Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
51


__ADS_3

Setelah kepergian Dania, kini tinggallah Kania sendiri di dalam rumah itu. Istri yang masih menyandang status perawan itu memilih membersihkan dirinya seolah menghilangkan sisa-sisa sentuhan tangan Farel di tubuhnya. Walau Farel tidak bertindak terlalu jauh, tapi bagi Kania itu tetap hal menggelikan.


Kania membaringkan tubuhnya dengan asal di ranjang king size itu. Rasanya ranjang itu begitu luas saat dirinya yang hanya terbaring sendiri di sana.


"Kak maaf hari ini aku tidak datang menemui mu. Aku tidak mungkin berhadapan denganmu dengan keadaanku yang seperti ini" Gumam Kania dengan memejamkan matanya.


Kania meraih ponselnya dia baru ingat dengan benda pipih itu. Dia sudah menebak pasti Farel akan menerornya setelah dia sadar dari pingsannya.


Dan benar, puluhan pesan dan panggilan tercatat di sana. Puluhan pesan itu hanya berisi ancaman dari Farel untuk menghancurkan Alam.


Dia tau betul kelemahan Kania hanya terletak pada suaminya itu. Rasa takut menyerangnya seketika. Tapi dia juga tidak mau bertindak gegabah seperti kemarin. Sekaran ada Dania yang akan membantunya mengambil keputusan.


Kania beranjak dari ranjangnya. Dia memeriksa semua jendela dan pintu rumahnya. Kania ingat betul pesan Dania untuk mengunci pintu rapat-rapat.


Mengingat keg*laan Farel dia bisa saja menerobos masuk ke dalam rumah Kania saat dirinya sendiri seperti ini.


Kania melihat kembali ponselnya, tanpa pikir panjang lagi dia memblokir nomor ponsel Farel. Dia tidak mau terus di tekan Farel sebelum dia menemukan cara yang mampu membebaskannya dari pria yang terobsesi padanya itu.


Sejak Alam mulai di bawa ke kantor polisi, n*fsu makan Kania hilang. Dia hanya akan makan saat bersama Alam. Itupun karena ingin menemani Alam makan saja. Sebenarnya sungguh tidak ada niatan bagi Kania mengisi perutnya saat melihat suaminya dalam keadaan seperti itu.


Seperti hari ini, seharian dia tidak bertemu dengan Alam dan seharian ini pula tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuh Kania. Hanya ada air minum yang Dania ambilkan tadi. Tapi anehnya perut Kania terasa penuh, tanpa ada rasa lapar sama sekali. Karena otaknyalah yang sudah membuatnya merasa kenyang.


Malam ini Kania begitu gelisah. Hanya berbaring ke kanan dan kiri tanpa bisa memejamkan matanya. Wanita cantik itu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Dan rasa kantuk itu belum juga datang menghampirinya.


"Kak, apa kamu di sana bisa tidur nyenyak?? Tanpa aku sadari ternyata aku tidak bisa tidur tanpa kamu di sini" Kania menutup wajahnya dengan bantal, mulai terisak di bawah batal itu.


"Apa yang harus aku lakukan Kak?? Aku sungguh tidak bisa di andalkan. Maafkan aku yang sudah membuatmu seperti ini. Semua ini gara-gara aku" Ucap Kania dengan tangisannya yang mulai keras itu.


Tuk.. Tuk.. Tuk..


Kania menyingkirkan bantal di wajahnya kemudian menghentikan tangisannya. Dia menajamkan pendengarannya, jika tidak salah dengar Kania mendengar suara sepatu mendekat ke kamarnya.


"Ya Allah apa itu?? Lindungi aku ya Allah??" Kania takut jika Farel berhasil masuk ke dalam rumahnya.


Ceklek.. Ceklek..


Kania beringsut ke sisi ranjang. Dia semakin ketakutan karena seseorang berusaha membuka pintu kamarnya. Dan anehnya orang itu membawa kunci dari luar.


Kania mengambil lampu tidur sebagai senjatanya. Tidak peduli jika dia harus menyusul suaminya ke dalam penjara karena mencelakai seseorang. Yang Kania tau saat ini hanya ingin melindungi dirinya sendiri.


Berlahan pintu itu mulai terbuka dari luar. Kania yang sudah bersiap mengangkat lampu tidur itu tiba-tiba berhenti di udara.

__ADS_1


"Dek!!" Panggil orang itu.


"Tidak, ini tidak mungkin!! Pasti aku mimpi, tapi aku belum tidur sama sekali" Gumam Kania.


"Dek kamu belum tidur??"


"Kakak??" Panggil Kania.


"Iya ini Kakak Dek. Kakak pulang" Alam mendekati Kania yang berdiri di sisi ranjang.


