Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
62


__ADS_3

"Ap-apa?? Aku tidak salah dengar kan?? Benar kamu mau menikah denganku??" Ardan tak percaya dengan apa yabg ia dengar.


"Iya" Jawab Dania dengan senyum karena melihat reaksi Ardan yang lucu itu.


"Alhamdulillah akhirnya aku menikah juga" Ardan sampai berdiri dan memukul udara sebagai luapan rasa bahagianya.


Dania hanya dia terus melihat betapa bahagianya Ardan karena Dania menerima lamarannya.


"Duduklah, kamu belum mendengar tentangku" Ucap Dania menghentikan aksi konyol Ardan itu.


Seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Ardan menuruti perintah Dania dengan cepat duduk di samping calon istrinya itu.


"Apa yang harus aku dengar dari wanita cantik di depanku ini??" Tanya Dania membuatnya sedikit tersipu.


"Halah nggak usah gembel!!" Dania memberikan lirikan mautnya yang membuat Ardan bergidik.


"Iya maaf"


"Aku juga sama kaya kamu. Aku hanya anak terbuang yang beruntung bisa di temukan malaikat seperti Ayah dan Bunda" Ardan tak percaya sampai matanya melebar karena terkejut.


"Nggak usah kaget, semua juga udah tau kok" Ucap Dania tampak santai.


Kemudian Dania menceritakan semuanya kepada Ardan tentang dirinya. Kecuali hubungannya dengan Alam dahulu. Menurutnya Ardan tidak perlu tau karena semua itu hanya masa lalunya.


"Dan beberapa bulan yang lalu, aku baru saja bertemu dengan Ayah kandungku" Ucap Dania dengan pelan. Dia sebenarnya tidak ingin membahas hal ini. Tapi jika mereka berdua benar-benar menikah. Dania juga harus meminta Jonatan untuk menikahkannya.


"Apa?? Kok bisa??" Tanya Ardan.


"Iya, kita tidak sengaja bertemu. Dan wajahku ternyata mirip dengan almarhum istrinya. Hal itulah yang membuat dia curiga dan melakukan tes DNA"


Ardan tidak menyangka jika takdir Dania dan dirinya hampir mirip karena sama-sama tidak bisa menerima kasih sayang dari orang tua kandung mereka. Tapi Dania lebih beruntung karena bisa memiliki orang tua angkat.


Apalagi saat ini Dania telah bertemu dengan orang tua kandungnya.


Sementara Ardan tidak, dia hidup sendirian setelah keluar dari panti. Hidup sebatang kara di dunia yang kejam ini. Sepertinya Ardan meralat perasaannya dengan Dania itu. Nyatanya Dania lebih beruntung.


"Beri aku waktu untuk menyelesaikan suatu hal dulu, baru setelah itu aku ajak kamu ke rumah untuk memintaku secara langsung" Ucap Dania yang membuat tersenyum senang.


"Aku akan menunggu kapanpun itu asal kamu tetap menjadi istriku" Ardan menatap Dania penuh dengan cinta yang membara di dalam hatinya.


"Kita lihat saja nanti" Ardan akhirnya melihat senyum Dania yang begitu manis.


Dania nekat mengambil keputusan ini karena dia tidak ingin mematahkan hati Bunda yang sudah terlanjur bahagia seperti tadi.


Dania juga merasa aneh pada dirinya sendiri karena menerima Ardan begitu saja. Padahal Dania belum tau sifat Ardan itu bagaimana. Tapi setelah Ardan tadi memeluknya, merasakan kenyamanan di dalam dekapan itu. Ada sesuatu yang mendorong Dania meski hatinya merasa ragu


-


-


Kania terbangun dari tidurnya. Dia menatap sekitarnya yang sepi tak ada siapapun.


"Kak??" Panggil Kania pada Alam. Tapi tak juga ada jawaban.


Kania meraih ponselnya yang berada di atas nakas, mencoba menghubungi suaminya itu. Tapi samapi panggilan ke tiga tidak juga ada jawaban.


Ceklek...


Kania melihat seseorang yang di carinya muncul dari pintu itu.

__ADS_1


"Kakak dadi mana??" Tanya Kania sebelum Alam duduk di sampingnya.


"Maaf tadi keluar sebentar" Jawab Alam memalingkan wajahnya tidak berani menatap Kania.


