Cinta Tulus Kania

Cinta Tulus Kania
41


__ADS_3

"Kita ketemu di sana aja kali ya Rel, nggak enak juga sama teman kantor" Akhirnya Kania mengambil jalan tengah itu.


"Jadi mereka menyembunyikan pernikahan meraka?? Tapi untuk apa, bukannya Alam pernah bilang jika hubungan mereka sudah membaik" Batin Dania.


"Aku tau pasti kamu akan menolak ajakan ku ini Kania, kamu pasti memikirkan perasaan suami kamu itu" Farel juga berbicara di dalam hatinya..


"Ya udah nggak masalah, yang penting kita ketemu di sana" Ucap Farel berusaha menguasai dirinya agar tidak meledak saat itu juga.


"Hehe iya Rel" Senyum Kania dengan canggung.


Dia kembali melirik suaminya. Alam masih diam dan menikmati makanannya seolah tidak mendengar pembicaraan mereka.


Tapi dengan kepekaan tingkat tinggi, Kania tau suaminya itu sedang kesal karel.


Entah dorongan dari mana, Kania meraih tangan Alam yang tidak memegang sendok. Mengusapnya pelan, seolah mengatakan pada Alam mengurangi rasa kesalnya.


Tentu saja hal itu di sambut baik oleh Alam. Dia segera membalik telapak tangannya meraih tangan Kania kembali dan menyatukan jari-jari mereka.


Dan aksi romantis mereka itu tak luput dari pandangan dua orang di depannya. Mereka terpaku dengan pikirannya masing-masing.


Tapi satu hal yang sama-sama mereka rasakan, yaitu rasa sesak di dalam hati mereka.


"Maaf kami sudah selesai, jadi kami akan pulang duluan" Putus Alam dengan tiba-tiba membuat Kania hampir saja tersedak minumannya.


"Ayo sayang" Alam meraih tas Kania yang berada di sebelahnya. Kemudian membantu Kania berdiri dengan meraih lengannya.


"Iy-iya ayo. Maaf ya Rel, Kak. Aku duluan" Ucap Kania sambil berjalan karena Alam terus saja menarik lengannya menjauh dari tempat itu.


"Iya hati-hati Dek" Balas Dania dengan suara yang sedikit keras berharap Kania masih bisa mendengarnya.


Mereka berdua masih menatap kepergian sepasang suami istri itu.


Rasa sakit sudah pasti mereka rasakan. Rasa yang pernah singgah di hati mereka tidak mungkin hilang begitu saja.


"Benar kamu sudah rela melihat mereka berdua?" Tanya Farel tiba-tiba.


"Maksudnya??"


"Aku yakin jika di dalam hatimu masih berharap Alam kembali padamu" Tebak Farel melirik wanita di sebelahnya itu.


Dania tidak dapat mengelak, nyatanya apa yang di katakan Farel adalah benar adanya. Mulutnya memang selalu tersenyum dan mengatakan jika dirinya ikhlas. Namun hatinya tidan semudah itu.


Dania juga heran kenapa Farel bisa tau tentang masa lalunya.


"Kenapa kamu tidak mencoba mengambil kembali sesuatu yang seharusnya sudah menjadi milikmu??" Pertanyaan Farel sukses menarik perhatian Dania dari pintu yang menelan Kania dan Alam itu.


"Itu bukan milikku, dulu aku yang sudah menyerahkannya sendiri" Lirih Dania.


"Tapi dia membawa apa yang seharusnya aku miliki" Sahut Farel dengan tegas.

__ADS_1


"Farel, Kania adikku jadi aku mohon biarkan dia bahagia. Jangan usik kebahagiaannya. Aku tau kamu belum merelakan Kania. Tapi dia sudah memilih jalannya. Jadi aku harap kamu mengerti itu" Dania menatap Farel tak suka.


Dirinya memang masih mencintai Alam tapi tidak mungkin dia menyakiti Kania untuk yang ke dua kalinya.


Dania juga ingat, dia bisa jadi seperti sekarang ini karena siapa. Hanya manusia berhati batu yang tega menyakiti orang yang sudah berbaik hati merawat dan memberikan kasih sayang untuknya.


"Ayolah Dania, jangan munafik seperti ini. Aku tau, pasti ada niat di dalam hati kamu untuk merebut Alam kembali kan??" Ucap Farel dengan remeh.


"Maaf Tuan Farel yang terhormat. Aku tidak sepicik itu. Sepertinya Tuhan memang sudah mentakdirkan Kania untuk tidak berjodoh dengan orang yang berpikiran jahat sepertimu!!" Ucap Dania dengan menatap Farel tajam.


"Saya permisi!!" Dania pergi meninggalkan Farel dengan hatinya yang di penuhi amarah.


Ternyata Dania salah menilai Farel. Dia bukanlah orang yang baik dan mudah di ajak berteman. Pria itu hanya membawa pengaruh buruk untuk hubungannya dengan Kania. Kini Dania tau, niatnya mendekati Dania hanya untuk memperkeruh hubungannya dengan Kania.