"Ke-kenapa bisa??" Kania masih belum percaya dengan sosok di depannya itu.


Alam meraih lampu tidur di tangan Kania. Lalu meletakkannya kembali pada tempatnya.


"Ini nyata??" Tanya Kania lagi. Tangan yang sedari tadi masih menggantung di udara berlahan bergerak menyentuh wajah Alam yang terlihat kusam itu.


"Iya ini nyata, kamu tidak mimpi. Aku suamimu, aku sudah bebas sekarang" Lirih Alam, suaranya bergetar.


GREPPP...


Kania melingkarkan tangannya pada pinggang Alam. Dada bidang itu menjadi sandaran kepala Kania yang mulai menangis di sana.


"Kakak, akhirnya kamu pulang hiks.. hiks"


Mereka melepas rindu seperti tiga tahun tidak bertemu padahal baru empat hari mereka berpisah.


Alam mengurai pelukannya pada Kania, mengusap dengan lembut pipi istrinya yang basah. Menatap wajah sembab itu dengan rinci. Mengobati rasa rindunya pada istri cantiknya itu.


"Kenapa kamu jam segini belum tidur??" Tanya Alam dengan lembut.


Kania membalas tatapan Alam dengan aneh.


"Kakak pikir, aku bisa tidur nyenyak di rumah sementara suamiku tidur kedinginan di sana?? Asal Kakak tau, aku bahkan tidak bisa makan dengan be__"


Kania membelalakkan matanya, kalimatnya harus terhenti karena Alam telah menyumpal bibirnya dengan bibir milik Alam.


Kania sempat menahan nafasnya karena terlalu terkejut. Tapi gerakan bibir Alam mulai menyadarkannya.


Gerakan lembut dan basah itu mulai menguasai bibir Kania. Tidak ada penolakan dari Kania. Dia justru mulai memejamkan matanya secara berlahan. Memberikan kuasa sepenuhnya pada suaminya itu.


Tapi lama kelamaan pagutan itu mulai memanas, sudah ada yang mulai membara di dalam tubuh Alam.

__ADS_1


Dan di saat seperti ini pun otaknya masih bekerja dengan benar. Dia melepaskan c*uman panas itu. Menyatukan keningnya dengan Kania tanpa menjauhkan wajah mereka. Menghirup udara dalam-dalam setelah mereka kehilangan banyak pasokan oksigen.


"Maaf Kakak sudah kelewat batas lagi Dek" Bisik Alam.


"Tidak papa, sekarang lebih baik Kak Alam mandi aku siapkan bajunya" Ucap Kania menjauhkan wajahnya.


"Iya sayang" Patuh Alam.


Dia juga lelah dan ingin segera merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu dengan Kania sebagai guling hidupnya.


Tadi saat Alam mendengar kabar jika dia sudah di bebaskan tanpa syarat apapun, Alam langsung memilih pulang saat ini juga. Di dalam benaknya juga ada pertanyaan besar tentang siapa yang membebaskannya begitu saja, dan juga siapa yang membuat rencana serapi itu untuk menjebak Alam.


Tentu saja besok Alam akan mencari orang itu, tapi tidak sekarang. Untuk saat ini dia hanya ingin menebus rasa rindu pada istrinya itu.


Kania sudah menunggu Alam di ranjang dengan segelas teh hangat yang dia siapkan saat Alam mandi tadi.


Alam yang sudah segar dan harum dengan baju tidur yang telah di siapkan Kania kini duduk bersandar di ranjang sambil menikmati teh hangatnya.


"Senang rasanya bisa menikmati momen seperti ini lagi sama kamu Dek" Bahagia di wajah Alam tidak bisa di sembunyikan lagi.


"Tapi siapa yang sudah membebaskan kamu Kak?? Kenapa bisa keluar dengan mudah seperti ini??" Tebakan Kania jelas bukanlah Farel. Karena pria itu tadi masih saja mengancamnya.


"Kakak juga tidak tau Dek, yang jelas Kakak bebas tanpa syarat apapun" Jelas Alam yang memang tidak tau apa-apa.


"Aneh" Gumam Kania. Dan Alam mengangguk menyetujui pikiran sang istri itu.


Tapi ucapan Dania tadi melintas begitu saja di kepala Kania.


"Apa Kak Dania?? Tapi apa yang dia lakukan?? Nanti aku harus menemuinya" Batin Kania agar tidak didengar oleh Alam.


Karena Dania memegang rahasianya dengan Farel. Maka Kania tidak berniat memberi tahu Alam tentang kecurigaannya itu.


-


-


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa like dan votenya ya☺


__ADS_2