Kania merasa aneh dengan sikap Alam itu.


"Kak lihat aku!!" Perintah Kania.


Dengan terpaksa Alam memalingkan wajahnya yang sudah tak berbentuk itu untuk menatap Kania.


"Astaghfirullah Kak, kenapa dengan wajahmu?? Apa yang terjadi??" Kania mengusap pipi dan sudut bibir Alam yang berdarah.


"Ssshhhhh..." Alam mendesis kesakitan.


"Kakak kenapa sebenarnya?? Berantem sama orang??" Kania terlihat marah namun sebenarnya sangat khawatir dengan keadaan Alam itu.


"Kenapa diam aja?? Kak!!" Kania kesal karena Alam hanya diam tidak mau menjawab pertanyaannya.


"Maaf Dek, tadi sebenarnya Kakak ketemu Farel" Jujur Alam pada istrinya.


"Apa??"


FLASHBACK ON


"Selamat sore Pak Alam, untuk apa anda ingin menemui saya?? Sudah bebas rupanya??" Wajah tengil yang di perlihatkan Farel saja sudah membuat Alam naik darah.


"Saya tidak bersalah jadi sewajarnya saya bebas" Jawab Alam dengan datar.


"Hahaha... Anda terlalu sombong rupanya" Tanpa ada penyesalan dan rasa malu sekalipun di wajah Farel. Padahal jelas-jelas dia yang sudah membuat Alam masuk penjara.


"Itu lebih baik daripada tidak punya rasa malu" Cibir Alam dengan suaranya yang masih stabil.


"Yan setidaknya saya tidak melakukan hal licik untuk mendapatkan apa yang saya mau" Alam melirik Farel yang wajahnya sudah terlihat merah padam.


"Itu bukan urusan anda!!" Geram Farel.


"Tentu urusan saya, karena sesuatu yang anda inginkan itu adalah milik saya, dan selamanya akan tetap menjadi milik saya!!" Alam menatap Farel dengan tajam.


Apapun akan dia lakukan untuk melindungi keluarganya dadi laki-laki seperti Farel. Dia tidak mau harga dirinya di injak-injak dengan kekuasaan Farel. Dia tidak peduli jika Farel memberikan ancamannya lagi.


"Dia seharusnya menjadi milik saya jika anda tidak memakai cara licik untuk menikahinya!!" Ucap Farel tepat di depan wajah Alam.


"Saya menikahinya atas keinginan orang tuanya. Saya juga sudah memberinya waktu untuk berpikir dan menunggu anda yang tidak kunjung datang. Bukan memberikan ancaman seperti anda. Bukankah jika seseorang sudah bertindak dengan ancaman, itu berarti sudah tidak ada harapan lagi?? Seharusnya dia menyerah jika pikirannya masih bisa berfungsi"


BUKKK....


Satu pukulan mendarat tepat di ujung bibir Alam hingga mengeluarkan sedikit noda darah.


"Apa hak anda mengatakan seperti itu?? Anda hanyalah orang rendahan tidak pantas mengeluarkan kata-kata seperti itu untuk saya" Farel sudah buta, dia sudah tersulut emosi. Pukulan demi pukulan dia layangkan di wajah dan tubuh Alam.


Tapi anehnya Alam tidak membalasnya sama sekali. Dia sepertinya pasrah tubuhnya di gunakan sebagai samsak tinju oleh Farel.


"Kembalikan Kania kepadaku!!" Lagi-lagi Farel sudah mengangkat tangannya ke udara, bersiap kembali untuk menghujam Alam dengan pukulan kerasnya.


"Berhenti!!" Suara yang familiar di telinga Farel itu langsung menghentikan aksi beringas Farel


"Papa??" Gumam Farel.


"Apa yang kau lakukan anak berandalan?? Belum puas kau membuat masalah hah??" Jonatan mendekati Farel dengan yang sudah terkepal kuat.

__ADS_1


BUKK...


Sebuah tinjuan Jonatan berikan kepada anak angkatnya itu hingga tersungkur ke belakang.


"Sudah Papa peringatkan padamu untuk tidak bertindak sesukamu lagi!! Tapi ternyata kau tidak mendengarkan peringatan Papa itu!! Sekarang terserah padamu, apapun yang kau lakukan Papa tidak akan pernah ikut campur lagi. Bahkan jika kau di penjara karena Pak Alam melaporkanmu Papa tidak peduli!!"


