
"Kakak!!" Panggil Kania dengan suara bergetar menahan tangis.
Alam seakan tak percaya mendengar suara istrinya itu.
"Kak" Kania memanggil sekali lagi dengan langkahnya yang semakin mendekat.
Kali ini Alam yakin itu suara istrinya. Dia mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.
"Dek" Alam menangkap sosok istrinya yang berdiri tak jauh darinya. Dia berdiri ingin mendekati Kania.
Karena tak tahan lagi Kania berlari menghambur ke pelukan pria yang sedang rapuh itu. Kania menumpahkan air matanya di dada bidang itu.
"Kenapa kamu kesini?? Kakak sudah bilang kalau Kakak nggak papa" Alam berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia tidak ingin membuat Kania semakin khawatir padanya.
"Kakak pikir aku bisa tenang di rumah sementara suamiku disini dengan kondisi seperti ini??"
"Maaf sudah membuatmu khawatir" Alam semakin menarik Kania ke dalam pelukannya.
Setelah puas menangis di pelukan hangat itu. Kania berlahan mengurainya, kemudian mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.
"Kakak pasti lapar kan?? Kita makan dulu ya. Aku bawa sup ayam kesukaan Kakak. Tapi maaf ya aku beli karena ngga sempat pulang untuk masak dulu" Kania mengambil plastik yang tadi sempat dia letakkan asal di sofa.
"Nggak papa, makasih ya sayang" Ucap Alam dengan mata yang berbinar. Keadaannya kali ini membawa hikmah untuk hubungannya dengan Kania.
Alam memperhatikan Kania yang sedang membuka sup ayam yang berada di sebuah cup plastik yang cukup besar. Dari samping saja Kania terlihat sangat cantik walau dengan mata yang sembab dan hidung yang memerah.
"Ayo makan" Kania mengulurkan satu cup sup untuk Alam.
"Kakak minta suapi boleh??" Tanya Alam dengan ragu.
Tanpa di duga Kania tersenyum tipis lalu mengangguk. Jangan tanyakan lagi bagaimana bahagianya Alam. Meskipun terkurung di tempat asing, selama Kania bersikap manis seperti itu Alam pun sanggup.
Suapan pertama sudah di terima Alam. Rasa sup yang biasa saja entah kenapa terasa begitu nikmat jika melalui tangan istrinya itu.
Kania memang sedari tadi melihat Alam yang tersenyum bahagia. Tapi tidak dengan dirinya, dia diam dan terus menunduk. Hanya mengangkat kepalanya sesekali untuk memastikan suapannya tepat ke bibir Alam.
"Hey, kamu kenapa??" Alam terkejut saat mendengar suara isakan Kania yang sudah tidak bisa di tahan.
"Aku aku__ hiks.. hiks" Kania tidak mampu mengeluarkan kalimatnya.
"Dek, bilang sama Kakak" Alam meraih dagu Kania agar dia mau menatapnya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melihatmu seperti ini hikss..hikss.." Kania tau jika suaminya itu menanggung beban yang sangat berat. Tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum di depan Kania, dan itu justru membuat hati Kania semakin sakit.
"Jangan menangis, kamu harus percaya sama Kakak. Karena ini tidak akan lama, karena Kakak benar-benar tidak bersalah"
"Aku percaya sama kamu tapi sebenarnya apa yang terjadi samapi kamu harus terseret ke dalam kasus ini??" Tanya Kania.
"Kakak juga tidak tau, tiba-tiba di temukan dokumen proyek yang sebelumnya Kakak telah tanda tangani. Tapi di dalamnya jelas beda dengan yang sebelumnya Kakak lihat. Dan di dalam sana jelas sekali penyelewengan dana dari proyek itu, dan itu semua mengalir ke sebuah rekening atas nama Kakak. Dan parahnya lagi di sana juga ada bukti kalau rekening itu di buat oleh Kakak. Padahal sama sekali tidak" Jelas Alam.
Kania sangat syok mendengarkan penjelasan Alam itu.
"Berarti ada yang sengaja menjebak kamu Kak" Kania menggenggam erat tangan Alam. Memberikan kekuatan penuh untuk suaminya itu.
