
"Dek udah dong marahnya" Alam masih saja membujuk Kania yang masih mendiamkannya.
Sejak pulang dari rumah sakit tadi Kania melakukan aksi diamnya karena kesal dengan Alam. Kania merasa malu karena Alam menanyakan tentang hal-hal vulgar kepada Dokter kandungannya tadi.
Kania masih terus diam dengan tidur membelakangi Alam. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Tangan Alam meraih pinggang Kania dan membawanya mendekat padanya. Alam mencari kenyamanan untuk tidur sambil memeluk sang istri walau Kania masih terus saja acuh.
Kania mulai bergerak menolak pelukan Alam dari belakang itu. Malam ini dia sudah bertekad akan benar-benar mogok bicara dengan suaminya itu. Tapi sebenarnya dia tidak benar-benar marah, hanya sedikit kesal saja karena malu.
"Kakak nggak akan lepas kalau kamu belum mau bicara sama Kakak!!" Alam justru membenamkan wajahnya pada leher Kania. Menciumnya berkali-kali hingga membuat Kania merasa kegelian.
Akhirnya justru yang kalah, aksi diamnya sejak tadi siang hanya sia-sia, Kania justru tertawa terbahak-bahak karena Alam terus saja menggelitik pinggangnya.
"Ampun, lepas Kak!!" Wajah Kania sampai memerah karena merasa kegelian.
"Janji dulu nggak ngambek-ngambekan lagi!!"
"Iya janji, cukup!! Ha..ha..ha..ha.." Air mata Kania sampai keluar karena ulah Alam itu.
Setelah puas menjahili istrinya, Alam akhirnya menghentikan aksinya itu. Dia kasihan melihat istrinya yang lemas karena tertawa.
"Kak, perutku jadi terasa kaku karena terlalu banyak tertawa??" Ucap Kania dengan lemas.
"Hah, kamu nggak papa kan Dek?? Anak kita nggak papa kan??" Alam langsung panik dan meraba perut Kania.
"Enggak kok, cuma kaku aja" Jawab Kania masih mengatur nafasnya.
"Kamu sih pakai acara ngambek segala. Kakak nggak tenang kalau kamu diemin seharian tau" Perut Kania menjadi bantalan untuk kepala Alam. Tangannya masih terus mengusap perut Kania yang masih rata itu.
"Kakak sih ngeselin, aku kan malu sama Dokter, sama perawat yang ada di sana tadi" Ucap Kania mengerucutkan bibirnya.
"Loh kenapa malu Dek?? Kan kita sudah menikah sudah halal. Itu juga penting karena nanti takutnya ada apa-apa sama calon anak kita kalau pas kita lagi begituan" Jelas Alam.
__ADS_1
"Tauk ah, yang jelas aku maluuuuu" Bantah Kania dengan gemas.
"Iya, iya Kakak minta maaf" Alam mengecup perut Kania dengan lembut, seolah memberikan ciuman untuk calon anaknya di dalam sana.
"Dek, kamu seneng nggak kita akan punya anak??" Tanya Alam masih dalam posisinya. Menempelkan pipinya pada perut Kania.
"Pertanyaan apa itu Kak?? Ya jelas aku seneng lah. Apalagi yang aku kandung ini anak kamu. Laki-laki yang aku cintai sejak dulu" Tangan Kania membelai lembut rambut halus milik Alam.
"Aku juga seneng banget Dek, akhirnya aku bakalan jadi seorang Ayah. Dan aku nggak nyangka aja kalau takdir aku itu kamu. Kalau ingat perlakuanku padamu dulu membuatku sangat malu"
"Sudahlah Kak, lupakan yang dulu. Aku sudah memaafkan mu. Lupakan kenangan buruknya, cukup ingat yang baik-baik saja" Ucap Kania.
"Tapi seingat ku nggak ada yang baik deh kenangan kita dulu" Tambah Kania yang membuat Alam mendengus.
"Deeekkkkk!!" Alam merengek kesal karena candaan Kania itu.
"Iya, iya maaf. Oh iya Kak, kita belum kasih tau Mama sama Bunda tentang kehamilanku ini. Mereka pasti seneng banget"
"Sudah, kamu tenang saja. Pasti besok pagi mereka sudah menyerbu rumah ini" Mengubah posisinya untuk tidur memeluk istrinya itu.
