dania.
"Hay sayang, kamu ngapain di sini, aku udah nungguin kamu lama loh" Tiba-tiba saja Ardan sudah berada di samping Dania, memeluk pinggangnya dengan posesif. Entah munculnya dari mana Dania tidak tau.
__ADS_1
Dania masih mematung karena Ardan yang memeluknya. Tapi dari sorot mata Ardan, Dania bis atau kalau Ardan sengaja melakukan semua itu untuk menghentikan Farel.
"Ohh, jadi ini calon menantu konglomeratnya??" Sindir Farel menatap Ardan dengan remeh.
"Farel!!" Ucap Dania, ingin menghentikan ocehan Farel.
"Selamat ya bro, bentar lagi lo bakalan jadi Kakak ipar gue. Ah bukan, lebih tepatnya jadi Kakak ipar angkat gue. Jadi menantu orang kaya. Dan lo bisa manfaatin harta Papa angkat biar lo kelihatan berkelas sedikit"
"Farel, hentikan omong kosong mu itu!!" Farel tidak mendengarkan peringatan Dania tapi Dania justru semakin menjadi.
"Ambilah semua yang kamu mau, aku tidak butuh sama sekali. Dan jangan pernah mengusikku, apalagi menghina calon suamiku. Apapun yang ada pada dirinya itu lebih berharga daripada mulut sampah mu itu!!" Dania menarik tangan Ardan untuk pergi dari sana meninggalkan Farel yang belum sadar juga dari tingkah kekanakannya itu.
Setelah Farel tak terlihat lagi Ardan menghentikan langkahnya. Hal itu membuat Dania yang masih menarik tangan Ardan juga ikut berhenti.
"Kenapa??" Tanya Dania.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?? Anak orang kaya?? Dan kenapa pria itu mengaku adik angkat mu?? Bukankah dia anak pemilik perusahaan tempat Alam bekerja, dia juga yang sudah menjebak Alam kan??" Ardan tampak masih kebingungan, dia meminta penjelasan dari Dania.
Dania hanya mengangguk saja, dia juga tidak mungkin menyembunyikan semua itu dari Ardan.
Ardan meraup wajah dengan satu tangannya. Dia merasa sangat kecil di hadapan Dania saat ini.
"Kenapa?? Apa yang akan kamu lakukan setelah kamu tau tentang semua ini??" Dania melihat reaksi Ardan yang tampak kebingungan itu menjadi berpikir terlalu jauh.
"Aku tidak tau, tapi saat ini aku sangat tidak percaya diri berhadapan denganmu Dania" Ucap Ardan.
"Terus mau apa kamu?? Mau menyerah?? Mau mengakhiri kekacauan yang sudah kamu ciptakan sendiri??" Dania tampak kesal karena Ardan seperti mempermainkannya.
"Bukan begitu Dania"
__ADS_1
"Lalu apa?? Kamu merasa tidak sebanding denganku yang ternyata anak orang kaya?? Kamu merasa tidak pantas untukku begitu kan??" Dania menatap tajam pada Ardan
"Itu alasan klasik yang begitu mudah di tebak Ardan!! Asal kamu tau, aku tidak pernah berharap menjadi anak dari pengusaha kaya raya itu. Bahkan aku tidak mau mencari orang tua kandung ku dari dulu. Walau akhirnya aku tau sekarang Ayahku sekaya itu tapi aku tidak peduli. Aku tidak mau hartanya sepeserpun!!"
Ardan masih tetap diam mendengarkan kemarahan Dania itu.
"Tapi karena sekarang sudah tau siapa Ayah kandungku, dan kamu sudah mengatakan ingin menikahi ku, aku hanya memintanya menjadi wali nikahku. Itu saja tidak lebih"
Mata Dania mulai berkaca-kaca. Dia membayangkan jika harapan yang telah dia berikan kepada Bundanya itu hancur begitu saja karena Ardan ragu dengan keputusannya sendiri.
"Sudahlah, aku tau kamu hanya bercanda dengan ucapan kamu waktu itu, dan malah terjebak dalam situasi seperti ini karena Bunda. Kita juga baru kenal dan kamu sudah mengatakan cinta, aku yakin perasaan kamu itu hanya euforia sesaat saja. Jadi tidak usah di lanjutkan lagi, aku akan coba bicara pelan-pelan sama Bunda. Kamu tidak usah khawatir"
Dania mengusap air matanya yang jatuh tanpa permisi itu. Kemudian dia berbalik ingin meninggalkan Ardan. Namun Ardan justru menarik tangan Dania lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Dania.
Meski sempat terkejut dengan apa yang Ardan lakukan saat ini, Dania justru berlahan memejamkan matanya. Menikmati sapuan lembut yang Ardan lakukan pada bibirnya.
Dania bingung dengan reaksi tubuhnya itu. Dulu saat bersama Alam saja harus menunggu hampir dua tahun untuk mendapatkan ciuman pertama mereka. Tapi kali ini, belum ada dua bulan mereka mengenal tapi Dania tidak mengontrol tubuhnya sendiri.
Dania sudah tidak sadar lagi jika mereka masih berada di pinggir jalan. Justru Dania juga ikut menggerakkan bibirnya untuk mengimbangi Ardan. Untung saja jalanan itu sangat sepi di malam hari.
"Maafkan aku yang sempat ragu dengan dengan keadaanku yang tak sebanding denganmu. Tapi aku sudah pastikan jika perasaanku ini benar adanya dan buka euforia sesaat saja" Ucap Ardan beralih mendekap erat Dania setelah puas bibir mereka saling berkenalan untuk pertama kalinya.
"Kamu bisa dengar sendiri suara detak jantungku ini kan?? Jika dia bisa berbicara pasti sudah membenarkan ungkapan cintaku ini" Berlahan tangan Dania bergerak naik untuk melingkar di pinggang Ardan. Untuk kedua kalinya Ardan memeluknya dan kali ini Dania membalasnya.
Setelah beberapa saat Ardan mengurai pelukannya itu, lalu memegang kedua lengan Dania di kedua sisinya. Dania melihat Ardan yang menatapnya dengan lembut.
"Aku akan tetap menikahi mu. Aku tidak akan pernah ragu lagi. Meski kamu anak raja sekalipun aku akan tetap memintamu kepada orang tuamu" Dania mengangguk dengan senyum cantiknya.
"Ayo aku antar pulang, aku tidak mau calon istriku ini di ganggu berondong lagi kaya tadi" Ardan meraih tangan Dania dan menuntunnya kembali ke tempat tadi untuk mengambil mobilnya.
__ADS_1
Dania hanya mengikuti Ardan saja dengan wajahnya yang memerah karena tersipu malu.