Dania berjalan meninggalkan cafe itu dengan terus mengumpat di dalam hatinya.


BRUKKK..


"Maaf, aku nggak sengaja" Ucap Dania sambil mengibaskan bajunya yang terkena kopi dari orang yang ditabraknya itu.


"Nggak papa, tapi lain kali kalau jalan pelan-pelan saja Mbak" Ucap pria itu.


"Iya sekali lagi saya minta maaf" Dania mengakui jika dirinya bersalah. Dia terlalu fokus dengan pikirannya tentang Farel sehingga tidak memperhatikan jalannya.


"Udah nggak papa kok, tapi baju kamu jadi kotor" Pria itu memperhatikan baju Dania yang terkena banyak tumpahan kopi dari atas sampai bawah.


"Pakai ini untuk menutupinya, kamu pasti nggak nyaman kan??" Dania tidak tau kapan pria di depannya itu melepaskan jaketnya.


Dania sempat tertegun sejenak.


"Nggak usah, ini nggak terlalu parah kok. Habis ini juga langsung pulang, jadi ngga usah repot-repot" Kalau dipikir-pikir lagi Dania juga sungkan, karena dirinya yang menabrak pria itu tapi malah pria itu juga yang bertanggung jawab.


"Sudah pakai saja" Dania menahan nafasnya karena pria itu tiba-tiba saja memakaikan jaketnya dari bagian depan. Sehingga rasanya Dania berada di pelukan pria asing itu.


"Te-terimakasih" Gugup Dania.


"Haduh kenapa jadi gugup begini. Lagian kenapa aku diam aja saat dia memakaikan jaket ini. Kaya wanita gampangan yang mau saja di dekati laki-laki tidak di kenal" Rutuk Dania dai salam hati.


"Sama-sama, kalau gitu aku pergi dulu. Hati-hati di jalan, jangan nabrak orang lagi Mbak" Ucap pria itu kemudian berlalu pergi meninggalkan Dania.


"Tapi ini jake___" Ucapan Dania tak di lanjutkan karena pria itu sudah berada di seberang jalan dan tak mungkin mendengarnya.


"Apa dia bilang tadi?? Mbak?? Baru kali ini ada yang memanggilku seperti itu. Bahkan Kania saja tidak pernah" Gerutu Dania sambil terus tersenyum membayangkan wajah tampan pria tadi.


-


-


-

__ADS_1


Sementara itu di dalam kamar yang bernuansa putih dan selalu tercium bau harum khas pemiliknya itu telah terjadi keheningan sejak tadi.


Kedua penghuninya itu masih sama-sama diam belum membuka suaranya.


Meski sudah duduk berdampingan di atas ranjang, tapi salah satunya masih fokus pada laptop di pangkuannya.


"Kak??" Si wanita mulai bersuara karena tidak tahan dengan keheningan itu.


"Hemmm" Lirik suaminya dengan malas.


"Aku tau kamu marah karena ucapan Farel tadi. Tapikan aku juga sudah menolaknya. Jadi udah dong, nggak usah manyun terus" Kania mencoba merayu suaminya yang terkena virus cemburu itu.


"Kakak kesal sama dia!!" Ucap Alam menatap Kania.


"Iya aku tau"


"Kenapa sih dia masih terus ganggu kita?? Apa sebenarnya dia masih nungguin kamu??" Alam semakin memperdalam tatapannya.


Kania diam, bagaimana mungkin dia akan membenarkan pertanyaan Alam itu. Bisa-bisa suaminya itu mencincangnya.


"Jadi itu benar?? Bisakah Kakak menyimpulkan diamnya kamu sebagai jawaban??" Ucap Alam dengan kecewa.


Kania semakin di buat terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Dia sendiri juga gundah dengan perasaannya sendiri. Di dalam otaknya dia terus menolak segala bentuk bukti cinta yang di berikan oleh Alam. Tapi di sisi lain hatinya mulai terbuai dengan pesona suaminya itu.


"Apa kamu juga sudah bersiap akan melanjutkan hubungan kamu dengan Farel lagi setelah kita berpi___" Alam berhenti sejenak.


"Kakak bahkan tak sanggup mengucapkan itu" Wajah tampan mulai terlihat sendu. Bahkan awan mendung sudah mulai tampak dari mata itu.


Ada rasa nyeri di dalam dadanya ketika melihat pria yang dulu terlihat garang dan dingin kini sangat rapuh didepannya.


"Apa cinta ku sama sekali belum menyentuh hatimu lagi Dek??"


Air mata itu semakin menggenang di pelupuk mata Alam.


Dia dulu memang menyakiti hati seorang perempuan yang sangat mencintainya. Menyia-nyiakan cinta itu hingga perempuan itu pergi jauh darinya. Tapi apa kesalahannya itu sungguh tidak bisa di maafkan.


Tes...


Tepat saat air mata itu menetes Kania sudah menyatukan bibir mereka terlebih dahulu.


-


-


-


-


Happy reading, jangan berikan lupa like dan komentar yang membangun ya😊

__ADS_1


__ADS_2