Jonatan benar-benar habis kesabaran. Dia kehilangan Farel yang dulu penurut dan rajin. Yang ada sekarang hanya Farel yang pembangkang dan bertindak semaunya.


"Jangan pernah gunakan kekuasaan mu untuk mengancam orang lain, karena pemilik kekuasaan sesungguhnya sudah Papa temukan" Akhirnya Jonatan memberitahu Farel tentang anak kandungnya yang sudah di temukan.


Deg..


"Apa Pa?? Ja-jadi anak Papa sudah ketemu?? Siapa Pa?? Siapa dia??" Tanya Farel dengan penasaran.


"Kamu tidak perlu tau!! Urus saja urusanmu dengan Pak Alam" Sebelum Jonatan pergi, dia sempat menghampiri Alam yang masih duduk di lantai dengan wajahnya yang lebam-lebam.


"Pak Alam, saya minta maaf atas apa yang di lakukan Farel. Saya tidak akan menghalangi anda untuk melaporkan dia ke pihak berwajib. Biarkan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri" Jonatan menepuk pundak Alam sebentar lalu pergi di ikuti oleh asistennya.


Alam menatap Farel yang terdiam dengan tatapan kosong itu dengan senyum miringnya. Berlahan dia bangkit meski merasakan sakit di perutnya.


"Saya akan melakukan visum dan menyerahkan bukti ini ke kantor polisi. Tapi saya juga bisa membatalkan laporan saya asal anda bersedia berjanji hitam di atas putih untuk tidak mengganggu keluarga saya lagi. Atau anda benar-benar akan kehilangan kepercayaan Papa ANGKAT anda itu" Ucap Alam yang mantap tajam pada Farel.


"Cih... Ternyata anda menjebak saya"


"Saya hanya meniru apa yang anda lakukan sebelumnya. Bukankah melawan orang licik harus lebih licik??"


Alam pergi meninggalkan Farel yang tak kunjung memberinya jawaban. Tapi dia puas apa yang telah direncanakannya berjalan dengan lancar.


Dia tidak mau lagi kutu itu mengusik ketenangan keluarga kecilnya. Dan memberinya sedikit ancaman adalah jalan satu-satunya.


FLASHBACK OFF


"Awwww..." Alam memekik karena Kania menekan pelipisnya yang lebam itu.


"Makanya jangan sok-sokan jadi samsak tinju kaya gini!! Lebam kaya gini udah kesakitan. Apalagi kalau Farel nekat dan melakukan yang lebih parah!! Kalau kamu kenapa-kenapa gimana??" Kania meluapkan kekesalannya. Kania menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Kania menangis karena rasa khawatirnya pada Alam.


Kania tau Alam melakukan itu semua untuk melindungi harga dirinya. Tapi Kania takut jika Alam akan celaka sendiri nantinya.


"Maaf Dek, Kakak janji nggak akan kaya gini lagi. Jangan nangis dong" Alam bangkit dan memeluk istrinya itu. Mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


"Habisnya kamu itu nekat banget orangnya!! Aku kesel!!!" Kania mencubit perut Alam yang banyak roti sobeknya itu.


"Sshhhh sakit Dek" Alam meringis kesakitan. Kania langsung menyingkap kaos yang di kenakan Alam.


Kania langsung menatap tajam Alam setelah melihat perut Alam yang nampak membiru.


"Jadi perut kamu juga jadi korban??" Tanya Kania syok.


Alam hanya mengangguk dengan menggaruk tengkuknya.


"Aku nggak rela papan cuci ku jadi kaya gini!! Cepat sana kamu belu obat biar aku obati luka kamu, wajah kamu juga harus si bersihkan!!" Perintah Kania dengan wajahnya yang sudah memerah menahan amarah.


"Kakak malas ke apotek Dek. Kakak ke IGD aja ya?? Minta di obati di sana??" Ucap Alam dengan malas.


"Oohh jadi perutnya pingin di usap-usap sama perawat yang bening-bening?? Gitu iya??" Ucapan Kania halus tapi tampak menakutkan bagi Kania.


"Enggak Dek, bukan gitu. Ya udah Kakak keluar sebentar cari obat"


"Hemmm"

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi Alam pergi membeli apa yang dia cari. Daripada mendapat omelan dari induk singa yang sudah mulai posesif.


__ADS_2