"Kamu pengertian banget sih, aku aja sampai lupa loh" Kania mencubit gemas pipi Alam yang tidak ada chubby-chubbynya itu.
"Karena Kakak terlalu bahagia Dek, bahkan saat tadi Dokter kasih tau kalau hamil andai saja di sana ada toa, pasti Kakak langsung bikin pengumuman" Ucap Alam tanpa rasa malu sedikitpun.
"Astaga, kemana Kak Alam yang dulu dingin dan kaku. Kenapa sekarang jadi somplak begini??" Gumam Kania namun tepat di telinga Alam. Siapa hang tidak mendengarnya jika begitu.
"Dosa kamu ngatain suami!!" Alam melirik Kania tajam.
"Ampun suhu" Kania menautkan kedua telapak tangannya di depan dada, seketika membuat Alam tertawa terbahak-bahak.
Kania memperhatikan Alam dengan begitu intens, dulu melihat Alam tertawa seperti itu merupakan hal yang paling mustahil bagi Kania. Dan sekarang ini Alam bisa tertawa selepas itu hanya karena dirinya. Bukan karena Dania tau siapapun.
"Dek, ngomong-ngomong kamu udah nggak kerja berapa kali satu bulan ini?? Banyak banget bolosnya" Tanya Alam setelah berhasil menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Nggak tau Kak, lupa. Tapi kayaknya antara masuk dan enggak banyak enggaknya deh"
"Kan sekarang kamu udah hamil. Apa sebaiknya kamu berhenti kerja aja?? Toh kamu juga nggak produktif di kantor akhir-akhir ini"
Kania ingat dengan ucapannya waktu itu. Jika di hamil kemungkinan akan berhenti bekerja dan lebih fokus mengurus anak dan suaminya.
"Tapi aku sudah tanda tangan kontrak dua tahun Kak" Ucap Kania merasa berat jika harus membayar denda dari pelanggaran kontrak.
"Nggak papa biar Kakak bicara sama Pak Jonatan, atau Kakak yang akan bayar biaya pinaltinya" Ucap Alam dengan enteng.
"Ihhh, buang-buang uang tau!! Terus, sia-sia juga aku sekolah sampai luar negeri kalau nggak di pakai ilmunya. Malah akhirnya ngurus anak juga" Ucap Kania dengan sedikit kesal.
"Jangan ngomong kaya gitu!! Kalau kamu nggak kerja juga nggak papa, ilmu kamu itu masih banyak cara untuk menyalurkannya. Jadi ibu rumah tangga juga harus berilmu, karena seorang ibu adalah guru terbaik untuk anaknya. Kakak yakin kalau kamu pasti bisa mendidik anak kita menjadi sepintar dirimu" Kania mempererat pelukannya setelah mendapatkan petuah dari suaminya itu.
"Baiklah kalau itu yang terbaik untuk kita, aku akan lalukan apapun" Ucap Kania membalas pelukan Alam.
"Makasih ya Kak, karena sekarang kamu tidak menyerah untuk membuktikan cintamu itu" Kania mendongak menatap mata Alam lalu mengusap pipi yang di tumbuhi rambut halus itu.
"Sekarang aku bahkan bisa melihat senyuman mu, tawa lepas mu yang dulu sangat mustahil bagiku. Mendapatkan semua kasih sayangmu dan juga curahan cintamu yang begitu besar" Ucap Kania dengan lembut.
"Sekarang senyumanku, cintaku dan semua yang ada pada diriku ini hanya untuk mu sayang. Hanya milik kamu" Alam.menggapai bibir Kanai yang lembut dan manis itu dengan bibirnya.
Mereka berdua hanyut dalam ciuman penuh cinta itu. Mungkin saja malam ini akan berakhir sama dengan malam dimana janin itu bisa tumbuh di rahim Kania.
***
Dania keluar dari minimarket membawa beberapa camilan yang di pesan oleh Bunda. Sejak pergi dengan Jonatan tadi pagi memang Dania baru pulang saat ini. Karena setelah pembicaraan mereka bersua di restoran itu. Dania pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan beberapa urusannya.
Wanita yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu memilih berjalan kaki, karena jarak minimarket langganan itu tak jauh dari rumahnya. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja.
Tiba-tiba ada suara yang tidak asing bagi Dania. Dan orang itu mampu membuat Danie menghentikan langkahnya.
"Hay Kak Dania??"
__ADS_1