"Sepertinya begitu" Ucap Alam dengan pasrah.
"Tapi ada yang aneh selain itu Kak. Saat aku datang kesini mereka seolah-olah tau kalau kamu memang sudah menungguku. Aku dengan bebas bisa masuk ke sini tanpa harus menunjukkan kartu identitas ku. Dan tempat ini, kamu hanya tertuduh dan belum resmi tersangka. Kamu juga bukan narapidana kasus berat, tapi kamu sudah berada di tempat seperti ini. Bukankah itu aneh??" Otak pintar Kania mulai bekerja.
"Kamu benar Dek. Tapi kamu tenang saja, Kakak akan menyuruh Ardan untuk menemui pengacara Kakak. Mereka akan mencari bukti yang bisa meringankan Kakak. Kamu tidak udah khawatir ya" Alam mengusap lembut rambut panjang Kania.
Sementara Kania hanya mengangguk agar Alam puas tapi sesungguhnya di dalam hatinya masih tetap memikirkan keadaan suaminya itu.
"Dan satu lagi Dek. Kakak minta kamu jangan katakan pada Mama tentang maslah ini ya??"
"Tapi Kak"
Yesi adalah orang tua satu-satunya yang Alam punya. Jadi dia tidak mau membuat Mamanya itu syok dan mempengaruhi kesehatannya.
"Baiklah" Tak ada pilihan lain bagi Kania selain menuruti permintaan suaminya itu.
"Sekarang lebih baik kamu pulang, ini sudah malam. Kakak akan baik-baik saja di sini"
Kania sebenarnya juga berat meninggalkan Alam di tempat yang seperti itu. Tapi tidak mungkin juga dia bermalam di sana.
"Iya aku pulang. Besok aku datang lagi ke sini. Dan ini baju ganti buat Kakak" Kania memberikan paper bag berisi kaos oblong dan juga celana panjang yang lebih nyaman dari baju kantoran yang di kenakan Alam itu.
"Terimakasih untuk semua perhatian mu Dek"
"Sama-sama. Aku pulang dulu" Kania meraih tangan Alam lalu mendaratkan bibirnya di punggung tangan itu. Sungguh pemandangan yang menyejukkan bagi Alam. Hatinya berdesir merasakan bahagia yang amat sangat membuncah.
"Hati-hati ya sayang" Ucap Alam dengan senyum sumringah seolah lupa dengan kondisinya saat ini yang berada di tempat paling pengap yang pernah dia tempati.
Kania hanya menjawab dengan senyuman tipis di bibirnya.
__ADS_1
-
-
-
Saat Kania baru saja keluar dari kantor pemeriksaan yang lebih tepat di sebut dengan ruang isolasi itu.
Udara segar bisa kembali di hidupnya setelah lebih dari satu jam dia hanya menghirup udara yang begitu pengap.
Kania tidak sanggup membayangkan jika Alam terus berada di dalam sana. Kania meringis memikirkan nasib suaminya itu.
Kaki jenjang itu terus membawa Kania sampai ke tepi jalan untuk mencari taksi yang bisa segera membawanya pulang.
Namun tangan Kania yang ingin melambai mengehentikan taksi harus terhenti dengan suara dering telepon dari ponselnya.
Nomor Farel yang menjadi pemanggil di sana. Kania ragu untuk mengangkat panggilan itu. Pasalnya sejak kejadian malam itu Kania sengaja menghindari Farel.
Hingga dering itu berhenti Kania belum juga mengangkatnya. Sampai beberapa detik kemudian ponsel itu kembali berbunyi.
Kali ini Kania bertekad untuk mengangkatnya.
"Halo?" Sapa Kania lebih dulu.
"Hay Kania" Jawab Farel dengan suara yang sangat aneh di telinga Kania.
"Iya, ada apa Rel??"
"___________"
Kania meremas ponselnya dengan kuat setelah mendengar kalimat panjang dari Farel. Air mata kekesalannya keluar begitu saja meski saat ini Kania berdiri di tepi jalan.
-
-
-
-
Happy reading..
__ADS_1
jangan lupa beri like dan komentar kalian yaa..
Terimakasih😊😊