
"Jadi sebenarnya, aku dan Alam sempat menjalin hubungan semenjak kita SMA" Dania memejamkan matanya karena takut melihat ekspresi Ardan.
"Apa?? Kamu dan Alam?? Lalu kenapa sekarang dia justru menjadi suami adikmu??" Ardan memang sangat terkejut tapi dia juga ingin tahu apa yang sebenar ya terjadi.
Dania sebenarnya malas untuk menceritakan semuanya dari awal. Karena dia tidak mau mengingat kesalahannya itu.
"Jadi dulu aku meminta Alam untuk menyembunyikan hubungan kita dari semua orang . Termasuk Bunda dan Kania, tapi Alam sering datang ke rumahku karena dulu kita mengaku hanya sebatas sahabat. Dari situ Kania mulai menaruh hati pada Alam. Dan........."
Walau rasanya malas, namun Dania tetap menceritakan semuanya lada Ardan. Dia tidak mau nantinya ada kesalahpahaman jika Ardan mendengar dari orang lain.
Ardan menerima kejujuran Dania itu. Walau dia takut jika itu akan membuatnya canggung dengan Alam. Tapi apapun masa lalu Dania dia akan mencoba menerimanya.
"Apa saat ini kamu masih mencintainya??" Tanya Ardan. Dia juga takut untuk mendengar jawaban yang akan keluar dari Dania.
"Jujur saat ini aku tidak tau dengan perasaanku. Aku sudah mengikhlaskan dia, aku sudah mencoba melupakan dia. Tapi yang aku tau, aku sudah tidak mengingatnya jika kita tidak bertemu. Aku hanya akan mengingat dia adalah mantan kekasihku saat melihatnya saja. Bahkan sampai tadi kita masuk kamar ini pun aku tidak mengingatnya lagi sebelum kamu menanyakan tentang perasaanku ini" Jawab Dania dengan jujur.
Ardan menatap lekat mata Dania, di sana Ardan dapat melihat sebuah kejujuran dari Dania.
"Tapi memang untuk melupakan semuanya aku masih butuh waktu. Dan aku butuh bantuan kamu untuk itu"
"Aku akan membantumu melupakan semua itu Dania. Aku yang akan memenuhi hatimu sampai kamu tidak akan mengingat siapa Alam lagi walau kamu berhadapan dengannya" Ucap Ardan dengan penuh keyakinan.
"Iya, aku akan menunggu untuk itu. Buktikan jika kamu berhasil mengambil alih seluruh hatiku" Ucapan Diandra itu bagaikan semangat untuk Ardan. Dia akan terus berusaha untuk mendapatkan hati wanita yang dicintainya sejak pandangan pertama itu.
"Itu pasti, pegang janjiku!!"
"Maaf ya, malam pertama kita justru harus membahas masa laluku" Diandra kembali membersihkan make up tebalnya.
"Tidak masalah, daripada harus saling berdiam diri"
Tiba-tiba Dania teringat dengan seorang wanita yang tadi hadir di pernikahannya. Wanita itu tampak dekat dengan Ardan karena sempat memeluk Ardan sambil menangis.
"Apa dia mantan pacarnya?? Dia terlihat cantik dan seksi" Batin Dania.
"Ardan??"
__ADS_1
"Ya??" Ardan yang membongkar kopernya langsung berhenti ketika Dania memanggilnya.
"Wanita yang tadi memelukmu itu siapa?? Dia mantan kekasihmu??" Tanya Dania menatap Ardan dari pantulan cermin.
Ardan tampak mengingat-ingat sesuatu. Mencari siapa yang di maksud Dania itu.
"Ohh, itu Sandra. Dia hanya teman kerjaku, kerja di tempat Alam juga" Jawab Ardan setelah berhasil mengingatnya.
"Tapi kenapa dia kelihatan begitu sedih. Apa dia menyukaimu??" Tanya Dania lagi.
"Tidak, dia dulu menyukai Alam"
"Alam??" Kaget Dania.
"Iya, tapi setelah tau Alam menikah, dia tidak lagi mengejar Alam. Aku tidak tau sekarang dia dekat dengan siapa" Jawab Ardan acuh karena memang dia tidak ada perasaan apa-apa pada Sandra.
"Tapi dia terlihat menyukaimu" Celetuk Dania.
"Tapi aku menyukaimu" Jawaban telak dari Ardan mampu membungkam Dania.
Mereka berdua kemudian terdiam beberapa saat. Sibuk dengan dirinya sendiri, Ardan yang membongkar isi kopernya dan Dania yang bersiap untuk mandi.
"A-apa??"
"Sekarang aku suamimu, walau umur ku hanya satu tahun lebih tua darimu. Bisakah kamu memanggilku dengan panggilan yang lain selain namaku?" Permintaan yang sangat mudah dari Ardan.
"Panggilan?? Memangnya maunya di panggil apa??" Dania membuang pandangannya karena jika semakin di perhatikan wajah Ardan semakin terlihat tampan di mata Dania.
"Apa saja, Mas, Sayang, Hubby atau Kakak seperti Kania dan Alam juga nggak papa" Jawab Ardan dengan percaya diri.
"Nggak mau ah masa samaan" Jawab Dania.
"Terus apa dong??" Ardan masih memaksa Dania.
"Ya udah Deh Mas aja. Sekarang aku mau mandi" Dania merasa malu pada Ardan jadi dia bergegas pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Iya, habis ini gantian Mas ya Dania" Ardan sengaja menggoda istrinya itu. Dania tidak menjawab sama sekali, justru menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras.
***
"Kak, kamu tadi lihat Sandra kan??" Tanya Kania pada suaminya yang sedang memijat kaki Kania yang terasa pegal karena menggunakan hak tinggi seharian ini.
"Iya kenapa??"
"Dia kenapa ganjen banget sih, kenapa juga dia pakai peluk-peluk Kak Ardan. Mana sambil nangis-nangis lagi. Apa dia nggak malu di lihatin banyak orang" Bibir Kania terus saja mengeluarkan unek-uneknya yang sejak tadi di pendamnya.
"Ya udah biarin aja, yang pentingkan bukan suami kamu yang di peluk. Kenapa jadi kamu yang cemburu sih Dek??
" Siapa juga yang cemburu, aku cuma kasihan sama Kak Dania. Suaminya di peluk perempuan lain di depan matanya sendiri. Bahkan di saat pernikahannya" Jelas Kania.
Alam sebenarnya paham apa yang dirasakan Kania. Tapi ya dia bisa apa, itu bukanlah urusannya.
"Sudahlah Dek, biarin aja. Biar itu jadi urusan mereka. Yang penting kan suami kamu ini nggak ada yang peluk-peluk selain kamu" Alam mencubit hidung Kania dengan gemas.
"Ya awas aja kalau berani peluk-peluk sembarangan. Mau aku hajar kayanya" Kania justru menatap Alam dengan tajam. Seolah ancaman itu untuknya
"Hiii serem" Batin Alam yang akhir-akhir ini melihat Kania yang berubah menjadi garang.
"Oh aku ingat. Waktu itu, waktu kamu marah sama aku terus aku samperin kamu ke bengkel. Ngapain kamu berduaan sama perempuan itu?? Di ruangan tertutup, hanya berdua, terus nggak ada siapa-siapa lagi. Apa yang kalian lakukan di sana??"
Alam hampir menepuk jidatnya, memang benar jika wanita itu ingatannya tajam. Jadi jangan sekali-kali menguji daya ingat wanita dengan sebuah kesalahan. Pasti sampai jadi nenek-nenek dia akan ingat.
"Nggak ngapa-ngapain sayang, dia cuma kasih laporan penjualan aja. Nggak ada gang kain, sumpah!!" Alam mengangkat dua jarinya.
"Tapi harusnya deket-deketan kaya gitu?? Mana bajunya seksi banget lagi" Alam sudah menduga jika perdebatan masalah Sandra ini tidak akan cepat berakhir.
"Dia lagi jelasin laporannya aja kok, Kakak juga masih jaga jarak sama dia nggak yang nempel-nempel banget. Kamu juga duduk di sana kan waktu itu. Masih ada jaraknya kan??"
Kania membenarkan apa yang Alam katakan itu.
"Tapi bisa kan besok kamu tegur dia untuk berpakaian yang lebih sopan lagi. Dia satu-satunya wanita di antara banyaknya pria yang ada di sana loh Kak" Kania kini berbicara dengan suara lembutnya lagi. Itu juga salah satu yang membuat Alam heran. Kania dengan mudah berganti-ganti mood sesuka dia sendiri.
__ADS_1
"Iya-iya besok Kakak bilang sama dia. Sekarang kita bobok yuk" Alam mengambil posisi terlentang di ranjang.
Jika Alam sudah seperti itu, maka Kania akan langsung menjadikan lengan Alam sebagai bantalan kepalanya. Mereka akan tidur berpelukan sampai pagi. Meski paginya tangan Alam akan merasa kebas, tapi itu membuat Alam merasa bahagia.